Chapter 196
Namun, di sini ia dipapaki tongkat. Awalnya tampak tongkat itu mengarah ke atas, tak disangka ia menyapu ke bawah berulang-ulang, hingga ia tidak dapat menduga arah serangan lawan yang tepat.
Diam-diam hatinya terkesiap. Ia lantas melindungi diri untuk mencegah serangan apa pun. Namun, tongkat itu hebat karena merupakan milik Oey Yong. Paling akhir, ujung tongkat mencari jalan darah di pinggang. Saking kaget, Auwyang Hong melompat mundur dan segera melirik. Ia tidak menyangka sang nona menjadi begitu lihai.
Oey Yong merasa puas melihat musuh mundur. Ia telah menggunakan tipu daya dari Pa-kauw-pang yang belum dikuasainya dengan mahir. Sebaliknya, See Tok belum pernah melihat ilmu silat itu.
"Hm!" seru Si Bisa dari Barat sambil melompat maju. Tangannya diulur untuk merampas tongkat sang nona. Oey Yong mampu berkelit; ketika dirangsak, ia masih bisa menyingkir dari berbagai serangan. Kwee Ceng merasa girang sekaligus heran menyaksikan ilmu silat kawannya itu. Ia tidak menonton lebih lama, lalu maju untuk menyerang dari samping.
Auwyang Hong menjadi sangat gusar. Ia melompat mundur, lalu berjongkok. Menyusul kemudian, kedua tangannya menyerang bersamaan hingga anginnya berdesir. Serangan itu hebat, yakni serangan menurut Kuntauw Kodok, sampai-sampai debu dibuatnya terbang.
Kwee Ceng melihat ancaman bahaya. Dengan cepat, ia mendorong pundak Oey Yong—orang yang diserang—hingga sang nona terhuyung, tetapi dengan begitu ia terhindar dari bahaya. Auwyang Hong merasa penasaran. Ia maju dua tindak, lalu kembali menolak dengan sepasang tangannya. Memang hebat Kuntauw Kodok dari See Tok ini; terbukti Ang Cit Kong yang begitu lihai saja cuma bisa bertarung seri dengannya.
Segera saja Kwee Ceng dan Oey Yong terdesak mundur karena mereka hanya berusaha berkelit. Auwyang Hong berhasil memasuki gua. Ketika serangannya gagal ke kiri, ia menghantam pinggiran gua hingga batu dan tanahnya gugur. Setelah itu, ia menyerang dengan tangan kanannya ke arah Ang Cit Kong. Pak Kay sedang menutup mata ketika mendengar desiran angin dari pukulan-pukulan dahsyat itu, lalu ia membuka matanya.
"Ilmu silat yang bagus sekali!" pujinya. "Tangan yang hebat!"
Muka Auwyang Hong menjadi merah; ia merasa diejek. Bukankah ia sedang melayani bocah-bocah? Maka tangannya itu tidak dapat diteruskan.
"Guruku menolong jiwamu, kau sekarang hendak mencelakai guruku!" Oey Yong berteriak. "Sungguh kau tidak mempunyai muka!"
Batal menyerang, Auwyang Hong menolak dengan perlahan tubuh si Pengemis dari Utara. Ia merasakan dada dan daging yang lembek, hingga dada itu kempot. Biasanya, ditekan begitu, tubuh seorang ahli silat pasti membal untuk melawan, tapi kali ini justru sebaliknya. Maka, tahulah See Tok bahwa kepandaian orang tersebut telah lenyap. Ia lantas membungkuk, berniat mengangkat tubuh si pengemis.
"Kamu bantu aku menolong keponakanku, nanti aku beri ampun jiwa pengemis tua ini!" katanya bengis sambil mengancam pemuda dan pemudi itu.
"Thian yang menurunkan batu itu menindih dia, kau melihatnya dengan matamu sendiri!" sahut Oey Yong. "Siapa sanggup menolong dia? Jikalau kau berbuat jahat, nanti Thian pun melemparkan batu besar itu untuk menindihmu sampai mampus!"
