Chapter 183
"Hanya ada satu barang yang paling kotor dan paling bau hingga aku segan memakannya. Aku, si pengemis tua, lebih suka memakan kaki sendiri daripada memakan itu! Tahukah kau, barang apa itu?" Kwee Ceng menggelengkan kepalanya, lalu tiba-tiba ia tertawa dan menyahut, "Aku tahu sekarang! Itulah najis!"
Namun, sang guru menggelengkan kepalanya. "Ada lagi yang jauh lebih bau!" katanya. Kwee Ceng mencoba menebak beberapa jenis barang, namun semua tebakannya salah. Akhirnya, Ang Cit Kong tertawa. "Nanti aku beri tahu kepadamu!" serunya keras-keras. "Barang yang paling kotor dan bau di kolong langit ini ialah See Tok Auwyang Hong!" Kwee Ceng pun mengerti dan tertawa terbahak-bahak.
"Akur! Akur!" serunya berulang-ulang. Guru dan murid itu tampak sangat serasi hingga membuat See Tok merasa sangat kesal.
Saat itu, suasana udara terasa menyesakkan. Angin berembus perlahan dari empat penjuru, membuat perahu hanya melaju pelan. Ketika angin benar-benar berhenti, kendaraan air itu pun ikut diam. Semua orang di atas perahu bercucuran keringat. Di permukaan air, sesekali tampak ikan melompat ke atas, pertanda suhu air laut sedang panas.
Cit Kong memandang ke sekeliling. Ia tidak melihat awan sedikit pun, langit tampak kosong. Ia merasa heran dan menggelengkan kepala. "Suasana yang aneh," gumamnya. Selang beberapa lama, saat Cit Kong memandang ke arah tenggara, ia melihat mega hitam mendatangi dengan sangat cepat. Melihat itu, ia terkejut hingga mengeluarkan seruan tertahan.
"Ada apakah, Suhu?" tanya Kwee Ceng terperanjat.
"Ada angin aneh!" jawab Cit Kong. "Tidak aman kita berdiam di tiang ini. Di bawah ada banyak ular. Bagaimana sekarang?" Ia bergumam pelan, "Bahkan jika kita bekerja sama mati-matian, belum tentu kita bisa lolos dari ancaman ini, apalagi jika kita terus bertempur."
Saat itu, angin menyambar ke muka. Cit Kong merasa segar dan merasakan dadung layar bergerak sedikit. "Anak Ceng," ujarnya, "jika sebentar lagi tiang patah, kau merosotlah turun. Jaga agar tidak terjatuh ke laut." Kwee Ceng heran karena cuaca tampak bagus, namun karena sangat memercayai gurunya, ia pun mengangguk.
Tak lama kemudian, mega hitam bergumpal bagaikan tembok tebal menghampiri dengan sangat cepat dari arah tenggara. Sesaat kemudian, terdengar suara nyaring; tiang layar patah dan tubuh perahu miring bagaikan hendak terbalik. Kwee Ceng memeluk erat kepala tiang sambil menahan napas agar tidak terbawa angin. Saat membuka mata, ia melihat air bergerak seperti tembok dan memercik tinggi.
"Anak Ceng, merosot turun!" teriak Cit Kong. Kwee Ceng menurut dan merosot turun. Ia menahan diri setelah meluncur sekitar dua tombak. Ia melihat layar beserta bagian atas tiang yang patah telah disapu gelombang. Di lantai perahu tidak terlihat lagi ular; rupanya semua binatang berbisa itu telah tersapu badai. Si tukang kemudi terkapar dengan kepala pecah, nyawanya sudah melayang. Perahu terputar-putar di tengah laut, miring ke kiri dan ke kanan.
"Anak Ceng, kendalikan perahu!" teriak gurunya lagi. Kendaraan itu terancam karam. Kwee Ceng melompat ke buritan perahu untuk memegang kemudi. Ia sempat berkelit dari sepotong kayu yang terbawa angin, lalu menyambar rantai untuk mempertahankan diri. Sebagai orang Utara, ia belum pernah mengemudikan perahu, namun karena tenaganya besar, ia berhasil menstabilkan perahu agar tidak terguncang terlalu keras.
Ia mendengar suara angin dahsyat dan melihat perahunya melaju pesat. Cit Kong berusaha menurunkan layar yang tersisa. Tengah ia berkutat, tiba-tiba terdengar suara menantang, "Saudara Cit, mari Pak Kay dan See Tok sama-sama mengeluarkan kepandaiannya!" Di seberang sana, Auwyang Hong mencengkeram erat ujung layar yang lain.
"Turun!" seru Cit Kong sambil mengerahkan tenaga. Auwyang Hong pun melakukan hal yang sama. Berkat tenaga kedua jagoan itu, layar berhasil ditarik roboh. Dengan begitu, terpaan angin berkurang dan ancaman perahu karam pun lenyap. Sebagai ganti badai, hujan lebat turun dengan butiran besar yang menyakitkan saat menimpa wajah. Syukurlah, saat cuaca mulai gelap, angin dan hujan mereda.
