Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 97

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 97

Enam orang, yang tinggi tubuhnya tidak rata, tampak berdiri di atas tembok. Namun, karena malam begitu gelap, wajah mereka tidak terlihat nyata. Pheng Lian Houw dan yang lainnya tahu bahwa orang-orang dari pihak ketiga telah datang, tetapi mereka tidak memedulikannya dan tetap berkelahi.

Rupanya keenam orang di atas tembok itu tidak dapat menahan sabar; dua di antaranya langsung melompat turun. Masing-masing bersenjatakan *joan-pian* dan pikulan besi. Dengan senjata itu, mereka langsung menyerang Auwyang Kongcu.

Orang yang mencekal *joan-pian* (cambuk emas), yang bertubuh kate, mendamprat, "Bangsat tukang petik bunga, ke mana kau hendak lari!"

Kwee Ceng mendengar suara orang tersebut dan menjadi girang sekali. "Suhu, lekas tolongi teecu!" teriaknya. Memang keenam orang itu adalah Kanglam Liok Koay.

Sejak berpisah dari Kwee Ceng di Utara, mereka menguntit delapan murid wanita dari Pek To San. Di waktu malam, mereka memergoki Auwyang Kongcu beserta sekalian muridnya merampas anak gadis dari sebuah keluarga baik-baik. Mereka gusar dan langsung menyerang.

Auwyang Kongcu melakukan perlawanan, tetapi Liok Koay telah berlatih bersungguh-sungguh di gurun pasir dan memperoleh banyak kemajuan, sehingga ia kewalahan. Tubuhnya dihajar tongkat Kwa Tin Ok dan kakinya ditendang Cu Cong. Merasa tidak unggul, ia terpaksa melepaskan si nona mangsanya dan lari kabur. Dua muridnya tewas di tangan Lam Hie Jin dan Coan Kim Hoat. Han Siauw Eng lantas menolong si nona dan menggendongnya pulang.

Auwyang Kongcu dikejar, tetapi ia licin dan dapat meloloskan diri. Liok Koay tidak mengejar secara terpisah karena mereka tahu jika bertempur satu lawan satu, pihak mereka tidak sanggup. Namun, mereka terus melakukan penyelidikan. Hal itu tidak sukar karena rombongan Auwyang Kongcu mudah dikenali dari dandanan mereka yang serba putih. Begitulah mereka menguntit hingga ke istana Chao Wang.

Di kegelapan, mudah sekali melihat pakaian rombongan Auwyang Kongcu. Lam Hie Jin dan Han Po Kie segera melakukan penyerangan. Mereka kaget mendengar teriakan Kwee Ceng. Empat yang lainnya turut heran, lalu mengawasi dan melihat dengan jelas bahwa Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi tengah bersilat dengan cambuknya. Ia seperti duduk di pundak Kwee Ceng. Rupanya bocah itu berada di bawah pengaruh orang.

Tanpa sangsi lagi, Han Siauw Eng maju menyerang si Mayat Besi yang sangat ia benci itu, sementara Coan Kim Hoat maju menolong muridnya. Pheng Lian Houw heran atas kedatangan enam orang itu yang langsung menyerang Auwyang Kongcu dan si Mayat Besi.

Lian Houw menggulingkan tubuh untuk keluar dari gelanggang, lalu berteriak, "Semua berhenti! Aku hendak bicara!" Teriakannya nyaring sekali hingga menulikan telinga. Nio Cu Ong bersama See Thong Thian mundur terlebih dahulu. Kwa Tin Ok, yang mendengar teriakan hebat itu, percaya bahwa lawan adalah orang lihai, maka ia pun berteriak kepada saudara-saudaranya, "Adik-adik, tahan dulu!" Mereka semua mundur.

Tiauw Hong pun berhenti bersilat dan bernapas memburu. Oey Yong menghampiri murid ayahnya itu. "Kali ini kau telah berjasa!" katanya. Namun, kepada Kwee Ceng, ia memberi tanda dengan gerakan tangan agar sahabatnya itu melemparkan tubuh si nyonya.

Kwee Ceng mengerti. Untuk memecah perhatian si Mayat Besi, ia memberi keterangan atas pertanyaan orang tadi. Akhirnya ia berkata, "Nah, kau ingatlah baik-baik!" Bersamaan dengan itu, dengan mengerahkan tenaga, ia melemparkan tubuh si nyonya jauh-jauh, lalu ia sendiri segera melompat mundur.

Namun, belum lagi kakinya menapak tanah, cambuk perak yang berkilauan menyambar ke arahnya. Cambuk itu memiliki banyak kait. "Celaka!" teriak Han Po Kie yang menyaksikan bahaya mengancam muridnya. Tanpa ayal lagi, ia menyerang dengan *Kim-liong-pian* (cambuk Naga Emas) miliknya. Kedua cambuk itu beradu keras. Han Po Kie kaget, telapak tangannya sakit. Cambuknya terlepas, terbelit, dan tertarik oleh cambuk Bwee Tiauw Hong.

Bwee Tiauw Hong menyerang Kwee Ceng begitu tubuhnya dilemparkan. Ketika ia jatuh ke tanah, ia menahan dengan tangan, lalu duduk dengan hati-hati. Ia tahu kedatangan Kanglam Liok Koay begitu mendengar suara Kwa Tin Ok. Ia mendongkol sekaligus khawatir. Pikirnya, "Aku mencari mereka ke mana-mana, hari ini mereka datang sendiri. Sekarang aku sedang dikurung musuh; jika harus ditambah musuh dari Tujuh Manusia Aneh ini, pastilah aku bakal binasa." Ia mengertakkan gigi.