Auwyang Hong mengangkat tubuh Ang Cit Kong tinggi-tinggi; ia mengancam hendak melemparkannya. Kwee Ceng sangat mulia hatinya, ia tidak tahu bahwa orang itu sedang menggertak.
"Lekas turunkan guruku!" seru Kwee Ceng. "Nanti kita bantu kau!"
Sebenarnya Auwyang Hong ingin segera menolong keponakannya itu, tetapi ia tidak sudi memperlihatkannya; ia justru berakting. Kemudian, ia menurunkan tubuh Cit Kong dan meletakkannya dengan baik.
"Untuk membantumu menolong dia tidaklah sukar!" kata Oey Yong. Ia masih penasaran dan menyebut Auwyang Kongcu dengan sebutan "dia". "Tetapi kita harus membuat dulu tiga perjanjian!"
"Eh, budak perempuan, kesulitan apa lagi yang hendak kau ajukan!" See Tok mendongkol.
"Sesudah kami membantu kau menolong keponakanmu, kita tinggal bersama-sama di pulau ini," jawab Oey Yong. "Selama itu kau tidak boleh mengganggu kami guru dan murid bertiga!"
Auwyang Hong terus mengangguk, karena ia sudah ingat bahwa ia dan keponakannya tidak bisa berenang. Untuk dapat pulang ke daratan, mereka mengandalkan bantuan tiga orang itu.
"Baik!" ia memberikan janjinya. "Selama berada di pulau ini, aku pasti tidak akan turun tangan terhadap kamu, tetapi nanti di daratan, itulah sukar untuk dibilang."
"Sampai saat itu, biarlah kau tidak turun tangan, kami yang bakal turun tangan terhadapmu!" tantang Oey Yong.
"Sekarang yang kedua. Ayahku telah menjodohkan aku dengan dia, kau melihatnya sendiri, kau mendengarnya sendiri juga. Maka itu, kalau di belakang hari keponakanmu itu menggerembengi aku, ia lah binatang yang tak mirip-miripnya sekalipun dengan anjing babi!"
"Hm!" terdengar suara tawar dari See Tok. "Baiklah, tetapi ini pun terbatas selama kita berada di pulau ini. Seberlalunya kita dari sini, kita lihat saja nanti!"
Oey Yong tersenyum. "Sekarang syarat yang ketiga! Kami akan membantu kau dengan sungguh-sungguh, akan tetapi umpama kata Thian hendak mengantarkan jiwa keponakanmu itu pulang ke alam baka, itulah bukannya tenaga manusia yang dapat mencegahnya. Maka itu, kau tidak boleh menimbulkan urusan lain lagi!"
Kedua mata Auwyang Hong mendelik dan berputar. "Jikalau keponakanku sampai mati, si pengemis tua jangan harap dapat hidup lebih lama!" katanya bengis. "Budak cilik, jangan kau mengoceh lebih lama! Lekas kau tolongi keponakanku itu!"
Habis berkata, jago dari Barat ini lantas melompat keluar dari gua untuk berlari keras ke arah lembah. Kwee Ceng hendak melompat menyusul, tetapi sang nona menarik tangannya.
"Engko Ceng," ia berpesan, "Kalau sebentar See Tok membantu mendorong batu besar itu, kau gunakan kesempatanmu untuk membokong dia agar jiwanya habis!"
"Cara membokong itu bukan cara terhormat," kata Kwee Ceng.
"Dia mencelakai Suhu, adalah itu caranya terhormat?" tanya sang nona. Agaknya ia mendongkol.
"Tetapi kita telah mengeluarkan kata-kata, harus kita pegang itu," Kwee Ceng memberi pengertian. "Sekarang kita tolongi dulu keponakannya itu, nanti di belakang hari kita mencari jalan untuk melakukan pembalasan."
Mendengar itu, sang nona tertawa. "Baiklah," katanya. "Kau seorang nabi, aku suka mendengar katamu!"
Setelah berpesan pada gurunya untuk menanti, kedua muda-mudi ini lari ke lembah. Di sana mereka mendengar Auwyang Kongcu merintih, suaranya sangat mengenaskan, menandakan ia menderita sekali.
