Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 48

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 48

Sekarang bocah ini bisa memanah dua ekor burung sekaligus; sungguh hebat!

Temuchin menyuruh pengiringnya mengambil burung itu. "Anak yang baik, kau hebat!" katanya kepada si bocah.

"Inilah guruku yang mengajari," sahut Kwee Ceng yang tidak ingin menyia-nyiakan Jebe, gurunya itu.

Temuchin tertawa. "Gurunya Jebe, muridnya juga Jebe!" pujinya.

Dalam bahasa Mongol, "Jebe" berarti ahli panah yang lihai atau dewa panah. Tuli hendak membantu adik angkatnya itu. Ia berkata kepada ayahnya, "Ayah tadi bilang, siapa yang berhasil memanah akan dihadiahkan sesuatu. Sekarang saudaraku ini berhasil memanah dua ekor sekaligus, hadiah apakah yang hendak Ayah berikan?"

"Apa pun boleh!" sahut ayahnya, yang kemudian bertanya kepada Kwee Ceng, "Apa yang kau inginkan?"

Tuli girang sekali. "Benarkah barang apa pun boleh?" tegasnya kepada ayahnya.

"Apakah aku dapat mendustai anak-anak?" Ayahnya tertawa.

Semua orang mengawasi Kwee Ceng karena heran atas sikap Khan mereka. Mereka ingin tahu apa yang akan diminta oleh bocah itu.

"Khan yang agung telah memperlakukanku dengan sangat baik, ibuku pun telah memiliki segalanya, karena itu tidak usahlah aku diberikan apa-apa lagi," jawab Kwee Ceng.

Temuchin tertawa lebar. "Kau anak yang berbakti, dalam segala hal kau selalu ingat ibumu!" katanya. "Kau sendiri, apa yang kau kehendaki? Sebutkan saja, jangan takut!"

Kwee Ceng merendahkan suaranya, dengan kedua kaki berlutut di depan kuda Khan yang besar itu. Ia berkata, "Aku sendiri tidak menghendaki apa-apa, aku hendak mewakilkan seseorang memohon suatu hal."

"Apakah itu?" tanya Temuchin.

"Tusaga, cucu Wang Khan itu, busuk dan jahat," katanya. "Jika Putri Gochin dinikahkan dengannya, kelak tuan putri pasti menderita. Maka itu, aku memohon dengan sangat supaya janganlah tuan putri dijodohkan dengan dia."

Tersentak Temuchin mendengar permintaan itu, lalu akhirnya ia tertawa terbahak-bahak. "Sungguh ucapan kanak-kanak!" katanya. "Baiklah, aku akan menghadiahkan kau sebuah mustika!"

Ia melepas golok pendek di pinggangnya dan menyodorkannya kepada si bocah. Semua panglima menjadi kagum dan memuji karena mereka sangat tertarik. Golok pendek itu adalah golok milik Khan sendiri, senjata mustika yang telah digunakan membinasakan banyak musuh. Seandainya Khan tidak telanjur mengucap kata, tentu ia tidak akan menyerahkan golok tersebut.

Kwee Ceng menghaturkan terima kasih. Ia menyambut golok itu yang sarungnya terbuat dari emas, gagangnya berukir emas berkepala harimau, dan bertatahkan batu kumala hitam dengan ukiran kata-kata: "Golok pribadi dari Khan Temuchin". Di sisi lain terdapat ukiran dua baris kalimat: "Membunuh dan memusnahkan musuh bagai menyembelih harimau dan kambing".

Temuchin berkata, "Musuh-musuhku tak usahlah aku sendiri yang membunuhnya, kau anak kecil, kaulah yang mewakilkan aku untuk membunuh mereka!"

Belum lagi Kwee Ceng menjawab, mendadak Gochin menangis, lalu melompat ke atas kudanya dan memacu kudanya kabur.

Temuchin berhati keras bagaikan besi, akan tetapi menyaksikan putrinya yang paling disayangi begitu bersusah hati, hatinya menjadi lemah, maka ia pun menghela napas. Ia memutar kudanya untuk pulang ke kemah. Semua panglima dan pangeran mengikuti dari kejauhan.

Kwee Ceng menunggu sampai orang-orang pergi. Ia menghunus golok pendek itu dan melihat sinarnya yang tajam, seolah mendatangkan hawa dingin. Pada golok itu terdapat tanda darah yang menyatakan entah berapa banyak korban yang telah tumbang. Setelah memainkan golok itu, ia memasukkannya ke dalam sarung.

Kemudian, ia mencabut pedangnya sendiri untuk melatih Wat Lie Kiam-hoat. Ia belum berhasil menyempurnakan jurus "Di cabang pohon menyerang lutung putih". Jika ia tidak melompat terlalu rendah, tentu ia tidak sempat menggerakkan pedangnya. Ia menahan sabar dan mencoba lagi, namun justru makin gagal hingga bermandikan keringat.

Tengah ia berlatih, ia mendengar suara derap kuda, lalu tampak Gochin datang. Tuan putri itu turun dari kudanya, merebahkan diri di atas rumput, dan menyangga kepalanya dengan satu tangan. Ia tidak mengganggu Kwee Ceng yang sedang berlatih, hanya menontonnya.

Hanya ketika melihat kawan itu mengeluarkan banyak tenaga, ia berkata, "Sudah, Engko Ceng, jangan berlatih terus, mari beristirahat!"

"Kau jangan menggangguku, aku tidak punya waktu untuk menemanimu berbicara," kata Kwee Ceng.