"Saudara Cit!" ujar Auwyang Hong tertawa. "Jika tidak ada muridmu yang lihai itu, pastilah kita sudah mati masuk ke dalam perut ikan! Maka dari itu, marilah kita minum satu cawan untuk melepas hawa dingin! Jangan takut, jika aku hendak meracunimu, biarlah aku, Auwyang Hong, menjadi buyutmu turunan kedelapan belas!"
Ang Cit Kong turut tertawa. Kali ini ia memercayai See Tok, sebab sebagai ketua partai besar pada zamannya, ia pasti memegang teguh kata-katanya. "Mari!" ajaknya kepada Kwee Ceng, lalu ia menyuruh seorang anak buah untuk menggantikan tugas mengemudi. Mereka pun masuk ke dalam gubuk perahu untuk makan dan minum. Pak Kay makan hingga kenyang, lalu kembali ke kamar bersama muridnya untuk beristirahat.
Namun, tengah malam ia terbangun saat mendengar suara ular berdesis tak henti-hentinya. "Celaka!" serunya. Kwee Ceng pun tersadar. Keduanya segera melompat bangun dan membuka pintu. Perahu itu sudah dikepung oleh rombongan ular yang memenuhi bagian depan dan belakang. Auwyang Kongcu berdiri di tengah-tengah ular dengan kipas di tangan, wajahnya menyiratkan senyuman.
"Paman Ang, Saudara Kwee," sapanya. "Pamanku cuma hendak meminjam Kiu Im Cin-keng sekali saja, tidak mengharapkan yang lain!"
"Dasar bangsat, dia tidak berniat baik!" umpat Cit Kong pelan. Tiba-tiba ia mendapat pikiran, meski raut wajahnya tetap tenang. "Hai, bangsat cilik! Nyata aku, si tua ini, telah diperdaya akal busuk paman anjingmu itu. Baiklah, sekarang aku mengaku kalah. Lekas siapkan hidangan dan arak untuk kami makan, urusan bisa dibicarakan besok pagi!"
Auwyang Kongcu tampak girang dan segera menyuruh orang menyajikan hidangan bagi kedua musuhnya. Cit Kong mengunci pintu, lalu mulai makan dan minum. Ia menggerogoti paha ayam. "Apakah kali ini juga ada racunnya?" bisik Kwee Ceng.
"Anak tolol!" sahut gurunya. "Jahanam itu ingin kau menulis kitab, mana mungkin mereka mencelakai jiwamu? Mari makan sampai kenyang, nanti kita pikirkan cara lain!" Kwee Ceng memercayai gurunya dan menyantap makanan dengan lahap.
Ang Cit Kong menyeka bibirnya yang berminyak, lalu berbisik di telinga muridnya, "Si bangkotan itu menghendaki yang asli, kau tulislah yang palsu," ajarnya.
"Yang palsu?" tanya muridnya heran.
"Ya! Di zaman ini hanya kau yang mengetahui isi kitab yang asli, jadi apa pun yang kau tulis, mereka akan percaya. Siapa yang akan tahu itu asli atau palsu? Kau tulis saja isinya jungkir balik; biar ia mempelajarinya sampai seratus tahun pun, ia tak akan berhasil menguasai satu jurus pun!"
Kwee Ceng merasa senang mendengar ajaran itu. "Kali ini si bangkotan itu benar-benar akan kena batunya!" pikirnya. Namun sesaat kemudian ia berkata, "Auwyang Hong sangat mahir ilmu sastra. Jika teecu menulis sembarangan, pasti dia akan curiga."
"Kau harus menggunakan siasat halus," ajar Cit Kong. "Tulis tiga baris yang benar, lalu selipkan sebaris yang ngaco. Pada bagian latihan, tambahkan atau kurangi hitungannya. Jika kitab menyebut delapan belas kali, tulis dua belas atau dua puluh empat kali. Biarpun dia cerdik, dia tidak akan menyadarinya. Aku rela tidak makan dan minum tujuh hari tujuh malam demi menonton si bangkotan itu mempelajari kitab palsu tersebut!"
Keduanya tertawa. "Jika ia meyakini kitab palsu itu," ujar Kwee Ceng, "bukan saja dia membuang waktu dengan sia-sia, ada kemungkinan dia akan celaka." Cit Kong kembali tertawa. "Sekarang bersiaplah, pikirkan baik-baik! Jika dia sampai curiga, artinya kita gagal." Kwee Ceng pun mulai menyusun taktik dalam pikirannya. Besoknya, begitu terbangun, Ang Cit Kong segera bersiap menghadapi Auwyang Kongcu.