"Lekas, lekas!" Auwyang Hong memanggil seraya membentak. Kwee Ceng dan Oey Yong lantas mendekati batu untuk memasang kuda-kuda. Auwyang Hong sendiri sudah bersiap terlebih dulu. Dengan satu tanda, enam buah tangan memegang batu dan menolaknya bersamaan. Auwyang Hong berseru, "Angkat!"
Ditolak oleh enam tangan yang kuat, batu itu tergerak, tetapi cuma sebentar. Sehabisnya tenaga mereka, batu itu jatuh kembali ke tempat asalnya.
"Aduh!" jerit Auwyang Kongcu yang tak sempat menarik kedua kakinya. Ia tertimpa lagi, lantas pingsan kembali. Auwyang Hong kaget dan mendongkol melihat keponakannya itu. Napasnya terengah-engah. Seketika sadar kembali, ia menahan sakit hingga menggigit keras bibirnya sampai mengeluarkan darah.
See Tok menjadi sangat bingung. Terang sudah tenaga mereka bertiga tidak cukup kuat untuk mengangkat batu raksasa itu. Lama-lama keponakannya bisa mati karena sakitnya. Ia menjadi lebih bingung lagi ketika merasakan kakinya dingin. Saat ia mengangkat sebelah kaki, nyata sepatunya sudah basah; tanah pasir yang diinjaknya terendam air. Itulah air laut pasang yang naik sampai ke lembah itu.
"He, budak cilik!" See Tok membentak Nona Oey. "Jikalau kau hendak menolong jiwa gurumu, lekas kau tolongi keponakanku ini!"
Oey Yong sedang berpikir keras ketika ditegur itu. Batu begitu berat, dan di pulau ini tidak ada orang lain yang dapat membantu. Bagaimana? Ia mendongkol atas teguran itu.
"Coba kalau guruku tidak terluka, pasti dia dapat membantu!" katanya. "Ilmu luar dari guruku lihai sekali, tenaganya besar luar biasa. Dengan kita berempat bekerja sama, mestinya batu ini dapat digeser. Sekarang?"
Ia mengangkat kedua tangannya dan menggoyangkannya, tandanya ia putus asa. Auwyang Hong tidak senang mendengar itu, tetapi itulah kenyataan; ia tidak bisa bilang apa-apa. Ia berpikir, memang benar kalau Ang Cit Kong tidak terluka, pengemis itu pasti dapat membantu mereka. Maka ia menganggap itu adalah takdir; kebetulan keponakannya bercelaka, kebetulan Pak Kay terluka.
"Paman," terdengar suara Auwyang Kongcu perlahan. "Kau hajar saja aku supaya aku lantas mati? Aku... aku tidak dapat bertahan lagi..."
Auwyang Hong mengawasi, lantas ia mencabut pisau belatinya. "Kau tahan sakit sedikit," katanya seraya tetap menggigit gigi. "Tanpa sepasang kakimu, kau masih dapat hidup!"
Ia maju mendekati, hendak mengamputasi kedua kaki orang itu.
"Paman, paman!" teriak sang keponakan. "Jangan, jangan! Lebih baik kau tolong aku dengan membunuh aku saja!"
Paman itu marah. "Percuma aku mendidik kau banyak tahun, kenapa kau tidak mempunyai semangat laki-laki!" bentaknya.
Keponakan itu menutup mulutnya, dengan kedua tangannya ia mendekap dada. Dengan begitu ia mencoba menahan sakitnya. Menyaksikan itu, hati Oey Yong lemas juga. Ia lantas berpikir pula, hingga ingat caranya sang ayah bekerja di Tho Hoa To waktu mengangkat batu dan balok.
"Tunggu!" ia berkata kepada Auwyang Hong. "Kalau kau potong kedua kakinya, apakah itu bukan berarti kau mengantarkan jiwanya? Aku mempunyai satu daya, entah berhasil atau tidak, mari kita coba dulu."
"Lekas bilang, lekas bilang, apa itu?" See Tok lantas mendesak. "Nona yang baik, kali ini tentulah kau berhasil?"
"Hm," pikir Oey Yong.