Gochin diam, lalu tertawa mengawasi kawannya. Ia menanti sekian lama, lalu mengeluarkan sapu tangannya dan melemparkannya ke arah si anak muda. "Usaplah peluhmu!" katanya.

Kwee Ceng terkejut, namun ia membiarkan sapu tangan itu jatuh di sampingnya dan terus berlatih.

Gochin terus mengawasi sampai suatu saat ia mendengar suara berisik dari dua anak burung rajawali putih di atas tebing, menyusul suara keras dari si rajawali putih besar yang datang terbang. Itu adalah burung yang tadi mengejar kawanan burung hitam dan rupanya baru kembali. Ia bermata tajam dan segera menyadari kematian pasangannya. Burung itu terbang berputar dengan suara sedih.

Kwee Ceng berhenti berlatih dan mengawasi burung itu. "Engko Ceng, lihat, betapa harus dikasihani burung itu?" kata Gochin.

"Pasti ia sangat berduka," sahut Kwee Ceng.

Sekali lagi burung besar itu mengeluarkan suara nyaring, terus terbang tinggi seolah memasuki awan.

"Mau apa ia terbang ke atas?" tanya tuan putri itu.

Belum berhenti suara Gochin, burung itu sudah terbang turun dengan sangat cepat menuju jurang, menabrak batu gunung yang besar, hingga seketika itu pula ia jatuh tidak bernyawa.

Kwee Ceng dan Gochin terkejut sekali. Mereka menjerit dan saling merapat. Sejenak keduanya terdiam.

"Sungguh harus dihormati! Sungguh harus dihormati!" tiba-tiba mereka mendengar suara nyaring dari belakang hingga mereka heran dan berpaling.

Mereka melihat seorang tosu atau imam yang berkumis abu-abu, bermuka merah dadu, dan memegang kebutan pertapa. Penampilannya aneh dengan tiga konde kecil di atas kepalanya yang membentuk huruf "pin". Jubahnya bersih sekali tanpa debu, tidak seperti orang yang berada di gurun pasir. Ia berbicara dalam bahasa Tionghoa.

Gochin tidak mengerti bahasa itu. Kwee Ceng menoleh ke atas tebing dan berkata, "Bagaimana dengan kedua anak burung itu? Bapak dan ibunya telah mati. Sarang di liang atas tebing itu sukar dipanjat, kedua burung itu masih kecil, belum bisa terbang. Bagaimana cara mereka mencari makan? Bukankah mereka bakal mati kelaparan?"

Kwee Ceng terdiam sekian lama, baru ia membuka suara, "Kecuali orang yang bersayap dan dapat terbang naik ke atas sana, baru anak-anak burung itu dapat ditolong." Ia memegang pedangnya lagi dan mulai berlatih. Ia masih tidak berhasil melatih jurus keempat yang baru diajarkan gurunya.

Tiba-tiba terdengar suara dingin di belakangnya, "Dengan belajar seperti itu, seratus tahun lagi pun tidak bakal berhasil!"

Kwee Ceng berhenti bersilat dan menoleh ke arah imam berkonde tiga itu. Ia menjadi tidak senang. "Apa katamu?" tanyanya.

Imam itu tersenyum tanpa menjawab. Tiba-tiba ia mendekat, lalu Kwee Ceng merasakan bahunya kaku. Dengan satu kelebatan, pedangnya berpindah tangan kepada si imam.

Kwee Ceng pernah diajari oleh gurunya yang kedua, Cu Cong, ilmu merampas senjata musuh dengan tangan kosong, tetapi ia belum menguasainya dengan sempurna. Ia kagum akan kelincahan sang imam yang gerakannya bahkan tidak sempat ia lihat.

Ia tidak bisa membela diri atau berkelit. Berbarengan dengan itu, ia khawatir akan Gochin. Ia segera melompat ke depan tuan putri dan menghunus golok pemberian Temuchin untuk bersiap melindungi.

"Lihatlah dengan tegas!" suara si imam yang tidak memedulikan sikap Kwee Ceng. Ia melompat ke atas dan menjalankan jurus yang tidak sanggup dipelajari Kwee Ceng. Pendaratannya sangat cepat namun tenang.

Bocah itu berdiri terpaku dengan mulut terbuka lebar. Si imam melemparkan pedangnya ke tanah lalu tertawa. "Burung rajawali putih itu harus dihormati, turunannya pun tak boleh tidak ditolong!" Setelah berkata demikian, ia melompat ke arah jurang untuk mendaki dengan cepat, gerakannya menyerupai lutung atau kera.

Ia berlari dengan kaki serta menjambret dan merembet dengan tangan. Sebentar kemudian, ia sudah mencapai liang sarang burung rajawali putih itu. Hati Kwee Ceng dan Gochin berdenyut kencang karena kagum, heran, dan khawatir akan keselamatan si imam. Jurang itu tinggi, tebing dan batunya licin. Hancur luluhlah jika jatuh dari sana.

Di atas tebing, tubuh si imam tampak kecil. "Bagaimana?" tanya Gochin sambil memejamkan mata.

"Hampir tiba!" sahut Kwee Ceng.

"Bagus! Bagus!" Gochin menurunkan kedua tangannya tepat saat melihat si imam melompat ke liang. Tubuhnya tampak seperti terpelanting jatuh hingga Gochin menjerit kaget.

Akan tetapi, si imam tiba dengan selamat. Dengan kedua tangannya, ia menangkap dua anak rajawali itu, memasukkannya ke dalam saku, lalu segera turun kembali dengan kecepatan yang sama.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment