Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 61

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 61

Setelah mengambil keputusan, Kwee Ceng menghadap Jenghis Khan untuk memberitahukan niat perjalanannya.

"Bagus, pergilah!" Khan menyetujui. "Saat pulang nanti, bawalah serta kepala Wanyen Lieh, putra keenam raja Kim! Untuk melakukan tugas besar itu, berapa banyak pengiring yang kau butuhkan?"

"Hamba akan pergi bersama keenam guru saya, tidak perlu membawa pengiring," sahut Kwee Ceng. Ia merasa dengan pergi bersama guru-gurunya, ia tentu akan berhasil. Sementara itu, membawa pengiring yang tidak mengerti ilmu meringankan tubuh hanya akan merepotkan. Ia senang dengan perintah Khan ini untuk membinasakan Wanyen Lieh. Semenjak kecil, ia telah dididik oleh ibunya yang sangat membenci bangsa Kim.

Jenghis Khan menerima jawaban itu dengan baik dan berpesan, "Sekarang kuda-kuda kita belum gemuk dan tentara kita belum terlatih sempurna, kita belum dapat menandingi negara Kim. Maka dari itu, kau harus bekerja dengan hati-hati supaya tidak meninggalkan jejak!" Kwee Ceng berjanji untuk mematuhinya.

Jenghis Khan menghadiahkan uang emas tiga puluh tael sebagai ongkos perjalanan, sementara Kanglam Liok Koay diberi barang-barang emas serta benda berharga rampasan dari Wang Khan. Pada hari ketiga, setelah berpamitan dengan ibunya sambil bercucuran air mata, Kwee Ceng berangkat bersama guru-gurunya.

Terlebih dahulu mereka menyambangi makam Thio A Seng untuk berpamitan kepada roh mendiang guru tersebut. Setelah itu, tujuan mereka adalah ke selatan. Baru berjalan sepuluh li, terlihat dua ekor burung rajawali kepala putih terbang berputaran di atas kepala mereka. Kemudian, tampak Tuli datang bersama Gochin dengan berkuda.

Tuli memberikan bingkisan sepotong baju bulu tiauw yang mahal, yang juga merupakan barang rampasan dari Wang Khan. Gochin datang menemui calon suaminya, tetapi ia tidak dapat berbicara dan wajahnya bersemu merah.

"Adikku, bicaralah dengannya, aku tidak akan mendengarkan!" kata Tuli sambil tertawa, lalu ia memacu kudanya menjauh.

Gochin menoleh, namun ia masih belum bisa bicara. Setelah beberapa lama, barulah ia berpesan, "Kau harus lekas pulang." Kwee Ceng mengangguk. "Ada pesan lagi?" tanyanya. Gochin menggelengkan kepala. Kwee Ceng mendekati putri itu, menggendongnya, lalu membawanya kembali kepada Tuli. Setelah saling rangkul dengan Tuli, Kwee Ceng memacu kudanya untuk menyusul keenam gurunya yang sudah berjalan jauh.

Gochin melongo dengan hati yang tawar. Ia mendapati sikap Kwee Ceng biasa saja, tidak seperti seorang tunangan. Saking masgul, ia memacu kudanya hingga binatang itu berlari kencang. Kwee Ceng terus berjalan bersama keenam gurunya menuju ke tenggara, siang berjalan dan malam singgah, hingga akhirnya melintasi tanah datar gurun pasir.

Suatu hari, saat hampir tiba di Hek Sui Ho yang tidak jauh dari Kalgan, Kwee Ceng merasakan suasana yang berbeda. Belum pernah ia melintas jauh dari gurun, sekarang ia mulai tiba di Tionggoan dan melihat pemandangan yang berbeda. Tanpa sadar, ia memacu perut kudanya agar berlari lebih cepat. Tak lama kemudian, tibalah ia di Hek Sui Ho, di sebuah rumah makan di tepi jalan.

Kwee Ceng merasa kasihan melihat kuda kecilnya berlari keras hingga bermandikan keringat. Ia mengambil sabuk untuk menyeka tubuh kuda itu, namun tiba-tiba ia kaget. Sabuk itu menjadi merah seluruhnya. Saat ia meraba tubuh kudanya, tangannya juga penuh dengan darah. Hampir saja ia menangis karena menyesal telah menyiksa kudanya. Ia merangkul leher kuda itu untuk menghibur, tetapi kuda itu justru tampak segar bugar tanpa ada tanda luka.

Kwee Ceng menoleh ke arah jalan besar tempatnya datang tadi. Ia berharap gurunya yang ketiga, Han Po Kie, segera tiba untuk membantu mengobati kudanya. Karena gurunya belum juga tampak, ia terus menoleh. Tiba-tiba, telinganya mendengar denting kelenengan unta. Ia melihat empat ekor unta berbulu putih mendekat dengan penunggang yang berpakaian serba putih. Mereka semua pria. Belum pernah Kwee Ceng melihat unta yang begitu bagus. Ia pun tertarik melihat keempat penunggangnya yang masih muda, mungkin berumur dua puluh dua atau dua puluh tiga tahun, dan semuanya berwajah tampan.

Setibanya di depan restoran, keempat penunggang unta itu melompat turun dan masuk ke dalam. Dari gerak-geriknya, tampak jelas mereka mengerti ilmu silat. Selain pakaian putih, di leher mereka terlihat bulu rase. Salah satu pemuda melihat Kwee Ceng sedang memperhatikan mereka; ia menjadi kesal, wajahnya memerah, lalu segera menunduk.

Salah satu kawannya menegur, "Eh, bocah, apa yang kau perhatikan?"

Kwee Ceng terperanjat dan segera memalingkan muka. Ia mendengar mereka berbicara satu sama lain, lalu tertawa riuh. Ia merasa malu dan sempat berpikir untuk pindah tempat singgah. Untungnya, saat itu Han Po Kie tiba. Kwee Ceng segera berlari kepada gurunya untuk melaporkan kondisi kudanya yang mengeluarkan keringat darah.

"Begitu?" tanya guru itu heran. Ia mendekati kuda Kwee Ceng, meraba pundaknya, lalu mengangkat tangannya yang berlumuran darah ke arah matahari. Setelah mengamatinya cukup lama, ia tertawa lebar. "Ini bukan darah, ini adalah keringat!" serunya.

Kwee Ceng tercengang. "Keringat? Ada keringat merah?"

Po Kie tidak menjawab pertanyaan muridnya, tetapi dengan bersemangat ia berkata, "Anak Ceng, kau telah mendapatkan *han-hiat po-ma*, kuda yang dalam seribu tahun sulit ditemukan!"

Kwee Ceng heran sekaligus girang karena kudanya tidak terluka. Ia heran mendengar tentang *han-hiat po-ma*, yaitu kuda istimewa dengan keringat seperti darah. "Suhu, kenapa dia mengeluarkan keringat bagaikan darah?"

"Dulu pernah aku dengar penjelasan mendiang guruku," sahut Po Kie. "Katanya, di tanah barat, tepatnya di daerah Ferghana, ada kuda liar biasa yang disebut kuda langit. Pundak kuda itu mengeluarkan keringat merah seperti darah, dan kuda itu sangat cepat larinya, satu hari dapat menempuh jarak seribu li. Tentu itu baru cerita, belum pernah ada yang melihat buktinya."

Selagi guru dan murid itu berbincang, rombongan Tin Ok tiba dan diberitahu tentang kuda tersebut. Cu Cong, seorang sastrawan yang berpengetahuan luas, menyahut, "Tentang itu tertulis jelas dalam Kitab Hikayat dan Kitab Zaman Han. Dahulu, bangsawan Pok-bong-houw Thio Kian diutus ke Ferghana dan melihat kuda *han-hiat po-ma*. Sekembalinya ke negeri, ia melaporkannya kepada Kaisar Han Bu Tee. Kaisar yang kagum ingin memilikinya, lalu mengirim utusan membawa emas seribu kati serta seekor kuda emas untuk ditukar. Raja Ferghana menolak karena kuda itu adalah pusaka negara. Utusan Han itu marah, merusak kuda emas tersebut, lalu pulang. Raja Ferghana pun murka, ia menangkap dan membunuh utusan itu, serta merampas emas dan kuda emasnya."

Kwee Ceng berseru heran. Cu Cong menyeruput tehnya. "Kemudian bagaimana?" tanya Kwee Ceng. Di sisi lain, keempat pemuda berpakaian putih itu juga mendengarkan cerita tersebut.

"Shatee," tanya Cu Cong, "Kau ahli pemelihara kuda, tahukah kau dari mana asal *po-ma*?"

"Menurut keterangan guruku, *po-ma* terlahir dari perkawinan kuda rumahan dengan kuda liar!" sahut Po Kie.

"Benar!" kata Cu Cong. "Menurut kitab, di Ferghana ada sebuah gunung tempat tinggal kuda liar yang dapat berlari seperti terbang. Orang Ferghana memiliki akal; pada suatu malam musim semi, mereka melepaskan kuda betina berwarna lima di kaki gunung. Kuda liar itu terpikat dan kawin dengan kuda pancingan itu. Anak yang dilahirkan itulah *po-ma*. Anak Ceng, mungkin sekali kudamu itu adalah keturunan dari kuda Ferghana tersebut."

"Bagaimana dengan Kaisar Han Bu Tee itu, apakah ia membiarkannya?" tanya Han Siauw Eng yang tertarik dengan cerita kakak angkatnya.

"Mana mungkin ia membiarkannya," kata Cu Cong. "Ia lalu memerintahkan Jenderal Lie Kong memimpin beberapa laksa serdadu ke Ferghana untuk mendapatkan kuda itu. Namun, Ferghana adalah daerah gurun pasir yang minim ransum dan air. Banyak tentara tewas sebelum mencapai tujuan, hingga pasukan tinggal tersisa sepertiga bagian. Lie Kong kalah perang dan terpaksa mundur ke Tun-hong. Dari sana, ia meminta bantuan kepada kaisar. Raja gusar dan mengirim utusan membawa pedang ke kota Gak-bun-kwan dengan perintah: Panglima atau serdadu mana pun yang berani kembali tanpa membawa kuda itu akan dihukum mati! Lie Kong pun terjepit dan terpaksa bertahan di Tun-hong."

Tiba-tiba terdengar lagi kelenengan unta, lalu muncul empat penunggang unta lagi seperti kelompok pertama. Melihat mereka masuk ke restoran, Kwee Ceng merasa heran.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment