Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 79

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 79

"Kau begitu manis untuk dipandang, mengapa mulanya kau menyamar sebagai pengemis?" tanyanya.

Oey Yong melengos ke samping.

"Kau bilang aku manis dipandang?" tanyanya.

"Manis sekali!" sahut si anak muda. "Kau mirip dengan bidadari dari puncak gunung salju!" Ia menghela napas.

Oey Yong tertawa. "Pernahkah kau melihat bidadari?"

"Aku belum pernah melihatnya. Kalau aku dapat menemui, mana mungkin aku masih hidup lagi?"

Oey Yong heran. "Eh, mengapa begitu?" ia menegaskan.

"Sebab pernah aku dengar perkataan orang-orang tua, siapa dapat melihat bidadari, dia tidak bakal kembali ke tanah datar. Untuk selamanya ia akan duduk bengong saja di gunung salju, lalu beberapa hari kemudian, ia akan mati membeku."

Oey Yong tertawa pula. "Sekarang kau melihat aku, apakah kau bakal bengong saja atau tidak?" tanyanya kemudian.

Wajah Kwee Ceng menjadi merah. "Kita toh sahabat kekal, kita lain, bukan?"

Oey Yong mengangguk, lalu berkata dengan sungguh-sungguh, "Aku tahu kau benar-benar baik hati terhadapku, tidak peduli aku pria ataupun wanita, biarpun aku cantik atau jelek." Ia berhenti sebentar. "Dengan dandanan seperti ini, kalau orang bersikap baik terhadapku, apakah anehnya? Waktu aku menjadi pengemis, kau baik sekali kepadaku, nah, itu barulah sahabat sejati."

Ia rupanya sangat girang. Sambil tertawa, ia berkata lagi, "Aku ingin bernyanyi untukmu, sukakah kau mendengarnya?"

"Apakah tidak boleh besok saja kau bernyanyi?" pinta Kwee Ceng. "Sekarang ini aku mesti pergi membeli obat untuk Ong Totiang."

Kwee Ceng lantas menceritakan tentang adu kepandaian di istana Chao Wang, sampai Ong Cie It, yang melindunginya, mendapat luka parah, dan betapa sia-sianya ia mencari obat. Oey Yong mengawasi, lalu tertawa.

"Aku pun heran sekali menyaksikan kau lari mondar-mandir di jalan besar dan memasuki rumah obat dari satu ke yang lain. Entah kau lakukan apa, tidak tahunya kau hendak membeli obat," katanya.

Kwee Ceng menduga, selagi ia lari mondar-mandir, Oey Yong tentu telah mengintainya, tetapi ia tidak tahu. Jika tidak, niscaya nona itu tidak akan tahu ia tinggal di hotel mana.

"Oey Hiantee," katanya kemudian, "apakah boleh aku meminjam kuda merahmu yang kecil untuk pergi membeli obat?"

Oey Yong menatapnya tajam. "Ketahuilah! Kesatu, aku bukannya si Oey Hiantee! Kedua, kuda merah kecil itu adalah kepunyaanmu! Apakah kau sangka aku benar-benar menghendaki kudamu itu? Aku melainkan hanya ingin menguji hatimu. Ketiga, di tempat sekitar ini, belum tentu kau dapat menemukan obat itu!"

Kwee Ceng berdiam, hatinya terasa berat. Ia bingung sekali. Dugaan si nona ternyata cocok betul dengan dugaan Ong Cie It.

Oey Yong tertawa. "Sekarang aku menyanyi, kau dengarkan!"

Lalu, kedua bibirnya yang merah terbuka, lidahnya bergerak memperdengarkan nyanyian yang halus dan merdu. Kwee Ceng mendengarkan dengan hati terkesima. Walaupun tidak mengerti jelas artinya, hatinya menjadi guncang. Seumur hidupnya, belum pernah ia memperoleh pengalaman ini.

"Inilah nyanyian Sui Ho Sian dari Sin Tayjin," kata Oey Yong perlahan setelah selesai bernyanyi. "Bagaimana menurutmu, bagus atau tidak?"

"Aku kurang mengerti, tetapi terdengar menarik hati," jawab Kwee Ceng. "Siapa itu Sin Tayjin?"

"Dialah Sin Kee Cie," sahut Oey Yong. "Menurut ayahku, dialah seorang pembesar jempolan yang mencintai negara dan rakyat. Ketika dulu bagian utara Tionggoan terjatuh ke dalam tangan bangsa Kim dan Gak Bu Bok terbinasa di tangan pengkhianat, tinggal Sin Tayjin sendiri yang masih berdaya untuk merampas pulang daerah-daerah yang terhilang itu."

Kwee Ceng tahu kekejaman bangsa Kim dari penuturan ibunya, namun karena ia hidup di Mongolia, ia kurang tahu banyak. Ia berkata, "Belum pernah aku pergi ke Tionggoan, maka hal ini baik nanti saja perlahan-lahan kau ceritakan kepadaku. Sekarang kita mesti memikirkan cara mencari obat untuk Ong Totiang."

"Kau dengar aku," berkata Oey Yong. "Kita bersantai dulu di sini, tak usah kau cemas tidak karuan."

"Ong Totiang bilang, kalau dalam tempo dua belas jam ia tidak mendapat obat, ia bisa celaka," jelas Kwee Ceng.

"Aku tanggung, kau akan mendapatkan obat itu," sahut si nona.

Mendengar si nona bicara dengan sungguh-sungguh, Kwee Ceng merasa sedikit lega. "Mungkin ia tidak akan membuatku gagal," pikirnya. Maka ia lantas melayani si cantik itu minum arak dan menyantap makanan sambil bercakap-cakap.

Dengan gembira, Oey Yong menceritakan bagaimana caranya ia menjebak Hong Ho Su Koay, bagaimana ia mengganggu Hauw Thong Hay sampai si Ular Naga Kepala Tiga itu mendongkol bukan main.

"Bagus!" seru Kwee Ceng karena gembira.

"Memang bagus!" kata si nona. Keduanya bertepuk tangan.

Tanpa merasa waktu telah berlalu, Oey Yong melihat bagaimana kabut perlahan-lahan mulai menutupi air telaga yang putih. Dengan perlahan sekali, ia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Kwee Ceng. Sembari berbuat begitu, ia berkata lembut, "Sekarang aku tidak takut apa pun lagi!"

"Mengapa?" tanya si anak muda dengan heran.

"Taruh kata ayah tidak menginginkan aku, kau tentunya sudi jika aku mengikuti kau, bukan?" tanya si nona tanpa menjawab pertanyaan pemuda itu.

"Pasti!" jawab Kwee Ceng sungguh-sungguh. "Aku sendiri, belum pernah aku bergembira seperti sekarang ini!"

Oey Yong membawa tubuhnya mendekati dada si pemuda dan menempelkannya. Kwee Ceng lantas saja merasakan seolah-olah ia terkurung bau harum, bau yang meliputi seluruh telaga, langit, dan bumi. Tanpa mengucap sepatah kata, keduanya saling berpegang tangan.

Sekian lama berlalu, tiba-tiba Oey Yong menghela napas. "Tempat ini sungguh indah, sayang kita bakal meninggalkannya," katanya.

"Mengapa begitu?" tanya Kwee Ceng heran.

"Bukankah kita harus mencari obat untuk menolong Ong Totiang?" sahut si nona.

Kwee Ceng sadar dan menjadi girang sekali. "Ah, ke mana kita mencarinya?"

"Ke manakah perginya beberapa rupa obat yang dibutuhkan, yang tidak berada di rumah-rumah obat?" tanya Oey Yong balik.

"Tentulah semua itu dibeli oleh orang-orang Chao Wang," jawab Kwee Ceng.

"Benar!" kata si nona.

"Tetapi tidak dapat kita pergi ke sana!" ujar Kwee Ceng. "Pergi ke sana artinya kita mengantarkan nyawa kita sendiri."

"Habis, apakah kau tega membiarkan Ong Totiang menjadi cacat seumur hidupnya?" tanya Oey Yong. "Jangan-jangan, karena lukanya itu, ia bisa kehilangan nyawanya."

Darah Kwee Ceng bergolak. "Baik, aku akan pergi! Tapi kau jangan ikut."

"Jangan ikut? Mengapa?" tanya si nona.

Kwee Ceng berdiam. Ia tidak punya alasan untuk kata-katanya itu.

Oey Yong mengawasinya. "Engko yang baik," katanya perlahan. "Kau kasihanilah aku. Umpama kata kau menemui bencana, apakah kau sangka aku dapat hidup seorang diri saja?"

Kwee Ceng merasa sangat bersyukur dan gembira. "Baiklah! Mari kita pergi bersama!"

Keduanya lantas mengayuh perahu ke pinggir. Setelah mendarat, mereka langsung menuju istana Chao Wang, ke arah belakang, dan memasuki pekarangan dengan melompati tembok.

"Engko Ceng, sempurna sekali ilmu ringan tubuhmu!" puji Oey Yong selagi si anak muda mendekam di kaki tembok untuk memasang kuping dan mata. Mendengar pujian itu, Kwee Ceng gembira bukan main.

Tak lama, mereka mendengar langkah kaki dibarengi suara orang berbicara sambil tertawa. Mereka menutup mulut.

"Siauw-ongya mengurung si nona di sini, kau tahu untuk apa?" terdengar seseorang bertanya.

"Buat apa lagi!" tertawa orang kedua. "Si nona sangat cantik! Sejak kau dilahirkan, pernahkah kau melihat nona secantik itu?"

"Kau hati-hati, sahabat!" kata yang pertama. "Melihat macammu ini, hati-hatilah, nanti Siauw-ongya memenggal batang lehermu."

Kwee Ceng lantas berpikir, "Kiranya Wanyen Kang sudah punya pacar, maka ia tidak sudi menikahi Nona Bok. Dalam hal ini, dia tidak dapat disalahkan. Cuma mengapa ia mengurung nona itu? Mustahilkah si nona menolak dan ia hendak menggunakan kekerasan untuk memaksa?"

Dua orang itu sudah datang dekat sekali; yang satu membawa lentera, yang lainnya menenteng makanan. Yang membawa makanan berkata lagi sambil tertawa, "Siauw-ongya aneh! Dia mengurung orang, tetapi khawatir orang itu kelaparan! Lihat, sudah malam begini dia masih menyuruh mengantarkan makanan."

"Jikalau tidak berlaku manis budi, mana dia dapat merampas hati si nona?" kata yang membawa lentera.

Lantas mereka lewat, suara tertawa mereka masih terdengar.

"Mari kita lihat!" bisik Oey Yong yang hatinya tertarik. "Sebenarnya bagaimana sih cantiknya orang itu?"

"Lebih perlu kita mencari obat," bilang Kwee Ceng.

"Aku ingin melihat si cantik dulu!" kata Oey Yong sambil tertawa.

Kwee Ceng heran sekali. "Apa bagusnya melihat seorang wanita?" katanya dalam hati. Ia tidak menginsyafi sifat wanita. Kalau seorang nona mendengar ada nona cantik lainnya, sebelum melihatnya, hatinya tidak akan puas. Apalagi jika ia sendiri cantik, keinginannya untuk melihat saingannya akan lebih keras.

"Ah, dasar anak kecil!"

Luas pekarangan dalam dari gedung Chao Wang itu. Mereka berdua berjalan berliku-liku mengikuti dua pelayan tadi. Mereka tiba di depan sebuah gedung besar yang gelap, namun ada yang berjaga. Mereka lantas bersembunyi untuk mendengarkan kedua pelayan itu berbicara dengan penjaga rumah yang merupakan seorang serdadu. Penjaga itu lantas membuka pintu untuk mengizinkan mereka masuk.

Oey Yong cerdik. Ia menjumput sebutir batu, lalu menimpuk lentera orang itu hingga apinya padam seketika. Bersamaan dengan itu, ia menarik tangan si anak muda untuk diajak melompat masuk ke pintu.

Kedua pelayan dan serdadu itu tidak menaruh curiga, mereka cuma menyangka batu jatuh dari atas. Sembari mengutuk, mereka menyalakan kembali lenteranya. Setelah membuka sebuah pintu dalam yang kecil, mereka berdua masuk lebih jauh.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment