Chapter 66
Si kurus lantas tertawa tawar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia membuka pintu lebar-lebar untuk memasuki kamar orang, langsung duduk di atas pembaringan sambil melirik dan mengawasi tuan rumah.
Kwee Ceng pun mengawasi hingga ia melihat dengan jelas bahwa wajah orang itu memiliki bekas luka senjata tajam, sehingga ia tidak dapat melihat ke depan dengan tenang.
Toan-hu-to Sim Ceng Kong, si Golok Memutus Roh, dengan dingin berkata, "Inilah paman guru kami, Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay yang sangat ternama! Lekas kau berlutut dan membungkuk!"
Kwee Ceng mengerti bahwa ia telah terkepung. Hong Ho Su Koay saja sudah bukan tandingannya, apalagi mereka dibantu oleh paman gurunya yang berjuluk Si Ular Naga Kepala Tiga itu.
"Tuan-tuan memiliki urusan apa?" tanya Kwee Ceng sambil menjura.
"Mana guru-gurumu?" tanya Hauw Thong Hay.
"Guruku tidak ada di sini," sahut Kwee Ceng.
"Ah! Kalau begitu, aku akan memberimu waktu untuk hidup lagi setengah hari!" kata Si Ular Naga Kepala Tiga itu. "Sekarang aku akan memberimu pelajaran agar orang tidak mengatakan Sam-tauw-kauw menghina anak kecil. Besok tengah hari aku menantikanmu di Rimba Hek-siong-lim di luar kota. Datanglah ke sana dengan meminta gurumu menemanimu!"
Setelah berkata demikian, ia bangkit dan tanpa menanti jawaban Kwee Ceng, ia langsung melangkah keluar. Sesampainya di luar, ia menyuruh Twie-beng-chio Gouw Ceng Liat, si Tombak Mengejar Jiwa, menutup pintu hingga terdengar suara berdentum.
Kwee Ceng memadamkan api, lalu duduk di atas pembaringannya. Saat memandang ke jendela, ia melihat bayangan orang mondar-mandir. Rupanya, ia dijaga dari luar kamar. Ia tetap berdiam diri. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan di atas genting, disusul bentakan, "Bocah, jangan berpikir untuk kabur, engkongmu menunggumu di sini!"
Ia sadar telah dikurung dengan ketat. Ia membaringkan dirinya dengan niat tidur tanpa menghiraukan apa pun, namun ia tidak dapat terlelap dan terus gelisah. Besok paginya, pelayan muncul dengan air cuci muka dan makanan. Di belakang pelayan itu terlihat Cian Ceng Kian dengan sepasang kampaknya.
"Suhu semua berada di tempat jauh, mereka tidak akan dapat menolongku," pikir Kwee Ceng. "Sudah terang aku tidak akan bisa lolos, baiklah aku mati bertempur!"
Karena berpikir demikian, hatinya menjadi mantap. Ia duduk di atas pembaringan untuk bersemedi mengikuti ajaran Ma Giok. Ia bersemedi hingga tengah hari sebelum turun.
"Mari kita pergi!" katanya kepada Cian Ceng Kian.
Mereka berjalan beriringan menuju ke arah barat sejauh lebih dari sepuluh lie. Di sana terdapat rimba besar yang menutupi sinar matahari dan suasananya sangat seram. Di sini, Ceng Kian meninggalkan si pemuda dan bergerak cepat ke dalam rimba.
Kwee Ceng mengeluarkan joan-pian atau cambuk lemasnya. Ia bersikap tenang, melangkah setapak demi setapak sambil berjaga dari serangan mendadak di kiri atau kanannya. Satu lie sudah ia berjalan, namun ia tidak bertemu musuhnya. Tiba-tiba ia teringat pesan gurunya yang keempat, "Jikalau tidak sanggup melawan, lari!"
Maka ia berpikir, "Sekarang tidak ada orang mengawasi, rimba pun lebat, mengapa aku tidak bersembunyi saja?"
Baru saja ia hendak mewujudkan pikirannya, tiba-tiba terdengar makian hebat, "Bocah haram! Anak campuran! Anak jadah!"
Sambil melompat, Kwee Ceng memutar cambuknya untuk melindungi diri. Namun, tidak ada serangan yang datang. Saat berdiri diam dan mendongak ke arah suara cacian itu, ia tertegun. Di atas empat pohon di dekatnya, ia melihat Hong Ho Su Koay tergantung di cabang besar. Tangan dan kaki mereka terbelenggu, tubuh mereka bergelantungan dan sia-sia saja mereka mencoba meronta. Mulut mereka pun tampak menganga lebar. Mereka mencaci maki dengan kalang-kabut saat melihat musuhnya.
Kwee Ceng heran bukan kepalang, namun ia tertawa. "Apakah kalian tengah main ayunan di sini? Sungguh menggembirakan, bukan? Nah, sampai bertemu lagi! Maaf, aku tidak dapat menemani kalian lama-lama."
Sim Ceng Kong dan kawan-kawan mencaci maki semakin hebat. Mereka malu untuk meminta tolong, apalagi heran mengapa paman guru mereka, Hauw Thong Hay, tidak segera kembali. Saat Kwee Ceng hampir lenyap dari pandangan, tiba-tiba Toat-pek-pian Ma Ceng Hiong, si Cambuk Perampas Roh, berubah pikiran karena takut mati.
"Kwee Enghiong, kami menyerah kalah!" teriaknya. "Aku mohon sukalah kau memerdekakan kami!"
Kwee Ceng berpikir, "Sebenarnya aku tidak bermusuh dengan mereka, justru merekalah yang memusuhi aku. Apa perlunya aku membiarkan mereka mati sengsara di sini?"
Ia memutuskan untuk kembali dengan melompat dan menurunkan mereka satu per satu. Rupanya Hong Ho Su Koay tidak sanggup melepaskan diri karena alat penggantungnya adalah tambang kulit yang kuat. Kwee Ceng memotongnya dengan golok emas. Setelah keempat orang itu direbahkan ke tanah, pemuda itu menotok mereka secara bergantian agar tidak dapat menggerakkan kaki dan tangan, barulah ia melepaskan belenggu mereka.
Sambil tertawa ia berkata, "Dua belas jam lagi baru kalian dapat memulihkan tenaga dalam dan merdeka. Sebetulnya, siapakah yang menggantung kalian di sini?"
"Kau masih berpura-pura!" bentak Cian Ceng Kian mendongkol. "Kalau bukan kau, siapa lagi?"
Kwee Ceng heran. Ia bergegas pergi meninggalkan mereka. Ia mengerti pasti ada orang lain yang menolongnya. Karena tidak ada Hauw Thong Hay di sana, ia khawatir paman guru mereka itu kembali, sehingga ia harus segera menyingkir. Ia lari keluar rimba dan kembali ke kota, bahkan segera membeli seekor kuda untuk melanjutkan perjalanannya ke selatan.
"Siapakah orang yang secara diam-diam menolongku?" pikirnya di sepanjang jalan. Keanehan itu tidak dapat ia lupakan. "Hong Ho Su Koay lihai, tetapi mereka dapat digantung. Teranglah lawannya jauh lebih hebat hingga mereka menyangka itu perbuatanku. Herannya, ke mana perginya Hauw Thong Hay si Ular Naga itu? Bayangannya pun tidak terlihat."
Kwee Ceng terus melakukan perjalanannya. Pada suatu hari, ia tiba di Tiongtouw, ibu kota kerajaan Tay Kim Kok yang sangat ramai dan indah, bahkan tidak dapat disamai oleh Pian-liang atau Lim-an. Ia yang besar di gurun pasir belum pernah menyaksikan suasana kota besar dengan bangunan-bangunan mewah dan kereta-kereta kuda yang indah.
Di berbagai kedai minum, ia mendengar suara tawa dan musik yang merdu. Untuk bersantap, ia tidak berani memilih restoran yang mentereng, melainkan mencari yang kecil. Setelah selesai makan, ia berjalan-jalan dan berhenti ketika mendengar sorak-sorai ramai dari sekumpulan orang.
Ia mendekat dan menyelak kerumunan. Orang-orang mengelilingi sebuah tanah lapang dengan bendera putih bersulam empat huruf besar: "Pi Bu Ciauw Cin", yang artinya mencari jodoh dengan jalan mengadu kepandaian. Di bawah bendera itu, seorang nona berbaju merah tengah bertempur sengit dengan seorang pria berbadan tinggi besar.
Kwee Ceng heran menyaksikan ilmu silat si nona. Ia berpikir, "Dia lihai, mengapa ia memunculkan diri di tempat umum seperti ini?"
Selang beberapa jurus, si pria melihat celah dan menyerang dada nona itu dengan kedua tangan. Nona itu tidak menangkis atau berkelit, namun dengan gerakan luar biasa gesit, ia berkelit dan kakinya melangkah cepat ke arah samping belakang penyerangnya. Saat tangan kirinya diayunkan, punggung si pria terpukul hingga terjerembap ke tanah. Pria itu segera bangkit dengan wajah merah padam karena malu dan menyelinap di antara kerumunan.
Para penonton bersorak sorai. Nona itu menyibakkan rambut yang jatuh ke dahinya lalu mundur ke bawah bendera. Kwee Ceng memandang nona yang cantik dan tampak berwibawa itu. Umurnya mungkin baru tujuh belas atau delapan belas tahun.
Mendadak ia berpikir, "Mengapa aku merasa mengenalnya? Seolah aku pernah bertemu dengannya, entah di mana?" Kemudian ia tersenyum sendiri, "Baru saat ini aku tiba di Tionggoan, kapan aku pernah bertemu orang lain? Tadinya aku menyangka nona-nona berbaju putih yang menunggang unta itu sudah cantik, ternyata nona ini jauh lebih cantik lagi."