Chapter 186
Ketika itu, Auwyang Hong segera menotok jalan darah Oey Yong. Seketika itu juga, tubuh Oey Yong menjadi lemas dan tidak dapat berkutik.
"Letakkan dia di perahu!" tantang Ang Cit Kong.
"Marilah kita bertempur untuk memastikan siapa yang menang atau kalah!" Auwyang Hong terlalu licik untuk sekadar meletakkan tubuh nona itu begitu saja.
Ia melihat keponakannya sedang didesak oleh sambaran api hingga terpaksa mundur. Tiba-tiba, ia mendapat akal dan melemparkan Oey Yong kepada keponakannya.
"Pergilah kamu lebih dulu ke perahu kecil!" perintahnya.
Auwyang Kongcu menyambut tubuh yang tidak dapat bergerak itu. Ia melihat Kwee Ceng berada di perahu kecil dan mengerti jika ia melompat bersama Oey Yong, perahu itu akan karam. Maka, ia mengikatkan sehelai dadung di kaki tiang layar, lalu dengan tangan kiri memeluk Oey Yong dan tangan kanan memegang dadung, ia meluncur ke perahu kecil. Tubuh mereka pun terayun menuju perahu.
Kwee Ceng girang bukan main melihat Oey Yong tiba di perahunya. Ia tidak menyadari bahwa kekasihnya telah ditotok hingga tidak berdaya. Ia lebih sibuk mengawasi gurunya yang sedang bertempur melawan Auwyang Hong karena merasa khawatir.
Di tengah kobaran api, kedua jago tua itu tampak sedang mengadu nyawa. Tiba-tiba terdengar suara nyaring seperti guntur. Perahu besar itu terbelah dua karena tulang punggungnya dimakan api. Bagian belakang perahu perlahan-lahan tenggelam ke dalam air.
Ang Cit Kong dan Auwyang Hong terus bertempur, sesekali mereka harus berkelit dari reruntuhan tiang layar atau dadung yang terbakar. Dalam pertempuran sengit ini, Ang Cit Kong sedikit lebih unggul karena tidak merasakan panas yang hebat akibat pakaiannya yang masih basah sisa merendam di air. Karena itu pula, ia dapat mendesak See Tok yang terpaksa berkelahi sambil mundur perlahan.
Auwyang Hong sempat terpikir untuk terjun ke laut, namun ia menyesal karena tidak dapat segera melakukannya. Ia didesak terlalu hebat; jika ia memaksakan diri terjun, ia tidak akan bisa membela diri dan berisiko diserang oleh lawannya yang lihai. Karena terpaksa, ia terus meladeni pertempuran sambil memutar otak mencari jalan keluar.
Ang Cit Kong menyerang dengan penuh kepuasan. Saat tengah merangsak maju, tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Jika aku mendesaknya hingga tewas terbakar, itu tidak menarik," pikirnya. "Dia telah mendapatkan salinan kitab dari Ceng-jie. Jika dia tidak mendapat kesempatan mempelajarinya dan mati, pastilah ia mati tidak puas! Tidak bisa tidak, dia harus dibuat jera!"
Karena pikiran itu, Ang Cit Kong lantas tertawa terbahak-bahak. "Si bangkotan, hari ini aku memberi ampun padamu! Naiklah ke perahu kecil itu!"
Mendengar itu, Auwyang Hong mencelikkan matanya, lalu terjun ke laut. Ang Cit Kong hendak menyusul ketika mendengar teriakan See Tok.
"Tahan dulu!" teriak si Bisa dari Barat itu. "Sekarang tubuhku pun basah, marilah kita berdua bertempur lagi. Sekarang barulah adil, sama rata sama rasa!"
Suara itu disusul dengan berkelebatnya sebuah tubuh. Detik berikutnya, Auwyang Hong telah berdiri kembali di atas perahu besar di depan lawannya. Sekejap Ang Cit Kong melongo, lalu ia tertawa lebar.
"Bagus, bagus! Seumur hidup si pengemis bangkotan, hari ini barulah ia bertempur paling memuaskan!"
Kembali dua orang itu bertarung hebat. Dengan tubuh basah kuyup, agaknya See Tok menjadi lebih segar.
"Yong-jie," kata Kwee Ceng kepada kekasihnya, "kau lihat See Tok ganas sekali!"
Oey Yong, yang tengah ditotok, tidak dapat bersuara.
"Apakah tidak baik aku minta suhu turun ke mari? Perahu besar itu bakal lekas tenggelam," tanya Kwee Ceng.
