Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 218

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 218

"Bagaimana mungkin bisa menyimpan barang di balik air terjun?" tanya Wanyen Lieh heran. "Namun, bukankah semua bukti memastikan demikian?"

See Thong Thian pandai berenang, dan julukannya adalah Kwie-bun Liong Ong—si Raja Naga Pintu Setan. Ia pun segera berkata, "Nanti aku akan terjun untuk memeriksa air terjun ini."

Dengan cepat ia bersiap-siap, lalu segera terjun ke dalam air.

Tidak lama kemudian, ia muncul kembali ke permukaan dan langsung mendarat.

Semua temannya segera menghampirinya.

"Pangeran memang hebat!" kata orang bermarga See ini. "Di balik air terjun ini ada sebuah gua dengan pintu besi yang terkunci."

Wanyen Lieh menjadi sangat gembira. "Surat wasiat Gak Bu Bok pasti disimpan di dalam gua itu!" katanya dengan suara nyaring. "Sekarang, pangeran muda meminta Tuan-Tuan sekalian pergi membuka pintu besi itu."

Perintah ini tidak perlu diulangi lagi. Orang-orang segera melompat maju untuk menerobos air terjun tersebut, kecuali Auwyang Hong yang terus berdiri diam di samping sang pangeran Dinasti Kim itu sambil tersenyum dingin. Ia merasa tingkatannya berbeda, sehingga tidak sudi bertindak seperti rekan-rekannya yang lain.

See Thong Thian maju paling depan. Begitu melewati air terjun, tiba-tiba ada sambaran angin tajam ke arahnya. Meskipun lihai, ia tidak menyangka akan mendapat serangan mendadak seperti itu. Baru saja ia hendak mengelak, tangan kirinya sudah dicengkeram orang lalu didorong dengan keras, hingga ia terpental kembali dan menubruk Nio Cu Ong!

Untunglah keduanya berilmu tinggi sehingga tidak terluka, melainkan hanya terhuyung mundur. Semua orang merasa heran, tetapi sementara itu, See Thong Thian sudah menerobos kembali ke balik air terjun untuk kedua kalinya. Ia merasa penasaran dan kali ini ia sudah bersiap siaga sepenuhnya. Ia melindungi wajahnya.

Benar saja, baru saja ia melewati air, sebuah tinju sudah melayang ke arahnya. Karena sudah bersiap, ia menangkis dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya melancarkan pukulan balasan secara bersamaan.

Pada saat yang sama, Nio Cu Ong ikut menerobos masuk, tetapi ia terkejut karena langsung dihadang oleh sebatang tongkat. Karena terkejut dan tidak sempat menangkis, ia berkelit dengan meliukkan tubuhnya. Akibatnya, ia terjatuh ke dalam air dan kakinya langsung ditarik. Sial baginya, kakinya sempat tersangkut. Namun, berkat kepandaiannya yang tinggi, ia masih sempat melompat keluar dari air terjun tersebut.

Bersamaan dengan itu, See Thong Thian pun terpaksa keluar kembali karena terdesak oleh pukulan yang dahsyat.

Hauw Thong Hay menyaksikan semua kejadian itu. Karena berwatak sembrono dan lupa bahwa ilmu silatnya masih di bawah See Thong Thian yang merupakan kakak seperguruannya, ia langsung merangsek maju. Ia ingin mengandalkan kemampuannya berenang dan membuka mata di dalam air.

Pheng Lian Houw menyadari bahaya yang mengancam rekannya ini. Ia berniat memberikan bantuan, tetapi belum sempat melangkah maju, sesosok benda hitam besar telah terpental keluar dari balik air terjun dan jatuh bergedebuk ke tanah, disusul oleh jeritan Hauw Thong Hay yang ternyata adalah orang yang melayang dan terjatuh tersebut.

Lian Houw segera melompat menghampirinya.

"Pelan-pan, Saudara Hauw!" bisiknya memperingatkan. "Ada apa denganmu?"

"Sial, betisku terkena hantaman keras!" sahut Sam-tauw-kauw, Si Ular Naga Kepala Tiga.

Lian Houw terkejut, heran, sekaligus merasa agak lucu. "Sebenarnya apa yang terjadi?" tanyanya menegaskan. Ia meraba betis temannya itu, tetapi tidak merasakan adanya keanehan. Ia sangat berhati-hati dan tentu saja tidak mau sembarangan menerobos air terjun itu.

Maka ia bertanya lagi, "Apakah ada orang di dalam? Siapa dia?"

"Mana aku tahu?" sahut Thong Hay ketus. Ia merasa kesakitan dan mendongkol. "Baru saja aku masuk, aku sudah dihajar hingga terpental keluar!"

Lian Houw tercengang.

Tepat pada saat itu, Leng Tie Siangjin dengan jubah berkibar menerobos masuk ke balik air terjun. Sesaat kemudian, terdengar suaranya berseru-seru dalam bahasa Tibet, diiringi bunyi pertarungan yang sengit. Jelaslah bahwa ia pun mendapat perlawanan dan harus bertarung.

Wanyen Lieh dan yang lainnya saling pandang, tenggelam dalam keheranan. Mereka tidak tahu musuh macam apa yang berada di balik air terjun itu. Menurut See Thong Thian dan Nio Cu Ong, mereka samar-samar melihat sepasang pemuda dan pemudi; si pemuda bertarung dengan tangan kosong, sedangkan si pemudi menggunakan tongkat.

Terdengar lagi teriakan murka dari Leng Tie Siangjin. Rupanya ia pun terdesak.

"Mengapa Siangjin juga bertindak sembrono begini?" kata Wanyen Lieh sambil mengernyitkan dahi. "Ia membuat kegaduhan yang luar biasa. Bagaimana kalau pasukan pengawal istana mendengarnya? Jika demikian, mana mungkin kita bisa mengambil surat wasiat itu?"

Baru saja ucapan pangeran itu berakhir, mereka melihat aliran air terjun membawa sebuah benda berwarna merah yang segera dikenali sebagai jubah suci milik Leng Tie Siangjin. Disusul oleh suara gemercik air, sepasang cecer milik sang pendeta suci itu terlempar keluar dari balik air terjun.

Khawatir cecer itu akan menimbulkan suara bising saat terjatuh, Hauw Thong Hay melompat untuk menangkapnya.

Dari balik air terjun terdengar sekali lagi umpatan Leng Tie Siangjin, disusul dengan melesatnya tubuh besar sang pendeta keluar. Namun, berkat kepandaiannya yang tinggi, ia mampu mendarat dan berdiri dengan kokoh di luar.

"Ternyata bocah dan gadis yang kita temui di perahu itu!" seru Leng Tie Siangjin dengan sengit.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment