Chapter 187
Tongkat itu bergerak-gerak, bukan hanya menyerang lawan tetapi juga menghantam kedua ular berbisa tersebut. Dengan kelicikannya, Auwyang Hong berulang kali dapat menolong ularnya. Ia menjadi sengit dan diam-diam mengutuk pangcu dari Kay Pang itu, yang kepandaiannya harus ia akui.
Kwee Ceng menonton dengan pikiran bingung. Ia ingin membantu gurunya, tetapi tidak memiliki kesanggupan. Bukankah musuh itu sangat lihai? Mana mungkin ia dapat menyelinap di antara mereka berdua. Namun, Auwyang Hong juga menyadari bahaya yang mengancam. Perlahan-lahan ia merasakan tubuhnya berhawa panas. Yang hebat, ia merasakan badan perahu yang tinggal sebelah itu mulai tenggelam. Penyerangan lawan sangat dahsyat; jika ia tidak mengeluarkan kepandaiannya, bisa-bisa ia binasa di tangan si pengemis tua ini.
Maka, ia lantas mengubah siasat. Tangan kanannya yang memegang tongkat ditarik, dan tangan kirinya digunakan untuk menyapu. Dengan tongkatnya, Ang Cit Kong mengejar tongkat lawan, sementara tangan kirinya menangkis sapuan tangan kiri musuhnya itu. Tiba-tiba tangan kiri Auwyang Hong berkelit, diputar, dan secepat kilat menyerang ke arah pelipis kanan musuhnya. See Tok menggunakan tipu silat Kim Coa Kun atau Kuntau Ular Emas. Itulah siasat ilmu silatnya yang istimewa. Bahkan, ia hendak mengandalkan ilmu ini pada pertemuan kedua nanti di Hoa San untuk menundukkan semua lawannya. Keistimewaannya adalah selagi menyerang, tangannya dapat diputar balik untuk kembali menyerang secara dahsyat di luar dugaan lawan.
Begitulah, ia menggunakan tipu silat ini terhadap Pak Kay. Ia percaya si pengemis tidak mengenal ilmu silatnya. Memang, mulanya Ang Cit Kong tidak mengenal Kim Coa Kun, ia pun melihatnya secara kebetulan di Poo-eng saat Auwyang Kongcu menggunakannya terhadap Kwee Ceng. Cit Kong tidak menghadiri pesta Lee Seng karena ia sedang berpikir keras mencari cara untuk memecahkan ilmu Kim Coa Kun itu. Maka, kali ini saat melihat Auwyang Hong menggunakan tipu silat tersebut lagi, Cit Kong sudah siap sedia.
Dengan menggunakan tipu silat Kim-na-ciu (menangkap tangan), ia mengulurkan tangannya untuk menjambret. Auwyang Hong tidak menyangka hal itu; ia terkejut sambil melompat mundur. Justru pada saat itu, jatuh segumpal api yang menyambar ke arahnya. Cit Kong juga terkejut dan terus melompat mundur. Sekarang ia dapat melihat dengan jelas bahwa yang jatuh itu adalah kain layar yang terbakar.
Dalam keadaan biasa, Auwyang Hong tidak akan sampai tertimpa, tetapi barusan ia sedang kaget karena ilmu silatnya berhasil dipecahkan lawan. Saat ia sedang menapakkan kaki dan layar jatuh secara tiba-tiba, ia tidak berdaya untuk menyingkir. Dalam kagetnya itu, Auwyang Hong tidak menjadi gugup. Ia lantas menggunakan tongkatnya untuk menyingkap kain layar tersebut. Malang baginya, tongkatnya terhalang tiang layar dan tidak dapat digerakkan. Ia menghela napas dan mengeluh, "Habis sudah, hari ini aku mesti pulang ke langit?"
Sekonyong-konyong ia melihat sinar terang. Tadinya ia berada dalam kegelapan. Ketika ia awasi, ia melihat Ang Cit Kong tengah menggunakan tongkatnya untuk menyontek dan menyingkap layar. Pak Kay adalah orang yang berperangai halus dan murah hati; walaupun sangat benci pada See Tok atas kelicikan dan keganasannya, ia tetap tidak tega menonton orang tewas terbakar. Maka tanpa banyak berpikir, ia memberikan pertolongan.
Pakaian, rambut, dan alis Auwyang Hong telah terbakar. Ia melompat, lalu menjatuhkan diri dan bergulingan di lantai perahu untuk memadamkan api. Selagi ia bergulingan, mendadak perahu miring dan rantai jangkar jatuh menimpa ke arahnya. Cit Kong kaget hingga menjerit, lalu melompat untuk menyambar jangkar tersebut. Celakanya, jangkar itu membara karena terbakar. Saat tersentuh, tangannya langsung terbakar hangus hingga mengeluarkan suara, tetapi ia masih sempat melemparkannya ke laut.
Namun, selagi menolong dan hendak melompat ke laut, mendadak ia merasakan punggung serta pundaknya kaku. Untuk sesaat ia tertegun, tidak tahu apa sebabnya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Segera ia menoleh ke belakang. Perahu bergoyang. Bukan main murkanya Ang Cit Kong, kedua tangannya segera melayang ke arah Auwyang Hong. See Tok dapat berkelit, sehingga tiang layar di belakangnya terhajar keras hingga patah dan roboh. Cit Kong tidak berhenti sampai di situ, ia terus menyerang. Melihat orang seperti kalap, Auwyang Hong tidak mau melawan, ia lebih banyak berkelit sambil melompat.
"Suhu! Suhu!" Kwee Ceng berteriak-teriak melihat kelakuan gurunya itu. Ia pun merayap naik ke perahu besar. Adalah di saat itu, Ang Cit Kong terhuyung-huyung. Ia merasakan kepalanya pusing hingga tidak ingat apa-apa. Auwyang Hong melompat maju, dengan sebelah tangannya ia menghajar punggung si raja pengemis. Hebat serangannya. Dalam keadaan seperti itu, Ang Cit Kong tidak bisa mempertahankan diri. Ia lantas roboh sambil memuntahkan darah segar.
Kiu Cie Sin Kay Ang Cit Kong sangat kesohor kegagahannya. Auwyang Hong tahu dengan baik bahwa hajarannya ini tidak dapat segera menghabiskan nyawa seseorang. Ia juga tahu jika nanti Ang Cit Kong sembuh dari lukanya, pembalasannya tidak akan ada habisnya. Maka, sudah kepalang tanggung, ia mengambil sikap: "Berbelas kasihan tidak menurunkan tangan, menurunkan tangan tidak berbelas kasihan." Ia lantas melompat maju, dengan kakinya ia menjejak punggung orang itu.
Kwee Ceng baru saja naik ke perahu ketika ia menyaksikan keganasan See Tok terhadap gurunya. Ia tidak sempat maju lebih jauh untuk menolong, maka tidak ada jalan lain, ia menyerang dengan pukulan "Sepasang Naga Mengambil Air" ke arah punggung bagian pinggang. Auwyang Hong tahu si bocah lihai, tetapi ia tidak memandangnya hebat. Ia menggerakkan tangan kiri untuk menangkis, sementara tangan kanannya membalas menyerang. Di sisi lain, kakinya terus menginjak Ang Cit Kong.
Kwee Ceng kaget hingga melupakan segalanya; ia melompat menubruk Auwyang Hong dan merangkul batang lehernya. Namun, justru tindakannya ini membuat dirinya terbuka, sehingga rusuknya dihajar oleh si Bisa dari Barat. Dalam keadaan rapat seperti ini, Auwyang Hong tidak leluasa menyerang. Namun, karena dasarnya lihai, serangan itu sangat hebat. Beruntung bagi Kwee Ceng, tenaga dalamnya telah memiliki dasar yang kuat sehingga ia tidak segera roboh; ia hanya merasakan sakit sekali dan separuh tubuhnya hampir kaku. Karena ini, ia menjadi nekat dan memperkeras rangkulannya untuk mencekik leher musuh.
Oleh karena perlawanan Kwee Ceng, tendangan Auwyang Hong kepada Ang Cit Kong menjadi batal karena ia harus menarik kakinya untuk membela diri. Namun, ia tidak sanggup menggunakan Kuntau Kodok atau Ular Emas karena jarak mereka terlalu rapat, sehingga ia hanya bisa menyerang muka orang. Kwee Ceng berkelit setiap kali dipukul. Untuk menangkis, ia tidak mampu lantaran kedua tangannya digunakan sekuat tenaga. Ia bisa berkelit di bagian atas, tetapi tidak bisa di bagian bawah, yaitu rusuknya. Maka, lagi-lagi See Tok menyikut.
Kwee Ceng terpaksa berkelit ke kanan, dengan begitu ia terpaksa melepaskan tangan kirinya. Namun, ia tidak berhenti berdaya; dengan lekas ia menggunakan ilmu gulat bangsa Mongolia. Tangannya diselipkan di antara iga dan lengan musuh, lalu diulur untuk membangkol batang leher. Auwyang Hong lihai tetapi sekarang ia pun merasakan sakit. Ia mengerti tipu silat apa yang digunakan anak muda itu. Celakanya, ia tidak mengerti cara untuk menolong diri, sehingga ia hanya bisa menggunakan kepalan tangannya untuk meninju ke belakang.
Melihat ini, Kwee Ceng menjadi sangat girang. Segera ia melepaskan cekikannya, lalu dengan tangan kanan itu, ia menyelipkan tangannya seperti tadi—kalau tadi di sebelah kiri, sekarang di sebelah kanan. Kembali ia membangkol leher orang, dibarengi dengan seruan mengerahkan tenaga. Dengan menggunakan dua tangan sekaligus, ia menjadi berbahaya sekali. Inilah yang dinamakan tipu "Menjirat Mematahkan Gunung". Dalam hal ini, Auwyang Hong terancam patah leher.
Cerdik sekali Auwyang Hong. Ia bertindak dengan sebat. Ia menurunkan kepalanya untuk menyusup ke selangkangan anak muda itu, sembari meninju dengan kepalan kiri. Ia tidak mau membiarkan orang sempat mengerahkan tenaga. Sebelum ia terkena tinju, Kwee Ceng telah menyambar tangan kiri si jago berbisa itu. Ia tetap merapatkan tubuhnya ke tubuh musuh, ia mencoba terus menggunakan ilmu gulatnya. Ia menyadari jika mereka renggang, ia bisa celaka. Lagi pula, dengan berkelahi rapat, ia dapat mencegah musuh mencelakai gurunya.
Oey Yong bingung sekali. Di satu pihak ia melihat Ang Cit Kong rebah di pinggir perahu dengan separuh tubuhnya berada di luar, di lain pihak terlihat Kwee Ceng bergulat mati-matian melawan Auwyang Hong. Keduanya bergulingan dan tubuh mereka sudah tersambar api. Karena ini, ia menghajar Auwyang Kongcu dengan pengayuh. Walaupun tangan kirinya telah terluka, pemuda bermarga Auwyang itu tetap tangguh. Ia berkelit ke kiri, sambil berkelit, tangannya menyambar lengan si nona. Oey Yong berkelit sambil menekan perahu hingga miring. Auwyang Kongcu tidak bisa berenang, kemiringan perahu membuat tubuhnya terhuyung. Untuk menjaga keseimbangan, ia batal menyerang si nona. Menggunakan saat perahu miring itu, Oey Yong terjun ke air. Ia pandai berenang dan tidak takut. Hanya dengan beberapa kali ayunan tangan, tubuhnya sudah menyelonong ke perahu besar. Perahu itu tinggal separuh, dan sekarang separuh bagian itu sudah terbakar. Dengan gampang si nona naik ke perahu besar tersebut. Di sana ada sebuah tempuling, ia menyambarnya untuk membantu Kwee Ceng.