Ia mengambil keputusan, "Nio Lao Koay tidak memiliki permusuhan denganku, maka hari ini biarlah aku binasa bersama Cit Koay saja!" Ia mencengkeram erat cambuknya, memasang kuping untuk mendengarkan gerak-gerik lawan. Ia heran karena yang muncul hanya enam, padahal ada tujuh. Ia tidak tahu bahwa Siauw Bie To Thio A Seng telah binasa di tangan suaminya.

Liok Koay bersama rombongan Nio Cu Ong berdiam diri, memosisikan diri di jarak tujuh tombak dari wanita yang cambuknya sangat lihai itu. "Anak Ceng, kenapa mereka itu bertempur?" Cu Cong berbisik kepada muridnya. "Dan kau sendiri, mengapa membantu perempuan siluman itu?"

"Mereka hendak membunuh aku, dia menolong," jawab Kwee Ceng.

"Aku minta kau memberitahukan nama kalian!" Nio Cu Ong menegur Kanglam Liok Koay. "Tengah malam buta, kau lancang masuk ke dalam istana, hendak berbuat apa?"

"Aku bermarga Kwa," sahut Tin Ok. "Kami bersaudara tujuh orang. Orang Kangouw menyebut kami Kanglam Cit Koay."

"Oh, Kanglam Cit Koay!" kata Pheng Lian Houw. "Sudah lama aku mengagumi nama kalian!"

See Thong Thian berteriak, "Bagus! Cit Koay telah datang sendiri! Aku, orang bermarga See, hendak belajar, melihat langsung kepandaian Cit Koay yang namanya demikian besar!" Thong Thian gusar karena ia ingat penghinaan yang diterima empat muridnya. Ia melompat ke depan Pheng Lian Houw.

Auwyang Kongcu bersiap. Ia bermusuh dengan Liok Koay dan Bwee Tiauw Hong karena satu pihak merusak usahanya, yang lain membinasakan murid atau gundiknya. Ini saatnya untuk turun tangan.

See Thong Thian menyerang si Tukang Kayu dari Gunung Lam San, Lam Hie Jin. Lam Hie Jin menancapkan pikulannya dan menangkis serangan tanpa suara. Ia lihai, tetapi baru beberapa jurus, tahulah ia bahwa ia bukan tandingan musuh bermarga See itu. Karena itu, Han Siauw Eng maju dengan pedangnya dan Coan Kim Hoat dengan dacinnya.

Pheng Lian Houw tidak tinggal diam. Sambil berseru keras, ia melompat maju merintangi Coan Kim Hoat, hendak merampas senjatanya yang luar biasa itu. Namun, Kim Hoat lihai dengan gerakan aneh, ia menyerang hingga musuhnya kaget dan harus berkelit dengan jungkir balik.

"Eh, senjata apa yang kau pakai ini?" tanya Lian Houw heran. "Ini barang untuk menimbang di pasar, tetapi kau pakai untuk menyerang orang!"

Coan Kim Hoat mendongkol, "Dacin ini untuk menimbang kau, babi!"

Lian Houw murka lalu menyerang hebat hingga membuat Kim Hoat terdesak. Menyaksikan saudara keenamnya kewalahan, Han Po Kie melompat maju. Walaupun cambuknya dirampas Bwee Tiauw Hong, ia masih memiliki kepalan tangan.

See Thong Thian dan Pheng Lian Houw benar-benar lihai; walaupun dikepung, mereka masih unggul. Maka, Kwa Tin Ok dan Cu Cong maju membantu saudara-saudaranya. Mereka bertempur dalam dua kelompok, tiga lawan satu. Kali ini pihak Liok Koay yang menang angin.

Pertempuran antara Oey Yong dan Hauw Thong Hay berjalan seru. Sebenarnya Thong Hay lebih lihai, tetapi ia kalah gesit dan takut menyentuh tubuh si nona. Karena itu, Oey Yong dapat mendesak hingga lawannya mundur.

Auwyang Kongcu mengamati dan tahu pihaknya keteteran. Ia memutuskan, "Baiklah, aku binasakan dulu beberapa manusia jahat ini. Si wanita siluman, bagaimana pun tidak akan bisa kabur, ia bisa dibereskan belakangan."

Ia melompat ke samping Kwa Tin Ok dengan jurus "Sekejap Seribu Lie" dari ilmu silat *Sin To Soat-san-ciang*. Ia membentak, "Bangsat buta, rasailah kehebatan kongcumu!" Lalu, tangan kanannya meninju.

Kwa Tin Ok mendengar suara angin di kanan, ia menangkis dengan ujung tongkatnya, tetapi ia terkecoh karena serangan datang dari tangan kiri lawan. Ia berkelit dengan mendak, sambil menyerang dengan jurus "Arhat Menunjuk Pengaruh". Auwyang Kongcu menyingkir dari serangan itu, lalu melompat ke arah Lam Hie Jin untuk menyerangnya. Hie Jin terkejut dan berbalik melayani. Auwyang Kongcu tidak mau mengulur waktu; ia lantas meninggalkan musuh itu untuk menyerang yang lain.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment