Chapter 31
Segera ia ketahui sebabnya ia tidak terluka. Anak panah itu tidak ada ujungnya yang tajam! Jebe telah singkirkan itu. Jadi terang, Jebe hendak mengasih ampun padanya.
"Siapa menghendaki kamu jual kebaikanmu!" teriak Borchu. "Jikalau kau benar ada punya kepandaian, kau panah mati padaku!" Jebe menjawab: "Biasanya Jebe tidak pernah mengasih ampun pada musuhnya! Panahku barusan berarti, satu jiwa tukar dengan satu jiwa!"
Temuchin kaget dan berkhawatir menampak Borchu kena terpanah, kemudian mendapatkan orang tidak terbinasa atau terluka parah, ia menjadi girang. Kapan ia dengar perkataan Jebe itu, ia talangi Borchu menyahut: "Baik! Sudah, kamu jangan adu panah pula! Biar, jiwanya ditukar dengan jiwamu!" ia mengatakannya pada Borchu.
"Bukannya untuk ditukar dengan jiwaku!" Jebe berseru. "Apa!" Temuchin menegaskan. Jebe menunjuk kepada Kwee Ceng, yang berdiri di depan pintu. "Aku hendak menukarnya dengan jiwa anak ini!" katanya. "Aku minta Khan yang mulia jangan ganggu itu anak. Tentang aku sendiri...." sepasang alisnya bangkit bangun, "Aku telah panah kepada Khan yang mulia, aku harus mendapatkan hukumanku!"
Ia cabut anak panah di pundaknya, anak panah yang berdarah itu ia pasang di gendewanya. Sementara itu serdadunya Borchu sudah hanturkan beberapa puluh batang anak panah kepala kepala perangnya itu. "Baiklah!" kata Borchu. "Mari kita mengadu pula!" Ia lantas memanah pula, dengan saling susul.
Jebe lihat serangan berbahaya, ia lindungi diri di perut kudanya, sambil bersembunyi, ia membalas menyerang. Kudanya Borchu sangat lihay, melihat serangan datang, tanpa tanda dari penunggangnya, ia lompat berkelit ke kiri. Tapi Jebe lihay, incarannya luar biasa, anak panahnya justru mengenai batok kepalanya kuda, maka tidak ampun lagi, rubuhlah binatang itu!
Borchu turut rubuh, terguling ke tanah. Ia khawatir ia nanti dipanah terus, ia mendahului membalas menyerang. Kali ini ia kena hajar gendewanya Jebe, hingga gendewa itu panah menjadi dua potong. Kehilangan senjatanya, Jebe kasih kudanya lari berputaran.
Tentara Mongol bertempik sorak, untuk memberi semangat kepada Borchu. "Dia satu laki-laki sejati!" Borchu sebaliknya berpikir. Ia menjadi si orang gagah yang menyayangi sesama orang gagah, tak ingin ia mengambil jiwa orang. Maka ketika ia memanah, walaupun ia incar tenggorokkan, ia menggeser sedikit.
Jebe gagal mengelakkan diri, anak panah lewat menyempret di pinggiran tenggorokkannya, darahnya lantas mengucur dengan keluar. Ia merasa sakit dan kaget. "Habislah aku hari ini"." ia mengeluh dalam hatinya.
Borchu siapkan pula anak panahnya, tetapi ketika ia menoleh kepada Temuchin, ia berkata: "Kha Khan, berilah ampun kepadanya!" Temuchin pun menyayangi Jebe. "Eh, apakah kau masih tetap tidak mau menyerah"!" ia tanya panglima musuh itu.
Jebe lihat Temuchin demikian angker, ia menjadi kagum sekali, maka ia lompat turun dari kudanya untuk terus bertekuk lutut. Temuchin tertawa berbahak-bahak. "Bagus! Bagus!" katanya. "Selanjutnya kau ikutlah aku!"
Orang Mongol polos dan sangat gemar bernyanyi, demikian Jebe, sambil mendekam, ia lantas perdengarkan nyanyiannya: Khan yang terbesar mengampunkan selembar jiwaku, di belakang hari walaupun mesti menyerbu api berkobar-kobar, aku rela. Akan aku memotong Sungai hitam menggempur batu gunung, akan aku tunjang Khan yang maha besar! Aku akan menghajar musuh, untuk ambil hatinya! Ke mana aku diperintah pergi, kesana aku pergi!
Temuchin menjadi sangat girang. Ia ambil dua potong emas, yang sepotong ia berikan kepada Borchu, yang sepotongnya pula kepada Jebe. Jebe menghanturkan terima kasih. Tapi ia terus menambahkan. "Khan yang mulia, hendak aku berikan emas ini kepada itu bocah, bolehkah?"
Temuchin tertawa. "Kalau emas itu adalah emasku, aku boleh kasihkan itu kepada siapa aku suka!" katanya. "Emas adalah kepunyaanmu, kau boleh berikan kepada siapa kau suka!" Jebe angsurkan emas itu kepada Kwee Ceng. Bocah itu menggoyangi kepala, tak mau ia menerimanya. "Ibu bilang, kalau kita membnatu tetamu kita, jangan kita termahai uangnya," katanya.
Temuchin telah sukai bocah ini, sekarang mendengar perkataan orang, rasa sukanya menjadi bertambah-tambah. "Sebentar kau bawalah bocah ini kepadaku!" katanya kepada Jebe. Lantas ia ajak pasukan perangnya balik ke arah darimana tadi ia datang. Beberapa serdadu angkat naik bangkai kuda putihnya ke bebokong dua kuda lainnya, untuk dibawa bersama, mengikuti di sebelah belakang.
Jebe menjadi girang sekali. Ia lolos dari kematian dan mendapati tuan yang bijaksana. Sambil rebahkan diri di atas rumput, ia beristirahat. Ia tunggu pulangnya Lie Peng, ibunya bocah itu, akan tuturkan kejadian barusan.
Lie Peng lantas berpikir. Dengan hidup terus sebagai penggembala, tidak tahu sampai kapan Kwee Ceng dapat membalas dendamnya. Ia percaya, kalau ia turut Temuchin, mungkin ketikanya akan lebih baik. Di dalam pasukan perang, Kwee Ceng pun dapat berlatih ilmu perang. Maka kesudahannya, ia ajak putranya ikut Jebe kepada Temuchin.