Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 109

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 109

Sekarang kebetulan sekali kita bertemu dengan Ang Cit Kong. Asal dia suka memberikan satu-dua pelajaran, bukankah itu jauh lebih baik daripada pengajaran ayahku sendiri? Menyesal aku telah terlepasan omong, aku menyebabkan locianpwee itu tidak senang hati. Habis berkata begitu, ia lantas menangis.

Kwee Ceng menghibur kekasihnya itu, tetapi justru karena itulah, dari yang tadinya berpura-pura, Oey Yong menjadi menangis sungguhan.

Ang Cit Kong di atas pohon melihat dan mendengar semua itu, hatinya tertarik.

Oey Yong menangis tersedu-sedu.

"Pernah aku dengar ayah bilang," katanya kemudian, "Kiu Cie Sin Kay mempunyai semacam ilmu silat yang di kolong langit ini tidak ada saingannya, yang sejak zaman dahulu senantiasa menjagoi sendiri, sampai-sampai Ong Tiong Yang pun segan terhadapnya. Ilmu silat itu dinamakan... dinamakan... Ah, aku lupa, padahal barusan aku ingat."

"Sebenarnya aku ingin minta diajari ilmu silat itu, namanya... namanya... Ah, aku lupa lagi!" Ang Cit Kong masih tidak sadar bahwa orang tengah mengepul terus, ia tidak dapat mengendalikan diri dari atas pohon hingga langsung berseru, "Itulah Hang Liong Sip-pat Ciang!" Ia pun melompat turun dari pohon tempat persembunyiannya itu.

Oey Yong berpura-pura terkejut, tapi setelahnya ia girang bukan kepalang.

"Benar, benar, ah, kenapa aku tidak ingat itu?" serunya.

"Ayah sering sekali menyebut ilmu silat itu, dia kata itulah ilmu yang paling ia takuti."

"Kiranya ayahmu itu masih suka omong terus terang!" Ang Cit Kong berkata. "Aku tadinya menyangka, semenjak meninggalnya Ong Tiong Yang, dia menganggap dirinya sebagai orang nomor satu di dalam dunia ini!" Ia memandang Kwee Ceng, terus berkata, "Eh, bocah, bakatmu kalah dengan bocah perempuan ini, itulah sebabnya kenapa kau tidak dapat menandinginya."

"Eh, nona cilik, pergilah kau pulang ke pondokmu!" Oey Yong tahu si pengemis hendak memberi pelajaran pada Kwee Ceng, ia girang bukan main, lalu segera lari pulang.

Lantas Ang Cit Kong memandang tajam pada si anak muda.

"Lekas kau berlutut dan mengangkat sumpah!" katanya bengis. "Tanpa perkenan dariku, aku larang kau mewariskan kepandaian yang aku ajarkan ini kepada orang lain, termasuk juga itu istrimu yang licin bagai iblis cilik!"

Kwee Ceng menjadi bingung. "Kalau Yong-jie memintanya, mana dapat aku menolak?" pikirnya. Karena itu, ia berkata, "Cit Kong, aku tak ingin belajar! Biarlah dia tetap jauh lebih gagah daripada aku."

Cit Kong heran. "Eh, kenapa begitu?" tegasnya.

"Sebab kalau dia minta aku mengajarinya," sahut Kwee Ceng, "Apabila aku tidak suka mengajarinya, aku jadi berlaku tidak pantas terhadapnya. Sebaliknya, jikalau aku meluluskan permintaannya dan mengajarinya, aku malu terhadap kau, aku jadi melanggar sumpahku."

Mendengar keterangan ini, Ang Cit Kong tertawa lebar. "Anak tolol, matamu tajam, hatimu baik! Kau jujur sekali! Sekarang begini saja, aku ajarkan kau jurus Kang Liong Yoe Hoei. Aku tahu Oey Yok Su itu sangat angkuh, seumpama kata ia sangat mengagumi ajaran ini, tidak mungkin dia menjadi tidak tahu malu dengan mencuri mempelajari kepandaianku yang istimewa ini!"

Setelah mengatakan begitu, Ang Cit Kong lantas menekuk kakinya yang kiri, tangan kanannya ditarik berputar membentuk lingkaran, lalu mendadak ia majukan ke depan. Seketika sebuah pohon di depannya patah batangnya, roboh dengan berisik sekali. Kwee Ceng terperanjat kagum. Ia tidak sangka tolakan tangan yang demikian perlahan akibatnya sehebat itu. Itulah hantaman tenaga dalam yang sangat besar.

"Pohon ini adalah benda yang tidak bergerak!" Cit Kong menerangkan. "Kalau manusia, dia pasti dapat mundur berkelit. Mempelajari ilmu pukulan ini, sukarnya ialah mencegah agar lawan tidak dapat mundur supaya dia tidak bisa berkelit. Kalau cegahan itu dapat dilakukan, dia pasti bakal roboh seperti pohon ini."

Lagi sekali si pengemis menjalankan pukulannya itu, sampai dua kali, ia sekalian mengajarkan pengaturan pernapasannya. Untuk ini ia mesti menggunakan tempo yang cukup lama karena bakat Kwee Ceng yang kurang, yang otaknya bebal, hingga ia selamanya mesti belajar lama barulah ingat dan hafal. Begitulah, selang dua jam barulah ia mengerti betul.

Cit Kong berkata, "Perempuan cilik itu, permainan silatnya lebih banyak gertakannya daripada pukulan yang sebenarnya. Kalau kau bertanding dengannya dan repot membela diri, pasti sekali kau dipermainkan dia. Kau boleh gesit dan lincah, kau tetap tidak akan dapat menandinginya. Kau boleh menduga pukulannya yang benar-benar, kenyataannya hanyalah gertakan belaka. Ia selalu bisa membikin kau tidak dapat menerka."

Kwee Ceng mengangguk-angguk.

"Karenanya, jikalau kau ingin memecahkan ilmu silatnya itu," Cit Kong membeber rahasia lebih jauh, "Jangan kau pusingkan pukulannya itu gertakan atau benar-benar. Kau tunggu pukulannya tiba, palsu atau benar, kau sambut dengan Kang Liong Yoe Hoei. Apabila dia melihat seranganmu itu, mesti ia menangkis. Asal dia menangkis, kalahlah dia!"

"Kemudian bagaimana?" tanya Kwee Ceng.

"Kemudian bagaimana?" si pengemis mengulangi. "Ha, anak tolol! Dia punya berapa banyak kepandaian hingga ia sanggup melawan pukulan yang aku ajarkan padamu?"

Si pemuda tak berani bertanya lagi, ia terus berlatih. Ia pilih sebuah pohon yang kecil, ia hajar itu. Ia berhasil menghajar dengan tepat, tetapi pohon itu tidak roboh, melainkan hanya bergoyang-goyang.

"Anak tolol!" bentak si pengemis. "Mau apa kau menggoyang-goyang pohon itu! Kau hendak menangkap bajing atau mau memetik buah cemara?"

Muka Kwee Ceng menjadi merah, ia tertawa menyeringai.

"Sudah aku bilang, kau mesti bikin lawan tidak dapat mundur, tidak bisa berkelit!" Ang Cit Kong berkata pula. "Pukulan barusan tepat tetapi kurang bertenaga, dengan pohon bergoyang, tenagamu menjadi buyar. Mestinya pohon dihajar tanpa ia bergoyang, baru ia dapat dibuat patah."

Kali ini Kwee Ceng sadar. "Jadinya aku mesti secepat kilat supaya lawan tak keburu bersiaga," katanya.

"Memang! Apa mesti disebutkan pula!" semprot si pengemis.

Anak muda ini berdiam, ia berlatih pula. Untuk beberapa puluh kali ia memukul, pohon masih bergoyang-goyang. Ia tidak menjadi bosan, ia tidak berputus asa, terus ia mencoba. Barulah hatinya menjadi terbuka ketika kemudian goyangan pohon menjadi perlahan sekali. Itu tandanya ia memperoleh kemajuan. Sementara itu tangannya telah menjadi bengkak dan merah, tetapi ia tidak memedulikannya, masih ia berlatih terus. Ang Cit Kong tidak sabaran, ia duduk menyandar, lalu pulas, mendengkur keras.

Ulet si anak muda, segera juga ia bisa membuat pohon tidak bergoyang. Ia jadi semakin bersemangat. Kembali ia memukul. Akhirnya, robohlah pohon itu, terpatah dua! Hampir ia bersorak.

"Bagus!" terdengar suara Oey Yong yang terlihat mendatangi dengan perlahan, tangannya membawa kotak makanan.

Cit Kong belum membuka matanya, hidungnya sudah mencium bau wangi makanan. "Harum! Harum!" katanya seraya melompat bangun, segera ia membuka tutup kotak hingga ia melihat ayam panggang, bebek, serta setumpuk lumpia. Tanpa diundang lagi, ia menyambar dengan tangan kiri dan kanan, memasukkan ayam dan bebek itu bergantian ke mulutnya untuk digerogoti.

"Lezat! Lezat!" ia memuji, tapi karena mulutnya penuh, tak nyata pujiannya itu. Ketika sebentar kemudian ayam dan bebek itu habis, tinggal tulang-tulangnya saja, baru ia ingat Kwee Ceng belum makan. Agaknya ia jengah sendiri, tapi lekas ia berkata, "Mari, mari! Lumpia ini pun lezat! Lebih lezat dari bebek!"

Kwee Ceng dan Oey Yong tidak merasa tersinggung, malah si nona tertawa. "Cit Kong, kau belum makan masakanku yang paling jempol!" kata si nona.

Si pengemis menjadi ngiler. "Masakan apa itu? Masakan apa itu?" tanyanya mendesak.

"Tidak dapat aku sebutkan semua itu sekarang," jawab si nona. "Ada peecay goreng, ada tahu tim, ada juga sup daging!"

Cit Kong menjadi semakin ngiler. "Bagus, bagus!" katanya. "Sudah aku bilang, kau memang anak manis! Apa boleh aku pergi membelikan peecay dan tahu sekarang?"

"Tak usah, Cit Kong. Kau yang beli pun tidak cocok sama pilihanku!"

"Ya, benar-benar, mana orang lain dapat memilih seperti kau sendiri!"

Nona Oey itu lantas memutar haluan. "Barusan aku lihat dia menghajar pohon hingga patah dan roboh, sekarang ia lebih lihai daripadaku!" katanya mengenai Kwee Ceng.

Si pengemis itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, tidak!" katanya cepat. "Pukulan apa itu, pohon bergoyang-goyang dan melengkung? Mestinya sekali pukul pohon patah dan runtuh!"

"Toh pukulannya barusan sudah hebat, aku tentu tidak sanggup menahannya," kata pula si nona.

"Dasar kau yang berat sebelah! Kalau nanti ia menghina aku, bagaimana?" Cit Kong hendak mengambil hati orang yang pandai masak itu, ia tidak menjadi kurang senang meski ia disesalkan.

"Habis kau mau apa?" tanya si nona.

"Kau mesti ajarkan aku ilmu yang dapat menandinginya," kata si nona. "Sesudah aku paham, aku nanti masakkan kau hidangan."

"Baiklah! Dia baru belajar satu ilmu, tidak sukar untuk menandinginya. Nanti aku ajari kau Yang Siang Hoei."

Baru ia menutup mulutnya, sudah ia melompat untuk terus bersilat. Kedua tangan bajunya yang lebar berkibar-kibar, tubuhnya melompat ke timur dan barat, pesat gerakannya. Diam-diam Oey Yong memperhatikan setiap gerakan, maka ketika Cit Kong berhenti bersilat, ia sudah ingat separuhnya, selebihnya ia minta penjelasannya. Dasar ia berotak terang, belum dua jam, ia sudah mengerti seanteronya, dapat ia jalankan ilmu silatnya itu, tinggal memahirkan latihannya saja.

Yang Siang Hoei atau Burung Walet Terbang Berpasangan, terdiri dari tiga puluh enam jurus, gerakannya mirip dengan burung walet terbang menari-nari. Bedanya dengan Kang Liong Yoe Hoei, atau Naga Menyesal, yang singkat saja, untuk Kwee Ceng merupakan pelajaran yang sulit.

Habis berlatih, Oey Yong tertawa. "Engko Ceng, sekarang aku lebih menang pula daripada kau!" katanya gembira.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment