Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 144

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 144

"Di mulut kau mengatakan begini, di dalam hatimu kau mencaci aku," kata Ang Cit Kong.

"Itulah, keponakanku tidak berani," jawab Auwyang Kongcu.

"Cit Kong, jangan percaya obrolannya!" Oey Yong menyela. "Di dalam hatinya dia memang sedang mencaci kau, bahkan mencaci lebih hebat lagi!"

"Bagus ya, bocah ini berani mencaci aku!" seru Cit Kong dengan gusar. Mendadak ia mengulurkan tangannya bagaikan kilat. Kipas di tangan si anak muda itu telah dirampas, hingga orang tersebut melongo.

Ia membentangkan kipas itu. Terlihat lukisan beberapa tangkai bunga buatan serta tulisan "Cie Hie" dari zaman Song Utara. Di sampingnya terdapat sebaris tulisan, "Pek To San Cu", yang artinya tuan dari Pek To San. Itu adalah tulisan Auwyang Kongcu sendiri.

"Hm!" Cit Kong mendengus dingin. Kemudian ia bertanya kepada Oey Yong, "Bagaimana kau melihat tulisan ini?"

Sepasang alis mata si nona terangkat. Ia menjawab, "Sungguh menyebalkan! Ini mirip tulisan juru tulis dari toko penukar uang perak!"

Auwyang Kongcu biasa membanggakan diri sebagai pemuda yang pandai ilmu silat dan sastra. Mendengar celaan Oey Yong, ia mendongkol bukan main dan menatap si nona dengan mata melotot. Namun, saat melihat wajah orang tersebut yang seperti tertawa namun tidak, ia menjadi tercengang.

Ang Cit Kong membentangkan kipas di telapak tangannya, lalu membawanya ke mulut untuk menyeka bibir. Ia baru saja selesai makan ayam dan bibirnya masih berlumuran minyak. Bisa dimengerti jika kipas indah itu tidak lagi terlihat cantik. Setelah itu, ia meremas kipas tersebut hingga menjadi gumpalan kertas rongsokan, lalu melemparkannya.

Bagi orang lain, kejadian itu mungkin biasa saja, tetapi bagi Auwyang Kongcu, itu sangat luar biasa. Kipas tersebut adalah senjata andalannya dengan tulang-tulang terbuat dari baja pilihan, namun dengan mudahnya diremas hingga rusak. Ia pun kagum pada tenaga besar pengemis tua itu.

"Jika aku sendiri yang melawan kau, sampai mati pun kau tentu tidak akan puas," kata Ang Cit Kong. "Maka sekarang juga aku hendak mengangkat seorang murid supaya ia yang melawan kau."

Auwyang Kongcu penasaran dan memberanikan diri berkata, "Saudara ini barusan telah bertempur beberapa puluh jurus denganku. Jika senior tidak turun tangan, sudah tentu keponakanmu yang beruntung memperoleh kedudukan di atas angin." Sambil tertawa, ia menunjuk ke arah Kwee Ceng.

Cit Kong mendongak ke langit dan tertawa terbahak-bahak. "Anak Ceng, adakah kau muridku?" tanyanya.

Kwee Ceng teringat saat ia berlutut kepada orang tua ini untuk memberi hormat, tetapi si orang tua dengan tersipu-sipu membalas berlutut dan mengangguk-angguk kepadanya. Ia pun lekas-lekas menjawab, "Aku yang muda tidak mempunyai rezeki untuk menjadi muridmu."

"Nah, kau telah dengar, bukan?" kata Cit Kong kepada pemuda she Auwyang itu. Auwyang Kongcu heran bukan main. "Pengemis bangka ini pastilah tidak memperdaya orang," pikirnya. "Habis, dari mana bocah ini mendapatkan kepandaiannya?"

Cit Kong tidak memedulikan pikiran orang lain. Ia memandang Kwee Ceng, "Sekarang hendak aku mengambil kau sebagai murid, kau senang atau tidak? Apakah kau tidak mencela aku si pengemis tua? Apakah enak didengar jika orang mengatakan gurumu adalah aku, si pengemis tua?"

Kwee Ceng girang bukan kepalang, ia lantas menjatuhkan diri di depan si raja pengemis itu untuk melakukan *pai kui* delapan kali.

"Hai, anak tolol!" kata si guru. "Mengapa kau tidak memanggil suhu?"

"Sebenarnya teecu sudah mempunyai enam guru, maka itu teecu pikir..." Untuk sejenak bocah ini ragu. "Teecu memikirkan untuk menanyakan dulu kepada keenam guruku itu."

"Benar-benar!" kata Ang Cit Kong. "Seorang ksatria memang tidak melupakan asal-usulnya! Baiklah, sekarang aku ajarkan kau tiga jurus dulu."

Lalu, di depan Auwyang Kongcu sendiri, Cit Kong mengajarkan Kwee Ceng sisa tiga jurus lagi dari *Hang Liong Sip-pat Ciang*. Tentu saja ketiga jurus itu berbeda dengan tiga jurus ciptaan Kwee Ceng sendiri.

Setelah Kwee Ceng hafal ketiga jurus itu, Cit Kong berkata, "Baik, anak yang baik, cukup sudah! Sekarang kau tolongi aku memberi pelajaran pada bandit cabul ini!"

Kwee Ceng memang sangat sebal terhadap pemuda yang ceriwis dan sombong itu. Tanpa membilang apa-apa lagi, ia langsung melayangkan tinju. Auwyang Kongcu tidak takut; karena masih mendongkol, setelah berkelit, ia langsung membalas menyerang. Keduanya pun bertarung kembali.

Rahasia *Hang Liong Sip-pat Ciang* adalah tenaga yang dikerahkan dalam satu saat. Ilmu silatnya sendiri sangat sederhana dan mudah dipelajari, yang sulit adalah melatihnya hingga mahir. Orang-orang seperti Nio Cu Ong, Bwee Tiauw Hong, dan Auwyang Kongcu bukanlah tandingan Kwee Ceng, namun kenapa ia sanggup melayani mereka bertiga? Itulah rahasianya.

Kali ini, Auwyang Kongcu merasakan kesulitan. Kwee Ceng kini dapat menggunakan delapan belas jurus, menyambungkan kepala dengan ekor dan ekor dengan kepala. Karena sudah menguasai lima belas jurus dan mendapat tambahan tiga jurus terakhir, tenaganya bertambah. Auwyang Kongcu melayani bekas tandingannya ini dengan bersungguh-sungguh. Ia sudah mengeluarkan empat macam ilmu silat, namun hanya dapat berimbang; mereka menjadi sama tangguhnya, padahal tadinya ia lebih unggul.

Setelah lewat beberapa jurus tanpa hasil, ia menjadi bingung. "Jika hari ini aku tidak memperlihatkan ilmu silat istimewa dari keluargaku, pasti sukar bagiku untuk merebut kemenangan," pikirnya. "Semenjak kecil aku telah dididik paman, kenapa aku tidak dapat merobohkan murid si pengemis tua yang baru saja diberi pengajaran? Tidakkah dengan begitu aku akan meruntuhkan kesohoran pamanku di tangan si pengemis bangkotan ini?"

Karena itu, mendadak ia melayangkan tinjunya yang hebat. Melihat serangan itu, Kwee Ceng segera menangkis. Tapi, mendadak ia seperti kehilangan arah tangan lawan yang sekonyong-konyong menjadi lemas, atau di lain saat, *plok!* batang lehernya terkena pukulan tanpa bisa mengelak. Ia kaget sekali, sambil menunduk ia melompat dan tangannya membalas menyambar.

Auwyang Kongcu berkelit sambil menggeser kaki dan menyerang balik. Kali ini Kwee Ceng tidak berani menangkis dan berkelit dengan cepat. Tapi aneh, gerakan tangan Kongcu ini seperti menuju ke kiri, tahunya ke kanan, hingga *plok!* sekali lagi bahunya terkena. Kwee Ceng terhajar untuk ketiga kalinya.

"Anak Ceng, tahan!" kata Ang Cit Kong. "Hitunglah kau kalah satu kali ini."

Kwee Ceng menurut dan melompat keluar gelanggang. Ia merasakan sakit pada tempat-tempat yang dipukul, tapi ia tetap memberi hormat kepada lawannya, "Benar kau lihai, aku bukanlah tandinganmu." Auwyang Kongcu puas sekali dan melirik ke arah Oey Yong.

Ang Cit Kong berkata, "Si Racun Tua setiap hari memelihara ular. Ilmu silat *Kulit Ular Emas* ini tentulah ia ciptakan dari gerakan ular berbisa. Kau beruntung sekali, karena sekarang belum ada cara untuk memecahkannya. Nah, pergilah kau baik-baik."

Auwyang Kongcu tercekat. Ia berpikir, "Paman telah berpesan wanti-wanti, kalau bukan dalam keadaan bencana kematian, aku tidak boleh menggunakan ilmu *Kim Coa Kun* (Pukulan Ular Emas) ini. Sekarang si pengemis tua mengetahuinya, jika paman tahu, aku bisa dihukum berat." Karena itu, lenyaplah kepuasan hatinya. Ia memberi hormat kepada Ang Cit Kong dan bergegas keluar dari rumah abu itu.

"Eh, tunggu dulu, aku hendak bicara denganmu!" Oey Yong mencegah. Auwyang Kongcu berhenti dan menoleh. Oey Yong memberi hormat kepada Ang Cit Kong, "Cit Kong, baiklah hari ini kau menerima dua murid. Kau jangan berat sebelah, aku tidak mau tahu!"

Ang Cit Kong menggelengkan kepala sambil tertawa. "Sebenarnya aku telah melanggar aturan dengan menerima murid," katanya. "Maka, tidak mungkin dalam satu hari aku melanggar aturan lagi dengan menerima dua murid. Ayahmu sendiri sangat lihai, mana mungkin ia membiarkan kau mengangkat aku, si pengemis tua, menjadi gurumu?"

Oey Yong menunjukkan ekspresi kaget dan sadar. "Oh, kau takut terhadap ayahku!" katanya.

Cit Kong kena dipancing emosinya. "Takut? Hm! Baiklah, aku terima kau sebagai murid! Mustahil Oey Lao Shia nanti akan mengincar tubuhku!"

Oey Yong girang dan tertawa. "Baiklah, satu kata menjadi kepastian! Jangan kau menyesali! Suhu, sebagai kaum pengemis, bagaimana caranya suhu menangkap ular? Coba ajari aku."

Cit Kong berpikir. Ia tidak tahu maksud nona ini, tetapi ia tahu orang ini sangat cerdik. Ia menduga putrinya Tong Shia Oey Yok Su ini pasti mengandung maksud tertentu.

"Menangkap ular harus di tempat tujuh dim (tujuh inci)," ia memberi keterangan. "Kedua jari tangan mesti menjadi seperti jepitan. Asal tepat kenanya, ular berbisa apa pun tidak akan bisa bergerak lagi."

"Kalau ular yang besar sekali?" tanya si nona.

"Ajukan tangan kiri untuk memancing agar ia menggigit jari tangan kiri kita," Cit Kong mengajari. "Lalu dengan tangan kanan, hajar dia tepat di tujuh dim tersebut."

"Apakah menghajarnya mesti cepat sekali?"

"Tentu saja. Tangan kiri itu mesti diberi obat, supaya kalaupun kena gigit, akibatnya tidak membahayakan."

Oey Yong mengangguk, ia melirik si pengemis tua itu sambil mengedipkan matanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment