Chapter 162
Oey Yong tertarik hatinya; ia menonton sambil tertawa geli. Ia mengawasi orang memintal tiat-ceng dan meniup seruling. Lama-kelamaan, ia pun merasa aneh. Wajah kedua orang yang tengah mengadu tetabuhan itu berubah menjadi bersungguh-sungguh dan tegang.
Ia lantas melihat ayahnya beranjak dari duduk menjadi berdiri, meniup serulingnya sambil bergerak ke delapan penjuru menuruti kedudukan pat-kwa. Ia tahu itulah dasar kedudukan ayahnya setiap kali berlatih ilmu dalam. Teranglah bahwa musuh itu lihai sekali, sehingga ayahnya mengambil tindakan tersebut.
Kemudian si nona memandang ke arah Auwyang Hong. Jago dari Barat ini pun menunjukkan wajah dan sikap yang bersungguh-sungguh. Dari kepalanya terlihat hawa mengepul naik seperti uap; itulah hawa panas mengkedus yang keluar. Dengan kedua tangannya, ia terus memintal alat tetabuhannya sampai ujung bajunya menerbitkan suara angin. Nyata sekali ia tidak berani berlaku alpa.
Kwee Ceng, di tempat persembunyiannya, memasang telinga. Ia tidak mengerti apa hubungan antara seruling dan tiat-ceng itu. Ia heran mengapa masing-masing suara alat tetabuhan tersebut dapat memengaruhi orang menjadi tidak tenang. Namun, di dalam ketenangan, perlahan-lahan ia dapat membedakan keduanya. Suara itu saling menyerang; keras melawan lemah, lemah melawan keras. Sebentar kemudian, ia mengerti seluruhnya.
"Tidak salah lagi, Oey Tocu dan Auwyang Hong tengah mengadu ilmu dalam mereka," pikirnya.
Karena itu, ia lantas menutup rapat kedua matanya dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Tadinya Kwee Ceng harus mengeluarkan banyak tenaga melawan desakan tiat-ceng dan seruling, namun sekarang tidak demikian. Ia bisa mendengarkan kedua suara itu dengan tenang. Ia merasakan bagaimana seruling berkelit dari rangsakan tiat-ceng yang hebat, atau setiap kali ada celah, seruling lantas membalas menyerang.
Satu kali ia mendengar suara tiat-ceng menjadi lemah, sebaliknya seruling menjadi kuat. Tiba-tiba Kwee Ceng ingat ajaran Ciu Pek Thong, "Keras tak dapat bertahan lama, lemah tak dapat menjaga terus." Ia lantas menduga tiat-ceng bakal membalas menyerang, dan benar saja, berselang sesaat suara tiat-ceng menjadi keras pula.
Ketika Kwee Ceng menghafal ajaran Ciu Pek Thong itu, ia tidak tahu bahwa itulah rahasia dari Kiu Im Cin-keng. Baru sekarang ia merasakan hubungan ajaran itu dengan pertarungan Oey Yok Su dan Auwyang Hong. Karena insaf akan hal ini, ia menjadi girang sekali. Hanya saja, ia masih belum mengerti jalannya pertempuran itu secara utuh. Ada kalanya seruling dapat menghajar, tetapi kesempatan itu dilewatkan begitu saja.
Mendengar lebih jauh, Kwee Ceng bertanya pada diri sendiri, "Mungkinkah pengajaran Ciu Toako lebih lihai daripada kepandaian Oey Tocu dan Auwyang Hong ini? Mungkinkah mereka tidak dapat melihat cacat masing-masing sehingga kelemahan itu sama-sama tidak dapat digunakan? Tapi heran! Kalau benar Ciu Toako lebih lihai, mestinya lima belas tahun yang lalu ia sudah dapat mencari Oey Tocu di sini untuk menghajarnya. Tidak peduli pulau ini banyak terjaga dengan barisan sesat pat-kwa, ia tentu tidak membiarkan dirinya terkurung di dalam gua."
Kwee Ceng terus mendengarkan. Ia mendapat kenyataan bahwa saat itu sangat genting, hingga ada kemungkinan keputusan siapa menang dan siapa kalah segera tiba. Ia khawatir untuk Oey Tocu. Tepat pada saat itu, dari arah laut yang jauh, terdengar siulan panjang dan lama. Suara itu samar-samar, tetapi Oey Yok Su dan Auwyang Hong terkejut hingga suara seruling dan tiat-ceng mereka berubah menjadi kendur.
Siulan pun terdengar semakin nyata; tandanya orang tersebut semakin dekat. Auwyang Hong memintal dua kali dengan keras sekali, suara tiat-ceng terdengar seperti suara kain terobek. Habis itu, suara siulan terdengar bernada tinggi. Rupanya siulan dan tiat-ceng sedang berbenturan. Tidak lama kemudian, suara seruling dari Oey Yok Su pun ikut masuk ke dalam bentrokan itu.
Sekarang Kwee Ceng menduga pasti ada seseorang yang lihai datang ke pulau Tho Hoa To ini. Ia terbiasa bertarung dengan Ciu Pek Thong, karena itu ia dapat membedakan suara bentrokan ketiga lawan ini: seruling, tiat-ceng, dan siulan.
Setelah memperhatikan lebih jauh, Kwee Ceng merasa orang yang bersiul itu sudah tiba di rimba dekat situ. Ia mendengar siulan orang itu yang tinggi dan rendah bergantian. Ketika ia merasa bentrokan menjadi demikian hebat, saking kagumnya, tanpa sadar ia berseru, "Bagus!"
Ia lantas terkejut sendiri. Bukankah ia sedang bersembunyi? Ia berpikir untuk menyingkir, tapi sudah terlambat. Satu bayangan berkelebat di depannya. Di situ berdiri Oey Yok Su.
"Anak yang baik, mari!" kata sang Tocu dari Tho Hoa To.
Semua tetabuhan sudah berhenti. Dengan membesarkan hati, Kwee Ceng ikut Oey Yok Su pergi ke paseban. Oey Yong tadinya menyumpal telinganya, sehingga ia tidak mendengar seruan si anak muda dan heran melihat kemunculannya. Ia pun sangat girang dan lari menghampiri untuk menyambar tangan orang itu.
"Engko Ceng, akhirnya kau datang juga!" serunya.
Ia girang bercampur sedih hingga air matanya meleleh. Melihat pemuda ini, hati Auwyang Kongcu menjadi panas. Tidak dapat mengendalikan diri, ia melompat dan menghajar kepala Kwee Ceng.
"He, bocah busuk, kau pun datang ke mari!" hardiknya.
Kwee Ceng melihat serangan itu dan dengan sigap ia berkelit. Ilmu silatnya sekarang sudah jauh maju, tidak seperti saat ia masih di rumah abu Keluarga Lauw di Poo-eng. Ia tidak cuma berkelit, tapi terus membalas menyerang. Dengan tangan kirinya, ia mengeluarkan jurus-jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang yang lihai.
Auwyang Kongcu terkejut merasakan tangan kiri orang itu menekan iga kanannya. Ia mengerti lihainya Hang Liong Sip-pat Ciang yang cuma dapat dihindari, tidak ditangkis, dari itu ia lekas-lekas menyingkir ke kiri. Namun, tangan yang lain dari lawannya segera tiba. Dada kirinya terpukul hingga salah satu tulangnya patah.
Auwyang Kongcu mencoba berkelit lagi dengan melompat tinggi ke atas pohon bambu, lalu turun ke bawah. Namun, ia tidak bisa membebaskan diri sepenuhnya. Ia turun dengan muka merah karena malu, sementara dadanya terasa sakit. Ia bergerak dengan perlahan. Menyaksikan perlawanan Kwee Ceng itu, Oey Yok Su dan Auwyang Hong heran sekaligus murka. Oey Yong sebaliknya, ia bertepuk tangan saking girangnya.
Kwee Ceng sendiri sebenarnya kurang mengerti mengapa ia bisa menang. Ia khawatir pemuda itu nanti menyerang pula secara kejam, jadi ia mundur setindak sambil memasang mata.
Auwyang Hong melirik pemuda itu dengan mata merah karena mendongkol. Kemudian ia berkata dengan nyaring, "Pengemis she Ang, aku beri selamat padamu yang sudah mendapatkan murid yang jempol!"
Oey Yong sudah membuka sumpalannya ketika ia mendengar suara Auwyang Hong. Ia lantas mengetahui Ang Cit Kong telah tiba, maka ia lari ke arah rimba sambil memanggil-manggil, "Suhu! Suhu!" Ia kegirangan karena tahu bintang penolong sudah datang.
Mendengar suara putrinya, Oey Yok Su melengak. "Eh, mengapa anakku memanggil guru kepada si pengemis tua?" pikirnya.
Ang Cit Kong si ketua pengemis muncul. Di punggungnya ia menggondol labu merah, tangan kanannya memegang tongkat, dan tangan kirinya menuntun Oey Yong. Ia berjalan sambil tertawa.
"Eh, Yong-jie, kau memanggil apa padanya?" tanya Oey Yok Su gusar.
Oey Yong tidak langsung menjawab ayahnya, ia justru menuding Auwyang Kongcu dan berkata sengit, "Ini manusia busuk telah menghina aku. Jikalau tidak ada Ang Cit Kong yang menolong, sudah tentu kau tidak melihat aku lagi, Ayah!"
"Jangan mengaco!" bentak Oey Yok Su, walaupun ia heran. "Dia toh anak baik-baik, bagaimana cara ia menghina padamu?"
"Jikalau Ayah tidak percaya, nanti aku tanyakan dia!" kata si nona. Ia lantas mengawasi pemuda she Auwyang itu dan berkata keras, "Kau mesti lebih dulu mengangkat sumpah! Jikalau dalam jawabanmu kepada ayahku kau berdusta, kau nanti digigit mati oleh ular-ular di ujung tombak pamanmu itu!"
Mendengar itu, Auwyang Kongcu kaget hingga mukanya pucat. Auwyang Hong tidak kurang kaget dan herannya. Jago dari Wilayah Barat ini kaget sebab ia tahu dua ekor ular pada tongkatnya itu adalah piaraannya selama sepuluh tahun yang sangat berbisa. Jika ia menghukum bawahannya yang berkhianat atau orang yang paling ia benci, ia bisa menggunakan kedua ularnya itu.