Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 170

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 170

Ia sangat cerdik. Ia tahu tabiat ayahnya; jika ayahnya sedang berjaga-jaga, sulit baginya untuk kabur. Maka, ia berpikir perlahan untuk mencari akal.

Ketika ia sudah dekat, ia memandang Auwyang Kongcu sambil tertawa manis. "Auwyang Toako, apakah aku terlihat bagus?" tanyanya.

"Kenapa kau begitu menyukai aku?" Auwyang Kongcu sangat girang. Si nona terlihat begitu manis hingga membuat hatinya berdenyut. Ia tidak menyangka hal ini akan terjadi.

"Adik, kau..." katanya kegirangan, hingga ia seperti lupa ingatan dan tidak dapat meneruskan kata-katanya.

"Toako, janganlah terburu-buru hendak pulang ke See Hek," ujar Oey Yong dengan manis. "Tinggallah di Tho Hoa To ini untuk beberapa hari lagi. Bukankah See Hek itu sangat dingin?"

"See Hek memang luas," sahut Auwyang Kongcu. "Memang ada banyak daerah yang dingin, tetapi ada juga yang hangat dan nyaman seperti Kanglam."

"Ah, aku tidak percaya!" sahut si nona dengan gaya menggiurkan. Ia tertawa, "Kau memang paling suka memperdayakan orang!"

Auwyang Kongcu masih hendak menyanggah, tetapi segera dihalangi oleh Auwyang Hong. See Tok sudah dapat menebak maksud Oey Yong yang cerdik itu; sikap manisnya hanyalah daya untuk mengacaukan pikiran Auwyang Kongcu agar ia melupakan isi kitab *Kiu Im Cin-keng*.

"Eh, anak!" tegur Auwyang Hong. "Omongan yang tidak perlu sebaiknya dibicarakan nanti, sekarang belum terlambat. Lekas kau baca di luar kepala!"

Auwyang Kongcu terkejut. Perhatiannya yang sempat teralihkan membuat sebagian ingatannya memudar. Ia pun segera memusatkan pikiran dan mulai membaca. Ia berhasil membaca permulaannya, namun ia mulai lupa pada bagian-bagian yang penjelasan ilmu silatnya sulit, yang bahkan tidak diingat sepenuhnya oleh Oey Hujin sendiri.

Oey Yok Su tertawa saat pemuda itu selesai membaca. "Kau telah membaca banyak, bagus! Kwee Sieheng, mari, sekarang giliranmu!"

Kwee Ceng menghampiri. Ia melihat Auwyang Kongcu kegirangan dan merasa kagum. Dalam hatinya ia berkata, "Anak ini benar-benar lihai. Sekali membaca saja sudah hafal di luar kepala meski tulisannya kacau balau. Aku benar-benar tidak sanggup, maka sekarang baiklah aku menghafal seperti yang Ciu Toako ajarkan kepadaku."

Ang Cit Kong melihat sikap muridnya itu dan tertawa. "Anak tolol, mereka itu sengaja hendak menjadikan kita tontonan! Baiklah, kita mengaku kalah saja."

"Memang aku sebenarnya tidak dapat melawan Auwyang Toako," ujar Kwee Ceng.

Mendadak Oey Yong melompat ke atas payon paseban yang sudah roboh sebagian. Di sana ia berdiri seraya menghunus pisau belati yang diletakkannya di depan dada. Ia berseru, "Ayah! Jikalau kau memaksa aku ikut manusia busuk itu pergi ke See Hek, hari ini anakmu akan binasa di depan matamu!"

Oey Yok Su mengenal baik tabiat anaknya. "Letakkan senjatamu!" ujarnya. "Kita dapat berbicara dengan perlahan."

Sementara itu, Auwyang Hong mulai bertindak. Ia menekan tongkatnya ke tanah hingga terdengar suara aneh. Dari tongkat itu melesat senjata rahasia yang luar biasa menyambar ke arah Oey Yong. Gerakannya begitu hebat sehingga sebelum Oey Yong menyadarinya, pisau belati di tangannya sudah terhajar dan terlepas jatuh ke tanah.

Di saat bersamaan, Oey Yok Su berkelebat. Sedetik kemudian ia sudah sampai di atas paseban dan merangkul pinggang putrinya. "Benarkah kau tidak sudi menikah?" tanyanya perlahan. "Baiklah! Kau diamlah di Tho Hoa To menemani ayahmu seumur hidupmu!"

Oey Yong meronta-ronta sambil menangis. "Ayah, kau tidak sayang Yong-jie!"

Menyaksikan itu, Ang Cit Kong tertawa terbahak-bahak. Ia tidak menyangka Oey Yok Su yang berhati keras dan bengis bisa kewalahan melayani putrinya. Sementara itu, Auwyang Hong berpikir, "Aku akan menunggu keputusan ujian ini selesai, setelah itu aku akan menghabisi pengemis tua serta bocah she Kwee ini. Anak itu manja sekali, apa peduliku?"

Oleh karena itu, ia berkata, "Kwee Sieheng lihai sekali. Kau sungguh pemuda gagah, maka dalam ilmu surat tentu kau pandai juga. Saudara Yok, silakan minta Kwee Sieheng mulai menghafal!" Itu adalah desakan yang disamarkan dengan kata-kata manis.

"Baiklah," sahut Oey Yok Su. "Yong-jie, kalau kau mengacau lagi, pikiran Kwee Sieheng akan ikut kacau." Mendengar itu, Oey Yong segera menutup mulutnya.

Auwyang Hong mendesak, "Kwee Sieheng, silakan mulai! Kami semua akan mendengarkan pembacaanmu dengan saksama."

Wajah Kwee Ceng memerah. "Mana mungkin aku bisa menghafal?" pikirnya. "Baiklah, aku akan membaca ajaran Ciu Toako." Ia pun mulai membaca.

Karena sudah ratusan kali menghafal *Kiu Im Cin-keng* yang diajarkan Ciu Pek Tong, ia mampu menghafalnya dengan lancar tanpa ada satu kata pun yang salah atau terlewati. Semua orang tercengang. Bukankah bocah ini baru melihat kitab itu sekali? Kesan mereka pun berubah: "Bocah ini sebenarnya berotak sangat terang meski nampak tolol."

Oey Yok Su heran. Setelah Kwee Ceng selesai menghafal halaman keempat, ia mendapati bahwa ingatan anak muda itu lebih rapi dan lengkap daripada isi kitabnya sendiri. Itulah isi asli dari *Kiu Im Cin-keng*. Oey Yok Su pun mengeluarkan peluh dingin.

"Mustahilkah istriku yang telah tiada itu demikian cerdas hingga di alam baka ia dapat mengingat kitab asli dan mengajarkannya kepada pemuda ini?" tanyanya dalam hati. Mendengar suara Kwee Ceng yang lancar dan terang, ia mulai percaya bahwa istrinya memang telah mewariskan ilmu itu.

Ia mendongak ke langit dan berucap lirih, "A Heng, sungguh kau sangat mencintaiku hingga meminjam mulut pemuda ini untuk mengajariku *Kiu Im Cin-keng*? Mengapa kau membiarkan aku tidak bisa melihat wajahmu lagi? Setiap malam aku meniup seruling, apakah kau mendengarnya?"

"A Heng" adalah nama kecil Oey Hujin, istri yang sangat dicintai Oey Yok Su, yang bahkan tidak diketahui oleh Oey Yong. Orang-orang heran melihat sikap sang tocu Tho Hoa To; air mukanya berubah, air matanya mengembang, dan ia mengucapkan kata-kata yang tidak dimengerti.

Sesaat kemudian, Oey Yok Su kembali ke dirinya sendiri. Ia tampak bermuram durja. Sambil mengibaskan tangan, ia bertanya dengan suara keras dan bengis, "Apakah kitab *Kiu Im Cin-keng* yang lenyap dari tangan Bwee Taiuw Hong jatuh ke tanganmu?"

Kwee Ceng terkejut. "Tee-tee tidak mengetahui kitab Bwee Cianpwee itu lenyap di mana," sahutnya gugup. "Jikalau aku tahu, pasti aku akan membantu mencarinya untuk dikembalikan kepada tocu."

Oey Yok Su mengawasi wajah Kwee Ceng dengan tajam. Karena tidak menemukan kepalsuan, ia percaya pemuda itu tidak berdusta dan istrinya memang telah mewariskan ilmu itu dari alam baka.

"Baiklah, saudara Cit dan saudara Hong!" katanya dengan suara terang. "Ini adalah menantu pilihan istriku, maka aku tidak dapat berkata apa-apa lagi. Anak, aku menjodohkan Yong-jie kepadamu. Perlakukanlah ia dengan baik. Yong-jie telah termanjakan olehku, maka kau harus suka mengalah."

Oey Yong girang bukan kepalang. Ia tertawa, sama sekali tidak merasa keberatan dengan keputusan itu. "Ayah, bukankah aku anak yang baik?" ujarnya. "Siapa bilang aku termanjakan olehmu?"

Kwee Ceng yang jujur segera menekuk lutut di hadapan Oey Yok Su untuk bersujud empat kali seraya memanggil, "Gakhu Tayjin!"

Namun, sebelum ia bangkit, Auwyang Kongcu membentak, "Tahan dulu!"

Ang Cit Kong yang tadinya girang kini ternganga. "Apa!" serunya. "Apakah kau belum juga menyerah?"

"Apa yang dibacakan saudara Kwee barusan jauh lebih banyak daripada isi kitab ini," kata Auwyang Kongcu. "Mestinya ia telah mendapatkan *Kiu Im Cin-keng* yang asli! Aku akan menggeledah tubuhnya!"

"Oey Tocu sudah selesai menjodohkan putrinya, untuk apa kau menimbulkan kerewelan baru!" tegur Ang Cit Kong. "Kau dengar apa kata pamanmu barusan?"

Mata Auwyang Hong terbelalak. "Aku, Auwyang Hong, mana bisa diakali orang?" teriaknya. Ia yakin kitab *Kiu Im Cin-keng* yang asli ada pada Kwee Ceng dan ingin merampasnya, melupakan bahwa Oey Yok Su telah menetapkan pilihan menantunya.

Kwee Ceng tidak takut. Ia meloloskan ikat pinggangnya dan berkata, "Auwyang Cianpwee, silakan kau periksa!" Ia menyerahkan diri.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment