Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 41

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 41

Ia menjerit keras, tetapi pedangnya digunakan untuk menikam dada lawan!

Namun, ketika Hian Hong memusatkan semangatnya, pedang itu meleset dari dada itu.

Bersamaan dengan itu, si Mayat Perunggu melemparkan tubuh musuhnya.

Cu Cong bersama Coan Kim Hoat, Lam Hie Jin, dan Han Po Kie lantas berlari menyusul tubuh saudaranya itu.

“Hai, perempuan bangsat, bagaimana keadaanmu?!” terdengar teriak Hian Hong.

Tiauw Hong tengah memegangi pohon besar, ia menyahut keras, "Lelaki bangsat, sepasang mataku dirusak oleh mereka itu!"

"Jikalau kau membiarkan lolos satu saja di antara tiga ekor anjing itu, sebentar lagi aku akan adu nyawa denganmu!" “Bangsat perempuan, legakan hatimu!” sahut Tan Hian Hong.

“Satu pun tidak akan lolos!” Sambil berkata begitu, ia menyerang Han Siauw Eng dengan kedua tangannya.

Dengan gerakan "Lay Louw Ta Kun" atau "Keledai Malas Bergulingan", Siauw Eng menggulingkan diri. Dengan begitu, ia bisa menyingkir beberapa langkah, hingga ia bebas dari bahaya.

“Kau masih berpikir untuk menyingkir?” tanya Hian Hong.

Thio A Seng rebah di tanah dengan terluka parah. Melihat Nona Han dalam bahaya, ia menahan sakit, mengerahkan semua tenaganya, dan menerjang musuh itu.

Hian Hong sangat lihai. Ia membatalkan serangannya kepada Siauw Eng, lalu mencengkeram kaki Thio A Seng. Lima jarinya menancap ke dalam daging betis, sehingga Siauw Mie To tidak dapat bertahan lagi. Setelah satu jeritan keras, ia jatuh pingsan.

Dengan begitu, Siauw Eng terlepas dari marabahaya. Sambil melompat bangun, ia menyerang musuhnya.

Tetapi sekarang ia menyadari kelihaian musuh. Ia tidak mau berkelahi secara rapat. Setiap kali si Mayat Perunggu hendak menjambak, ia menjauhkan diri dan terus berputar.

Pada saat itu, Lam Hie Jin dan yang lainnya telah tiba. Bahkan, Cu Cong bersama Coan Kim Hoat mendahului menyerang dengan senjata rahasia mereka.

Tan Hian Hong kaget dan heran menyaksikan semua musuhnya demikian lihai. Ia menduga-duga siapa mereka dan mengapa mereka muncul di gurun pasir ini.

Akhirnya ia berteriak, “Eh, perempuan bangsat, makhluk-makhluk ini orang macam apa?!” Bwee Tiauw Hong menyahuti suaminya, “Mereka adalah saudara Hui-thian Sin Liong dan kawan Hui Thian Phian-hok!” “Oh!” seru Hian Hong.

Lantas ia memaki, “Bagus sekali, bangsat anjing, rupanya kau belum mampus! Jadi kamu datang kemari untuk mengantarkan nyawamu!” Tapi ia juga mengkhawatirkan keselamatan istrinya. Ia lalu bertanya, “Eh, perempuan bangsat, bagaimana dengan lukamu? Apakah luka itu menghendaki jiwa kecilmu yang busuk itu?!” Bwee Tiauw Hong menyahuti suaminya dengan dongkol, “Lekas bunuh mereka! Nyonya besarmu tidak akan mampus!”

Hian Hong tahu luka istrinya berat. Kalau tidak, ia tidak akan memegangi pohon saja dan tidak datang membantu.

Istri itu sengaja menggertak.

Ia khawatir, tetapi ia dapat menghampiri istrinya.

Cu Cong berlima telah mengepungnya, sedangkan yang satunya lagi, yaitu Kwa Tin Ok, berdiri diam sambil menanti saatnya.

Ia lantas melepaskan Kwee Ceng, yang dilemparnya ke tanah. Meneruskan gerakan tangan kirinya, ia menyerang Coan Kim Hoat.

Kim Hoat kaget melihat Kwee Ceng dilempar.

Bocah itu dalam bahaya.

Karena itu, sambil berkelit, ia terus melompat ke arah Kwee Ceng. Tubuh Kwee Ceng ia sambar, lalu dengan melompat berjumpalitan, ia menyingkir lebih dari setombak.

Gerakannya itu dinamakan "Leng Miauw Pok Cie" atau "Kucing Gesit Menerkam Tikus", untuk menolong diri sendiri sekaligus menolong orang lain.

Hian Hong kagum hingga ia memuji dalam hatinya.

Tetapi ia telengas. Makin lihai musuh, makin keras niatnya untuk membinasakan mereka, apalagi sekarang ini latihannya ilmu yang baru, Kiu Im Pek-kut Jiauw, sudah selesai delapan atau sembilan bagian.

Tiba-tiba ia berpekik, kedua tangannya bekerja, meninju dan menyambar.

Kelima Manusia Aneh dari Kanglam itu menyadari bahaya, karenanya mereka berkelahi dengan waspada, mereka tidak sudi merapatkan diri.

Maka kurungan mereka menjadi semakin lebar.

Setelah berselang begitu lama, Han Po Kie menunjukkan keberaniannya.

Ia menyerang dengan Teetong Pian-Hoat, yaitu ilmu berguling di tanah, guna menggempur kaki lawan.

Dengan caranya ini, ia membuat perhatian Tan Hian Hong menjadi terbagi.

Karena itu, satu kali ia terkena pukulan kayu pikulan Lam Hie Jin, hingga bokongnya berbunyi gedebuk.

Walaupun merasakan sakit, namun ia tidak terluka. Ia hanya berteriak menjerit-jerit, bersamaan dengan itu, tangannya menyambar penyerangnya.

Belum lagi Hie Jin menarik kembali senjatanya, sambaran itu sudah sampai kepadanya, terpaksa ia melenggokkan tubuhnya.

Tangan Hian Hong sangat lihai.

Ketika dipakai menyambar, buku-buku tulangnya memperdengarkan suara keretekan. Lalu, tangannya itu seperti terulur menjadi lebih panjang dari biasanya.

Bersamaan dengan itu juga tercium bau bacin.

Hie Jin kaget sekali.

Ketika ia mencium bau itu, tangan musuh yang berwarna biru sudah mendekati alisnya, atau lebih tepatnya, lima jarinya sudah mendekati ubun-ubunnya!

Dalam keadaan sangat berbahaya itu, ia menggunakan Kim-na-Hoat, ilmu menangkap tangan, guna membengkolkan lengan musuh itu, untuk diputar ke kiri.

Bersamaan dengan itu, Cu Cong pun merangsak ke belakang Tong Sie, si Mayat Perunggu. Tangan kanannya yang keras seperti besi, diulurkannya, guna mencekik leher musuh.

Karena tangan kanannya itu terangkat, dengan sendirinya dadanya menjadi terbuka.

Ia tidak menghiraukan hal ini lagi karena adiknya terancam dan perlu ditolong.

Sekonyong-konyong guntur berbunyi sangat nyaring. Lalu tiba-tiba juga, mega hitam menutup sang putri malam, hingga semua orang tidak dapat melihat bahkan lima jari tangannya di depan matanya!

Di dalam gelap gulita itu, orang mendengar suara merekek dua kali dan suara “Duk!” satu kali, tanda tenaga diadu.

Itulah Tan Hian Hong, yang telah menunjukkan tenaganya yang menyebabkan Hie Jin patah bahu kirinya, sedangkan sikut kirinya menghantam dada Cu Cong.

Rasa sakit tiba-tiba membuat Cu Cong meringis dan tangannya yang dipakai mencekik leher musuh terlepas dengan sendirinya, sebab tubuhnya terpental roboh saking kerasnya serangan sikut itu.

Hian Hong sendiri bukan tidak menderita karenanya, sebab tadi hampir-hampir ia tidak dapat bernapas. Setelah bebas, ia melompat ke samping, untuk lekas-lekas mengatur napasnya.

“Semua renggang!” teriak Han Po Kie dalam gelap gulita itu.

“Citmoay, bagaimana kabarmu?”

“Jangan bersuara!” jawab Siauw Eng, si adik ketujuh itu.

Dan ia berlari ke samping beberapa langkah.