Oey Yong tetap tidak menyahuti. Kwee Ceng heran dan lekas berpaling. Semenjak tadi ia terus mengawasi gelanggang pertarungan, ia menjadi gusar melihat Auwyang Kongcu sedang meringkus kedua tangan Oey Yong.
"Lepas!" teriak Kwee Ceng.
Auwyang Kongcu tertawa. "Jangan kau bergerak! Asal kau bergerak satu kali saja, akan kuhajar hancur kepalanya!"
Kwee Ceng tidak menggubris ancaman itu. Bahkan, tanpa berpikir panjang, ia langsung menyerang. Auwyang Kongcu bertindak cepat dengan berkelit sambil merendahkan tubuh. Kwee Ceng penasaran dan kembali menyerang tanpa menggunakan jurus silat yang teratur. Auwyang Kongcu menjadi bingung karena ruang di perahu kecil tidak memungkinkan untuk terus berkelit, sehingga ia terpaksa melawan.
Kwee Ceng menangkis, dan kedua tangan mereka pun bentrok. Auwyang Kongcu licik; sambil menyerang, ia memutar kepalan tangannya dan menghajar pipi Kwee Ceng. Serangan itu cukup keras hingga membuat mata Kwee Ceng berkunang-kunang. Namun, ia menyadari bahaya dan tetap membuka matanya. Saat serangan kedua datang, Kwee Ceng kembali menangkis.
Auwyang Kongcu menggunakan tipu silat yang sama, namun kali ini Kwee Ceng meliukkan kepalanya dan tangan kanannya mendorong ke depan. Menurut aturan, seseorang tidak bisa menyerang saat sedang meliukkan tubuh, tetapi Kwee Ceng berbeda. Ia telah mewarisi kepandaian Ciu Pek Tong; ia bisa berkelahi dengan kedua tangannya secara mandiri layaknya dua orang.
Maka, celakalah keponakan Auwyang Hong itu karena tidak mengetahui kebiasaan Kwee Ceng. Tangan kanan Auwyang Kongcu yang digunakan untuk menyerang justru kena ditangkis hebat hingga patah. Dalam ilmu silat, Auwyang Kongcu tidaklah berada di bawah Ma Giok atau Ong Cie It, namun ia kebentur oleh ilmu silat istimewa yang asing baginya, sehingga ia pun roboh.
Selagi lawannya roboh dan Oey Yong terlepas, Kwee Ceng tidak memedulikannya. Ia segera melompat kepada kekasihnya dan menotok titik darah untuk membebaskannya.
"Lekas bantu suhu!" teriak Oey Yong setelah sadar.
Kwee Ceng segera berpaling kepada gurunya. Ia melihat gurunya dan Auwyang Hong sedang berkelahi mati-matian. Suara kayu terbakar menambah seru pertarungan itu, apalagi badan perahu mulai karam. Kwee Ceng menyambar pengayuh untuk mendekati perahu besar tersebut.
Dalam pertempuran itu, suasana menjadi terbalik. Ang Cit Kong yang sebelumnya basah kuyup kini pakaiannya sudah kering, sehingga mudah tersambar api dan hawa panas. Sebaliknya, tubuh Auwyang Hong yang basah justru menjadi lebih bersemangat. Namun, Ang Cit Kong tetap memaksakan diri bertahan.
Mendadak, sebatang tiang layar yang terbakar jatuh di antara kedua jago itu, memaksa mereka melompat mundur dan terpisah. Auwyang Hong yang penasaran kembali menyerang dengan tongkat ular-ularannya. Ang Cit Kong tidak tinggal diam; ia mencabut tongkat dari pinggangnya untuk menangkis.
Pertarungan kini menjadi semakin hebat. Kwee Ceng terus mengayuh perahunya dengan perasaan gelisah sekaligus kagum menyaksikan pertempuran dua orang lihai tersebut. Dalam dunia persilatan dikenal ungkapan, "Belajar golok seratus hari, belajar tombak seratus hari, belajar pedang selaksa hari," yang membuktikan bahwa ilmu pedang adalah yang paling sukar.
Dua puluh tahun yang lalu, dalam pertempuran di Hoa San, terlihat nyata betapa sulitnya ilmu tersebut. Ang Cit Kong menggunakan tongkat warisan Kay Pang, sementara Auwyang Hong menggunakan tongkat ular-ularannya yang istimewa. Tongkat Auwyang Hong memiliki kepala orang yang bisa mengeluarkan senjata rahasia beracun dan dua ekor ular yang melilit di batangnya. Pertempuran menjadi sangat hebat karena keduanya sama-sama lihai, namun sebagai kepala pengemis di Tionggoan, Ang Cit Kong adalah penakluk ular nomor satu.