Chapter 90
Keduanya saling menarik dengan keras, hingga gagang tombak itu patah dengan sendirinya.
Kwee Ceng lantas melompat maju dan membentak, "Kau telah bertemu dengan ayahmu sendiri, kenapa kau masih tidak berlutut untuk memberi hormat!" Wanyen Kang bimbang dan kehilangan keberanian.
Yo Tiat Sim tidak memedulikan pangeran itu. Dengan membawa istrinya, ia telah tiba di luar.
Ia lantas disambut oleh Bok Liam Cu, putrinya, kemudian mereka bersama-sama melompati tembok untuk menyingkirkan diri.
Kwee Ceng juga tidak berani berlama-lama, segera ia pun lari keluar.
Saat hendak melompati tembok, ia merasakan sambaran angin ke arah kepalanya.
Ia kaget sekali dan dengan cepat merendahkan diri.
Meski begitu, angin menyambar lewat di mukanya, ia merasakan perih bagaikan tersayat pisau.
Hal itu menandakan betapa lihainya si penyerang.
Selagi ia terkejut, ia mendengar bentakan, "Anak tolol, aku si orang tua sudah lama menantikanmu di sini!" Itu adalah suara Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong!
Pada waktu yang sama di kalangan lain, tatkala mendengar Pheng Lian Houw mengaku sebagai murid Hek Hong Siang Sat, Oey Yong tertawa kepada tokoh itu, "Kau kalah!" Ia berbicara dengan terpaksa karena hatinya cemas mendengar suara Kwee Ceng. Setelah berkata demikian, ia segera memutar tubuh dan bertindak menuju pintu.
Dalam satu kelebatan, Pheng Lian Houw sudah menghadang di ambang pintu.
"Oleh karena kau adalah murid Hek Hong Siang Sat, aku tidak berniat mengganggumu," ujar orang bermarga Pheng itu. "Hanya katakanlah, apa perlunya gurumu memerintahkan kau datang kemari?"
Oey Yong tertawa. Ia menyahut, "Kau sendiri yang bilang, jikalau dalam sepuluh jurus kau tidak dapat mengenali ilmu silatku, kau akan membiarkanku berlalu dari sini. Kau adalah laki-laki sejati, kenapa sekarang kau menyangkal?"
Pheng Lian Houw gusar sekali. Ia membentak, "Jurusmu yang terakhir adalah jurus 'Tindakan Binatang Sakti'. Apakah itu bukan ajaran dari Hek Hong Siang Sat?"
Oey Yong tertawa pula. "Belum pernah aku melihat Hek Hong Siang Sat," katanya. "Lagipula, dengan kepandaian semacam itu, mereka mana pantas menjadi guruku?"
"Percuma kau menyangkal!" seru Lian Houw.
"Nama Hek Hong Siang Sat memang pernah aku dengar," ujar Oey Yong tanpa memedulikan perkataan orang. "Yang aku tahu tentang mereka ialah mereka pengrusak keadilan dan perikemanusiaan; tidak ada kejahatan yang tidak mereka lakukan. Mereka pun telah mendurhaka terhadap guru dan kakek guru mereka. Jadi, mereka adalah sampah Rimba Persilatan! Kenapa Pheng Cecu menyamakanku dengan mereka?"
Mulanya orang menyangka nona ini tidak hendak bicara terus terang, akan tetapi mendengar ia mencela Hek Hong Siang Sat begitu hebat—yang oleh Pheng Lian Houw disebut sebagai gurunya—mereka menjadi saling mengawasi. Dari heran, mereka mulai percaya. Orang boleh berdusta hebat, tetapi tidak ada murid yang berani mencela dan mencaci guru sendiri di hadapan orang banyak.
Mau tidak mau, Pheng Lian Houw mengalah. "Nona kecil, anggaplah kau menang," katanya. "Aku, Lao Pheng, kagum sekali padamu! Sekarang aku ingin meminta namamu yang harum."
Oey Yong tertawa lagi. "Maafkan, aku dipanggil Yong-jie," sahutnya.
"Apakah margamu?" Lian Houw bertanya lagi.
"Aku tidak punya marga," jawab si nona sambil tersenyum.
Semua orang di situ, kecuali Leng Tie Siangjin dan Auwyang Kongcu, telah menjadi pecundang di hadapan nona ini. Oleh karena Leng Tie Siangjin terluka parah hingga tidak dapat menggerakkan tubuhnya, kelihatannya cuma Auwyang Kongcu yang bisa menghalangi nona ini. Maka, semua mata tertuju kepada pemuda bermarga Auwyang itu.
Auwyang Kongcu, sambil tersenyum, lantas bertindak perlahan. "Aku yang rendah dan bodoh ingin meminta pengajaran beberapa jurus dari nona," katanya.
Oey Yong mengawasi, terutama pakaian orang itu yang serba putih. "Mereka itu—nona-nona cantik yang menunggang unta putih—adakah mereka orang-orangmu?" tanyanya menegaskan.
Auwyang Kongcu tertawa. "Apakah kau telah bertemu dengan mereka? Kecantikan mereka itu tidak ada separuhnya dari kecantikanmu."
Oey Yong tampak jengah hingga wajahnya bersemu merah. "Di sini ada beberapa orang tua bangka yang hendak menyusahkanku, mengapa kau tidak membantuku?" tanyanya.
Auwyang Kongcu tidak bisa langsung menjawab, ia menatap dengan tajam. Ia merasa hatinya gatal dan tulang-tulangnya lemas. Anak muda ini lihai ilmu silatnya; di See Hek, wilayah Barat, ia menjagoi seorang diri. Namun, ia juga gemar sekali pada paras elok. Sejak beberapa tahun lalu, ia sudah mengirim orang ke pelbagai tempat untuk mencari nona-nona cantik guna dijadikan gundik. Di waktu senggang, ia mengajarkan ilmu silat dan sastra, sehingga mereka menjadi muridnya.
Kali ini ia pergi dari kampung halamannya atas undangan Chao Wang. Ia datang ke kota raja, Yankhia, dengan mengajak gundik-gundiknya yang juga muridnya itu. Ia sengaja memerintahkan mereka menyamar sebagai pria dengan pakaian serba putih serta menunggang unta putih.
Karena gundiknya banyak, ia membagi mereka dalam beberapa rombongan. Salah satu rombongan yang berjumlah delapan orang bertemu dengan Kanglam Liok Koay dan Kwee Ceng di tengah jalan. Mereka mendengar Biauw Ciu Sie-seng bicara perihal kuda jempolan yang berkeringat merah, lalu tertarik untuk merampasnya guna diserahkan kepada Auwyang Kongcu demi mengambil hatinya. Di luar sangkaan, mereka gagal.
Auwyang Kongcu pun bangga akan gundik-gundiknya itu, yang ia percaya sebagai yang tercantik di kolong langit—bahkan di keraton raja belum tentu ada tandingannya. Ia tidak menyangka mereka kalah dari Oey Yong, hingga ia menjadi tergila-gila sampai kepalanya pening karena mendengar suara nona yang merdu itu.
"Nah, aku hendak pergi!" kata si nona pula. "Kalau mereka menghalangiku, kau bantu aku, maukah?"
Auwyang Kongcu tertawa. "Untuk membantumu, itu bisa saja. Asal kau angkat aku menjadi gurumu dan selamanya kau mengikuti aku."
Si nona tertawa. "Umpama aku menjadi muridmu, tak usahlah untuk selamanya aku mengikuti kau!"
"Murid-muridku berbeda dari murid orang lain," ujar Auwyang Kongcu. "Semua muridku wanita, dan asal sekali saja aku memanggil, semuanya bakal datang."
Oey Yong memiringkan kepalanya. "Aku tidak percaya!"
Auwyang Kongcu hendak membuktikan perkataannya, ia lantas bersuara. Sebentar saja di muka pintu terlihat beberapa puluh wanita muda dengan pakaian serba putih berseragam. Mereka memiliki postur tubuh yang beragam, ada yang kurus, montok, tinggi, hingga pendek. Dengan sigap, mereka berdiri berkumpul di belakang pemuda itu. Mereka sebelumnya berkumpul di luar selagi Auwyang Kongcu berpesta.
Pheng Lian Houw dan yang lainnya terkesima. Memandang nona-nona manis itu, mereka kaget sekaligus tergiur. Ketika di Kalgan, Oey Yong telah merobohkan delapan dari mereka dan mengetahui kepandaian silat mereka biasa saja. Sekarang, ia sengaja mempermainkan Auwyang Kongcu supaya orang itu mengumpulkan gundik-gundiknya. Ia berharap, selagi orang berkumpul banyak, ia dapat mencari celah untuk meloloskan diri.
Namun, Auwyang Kongcu cerdik. Ia rupanya dapat menebak maksud itu. Ia pergi ke ambang pintu sambil perlahan mengipasi diri, sementara di bawah sinar merah api lilin, ia mengerling ke arah si nona. Ia terlihat tenang dan puas.
Mengetahui akalnya gagal, Oey Yong memutar otak. "Jikalau kau benar-benar lihai, memang tidak ada yang lebih baik daripada aku mengangkat kau menjadi guru, supaya kelak aku tak usah menerima penghinaan orang."
"Apakah kau hendak mencobanya?" Auwyang Kongcu menegaskan.
"Benar!" jawab si nona.
"Baiklah!" kata kongcu itu. "Nah, kemarilah! Kau tak usah takut, aku tidak akan membalas menyerang."
"Bagaimana mungkin? Apakah tanpa membalas menyerang kau dapat mengalahkanku? Benarkah?"
Pemuda itu tertawa. "Walaupun kau memukulku, mana tega aku membalas memukul?"
Lian Houw dan yang lain heran. Mereka beranggapan pemuda ini benar-benar ceriwis. Mereka pikir, "Nona ini lihai, walaupun dia sepuluh kali lebih pandai, mana mungkin bisa mengalahkannya tanpa dia membalas?"
"Aku tidak percaya kau tidak bakal membalas!" kata Oey Yong pula. "Hendak aku telingkung tanganmu ke belakang!"
"Baik," sahut Auwyang Kongcu. Ia membuka ikat pinggangnya, menyerahkannya kepada si nona, lalu membawa kedua tangannya ke belakang punggung, bersedia dibelenggu.
Oey Yong heran melihat orang itu benar-benar menyerahkan diri. Pada wajahnya tidak terlihat suatu apa pun, ia tetap tersenyum, tetapi hatinya terkesiap. Ia berpikir, "Terang sekali orang ini tidak bermaksud baik, maka sungguh celaka jika aku sampai tertangkap olehnya." Karena itu, ia berpikir keras.
Ia lekas mengambil keputusan, "Biarlah, aku bekerja setindak demi setindak." Ia menyambut ikat pinggang sutra yang kuat itu, lalu mengikat tangan orang tersebut.
"Bagaimana sekarang? Bagaimana kalah menangnya?" si nona bertanya.
Auwyang Kongcu meluruskan kaki kanannya ke lantai, lalu dengan kaki kiri sebagai tumpuan, ia berputar. Kaki kanannya menggurat lantai, menciptakan sebuah lingkaran dengan diameter setengah depa sebagai tanda kekuatan kakinya. Lingkaran itu seluas enam kaki.