Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 30

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 30

Hati Kwee Ceng mengecil, tetapi ia merasa penasaran dan marah. Ia berteriak berulang-ulang untuk menyemangati anjingnya agar terus melawan.

Hati Juji menjadi sangat dongkol. Ia mengayunkan cambuknya berulang kali hingga Kwee Ceng merasakan sakit sampai ke ulu hati dan roboh terguling. Saat ia berguling hingga ke kaki sang putra sulung, mendadak ia membangkitkan tubuhnya untuk menyambar paha Juji dan langsung menggigitnya.

Juji meronta, tetapi ia tidak dapat melepaskan dekapan anak itu yang memegangnya dengan sangat erat.

Melihat sang kakak kelabakan, Jagatai, Ogodei, dan Toluï tertawa terbahak-bahak.

Wajah Juji memerah, lalu ia mengayunkan goloknya ke leher Kwee Ceng.

Saat leher bocah bernyali besar itu nyaris putus, tiba-tiba sebuah golok buntung menyambar dan mengenai tepat pada golok Juji. Benturan kedua senjata itu terdengar nyaring. Juji terperanjat karena goloknya hampir terlepas dari genggaman. Semua orang terkejut, dan beberapa di antaranya berseru kaget.

Menyusul lemparan goloknya, Jebe melompat keluar dari tempat persembunyian. Ia menyambar Kwee Ceng dan menarik tubuh bocah itu dengan tangan kiri untuk disingkirkan ke belakangnya. Kemudian, sambil tertawa dingin, ia berkata, "Menghina anak kecil, tidak malukah kau?"

Seketika itu juga Jebe dikepung oleh para prajurit Mongol yang bersenjatakan golok dan tombak. Ia melemparkan goloknya. Juji menjadi sangat gusar dan meninju dada orang itu. Namun, Jebe tidak membalas serangan tersebut. Sebaliknya, ia berseru, "Lekas bunuh aku!"

Kemudian, dengan suara yang dalam, ia menambahkan, "Sayang sekali aku tidak bisa tewas di tangan seorang pendekar gagah perkasa!"

"Apa katamu?" tanya Temuchin.

"Jika aku dibinasakan di medan perang oleh orang yang sanggup mengalahkanku, aku akan mati dengan puas," sahut Jebe. "Sekarang ini ibarat burung elang jatuh ke tanah, mati dikerubuti semut!"

Setelah mengucapkan hal itu, mata sang panglima terbuka lebar dan ia berseru dengan keras. Enam anjing Jagatai yang sedang menggigit anjing Kwee Ceng menjadi kaget. Semuanya melompat mundur dengan ketakutan sambil menyelipkan ekor di antara selangkangan.

Di samping Temuchin, muncul seseorang. "Kha Khan, jangan biarkan bocah ini besar mulut!" serunya. "Biar aku yang melayaninya!"

Temuchin melihat bahwa orang itu adalah panglimanya, Borchu. Ia merasa sangat gembira. "Baik, pergilah hadapi dia!" perintahnya.

Borchu maju beberapa langkah. "Aku sendiri yang akan membunuhmu agar kau puas!" katanya lantang.

Jebe mengamati orang bertubuh besar dengan suara nyaring itu. "Siapa kau?" tanyanya.

"Aku Borchu!" bentak sang panglima.

Jebe membatin, "Memang pernah aku dengar bahwa Borchu adalah orang perkasa dari bangsa Mongol. Ternyata inilah orangnya." Ia tidak menjawab dan hanya mengeluarkan suara dingin, "Hm!"

"Kau mengandalkan kemahiranmu memanah hingga orang-orang menyebutmu Jebe," kata Temuchin. "Maka sekarang, bertandinglah dengan sahabatku ini!"

Nama "Jebe" memang berarti "ahli memanah". Jebe sebenarnya memiliki nama sendiri, tetapi nama itu kalah tenar dibanding gelarnya hingga orang-orang tidak mengetahuinya lagi.

Mendengar bahwa lawan itu adalah "sahabat" Temuchin, Jebe berkata, "Kau adalah sahabat Khan yang terbesar, aku akan membinasakanmu terlebih dahulu!"

Orang-orang Mongol tertawa riuh. Mereka menganggap orang ini tidak tahu diri karena Borchu sangat tangguh dan belum pernah tertandingi.

Dahulu, sebelum Temuchin menjadi pemimpin bangsa Mongol, ia pernah ditawan oleh bangsa Taijiut, musuhnya. Lehernya dipasangi belenggu kayu. Bangsa Taijiut mengadakan pesta di tepi Sungai Onan sambil minum *koumiss*. Mereka berulang kali mencaci dan menghina Temuchin, lalu berniat membunuhnya.

Setelah pesta usai, Temuchin berhasil menghajar penjaganya dengan belenggu kayu tersebut dan lari ke dalam hutan. Bangsa Taijiut sia-sia mencarinya. Seorang pemuda bernama Chila'un tidak takut bahaya dan menolong Temuchin. Belenggu kayunya dirusak lalu dibakar. Temuchin kemudian disembunyikan di atas kereta besar yang memuat bulu kambing.

Ketika musuh dari Taijiut datang mencari dan menggeledah rumah Chila'un, mereka juga memeriksa kereta itu. Temuchin hampir saja tertangkap, tetapi ayah Chila'un dengan cerdik berkata, "Hari sedang panas menyengat seperti ini, mustahil ada orang yang sanggup bersembunyi di dalam tumpukan bulu kambing."

Memang saat itu cuaca sangat panas dan semua orang bersimbah keringat. Alasan itu dianggap masuk akal sehingga kereta batal digeledah. Setelah lolos, hidup Temuchin sangat sengsara. Bersama ibu dan adik-adiknya, ia harus bertahan hidup dengan memakan daging tikus padang rumput.

Suatu hari, delapan ekor kuda putih milik mereka dicuri orang. Dengan rasa penasaran, Temuchin pergi mencari pencuri itu. Di tengah jalan, ia bertemu seorang pemuda yang sedang memerah susu kuda. Ia bertanya apakah pemuda itu melihat pencuri kudanya. Pemuda itu adalah Borchu.

Borchu berkata, "Penderitaan kaum pria itu sama saja, mari kita menjalin persahabatan."

Temuchin menyambut ajakan itu. Mereka berdua pergi mencari bersama. Setelah tiga hari pengejaran, barulah mereka berhasil menyusul si pencuri kuda. Dengan kemahiran memanah yang luar biasa, mereka membubarkan rombongan pencuri dan berhasil merebut kembali kedelapan kuda tersebut.

Temuchin hendak membalas budi dengan membagi kudanya dan bertanya berapa ekor yang diinginkan sahabatnya. Borchu menjawab, "Aku mengeluarkan tenaga demi sahabatku, satu ekor pun aku tidak menginginkannya!"

Sejak saat itu keduanya bekerja sama hingga Temuchin berhasil membangun kekuasaannya. Borchu tetap menjadi sahabat sekaligus panglimanya. Bersama Chila'un, ia menjadi salah satu dari empat menteri besar yang berjasa bagi Jenghiz Khan (nama Temuchin setelah menaklukkan bangsa-bangsa lain).

Temuchin tahu betul kegagahan Borchu, maka ia menyerahkan panahnya sendiri. Ia pun melompat turun dari kudanya. "Naiklah ke kudaku dan gunakan panahku," katanya. "Itu sama saja dengan aku sendiri yang memanah dia!"

"Baik!" sahut Borchu. Dengan tangan kiri memegang busur dan tangan kanan memegang anak panah, ia melompat ke atas kuda Temuchin.

"Berikan kudamu pada Jebe!" perintah Temuchin kepada Ogodei, putranya yang ketiga.

"Sungguh dia beruntung!" kata Ogodei sembari memerintahkan orang untuk menyerahkan kudanya.

Jebe naik ke punggung kuda lalu berkata kepada Temuchin, "Aku telah dikepung olehmu. Sekarang kau memberiku kesempatan untuk adu panah dengannya. Aku bukanlah orang yang tidak tahu diri; tidak mungkin aku melayaninya secara seimbang. Aku hanya menginginkan sebuah busur, tidak perlu anak panahnya!"

"Kau tidak memakai anak panah?" tanya Borchu gusar.

"Benar!" sahut Jebe. "Hanya dengan sebuah busur pun aku dapat membunuhmu!"

Tentara Mongol menjadi bising. "Binatang ini sangat sombong!" seru mereka.

Borchu tahu Jebe memang lihai, sehingga ia tidak berani memandang remeh. Ia memacu kudanya agar berlari kencang. Hewan berpengalaman itu pun mengerti tugasnya. Melihat kuda lawan sangat gesit, Jebe melarikan kudanya ke arah lain.

Borchu bersiap, lalu "Srrtt!", sebuah anak panah meluncur ke arah Jebe. Jebe berkelit, dan sambil menghindar, tangannya menyambar dan menangkap anak panah tersebut. Borchu terkejut, lalu ia memanah lagi. Jebe tidak sempat menangkapnya, sehingga ia merunduk membiarkan anak panah itu lewat. Ia selamat.

Namun, Borchu tidak berhenti. Ia melepaskan dua anak panah lagi secara berurutan. Kali ini Jebe kaget karena tidak menyangka serangan susulan secepat itu. Ia tidak lagi merunduk, melainkan menjatuhkan tubuhnya dari punggung kuda dengan kaki kanan tetap mengait pada sanggurdi, hingga tubuhnya menjuntai hampir menyentuh tanah.

Ia tidak hanya menyelamatkan diri, tetapi menggunakan kesempatan ini untuk membalas serangan dengan mengarahkan busurnya ke perut Borchu, sebelum kemudian mengangkat tubuhnya kembali ke posisi duduk di atas kuda.

"Bagus!" Borchu memuji lawannya. Ia terus memanah untuk menangkis serangan lawan. Kedua anak panah itu saling berbenturan lalu terpental dan jatuh menancap di tanah. Temuchin dan seluruh pasukannya bersorak memuji.

Borchu kembali memanah. Mulanya ia hanya mengancam, tetapi setelah itu ia memanah dengan sungguh-sungguh ke arah kanan. Melihat anak panah datang, Jebe menangkisnya dengan busur hingga anak panah itu jatuh ke tanah. Saat ia diserang berturut-turut sebanyak tiga kali, ia terus berkelit.

Kemudian ia melarikan kudanya. Sambil memacu kuda, ia merundukkan tubuh untuk mengambil tiga anak panah yang tergeletak di tanah. Dengan cepat ia membalas memanah satu kali. Borchu menunjukkan kemampuannya; dengan menghentakkan diri, ia berdiri di atas kuda lalu menangkis anak panah itu dengan kakinya. Di saat yang sama, ia membalas memanah.

Jebe berkelit sambil memanah balik. Namun, ia mengincar anak panah Borchu hingga anak panah tersebut terbelah dua.

Borchu membatin, "Aku memiliki anak panah sedangkan dia tidak, tetapi sekarang kami seri. Jika begini, bagaimana aku bisa membalaskan sakit hati Khan?" Ia mulai merasa gelisah.

Ia kemudian memanah beruntun berkali-kali tanpa henti. Saat pandangan orang banyak mulai kabur, Jebe terus berkelit tanpa henti. Namun karena anak panah datang sangat cepat, akhirnya pundak kirinya terkena juga. Jebe merasakan sakit yang hebat.

Semua penonton bersorak. Borchu sangat gembira, tetapi ia belum puas. Ia hendak memanah lagi untuk menghabisi nyawa lawan. Namun, saat merogoh kantong panahnya, ia terkejut. Tanpa disadari, ia telah menghabiskan semua anak panah pemberian Temuchin. Biasanya ia membawa banyak persediaan, tetapi kali ini ia menggunakan kantong panah Temuchin yang isinya terbatas.

Dalam keterkejutannya, ia memutar kuda untuk kembali sambil merundukkan tubuh guna memungut anak panah di tanah. Jebe melihat celah tersebut dan segera menggunakan kesempatannya. Ia memanah punggung musuhnya dan tepat mengenai sasaran.

Semua penonton terkejut dan menjerit. Namun anehnya, meski sambaran anak panah itu sangat keras, hal itu hanya membuat Borchu merasa sakit di punggungnya. Ujung panah tidak menancap; anak panah itu jatuh ke tanah! Dengan penuh keheranan, ia memungut anak panah tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment