Chapter 132
Di dalam hatinya ia berkata, "Dia telah ditinggal mati suaminya, matanya sendiri buta, sekarang dia hidup sebatang kara. Aku sendiri, walaupun kakiku cacat, aku punya istri dan anak, aku punya rumah tangga, aku sudah berusia lima puluh lebih, untuk apa masih memikirkan sakit hati lama?"
Ia menjawab, "Pergi kau bawa muridmu, Bwee Suci. Besok pagi aku hendak pergi ke Tho Hoa To untuk menjenguk suhu. Kau mau ikut atau tidak?"
"Beranikah kau pergi ke sana?" tanya Bwee Tiauw Hong.
"Tanpa perkenanan suhu kita lancang mendatangi Tho Hoa To, itulah memang satu pelanggaran besar," sahut Liok Seng Hong. "Akan tetapi, si tua bangka barusan sudah mengaco, hatiku tetap tidak tenang, aku ingin menjenguknya."
Belum lagi Bwee Tiauw Hong menyahut, Oey Yong sudah berkata, "Marilah kita pergi beramai-ramai menjenguk ayahku. Di sana aku nanti memohonkan pengampunan bagi kalian."
Bwee Tiauw Hong berdiam diri, kedua matanya mengucurkan air mata. "Mana aku punya muka untuk menemui suhu lagi?" katanya. "Suhu mengasihi aku yang piatu, dia memelihara dan mengajarku, tetapi hatiku buruk, aku malah mendurhaka."
Mendadak ia mengangkat kepalanya dan berseru, "Asal aku sudah berhasil membalas sakit hati suamiku, aku tahu bagaimana harus membereskan diriku sendiri! Kanglam Cit Koay, kalau kau benar laki-laki, marilah! Malam ini aku hendak mengadu nyawa denganmu. Liok Sutee, Oey Sumoy, kamu berdiam saja menonton, jangan membantu siapa pun! Siapa mati siapa hidup, kamu jangan campur tangan! Kamu dengar?"
Mendengar itu, Kwa Tin Ok melangkah ke tengah ruang. Sepotong besi jatuh ke lantai, suaranya nyaring dan panjang. Lalu ia bersuara serak, "Bwee Tiauw Hong! Kau tidak melihat aku, aku juga tidak melihat kau! Ketika malam di tempat belukar kita bertempur, suamimu binasa secara wajar, tetapi saudaraku yang kelima juga telah kehilangan jiwanya. Tahukah kau?"
"Oh," sahut si Nyonya. "Jadi sekarang kalian tinggal berenam?"
"Ya!" sahut Tin Ok. "Kami sudah menerima baik permintaan Totiang Ma Giok, kami tidak hendak memusuhimu lebih lama lagi, tetapi hari ini kaulah yang mencari kami. Baiklah! Dunia ini luas, tetapi kita berjodoh, di mana saja kita dapat bertemu! Mungkin Thian tidak sudi membiarkan Kanglam Liok Koay dan kau hidup bersama di kolong langit ini! Nah, majulah!"
Bwee Tiauw Hong tertawa dingin. "Kalian berenam, majulah semua!" tantangnya.
Sebelum Tin Ok menyahut, Cu Cong sudah berdiri di sampingnya. Saudara ini hendak mencegah kalau-kalau musuh berbuat curang. Bersama saudara yang lain, ia sudah menghunus senjata. Justru itu Kwee Ceng mengajukan diri. "Biarlah murid yang maju lebih dulu!" kata Kwee Ceng.
Liok Seng Hong merasa tidak enak hati melihat Tiauw Hong menantang Liok Koay. Ingin ia melerai di tengah-tengah, tetapi ia tidak mampu mendekati mereka dan tidak memiliki cukup pengaruh. Maka, mendengar suara Kwee Ceng, satu pikiran berkelebat di otaknya.
"Tuan-tuan, tahan dulu!" ia mencegah. "Aku minta kalian dengar dulu. Di antara kalian berdua sudah ada yang meninggal, bukan? Maka itu menurut aku, pertempuran ini baiknya dibatasi hanya dengan saling menjajal saja, jangan sampai ada yang terluka. Melawan satu lawan satu bagi Liok Koay memang sudah seharusnya, tapi aku anggap masih kurang adil. Maka itu, aku minta biarlah Bwee Suci bermain-main saja dengan Kwee Laotee ini. Setujukah kalian?"
Bwee Tiauw Hong tertawa dingin. "Mana bisa aku bertempur dengan bocah ingusan?" katanya.
Namun Kwee Ceng berani, ia berkata nyaring, "Suamimu itu aku sendiri yang membunuhnya, apa sangkut pautnya dengan suhu-suhuku?"
Tiba-tiba saja Tiauw Hong menjadi gusar sekali. "Betul!" serunya. "Mari aku bunuh kau dulu, bangsat cilik!"
Dengan mendengar suara orang, ia mengetahui posisi lawannya, maka ia mengulurkan tangan kirinya ke batok kepala si bocah. Kwee Ceng melompat berkelit.
Ia berkata dengan nyaring, "Bwee Cianpwee, ketika hari itu aku secara tidak sengaja membinasakan Tan Cianpwee, itulah disebabkan usiaku yang muda dan belum tahu apa-apa. Namun, untuk itu aku berani bertanggung jawab, maka urusanmu adalah denganku, aku tidak akan menyingkirkan diri! Bagaimana jika di kemudian hari kau masih mencari keenam guruku?"
"Benarkah kau demikian laki-laki, hingga kau tidak akan kabur?" tegas Tiauw Hong.
"Pasti tidak!" jawab si anak muda mantap.
"Baiklah, urusanku dengan Kanglam Liok Koay aku anggap selesai! Mari bocah, kau ikuti aku!"
"Bwee Suci!" Oey Yong berteriak. "Dia pun seorang laki-laki sejati! Kau nanti ditertawakan orang-orang kangouw!"
"Apa?" tanya Tiauw Hong gusar.
"Dia adalah murid satu-satunya dari Kanglam Liok Koay!" kata si nona. "Sekarang kepandaian mereka tidak sama lagi seperti dulu, maka jika mereka hendak mengambil nyawamu, gampangnya sama seperti membalikkan telapak tangan! Hari ini mereka memberi ampun padamu, itu artinya mereka telah memberi muka, tetapi kau tidak tahu diri, masih saja membuka mulut besar!"
"Fui! Aku tidak menghendaki diampuni mereka! Eh, Liok Koay, benarkah kau telah memperoleh kemajuan besar? Mari, mari kita coba!"
"Perlu apa sampai mereka sendiri yang turun tangan?" kata Oey Yong lagi. "Sekalipun muridnya seorang diri, kau tidak akan bisa memenangkannya!"
Tiauw Hong gusar hingga berteriak, "Jikalau dalam tiga jurus aku tidak dapat membunuhnya, di sini juga aku akan membenturkan diriku hingga binasa!"
Si Mayat Besi teringat pertempurannya dengan Kwee Ceng di dalam istana. Ia tahu baik kepandaian pemuda itu, namun ia tidak tahu bahwa setelah berselang beberapa bulan, kepandaian Kwee Ceng telah maju pesat berkat didikan Kiu Cie Sin Kay.
"Baiklah!" tertawa Oey Yong. "Semua orang di sini menjadi saksinya! Tiga jurus terlalu sedikit, aku beri batas sampai sepuluh jurus!"
"Tidak," berkata Kwee Ceng. "Aku akan menemani Cianpwee bermain-main selama lima belas jurus!"
"Sekarang mintalah Liok Suko serta tetamu yang datang bersama Suci untuk membantu menghitungnya!" kata Oey Yong lagi.
Tiauw Hong heran. "Siapa yang menemani aku datang ke mari?" tanyanya. "Aku datang seorang diri. Perlu apa aku memakai kawan?"
"Lalu siapa yang ada di belakang Suci?" tanya Oey Yong.
Dengan tiba-tiba Tiauw Hong menyambar ke belakang, cepatnya bukan main. Namun, si baju hijau berkelit dan lolos dari sambaran itu. Sampai saat itu, anehnya, orang tersebut masih terus membungkam. Tiauw Hong tidak menyerang lagi, tetapi ia merasakan sesuatu.
Ketika malam itu ia bertempur melawan Auwyang Kongcu, ia mendengar suara seruling yang membebaskannya dari kurungan barisan ular. Ia sempat menghaturkan terima kasih ke udara sebab tidak tahu siapa peniup seruling itu. Sejak itu, ia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Namun, sia-sia belaka segala pertanyaan dan sambarannya, ia tidak mendapatkan hasil, sampai-sampai ia mengira dirinya kurang sehat atau sedang diganggu hantu.
Sekarang, mendengar perkataan Oey Yong, ia tidak ragu-ragu lagi dan menjadi sangat kaget. "Kau siapa!" ia bertanya dengan suara bergetar. "Mau apa kau selalu mengikuti aku!"
Orang itu tidak menjawab, ia seperti tidak mendengar. Tiauw Hong melompat menubruk, tetapi kembali gagal. Nampaknya orang itu tidak bergerak, tetapi ia tidak terkena serangan. Semua orang menjadi kaget dan heran; pastilah orang itu sangat lihai.
Liok Seng Hong menegur, "Tuan, dari tempat yang jauh kau datang kemari, aku belum sempat menyambutmu. Silakan duduk! Maukah Tuan minum arak?"
Kembali si baju hijau tidak menyahut, bahkan ia membalikkan tubuh untuk berlalu.
"Kaukah yang meniup seruling menolongku?" tanya Tiauw Hong. Orang-orang heran, si Mayat Besi yang lihai itu tidak mengetahui bahwa orang tersebut sudah berlalu.
"Bwee Suci, orang itu sudah pergi," beritahu Oey Yong.
"Dia sudah pergi?" Tiauw Hong heran.
"Ya, dia sudah pergi," terang Oey Yong. "Susul dia, jangan kau main galak-galak di sini!"
Tiauw Hong terdiam sekian lama, wajahnya berubah-ubah. Nampaknya ia berduka. Lalu mendadak ia berseru, "Bocah bermarga Kwee, kau bersiaplah!"
Dua tangannya bergerak, sepuluh jari tangannya tampak seperti api yang membara. Namun, ia tidak segera menyerang.
"Aku di sini," jawab Kwee Ceng.
Baru saja ia mengucapkan kata "Aku", tangan kanan Tiauw Hong sudah berkelebat, disusul tangan kirinya, dengan sepuluh jari menyambar ke muka Kwee Ceng. Pemuda itu melihat serangan tersebut, ia mengegoskan tubuhnya, sembari berkelit ia menyerang dengan tangan kiri. Tiauw Hong dapat mendengar suara serangan, hendak ia menangkis tetapi tidak sempat, hingga pundaknya kena dihajar dan ia mundur tiga tindak.
Ia terkena salah satu jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang. Meski lihai luar biasa, ia segera berbalik dan menyerang kembali. Kwee Ceng tidak menyangka serangan balasan itu dan kaget sekali. Ia terlambat menghindar hingga lengannya kena dicekal pada tiga jalan darah: Iwee-kwan, Gwa-kwan, dan Hwee-cong.
Sebenarnya ia sudah siap sedia dan waspada karena sudah mendengar keterangan guru-gurunya tentang bahayanya Kiu Im Pek-ku Jiauw, namun ia tetap kena dicekal. Ia menjerit kesakitan, separuh tubuhnya menjadi lemas. Di saat berbahaya itu, ia masih berusaha berdaya. Ia menekuk dua jari tangan kanannya, telunjuk dan tengah, lalu menyerang ke dada lawannya. Seharusnya serangan itu disusul dengan tangan kiri, tetapi karena tangan kirinya tercekal, ia terpaksa menggunakan satu tangan. Bwee Tiauw Hong dapat mendengar serangan ini yang membawa angin luar biasa.