Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 96

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 96

Chao Wang bersama putranya sibuk mencari orang yang menculik Ong Hui. Mereka berlari-lari bersama barisan pengiring di dalam dan di luar istana.

Nio Cu Ong melihat bagaimana Auwyang Kongcu terdesak hingga bajunya robek dan memperlihatkan pakaian dalamnya. Ia teringat bagaimana di dalam gua ia dipermainkan oleh nyonya itu. Merasa gemas, ia berseru dan maju membantu si pemuda mengepung lawan. See Thong Thian dan Pheng Lian Houw menanti di pinggiran, bersiap untuk membantu, namun hati mereka gentar menyaksikan kehebatan si nyonya.

Oey Yong terus berkelit dari pelbagai serangan Hauw Thong Hay, membuat orang bermarga Hauw itu kewalahan. Tidak lama kemudian, Bwee Tiauw Hong merasa kerepotan melayani dua lawan yang tangguh. Tiba-tiba, ia menarik sebelah tangannya dan menyambar bagian belakang tubuh Kwee Ceng seraya berseru, "Kau panggul kedua kakiku!" Kwee Ceng kaget dan tidak mengerti maksudnya, akan tetapi ia insyaf bahwa mereka bekerja sama menangkis musuh. Ia menuruti perkataan orang itu, segera membungkuk, dan memegang kedua paha Tiauw Hong untuk diangkat.

Dengan tangan kirinya, Tiauw Hong menangkis serangan Auwyang Kongcu, sementara tangan kanannya menjambak Nio Cu Ong. Sembari berbuat demikian, ia berkata kepada Kwee Ceng, "Kau panggul aku, kejarlah orang bermarga Nio itu!" Baru saat itulah Kwee Ceng mengerti maksudnya. Pikirnya, "Dia tidak dapat menggunakan kedua kakinya, dia membutuhkan bantuanku!" Ia pun terus bekerja.

Ia bukan lagi memanggul si nyonya, melainkan menggendongnya. Ia bergerak kian kemari menuruti setiap petunjuk nyonya itu untuk maju memburu, mundur, sembari menangkis atau berkelit. Kwee Ceng memiliki tenaga besar dan tubuh yang ringan, sementara tubuh Tiauw Hong tidak berat, sehingga ia dapat bergerak dengan leluasa. Maka setelah itu, Tiauw Hong berada di atas angin.

"Bagaimana caranya meyakinkan ilmu dalam?" tanya Tiauw Hong kepada Kwee Ceng selagi ia melayani musuh. Ia tidak dapat melupakan ilmu itu.

"Duduk bersila, lima hati dihadapkan ke langit," jawab Kwee Ceng.

"Apa yang dinamakan lima hati?" Tiauw Hong bertanya lagi.

"Yang dimaksudkan adalah telapak kedua tangan, telapak kedua kaki, dan embun-embunan." Tiauw Hong merasa girang hingga menjadi bersemangat. Ketika ia menjambret Nio Cu Ong, ia dapat mencengkeram pundaknya. Tidak lama kemudian, pundak orang bermarga Nio itu berlumuran darah hingga ia harus melompat menyingkir.

Kwee Ceng melompat untuk memburu. Tatkala ia melihat Kwie-bun Liong Ong See Thong Thian maju membantu sute-nya untuk mengerubungi Oey Yong, ia menjadi kaget dan segera memutar tubuhnya. "Hajar dulu dua orang ini!" serunya kepada Tiauw Hong.

Nyonya itu segera menggerakkan kedua tangannya; yang kiri diarahkan ke bagian belakang tubuh Hauw Thong Hay. Lawannya itu mengeratkan diri untuk berkelit. Di luar dugaannya, tangan si nyonya berhasil menyambar, hingga tubuhnya segera diangkat. Di lain pihak, lima jari tangan kanan si nyonya menyambar ke arah puncak kepala lawannya. Tanpa daya, Hauw Thong Hay lemas sekujur tubuh dan tidak dapat bergerak lagi.

See Thong Thian menyaksikan hal itu dan kaget bukan main. Ia melompat untuk menghalau lengan nyonya itu. Akibatnya, kedua tangan mereka beradu. Keduanya terkejut karena tangan mereka sama-sama kesemutan. Berbarengan dengan itu, dari arah kiri terdengar suara angin menyambar. Itulah serangan kim-chie-piauw, senjata rahasia berupa uang dari Pheng Lian Houw.

Tiauw Hong menyadari datangnya serangan gelap itu. Ia menangkis dengan melemparkan tubuh Hauw Thong Hay ke arah datangnya piauw tersebut. Thong Hay pun berteriak, "Aduh!" karena tepat terkena piauw itu. See Thong Thian kaget karena sute-nya akan jatuh ke tanah. Jika sampai terbanting, celakalah sute-nya itu. Terpaksa ia melompat maju untuk menyambar pinggang adik seperguruannya itu, yang kemudian ia lemparkan. Kali ini Thong Hay bisa mengerahkan tenaganya hingga ia jatuh dengan wajar.

Tiauw Hong melemparkan tubuh orang, dan See Thong Thian menolong sute-nya; semua itu terjadi dalam sekejap. Menyusul itu, Tiauw Hong segera diserang dari tiga penjuru oleh piauw Pheng Lian Houw, Auwyang Kongcu, dan See Thong Thian. Bwee Tiauw Hong memasang pendengarannya, lalu jari-jarinya digunakan untuk menyentil balik setiap piauw. Akibatnya, semua piauw itu mental kembali dan menyerang Auwyang Kongcu, Pheng Lian Houw, See Thong Thian, serta Nio Cu Ong yang turut maju pula.

"Apakah itu yang dinamakan mengumpulkan ngo-heng?" Tiauw Hong bertanya lagi.

"Itulah kayu dari Tong-hun, emas dari See-pek, api dari Lam-sin, air dari Pak-ceng, dan tanah dari Tiong-ie."

"Apakah itu yang disebut mengakurkan su-ciang?"

"Itu artinya menyimpan mata, mengebalkan kuping, meluruskan napas, dan menutup lidah."

"Tidak salah! Itu yang dinamakan ngo-goan, lima hawa dipusatkan kepada asalnya?"

"Itulah, mata tidak melihat tetapi semangatnya ada di jantung, kuping tidak mendengar tetapi pendengarannya ada di ginjal, lidah tidak berbunyi tetapi pemikirannya ada di hati, dan hidung tidak mencium bau tetapi rohnya ada di paru-paru."

Girang Tiauw Hong mendapatkan keterangan ini. Sudah belasan tahun ia meyakinkan Kiu Im Cie Keng, tetapi tidak pernah memahaminya. Karena ia memecah perhatiannya, sebelum Kwee Ceng menjawab, pundak kiri dan iga kanannya telah terkena hantaman oleh Auwyang Kongcu dan See Thong Thian. Ia bertubuh kuat, namun hantaman itu membuatnya merasa sangat sakit.

Oey Yong pun menjadi cemas. Ia berharap Tiauw Hong bisa melibat musuh-musuhnya supaya ia bisa mengajak Kwee Ceng kabur. Segera saja Tiauw Hong terdesak. Ia heran atas tidak datangnya bala bantuan, maka akhirnya ia berteriak kepada Oey Yong, "Eh, dari mana kau memancing begitu banyak musuh lihai? Mana suhu?" Ia bertanya demikian karena sebenarnya ia khawatir. Sungguh ia tidak ingin bertemu gurunya yang ia tahu kejam.

"Dia bakal segera datang!" sahut Oey Yong. "Mereka ini bukan tandinganmu! Andaikan kau duduk di tanah, mereka tidak akan dapat mengganggu selembar rambutmu!" Ia ingin membangkitkan keangkuhan si Mayat Besi supaya Kwee Ceng dilepaskan.

Tetapi Tiauw Hong tengah sulit sekali melayani musuh-musuhnya. Nio Cu Ong berseru sambil melompat menerjang. Tiauw Hong merasakan ada serangan di kiri dan kanannya. Ia merentangkan kedua tangannya untuk menangkis, tetapi ia merasakan rambutnya ada yang menarik. Itulah Nio Cu Ong yang menyambar rambutnya. Ia kaget, begitu pun Oey Yong. Nona ini segera menyerang punggung orang bermarga Nio itu. Cu Ong menangkis dengan tangan kanannya, sekalian hendak memiting tangan si nona, sedangkan tangan kirinya tidak melepaskan rambut si Mayat Besi.

Untuk membebaskan dirinya, Tiauw Hong menyambar rambutnya sendiri hingga putus, lalu ia menyerang Nio Cu Ong. Dengan mencelat ke samping, Cu Ong menolong dirinya. Sementara itu, Pheng Lian Houw akhirnya mengetahui wanita itu adalah Bwee Tiauw Hong, salah satu dari Hek Hong Siang-sat. Maka itu, apabila ia mendapat kenyataan Oey Yong membantu si Mayat Hidup, dia menegur, "Eh, budak cilik! Kau bilang kau bukannya murid Hek Hong, nyata kau berdusta!"

Oey Yong tidak mau mengalah. "Dia guruku?" dia membalik mengejek. "Lagi seratus tahun ia belajar silat, ia masih belum mampu menjadi guruku!"

Lian Houw heran. Terang mereka berdua sama ilmu silatnya. Kenapa si nona menyangkal? Kenapa agaknya si nona tidak menghormati Tiauw Hong itu? Justru itu terdengarlah suara See Thong Thian, "Memanah orang lebih dulu memanah kudanya!" Kata-kata itu ditujukan kepada Kwee Ceng yang ia incar kakinya.

Tiauw Hong kaget. Ia tahu Kwee Ceng masih lemah; kalau anak itu roboh, ia pun bisa susah. Maka itu, ia membungkuk untuk menyambut kaki orang bermarga See itu. Justru itu, dengan tubuh si nyonya yang turun rendah, Auwyang Kongcu membarengi menumbuk bagian belakang tubuhnya. Tiauw Hong mengeluarkan suara, "Hm!" Mendadak saja tangan kanannya terayun, lalu terlihat berkelebat satu sinar putih terang. Nyata ia telah mengeluarkan cambuknya dan menyabet ke empat penjuru. Cambuknya bergerak bagaikan naga beracun hingga empat lawannya harus menjauhkan diri.

Pheng Lian Houw berpikir, "Perempuan buta ini mesti lebih dulu dibinasakan. Jikalau suaminya, si Mayat Perunggu, keburu datang, sungguh sulit!" Ia berpikir demikian karena ia tidak tahu Tan Hian Hong sudah binasa. Sebenarnya cambuk Tong-liong Gin-pian dari Bwee Tiauw Hong lihai sekali. Di dalam jangkauan enam tombak, siapa kena dicambuk pasti binasa. Hanya saja sekarang ia menghadapi Auwyang Kongcu dan kawan-kawan yang bukan sembarang orang. Ia cuma bisa membuat mereka merenggangkan diri.

Pheng Lian Houw penasaran sambil berseru, ia menjatuhkan diri untuk menyerbu dengan bergulingan. Tiauw Hong tidak tahu orang hendak membokongnya, ia hanya melayani ketiga musuhnya. Kwee Ceng merasa kaget sekali; dalam ketakutannya, ia menjerit. Atas jeritan itu, tahulah Tiauw Hong mengenai datangnya musuh lain. Ia lantas mengulurkan tangan kirinya guna menjambret orang bermarga Pheng itu.

Oey Yong tidak dapat membantu Tiauw Hong lagi karena cambuk nyonya itu merintangi majunya. Di lain pihak, ia melihat ancaman bahaya untuk si Mayat Besi, artinya untuk ia sendiri berdua sama Kwee Ceng. Ia lantas mendapat akal, maka ia berteriak, "Semua berhenti! Aku hendak bicara!"

Pheng Lian Houw yang bisa membebaskan diri, begitu pun ketiga kawannya, tidak mengindahkan teriakan itu. Mereka terus mengurung. Oey Yong khawatir dan penasaran. Hendak ia berteriak pula, tiba-tiba ia mendengar orang lain mendahuluinya, "Semua berhenti, aku hendak bicara!"

Suara itu datangnya dari arah tembok. Oey Yong segera berpaling.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment