Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 98

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 98

Pertarungan berlangsung sengit ketika mereka bergantian menyerang Liok Koay. Situasi berbalik menjadi menguntungkan karena musuh-musuh tersebut terganggu, sehingga Pheng Lian Houw dan See Thong Thian dapat bernapas lega. Keadaan kembali berubah saat Liok Koay mulai terdesak.

Sementara itu, Nio Cu Ong terus mengawasi Kwee Ceng. Begitu menyadari aksi Auwyang Kongcu, ia segera melompat ke arah pemuda itu dan mencoba menjambretnya dengan kedua tangan. Kwee Ceng bukan tandingan jagoan ini; hanya dalam beberapa jurus, dadanya sudah berhasil dicengkeram. Dengan tangan kanan, Cu Ong mencoba menyobek perut Kwee Ceng untuk menghisap darahnya. Dalam bahaya besar, Kwee Ceng mengerutkan perutnya, mengakibatkan pakaiannya robek dan belasan bungkusan obatnya tersambar oleh musuh. Nio Cu Ong mencium bau obat tersebut, memasukkannya ke dalam saku, lalu kembali menyerang.

Kwee Ceng memberontak sekuat tenaga, berhasil lolos, dan berlari ke arah Bwee Tiauw Hong sambil berteriak minta tolong. Tiauw Hong girang mendengar suaranya karena ia ingin meminta keterangan. "Kau peluk aku! Jangan takut pada Lao Koay!" serunya. Kwee Ceng tahu jika ia memeluk wanita itu, ia tidak akan bisa lolos, jadi ia hanya berlari berputar-putar di sekitarnya. Nio Cu Ong mengejarnya hingga memasuki jangkauan cambuk wanita itu, namun ia tetap waspada. Bwee Tiauw Hong, yang mendengar gerak-gerik Kwee Ceng, tiba-tiba menggerakkan cambuknya untuk merabut kaki pemuda itu.

Oey Yong, yang melayani Hauw Thong Hay, terkejut melihat Kwee Ceng dijambret. Ia tidak sempat menolong, namun saat melihat kawannya terancam cambuk Tiauw Hong, ia segera meninggalkan Thong Hay dan melompat ke arah cambuk tersebut. Oey Yong tidak takut meski tahu sulit mencari orang yang bisa mengalahkan wanita itu selain ayahnya. Ia tidak menangkis, melainkan melompat ke atas cambuk sambil menggulingkan tubuhnya. Kwee Ceng selamat, namun Oey Yong kini terbelit cambuk yang ditarik oleh Bwee Tiauw Hong.

Oey Yong berseru, "Bwee Jiak Hoak, beranikah kau melukai aku?" Tiauw Hong kaget mengenali suara Oey Yong hingga bermandikan keringat dingin. Ia berpikir, "Cambukku memiliki banyak kait; jika aku melukai gadis ini, bagaimana mungkin suhu mengampuniku? Tapi sudah terlanjur, lebih baik aku habiskan dia!" Ia menarik cambuknya agar tubuh si nona terhempas ke tanah, percaya bahwa tubuh Oey Yong sudah tercengkeram kait cambuknya.

Oey Yong tertawa geli. Berkat lapisan baju *joan-wie-kah*, tubuhnya tidak terluka meski pakaian luar dan dalamnya robek. Dengan jenaka ia berkata, "Kau merusak pakaianku, aku minta ganti!" Tiauw Hong melongo; ia sadar gadis itu tidak kesakitan karena baju lapis berduri pemberian gurunya. Tiauw Hong menyahut, "Ya, encimu ini yang salah, nanti aku pasti mengganti bajumu!"

Oey Yong kemudian menggapai Kwee Ceng. Pemuda itu menghampiri, berdiri tujuh atau delapan kaki dari Tiauw Hong. Kini Nio Cu Ong tidak berani mendekat karena takut pada cambuk wanita lihai itu. Sementara itu, Kanglam Liok Koay berkelahi dengan posisi saling membelakangi, strategi yang mereka pelajari selama di gurun pasir, sehingga mereka bisa melayani See Thong Thian, Pheng Lian Houw, Hauw Thong Hay, dan Auwyang Kongcu sekaligus. Meski begitu, mereka tetap terdesak. Han Po Kie terus berkelahi meski pundaknya terluka karena takut pertahanan mereka jebol.

Kwee Ceng melihat gurunya yang ketiga terancam bahaya. Melupakan segalanya, ia menyerang bagian belakang Pheng Lian Houw dengan jurus "Membuka Mega untuk Menolak Rembulan". Pheng Lian Houw berkelit dan memutar tubuh untuk membalas, namun tiba-tiba muncul Wanyen Kang dari balik pohon bunga. Sambil berlari, ia berseru, "Semua suhu, ayahku ada urusan penting dan meminta bantuan kalian! Lekas!" Pangeran muda itu tampak tergesa-gesa sehingga tidak melihat Bwee Tiauw Hong yang tergeletak di tanah.

Mendengar permaisuri telah diculik, kelompok Pheng Lian Houw menduga bahwa ini adalah siasat Liok Koay untuk memancing mereka keluar dari istana. Tanpa ragu, mereka segera pergi mengikuti Wanyen Kang. Nio Cu Ong berlari paling belakang dengan perasaan kesal karena belum sempat menghisap darah Kwee Ceng. Kwee Ceng berteriak, "Eh, kembalikan obatku!" Cu Ong yang geram melemparkan senjata rahasianya, paku *Cu-ngo Touw-kut-teng*. Cu Cong melompat maju, menangkis paku itu dengan kipasnya, lalu mengambil dan menciumnya. "Oh, paku beracun! Senjata yang bisa membunuh seketika!" seru Cu Cong. Nio Cu Ong tercengang, lalu berbalik dan pergi.

Kwee Ceng merasa menyesal karena obat tidak didapatkan setelah mempertaruhkan nyawa semalaman. Tin Ok mengajak saudaranya pergi, dan mereka pun segera beranjak dari tembok. Han Siauw Eng bertanya tentang nasib Tiauw Hong, namun kakaknya memutuskan untuk mengampuninya demi janji kepada Ma Totiang. Oey Yong tertawa dan sempat mengejek Tiauw Hong mengenai keberadaan ayahnya sebelum mereka benar-benar pergi.

Tiauw Hong murka dan berusaha berdiri, namun karena ia salah melatih ilmu silat dalam, kakinya menjadi lumpuh. Ia sempat terkejut bisa berjalan sesaat, namun kemudian ambruk dan pingsan. Liok Koay tidak ingin membunuh karena telah berjanji pada Ma Giok. Mereka kemudian mengajak Kwee Ceng pergi. Setelah mendengar penjelasan Kwee Ceng mengenai pengalamannya dan niatnya menolong Ong Cie It, Cu Cong memutuskan untuk segera membantu Ong Totiang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment