Chapter 24
"Totiang, kami ini bukan orang-orang yang masih hijau. Kami sekarang dikalahkan oleh seorang kurcaci. Apa kata kaum kang-ouw jika peristiwa ini sampai tersebar? Tidakkah itu sangat memalukan? Tolong, Totiang, tunjukkan kepada kami bagaimana kami harus berbuat."
"Kwa Toako, kau saja yang bicara," kata Cie Kee menyahuti nona itu. Ia sendiri pun sangat masygul, menyesal, dan mendongkol. Ia merasakan kesembronoannya. Andai saja ia tidak menuruti hawa amarahnya dan berbicara dengan tenang kepada Ciauw Bok, peristiwa celaka itu pasti dapat dicegah.
Tin Ok tertawa dingin. Ia memang aneh tabiatnya. Ia sangat malu karena ketujuh saudaranya dikalahkan oleh Cie Kee, terutama dirinya sendiri, yang kakinya tertikam hingga tidak dapat berjalan dengan leluasa.
"Totiang biasa malang melintang, mengapa kau tidak peduli pada kami!" ujarnya datar. "Mengenai hal ini, untuk apa kau menanyai kami lagi?"
Cie Kee tahu mereka masih mendongkol, ia lantas bangkit berdiri untuk menjura kepada tujuh saudara itu. "Pinto sangat menyesal, aku mohon maaf," katanya.
Cu Cong dan semua saudaranya membalas hormat, hanya Tin Ok yang diam saja, ia berpura-pura tidak tahu. "Segala urusan kaum kang-ouw, kami sudah tidak punya muka untuk ikut campur lagi," kata ketua Kanglam Cit Koay ini. "Selanjutnya kami akan berdiam di sini, untuk menangkap ikan atau mencari kayu. Asal Totiang tidak mengganggu kami, kami akan melewati sisa hidup kami."
Wajah Cie Kee memerah, ia jengah hingga tidak dapat membuka mulutnya. Selang sesaat, barulah ia dapat bicara. "Aku telah menyebabkan malapetaka, lain kali aku tidak akan datang kemari untuk membuat onar lagi," katanya seraya berbangkit. "Mengenai sakit hati Ciauw Bok Taysu, serahkan itu padaku. Dengan tanganku sendiri, aku akan membunuh jahanam itu! Sekarang aku mohon diri."
Ia menjura lagi, lalu ia ngeloyor keluar.
"Tahan!" seru Tin Ok. Imam itu memutar tubuhnya. "Kwa Toako hendak memerintahkan apa?" tanyanya. Ia tetap sadar. "Kau telah melukai parah saudara-saudaraku ini, apakah itu cukup hanya dengan kata-katamu barusan?" tanya Tin Ok.
"Jadi, bagaimana pendapat Kwa Toako?" tegas Cie Kee. "Apa pun yang tenagaku sanggup kerjakan, aku bersedia menuruti perintahmu."
"Aku tidak sanggup menerima peristiwa ini," kata Tin Ok. "Aku masih ingin menerima pengajaran dari Totiang!"
Kanglam Cit Koay gemar melakukan amal, akan tetapi mereka berkepala besar. Sepak terjang mereka biasanya luar biasa; kalau tidak, mereka tidak akan disebut "Cit Koay" – tujuh Manusia Aneh. Mereka semua lihai, jumlah mereka pun banyak – bertujuh. Oleh karena itu, orang-orang segan kepada mereka. Mereka sendiri belum pernah melihat kegagalan, bahkan dengan pernah mengalahkan lebih dari seratus jago Hoay Yang Pang, nama mereka menjadi menggemparkan dunia kang-ouw. Sekarang mereka kalah di tangan Khu Cie Kee seorang diri, bagaimana mungkin mereka tidak menjadi penasaran?
Cie Kee terkejut. "Pinto telah terkena senjata rahasiamu, Kwa Toako," katanya, tetap tenang. "Tanpa pertolonganmu, pasti sekarang aku sudah berada di Negara Setan. Dalam urusan kita ini, meskipun benar pinto telah melukai kamu, kenyataannya adalah pinto telah kalah, maka dari itu pinto menyerah."
"Kalau begitu, letakkan pedang di pinggangmu itu!" bentak Tin Ok. "Dengan meninggalkan pedangmu, aku akan membiarkan kamu pergi!"
Cie Kee sangat mendongkol. Dalam hati ia berkata, "Aku telah memberi muka kepadamu, aku telah menghaturkan maaf dan mengaku kalah, mengapa kamu masih merasa belum cukup?" Ia lantas menjawab, "Pedang ini adalah alat pembela diriku, sama saja dengan tongkat Kwa Toako."
Namun, Tin Ok tetap murka. "Kau memandang enteng kakiku yang pincang?!" ia membentak.
"Pinto tidak berani," sahut imam itu.
Dalam kemarahannya, Tin Ok berkata, "Sekarang kita sama-sama terluka, sulit untuk kita bertempur lagi. Maka dari itu, baiklah tahun depan pada hari ini, aku minta Totiang membuat pertemuan lagi di Cui Siang Lauw!"
Cie Kee mengerutkan keningnya. Ia sangat masygul. Ia tahu Cit Koay bukan orang busuk, ia tidak dapat meladeni mereka. Bagaimana ia bisa melepaskan diri dari mereka? Lagipula, akan sulit untuk meladeni mereka bertempur pada tahun depan. Ia sendirian dan mereka bertujuh. Sangat mungkin, selama satu tahun, mereka akan bertambah kepandaiannya. Ia pun bisa berlatih diri, tetapi barangkali sukar untuk memperoleh kemajuan.
Ia terus berpikir, sampai ia mendapatkan satu ide. "Tuan-tuan, kalian hendak adu kepandaian yang menentukan denganku, tidak ada halangannya," katanya. "Hanya saja untuk itu, syaratnya haruslah pinto yang menetapkannya. Kalau tidak, pinto lebih baik menyerah kalah saja."
Han Po Kie bersama Siauw Aeng dan A Seng bangkit berdiri, dan Cu Cong serta yang lainnya yang terluka mengangkat kepala mereka dari pembaringan. Hampir bersamaan mereka berkata, "Kalau Kanglam Cit Koay bertaruh, selamanya adalah pihak lawan yang memilih tempat dan waktunya!"
Cie Kee tersenyum melihat orang yang demikian gemar menang sendiri. "Apakah kalian akan menerima syarat apa pun?" tanyanya.
Cu Cong dan Coan Kim Hoat adalah yang tercerdik di antara saudara-saudara mereka, mereka tidak gentar. "Sebutkan saja syaratmu!" kata mereka. Dalam hati mereka berkata, "Tidak peduli akal licin apa pun yang kau gunakan, mustahil kami akan kalah."
"Kata-katanya satu inci?" kata imam itu.
"Sama cepatnya dengan satu cambukan kuda!" sahut Siauw Eng dengan sigap.
Kwa Tin Ok masih sedang berpikir ketika Khu Cie Kee berkata lagi, "Mengenai syaratku ini, masih tetap berlaku kata-kataku tadi. Yaitu, seumpama tuan-tuan menganggapnya tidak sempurna, pinto tetap bersedia menyerah kalah!" Dengan ini, imam itu memancing amarah ketujuh Manusia Aneh itu. Ia tahu benar Cit Koay sangat besar kepala.
"Jangan coba kau pancing amarah kami!" potong Tin Ok. "Cepat katakan!"
Cie Kee lantas duduk. "Syaratku ini akan meminta waktu yang lama," ia menyahut dengan sabar. "Tetapi yang akan kita adu adalah kepandaian sejati. Aku sendiri tidak menghendaki cara mengandalkan keperkasaan saja, dengan menggunakan alat senjata atau kepalan dan tendangan. Tentang kepandaian semacam itu, siapa pun yang memahami ilmu silat tentu akan mengerti. Bukankah kita, kaum Rimba Persilatan yang terkemuka, tidak dapat bertindak serendah itu seperti anak-anak muda yang baru lahir?"
Kanglam Cit Koay saling mengawasi, hati mereka masing-masing menduga, "Kau tidak hendak menggunakan senjata, tangan, dan kaki, lalu apakah syaratmu itu?" Maka mereka menanti penjelasan.
Cie Kee berkata lagi, dengan sikapnya yang agung. "Bagaimanapun juga, kita mesti melakukan suatu pertempuran yang menentukan. Aku akan menghadapi kalian bertujuh, Tuan-tuan! Kita bukan cuma mengadu kepandaian, juga mengadu kesabaran, dan kita memakai akal budi. Marilah kita lihat, siapakah yang paling gagah – seorang enghiong sejati!"
Kata-kata ini membuat darah Kanglam Cit Koay mengalir deras. "Cepat bilang, cepat!" seru Han Siauw Eng.
"Semakin sulit syaratnya, semakin baik!" Tetapi Cu Cong tertawa. Ia berkata, "Kalau syaratmu itu adalah untuk mengadu bertapa atau membuat obat mujarab atau membuat surat jimat guna menangkap roh-roh jahat, maka kami bukanlah tandingan kalian kaum imam!"
Khu Cie Kee pun tertawa. "Pinto juga tidak berpikir untuk adu kepandaian dengan Cu Jieko dalam hal mencuri ayam atau meraba-raba anjing atau mengulurkan tangan menuntun kambing!" Ia maksudkan ilmu mencopet.
Mendengar itu, Siauw Eng pun tertawa. "Cepat bicara, cepat!" ia mendesak lagi.
"Jika kita mencari pokok masalahnya," kata Tiang Cun Cu dengan tenang, "Penyebab utama hingga kita bertempur dan saling melukai adalah urusan menolong keturunan orang-orang gagah. Oleh karena itu, baiklah kita kembali kepada sebab-musabab itu." Dengan "orang gagah", imam itu maksudkan "hokiat" atau "enghiong".
Lalu ia menjelaskan tentang persahabatannya dengan Kwee Siauw Thian dan Yo Tiat Sim – yang ia maksudkan orang-orang gagah itu – yang mengalami nasib celaka. Oleh karena itu, ia telah mengejar Toan Thian Tek. Ia juga menuturkan bagaimana caranya ia mengejar Thian Tek itu, tetapi saking licinnya, Thian Tek selalu dapat meloloskan diri. Selagi mendengarkan, beberapa kali Kanglam Cit Koay mengutuk bangsa Kim serta pemerintah Song yang sewenang-wenang dan kejam.
Setelah menuturkan, Cie Kee menambahkan, "Orang yang Toan Thian Tek bawa lari itu adalah Lie-sie, istri Kwee Siauw Thian. Kecuali Kwa Toako bersama saudara Han, empat saudara lainnya pernah melihat mereka?"
"Aku ingat suara Lie-sie itu," kata Kwa Tin Ok. "Sekalipun berselang lagi tiga puluh tahun, aku tidak akan dapat melupakannya."
"Mengenai istri Yo Tiat Sim, yaitu Pauw-sie," Cie Kee menambahkan, "Aku masih belum tahu dia ada di mana. Pinto pernah melihat raut wajah Pauw-sie, tidak demikian dengan Tuan-tuan. Inilah yang pinto hendak gunakan sebagai syarat pertaruhan kita."
Siauw Eng segera menyela, "Kami pergi menolong Lie-sie, kau pergi menolong Pauw-sie! Siapa yang lebih dulu berhasil, dialah yang menang, bukan begitu?"
Khu Cie Kee tersenyum. "Cuma menolong saja?" ia mengulangi. "Untuk pergi mencari dan menolong, itu memang bukan pekerjaan yang terlalu mudah. Akan tetapi selain itu, masih ada hal yang lebih sukar lagi, yang meminta banyak waktu, tenaga, dan pikiran."
"Apakah itu?" tanya Kwa Tin Ok.
"Akan aku jelaskan," jawab imam itu. "Pauw-sie dan Lie-sie sama-sama sedang mengandung. Pinto ingin setelah dapat mencari dan menolong mereka, kita harus menempatkan mereka. Kita tunggu sampai mereka telah melahirkan anak, lalu anak-anak mereka itu kita rawat dan didik dalam ilmu silat. Pinto akan mendidik anak Yo Tiat Sim, dan Tuan-tuan bertujuh akan merawat anak Kwee Siauw Thian."
Ketujuh bersaudara itu membuka mulut mereka. Mereka heran mendengar kata-kata imam itu.
"Bagaimana sebenarnya?" tanya Han Po Kie.
"Kita menanti sampai delapan belas tahun lagi," terang Tiang Cun Cu. "Pada waktu itu, anak-anak itu telah berumur delapan belas tahun, lalu kita ajak mereka ke Kee-hin untuk membuat pertemuan di Cui Sian Lauw. Bersamaan dengan itu, kita undang sejumlah orang gagah lainnya untuk menjadi saksi."