Kwa Tin Ok mendengarkan segala gerak-gerik, ia menjadi heran sekali.

“Jitee, bagaimana kabarmu?” ia terpaksa bertanya.

“Sekarang ini langit gelap sekali, siapa pun tidak dapat melihat siapa pun,” beritahu Coan Kim Hoat.

Mendengar itu, Hui Thian Pian-hok, si Kelelawar Penerbang Langit itu, menjadi gembira luar biasa.

“Langit membantuku!” ia memuji dalam hatinya.

Di antara tujuh Manusia Aneh, tiga sudah terluka parah. Itu artinya Kanglam Cit Koay telah kalah besar, maka beruntung baginya, guntur menyebabkan langit menjadi gelap gulita. Kemudian, hujan pun turun menyusul.

Kwa Tin Ok berdiam diri. Dengan pendengarannya yang lihai itu, walaupun ada suara hujan, samar-samar ia masih mendengar suara napas orang.

Dengan waspada ia terus memasang telinganya.

Ia mendengar suara napas di sebelah kirinya, terpisah delapan atau sembilan langkah darinya.

Ia merasa pasti, itu bukan napas saudara angkatnya. Lantas ia mengayunkan kedua tangannya, akan menerbangkan enam batang tok-leng, diarahkan ke tiga penjuru.

Tan Hian Hong adalah orang yang diserang.

Si Mayat Perunggu lihai sekali.

Ia mendengar sambaran angin, ia segera menunduk.

Dua batang tok-leng lewat di atas kepalanya.

Empat yang lain tepat mengenai tubuhnya, tetapi ia kebal seperti istrinya. Ia tidak terluka, ia hanya merasa sangat sakit.

Karena serangan tok-leng ini, ia menjadi tahu di mana letak si penyerang, musuhnya itu.

Ia melompat ke arah musuh itu, kedua tangannya digunakan untuk menyambar.

Ia tidak mengeluarkan suara apa-apa.

Tin Ok mendengar suara angin, ia lantas berkelit. Sambil berkelit, ia menghantam dengan tongkatnya.

Dengan begitu, di tempat gelap gulita itu, dua orang ini bertempur.

Satu sama lain tidak dapat melihat. Oleh karena itu, mereka cuma mengandalkan telinga mereka, mereka hanya mendengarkan suara sambaran angin.

Han Po Kie bersama Han Siauw Eng dan Coan Kim Hoat, yang mengetahui kakaknya tengah bertempur, lantas mengeluarkan seruan mereka berulang-ulang, untuk memberi semangat kakak itu, guna mencoba mengacaukan pikiran musuh.

Di samping itu, dengan meraba-raba, mereka pun menolong tiga saudara mereka yang telah terluka.

Pertempuran Hian Hong dengan Tin Ok hebat, dengan cepat telah berlalu dua sampai tiga puluh jurus.

Bagi Han Po Kie dan rekan-rekannya, rasanya pertempuran itu sudah berjalan lama, disebabkan oleh ketegangan dan kecemasan hati mereka.

Mereka ingin membantu saudara mereka itu, tetapi mereka tidak dapat melihat.

Tiba-tiba Hian Hong menjerit aneh.

Dua kali ia terhantam tongkat, suara hantaman itu terdengar jelas.

Mendengar itu, Po Kie dan yang lain semuanya gembira.

Itulah tandanya kakak mereka mulai berhasil.

Selagi mereka kegirangan, mendadak kilat menyambar, memancarkan sinar terang.

Coan Kim Hoat terkejut, ia berseru, “Toako, awas!”

Hian Hong sangat lihai dan gesit. Ketika Kim Hoat bersuara, tubuhnya sudah melesat maju, untuk mendesak Kwa Tin Ok.

Ia tidak menghiraukan tongkat lawan, yang kembali mengenai tubuhnya yang kebal itu.

Tongkat itu ia sangga dengan pundak kirinya. Tangannya sendiri diputar ke atas, guna menangkap tongkat musuh.

Bersamaan dengan gerakan tangan kiri ini, tangan kanannya menjulur ke depan.

Sinar kilat sudah lenyap, tetapi sambaran itu telah mengenai sasarannya.

Tin Ok sangat terkejut, ia melompat mundur.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment