Chapter 138
Mendadak ia menumpahkan hawa amarahnya terhadap mereka.
"Lekas kalian bertujuh bunuh diri!" ia membentak dengan suara dingin.
"Tak perlu aku turun tangan hingga kalian menderita!" Kwa Tin Ok mengangkat tongkatnya.
"Seorang laki-laki tidak takut mati!" katanya dengan nyaring.
"Apa pula itu penderitaan?" Cu Cong berkata, "Kanglam Liok Koay sudah pulang ke kampung asalnya. Kalau sekarang kita mengubur tulang-tulang di telaga Thay Ouw ini, apa lagi yang perlu dikhawatirkan?" Lantas mereka berenam, dengan senjata di tangan atau tangan kosong, bersiap untuk melawan jago dari Laut Timur itu.
Kwee Ceng berpikir keras. Ia tahu keenam gurunya tidak akan sanggup melawan Oey Yok Su. Ia tidak ingin mereka mengantar nyawa percuma hanya karena urusannya. Maka itu, ia melompat untuk menyela.
"Tan Hian Hong tewas di tangan saya sendiri!" serunya. "Kematiannya tidak ada sangkut pautnya dengan guru-guru saya! Saya sendiri yang akan mengganti nyawanya!" Ia tahu gurunya yang nomor satu, nomor tiga, dan nomor tujuh berwatak keras; jika ia mati, mereka tentu akan nekat. Maka itu ia menambahkan, "Tapi sakit hati ayah saya masih belum terbalas, apakah locianpwee bersedia memberi tempo satu bulan? Setelah tiga puluh hari, saya akan datang sendiri ke Pulau Tho Hoa To untuk menerima hukuman mati!"
Oey Yok Su berpikir berat karena teringat anaknya; hawa amarahnya pun menjadi kendor. Tanpa bicara sepatah kata pun, ia mengebas tangannya, memutar tubuh, lalu beranjak pergi.
Kanglam Liok Koay heran mengapa kata-kata muridnya itu mampu membuat jago dari Tanah Hay tersebut mengangkat kaki. Mereka curiga, sehingga tetap memasang mata. Namun, orang itu benar-benar telah pergi.
Seng Hong tertegun cukup lama, kemudian mengundang semua tamu kembali ke dalam. Tiba-tiba Bwee Tiauw Hong tertawa, ia mengebas lengan bajunya, lalu tubuhnya melompat sejauh setombak. Saat tubuhnya berputar, ia lenyap dalam kegelapan.
"Bwee Suci, bawalah muridmu!" teriak Seng Hong. Tidak ada jawaban, suasana tetap sunyi, maka teranglah bahwa si Mayat Besi itu pun telah pergi jauh.
Sampai di situ, Liok Koan Eng membangunkan Wanyen Kang, tetapi orang itu diam saja karena terkena totokan; hanya kedua matanya yang dapat bergerak.
"Aku telah menerima permintaan gurumu, silakan pergi!" kata Seng Hong. Namun, ia tidak dapat membebaskan totokan itu karena bukan berasal dari partainya. Jika ia melakukannya, ia dianggap tidak sopan terhadap penotoknya.
Saat ia hendak berbicara kepada para tamu, Cu Cong menghampiri Wanyen Kang. Tanpa bicara, ia menotok pangeran itu beberapa kali di pinggang dan punggung. Melihat itu, Seng Hong kagum. "Dia lihai sekali," pikirnya. Ia tidak tahu Cu Cong mampu menotok dengan hasil bagus karena keadaan sedang kacau.
Wanyen Kang merasa sangat malu. Tanpa memberi hormat atau bicara sepatah kata pun, ia hendak pergi.
"Orang ini bagaimana?" tanya Cu Cong.
"Bawalah dia pergi!" Ia pun lantas membebaskan Toan Tayjin. Komandan tentara itu menduga nyawanya bakal hilang, maka ia sangat girang ditolong dan dimerdekakan. Dengan tergesa-gesa ia memberi hormat.
"Enghiong, untuk budi pertolonganmu ini, aku Toan Thian Tek tidak akan melupakannya sampai akhir hayatku!" katanya.
Kapan Kwee Ceng mendengar nama Toan Thian Tek, ia terkejut. Nama itu seperti mengaung di telinganya. "Kau... kau bernama Toan Thian Tek?" tanyanya.
"Benar," sahut komandan itu. "Enghiong kecil, apa ada pengajaran untukku?"
"Bukankah delapan belas tahun yang lalu, selama di Lim-an, kau menjadi opsir tentara?" tanya Kwee Ceng lagi.
"Benar, Enghiong kecil. Bagaimana kau tahu?" Thian Tek memandang Koan Eng, sebab barusan ia mendengar keterangan Seng Hong bahwa pemuda itu adalah murid Kouw Bok Taysu. Ia berkata, "Aku adalah keponakan dari Kouw Bok Taysu itu, karenanya kita adalah orang sendiri. Haha!" Ia tertawa girang.
Kwee Ceng tidak bertanya lagi, ia hanya menoleh kepada tuan rumah. "Liok Chungcu, aku mohon pinjam ruangan belakang rumahmu ini."
"Tentu saja boleh," sahut Seng Hong. Kwee Ceng mengucapkan terima kasih, lalu menuntun Toan Thian Tek ke belakang dengan gerakan cepat.
Kanglam Liok Koay saling memandang. Dalam hati mereka berkata, "Tuhan sungguh adil. Siapa sangka justru di sini kita dapat menemui manusia jahat itu! Jika bukan dia yang menyebut namanya sendiri, siapa yang tahu dialah yang dicari ke sana kemari selama tujuh tahun?"
***
Liok Seng Hong beserta putranya dan Wanyen Kang mengikuti si anak muda itu. Tiba di ruang belakang yang terang benderang, Kwee Ceng memohon pinjam alat tulis. Seorang bujang segera menyerahkan perlengkapan yang diminta. Kwee Ceng menulis di atas sehelai kertas: "Sincie dari ayah almarhum, Kwee Siauw Thian."
Huruf-huruf itu ditulis besar-besar, lalu ditaruh di tengah ruangan. Toan Thian Tek kaget setengah mati melihat nama tersebut. Ia segera melihat sekeliling dan menyadari bahwa ia terkurung oleh Kanglam Liok Koay yang berwajah garang. Tanpa sadar, celananya basah karena ketakutan.
Tiba-tiba tangan Kwee Ceng bergerak dengan cepat, disusul suara nyaring meja yang hancur berkeping-keping di depan mereka.
"Katakan, kau ingin mati dengan cepat atau kau ingin tubuhmu hancur berkeping-keping hingga merasakan penderitaan?" kata si anak muda dengan suara bengis sambil menatap tajam musuh besarnya.
Toan Thian Tek merasa ajalnya sudah dekat. "Memang benar, akulah yang membunuh ayahmu," akunya. "Tetapi aku diperintah oleh atasanku, aku tidak bisa berbuat lain."
Mata Kwee Ceng bersinar, seolah biji matanya hendak meloncat keluar. "Siapa yang memerintahkanmu? Siapa yang mengirimmu untuk membinasakan ayahku? Cepat katakan!"
"Itulah Liok-ongya Wanyen Lieh, putra keenam dari negara Kim!" sahut Toan Thian Tek.
Mendengar itu, Wanyen Kang terkejut. "Apa kau bilang?" tanyanya.
Toan Thian Tek membeberkan rahasia bagaimana Wanyen Lieh tertarik pada Pauw Sek Yok, istri Yo Tiat Sim, sehingga bekerja sama dengan tentara Kerajaan Song untuk menyerbu Dusun Gu-kee-cung dan mencelakai keluarga Yo dan Kwee. Dengan berpura-pura baik hati, ia menolong Pauw Sek Yok. Setelah berpisah dalam kekacauan tentara, ia kabur ke Lim-an dan mendapatkan kenaikan pangkat hingga sekarang.
Di akhir penuturannya, ia berlutut di depan Kwee Ceng. "Kwee Enghiong, Kwee Tayjin, hamba hanyalah menjalankan perintah. Mohon arwah Kwee Siauw Thian mengerti bahwa musuh utamamu adalah Wanyen Lieh, bukan aku. Hari ini putramu sudah menjadi pria yang gagah, aku mohon ampunilah nyawa anjingku ini."
Selagi orang itu mengoceh, mendadak Wanyen Kang melompat dan menghajar batok kepala Toan Thian Tek hingga hancur seketika.
Seng Hong dan putranya menjalankan penghormatan di depan sincie, perbuatan yang dituruti oleh Kanglam Liok Koay. Wanyen Kang turut memberi hormat, lalu berkata, "Saudara Kwee, baru sekarang aku tahu Wanyen Lieh adalah musuh besarmu. Tadinya aku tidak tahu, sungguh aku berdosa." Ia menangis teringat penderitaan ibunya.
Kwee Ceng mengangkat kepala. "Apa yang hendak kau perbuat sekarang?"
"Hari ini barulah aku tahu, aku adalah orang bermarga Yo, maka selanjutnya aku akan memakai namaku, Yo Kang," sahut Wanyen Kang.
"Bagus!" kata Kwee Ceng. "Dengan begini kau baru menjadi laki-laki sejati! Besok aku hendak pergi ke utara untuk membunuh Wanyen Lieh, kau mau ikut atau tidak?"
Yo Kang tidak segera menjawab. Ia teringat budi pangeran Kim yang merawatnya sejak kecil. Namun, melihat sinar mata pemuda bermarga Kwee itu yang kurang puas, ia menyahut, "Siauwtee akan ikut Toako menuntut balas!"
Kwee Ceng girang sekali. "Bagus, Saudara!" serunya.