Chapter 206
Ia percaya bahwa surat wasiat itu kelak dapat membantunya membangun negara. Jika berperang, ia pasti akan selalu menang, seperti Gak Hui sebelum difitnah dan binasa di tangan pengkhianat Cin Kwee.
Dalam perjalanannya ke Selatan ini, Wanyen Lieh bertindak secara diam-diam.
Ia khawatir pihak Kerajaan Selatan (Song) akan mengetahuinya dan bersiap siaga, sehingga niatnya tidak akan berhasil.
Itulah sebabnya ia menggunakan perahu.
Ia ingin mendarat secara rahasia di pesisir Ciatkang dan memasuki kota Lim-an, tempat pencurian itu akan dilakukan.
Chao Wang pernah mencari Auwyang Kongcu yang lihai itu, yang ia percaya dapat membantunya. Namun, pemuda itu tidak berhasil ditemukan, sehingga ia terpaksa melanjutkan perjalanan.
Sungguh di luar dugaan, kini ia bertemu dengan Kwee Ceng di tengah laut ini.
Ia hanya belum tahu apa maksud pemuda bermarga Kwee ini.
Menghadapi musuh besar yang telah membunuh ayahnya, Kwee Ceng menjadi sangat gusar. Ia mengawasinya dengan pandangan bengis.
Di lain pihak, Oey Yong yang bermata tajam melihat sesosok tubuh keluar dari dalam perahu lalu menyelip masuk kembali. Samar-samar ia mengenali sosok itu sebagai Yo Kang.
Auwyang Kongcu lantas angkat bicara untuk memperkenalkan pamannya.
"Paman, inilah Pangeran Keenam dari Negeri Kim yang agung, yang sangat mendambakan orang-orang pintar dan gagah!" demikian kata sang keponakan.
Ia juga memperkenalkan sang pangeran kepada pamannya.
Wanyen Lieh tidak mengetahui kehebatan Auwyang Hong. Namun, karena Auwyang Kongcu yang memperkenalkannya, ia pun mengangkat kedua tangannya untuk memberi hormat.
Sebaliknya, setelah mendengar bahwa orang ini adalah See Tok yang termasyhur, Pheng Lian Houw, See Thong Thian, dan yang lainnya bergegas memberi hormat sambil melontarkan pujian setinggi langit untuk menyanjung si Racun dari Barat tersebut.
Auwyang Hong menjura setengah membungkuk untuk membalas penghormatan tersebut.
Leng Tie Siangjin, pendeta dari Tibet itu, belum pernah mendengar nama See Tok. Ia hanya merapatkan kedua tangannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Sebagai orang yang cerdik, Wanyen Lieh mengamati bagaimana Pheng Lian Houw dan tokoh-tokoh berkedudukan tinggi lainnya begitu menghormati Auwyang Hong. Meskipun wajah See Tok tampak kuning, bengkak, dan dandanannya tidak karuan layaknya orang berpenyakitan, ia lekas memperlakukannya dengan sangat hormat sembari mengucapkan kata-kata pujian.
Di atas perahu saat itu, perasaan Som Sian Lao Koay adalah yang paling berkecamuk dibanding yang lainnya.
Ia tengah berhadapan dengan Kwee Ceng, pemuda yang telah menghisap habis darah ular peliharaannya—ular yang telah dirawatnya sekian lama dan menjadi tumpuan harapannya.
Berhadapan dengan musuh besarnya, bagaimana mungkin ia tidak murka? Namun, di samping pemuda itu ada Ang Cit Kong, sosok yang paling ia segani dan takuti. Mau tidak mau, ia harus mengendalikan diri dan memaksakan wajah berseri-seri. Sambil menjura rendah memberi hormat, ia berkata dengan nada rendah hati, "Nio Cu Ong yang rendah ini menghadap Ang Pangcu. Apakah Pangcu sehat-sehat saja?"
Mendengar suara Som Sian Lao Koay, semua orang terperanjat.
Baik See Tok maupun Pak Kay sangatlah termasyhur. Sebelumnya mereka belum pernah melihat kedua tokoh legendaris itu secara langsung, siapa sangka kini keduanya muncul secara bersamaan.
Semua orang heran, lalu mereka berpaling menatap Auwyang Hong untuk melihat bagaimana reaksi See Tok.
Auwyang Hong sangat cerdik; ia langsung memutar otak untuk menyusun rencana keji.
Tentu saja, Ang Cit Kong adalah orang pertama yang harus disingkirkan.
Kwee Ceng adalah sasaran kedua, karena pemuda itu harus dipaksa terlebih dahulu untuk menjabarkan rahasia Kitab Kiu Im Cin-keng.
Oey Yong pun harus dibunuh, tidak peduli meskipun Auwyang Kongcu sangat mencintainya.
Selama Oey Yong masih hidup, ia merasa keselamatannya terancam. Namun, karena segan kepada Oey Yok Su, ia tidak ingin turun tangan sendiri dan berniat meminjam tangan orang lain.
Terutama dalam situasi sekarang, ia tidak sudi memberi kesempatan kepada mereka bertiga untuk membongkar kejahatannya.
Maka, ia berkata kepada Wanyen Lieh, "Ketiga orang ini sangat licin dan ilmu silat mereka pun sangat lihai. Oleh karena itu, saya mohon Ongya berhati-hati terhadap mereka."
Mendengar ucapan Auwyang Hong, Nio Cu Ong menjadi sangat gembira.
Ia melangkah maju mendekati Kwee Ceng, lalu menjulurkan tangannya untuk mencengkeram pemuda itu.
Kwee Ceng memutar lengannya yang hendak dicekal itu untuk membalas.
"Plak!" Tangannya langsung menghantam bahu lawan.
Itulah jurus "Melihat Naga di Sawah". Pukulannya sangat cepat dan berat. Meskipun Som Sian Lao Koay lihai, ia tetap terpukul mundur hingga dua langkah dan tubuhnya terhuyung-huyung.
Hal ini sama sekali di luar dugaannya.
Pheng Lian Houw dan yang lainnya hanya bersikap baik di depan Nio Cu Ong, padahal dalam hati mereka membencinya. Oleh karena itu, mereka merasa senang melihat Som Sian Lao Koay terkena hajaran tersebut.
Meski demikian, mereka segera bertindak dan menyebar untuk mengepung Ang Cit Kong beserta dua rekannya.
Mereka sudah berniat untuk turun tangan begitu orang bermarga Nio itu roboh.
Sebenarnya, saat mengulurkan tangan tadi, Nio Cu Ong sudah bersiap-siap jika Kwee Ceng menyerang dengan jurus "Naga Menyesal". Ia tidak menyangka bahwa hanya dalam waktu satu bulan, pemuda itu telah menguasai seluruh jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang. Akibatnya, dalam satu gebrakan saja, ia langsung terkena telak tanpa sempat menghindar.
Hatinya pun menjadi semakin panas.
Nio Cu Ong tidak membiarkan Kwee Ceng menyerang lebih jauh; dialah yang segera mengambil tindakan. Dengan menjejakkan kaki kiri, ia melompat maju seraya menggerakkan kedua tangannya secara bersamaan. Ia menyerang menggunakan jurus andalannya, yaitu ilmu silat "Liauw-tong Ya-ho Kun-hoat" atau kungfu "Rase Liar dari Liaodong".
Melalui serangan ini, ia berniat merenggut nyawa pemuda itu demi menebus rasa malunya yang baru saja terjadi, sekaligus membalas rasa sakit hatinya karena darah ular kesayangannya telah dihisap habis.
Kungfu Rase Liar merupakan ilmu silat yang sangat tersohor di wilayah Liaodong.
Suatu ketika, saat Som Sian Lao Koay pergi mencari gingseng di Gunung Tian Pek San, ia tidak sengaja menyaksikan pertarungan antara seekor anjing pemburu dan seekor rase liar yang bergulat di atas salju.
Rase tersebut sangat gesit dan licin, melompat ke sana kemari untuk menghindari terkaman anjing buruan yang galak itu.
Hingga sekian lama, anjing tersebut belum juga berhasil menangkapnya.
Menyaksikan kegesitan rase itu, Nio Cu Ong mendapatkan ilham, lalu ia pun menciptakan ilmu silat tersebut.
Ia mengurungkan niatnya mencari gingseng dan memilih mendirikan sebuah gubuk di gunung itu.
Selama satu bulan penuh ia mengurung diri hingga akhirnya berhasil menyempurnakan ilmu silat barunya tersebut.
Sejak saat itu, terkecuali saat kalah di tangan Ang Cit Kong, belum pernah ada orang yang sanggup menandinginya. Maka dari itu, ia merasa sangat heran melihat dirinya bisa terhajar oleh Kwee Ceng sekarang.
Akibat kejadian ini, ia tidak berani lagi berlaku sembarangan dan memutuskan untuk mengandalkan kegesitannya.
Ia melompat dan berkelit bahkan saat lawan tidak menyerangnya, lalu menjatuhkan diri ke tanah sebelum akhirnya melancarkan serangan yang sesungguhnya.
Kwee Ceng merasa asing dengan ilmu silat lawannya itu.
Belum pernah ia melihat ilmu silat seaneh itu.
Namun, ia hanya merasa heran sesaat, lalu tetap melawannya dengan tenang dan sabar.
Ia mengingat ajaran Ang Cit Kong bahwa seberapa pun gesit dan hebatnya musuh, ia tidak boleh membiarkan dirinya dipermainkan.
Maka, ia tetap konsisten menggunakan Hang Liong Sip-pat Ciang untuk meladeni musuh.
Setelah lewat beberapa jurus, para penonton yang menyaksikannya mulai menggeleng-gelengkan kepala.
Sebagai sesama ahli bela diri yang lihai, mereka merasa heran.
"Bukankah Nio Cu Ong sangat lihai dan merupakan ketua dari sebuah sekte persilatan?" demikian pikir mereka.
"Mengapa sekarang, saat menghadapi seorang bocah saja, ia hanya terus melompat-lompat? Ia terus berkelit dan tidak melancarkan serangan yang sungguh-sungguh."
Pertarungan pun terus berlanjut.
Sepanjang pertarungan, Kwee Ceng terus mendesak lawannya.
Sedikit lagi, Som Sian Lao Koay pasti akan terdesak hingga tercebur ke dalam laut.
Nio Cu Ong merasa heran sekaligus gelisah mendapati kungfu Rase Liarnya tidak mempan terhadap pemuda itu. Ia pun terkapak berpikir untuk menggunakan jurus lainnya.
Malangnya, ia tidak sempat mewujudkan niatnya tersebut karena Kwee Ceng terus mendesak tanpa memberinya kesempatan sama sekali.
Di tengah deru angin pukulan yang dahsyat, tiba-tiba terdengar seruan Ang Cit Kong, yang sejak tadi hanya menonton diam dengan mata waspada, "Turunlah!"
Menyusul seruan tersebut, Kwee Ceng langsung melancarkan serangan dengan jurus "Menunggang Enam Naga". Tangan kirinya menyapu dengan sangat dahsyat.
Nio Cu Ong terkejut setengah mati. Ia hendak berkelit, tetapi tubuhnya telanjur terlempar jatuh ke luar perahu tanpa bisa ditahan lagi!
Semua orang terperangah.
Selain Auwyang Hong, tidak ada seorang pun yang sempat melihat dengan jelas bagaimana gerakan Kwee Ceng tadi.
Mereka pun bergegas berlari ke tepi perahu untuk melihat ke arah jatuhnya tubuh Nio Cu Ong.
Saat mereka tengah berlari, tiba-tiba dari arah laut terdengar suara tawa yang nyaring dan panjang, disusul melesatnya tubuh Som Sian Lao Koay kembali ke atas perahu. Tubuhnya jatuh bergedebuk keras di atas geladak dan ia tergeletak di sana tanpa mampu bergerak lagi.
Kejadian itu membuat semua orang semakin kebingungan.
Mungkinkah air laut atau empasan gelombang yang telah melontarkan tubuh orang itu kembali ke atas? Karena penasaran, mereka semua pun melongok ke bawah permukaan air.
Di sana, mereka segera melihat seorang kakek tua berambut dan berkumis putih yang sedang meluncur ke sana kemari dengan sangat cepat di permukaan laut dekat perahu.
Setelah mengamati sejenak, barulah mereka menyadari bahwa orang tua itu ternyata sedang menunggangi seekor ikan hiu yang sangat besar.
Pantas saja ia dapat bergerak dengan begitu cepat dan lincah.
Kwee Ceng pun melihat orang tua itu. Rasa terkejut sekaligus gembira yang luar biasa langsung membuncah di hatinya.
"Ciu Toako!" teriaknya dengan lantang. "Aku di sini!"
Benar saja, orang tua yang menunggangi hiu itu tidak lain adalah sang Bocah Nakal, Ciu Pek Thong, yang memang terkenal jenaka dan kocak.
Begitu mendengar suara Kwee Ceng yang sangat dikenalnya, Pek Thong pun merasa gembira bukan main.