Chapter 05
Fajar mulai menyingsing, dan cuaca di dalam kamar tidak lagi segelap malam sebelumnya. Nyo Siang Lan melihat lima orang wanita penjaga masih rebah di lantai, tetapi ketika ia memeriksa, mereka tidak tidur, melainkan pingsan tertotok.
Siang Lan melompat melalui lubang jendela untuk melakukan pengejaran. Hatinya menangis dan menjerit-jerit teringat keadaan dirinya. Akan tetapi, ketika ia tiba di luar, ia tidak melihat orang yang semalam memperkosanya. Jika ia melihatnya, ia tidak akan mengenalinya karena semalam ia hanya melihat bayangan orang itu dalam kegelapan.
Namun, hatinya yakin bahwa pelakunya pasti Siangkoan Leng, Ketua Ban-hwa-pang. Jika bukan dia, siapa lagi yang berani melakukan perbuatan keji itu? Kini, ia merasa hatinya panas, dipenuhi kemarahan dan kebencian.
Tiba-tiba, muncul tiga orang anggota Ban-hwa-pang. Mereka terkejut melihat calon pengantin yang tadinya menjadi tawanan itu telah bebas dan berada di luar kamar dengan rambut tergerai dan sepasang mata berkilat.
"Hei... Nona pengantin, telah terlepas!" teriak seorang di antara mereka.
Tapi, orang itu terjengkang dan tewas seketika karena tamparan tangan Siang Lan membuat kepalanya retak.
Dua orang rekannya terkejut dan marah. Cepat mereka mencabut pedang, akan tetapi sebelum mereka sempat menyerang, kembali kedua tangan Siang Lan berkelebat, dan mereka berdua roboh dan tewas.
Setelah membunuh tiga orang itu, Siang Lan menjadi semakin beringas seperti seekor harimau mencium darah. Ia menyambar sebatang pedang milik anggota Ban-hwa-pang yang tewas, lalu ia mulai mencari Siangkoan Leng dengan hati penuh dendam kebencian yang membuatnya hampir gila mengingat malapetaka yang menimpa dirinya semalam.
Lima orang anggota Ban-hwa-pang muncul. Mereka memang mulai bangun dan siap untuk melanjutkan persiapan perayaan pernikahan ketua mereka.
Ketika lima orang itu melihat Siang Lan berdiri dengan pedang di tangan, tentu saja mereka terkejut. Mereka sudah mendengar bahwa calon pengantin itu adalah seorang gadis yang berjuluk Iblis Betina dan lihai sekali.
Mereka mendengar bahwa gadis itu menjadi tawanan, terbelenggu, dan tertotok, sehingga tidak mungkin dapat lolos. Kini, tiba-tiba gadis itu telah berada di depan mereka. Maka, sambil berteriak-teriak memanggil teman, mereka lalu mengepungnya.
"Nona, engkau hendak ke mana? Sebagai calon pengantin, Nona tidak boleh keluar kamar," kata salah seorang dari mereka.
Tapi, pembicara itu roboh dengan leher hampir putus terbabat pedang.
Empat orang yang lain terkejut dan marah. Mereka lalu mengeroyok dengan pedang mereka, dan para anggota lain yang mendengar keributan itu berdatangan berbondong-bondong. Akan tetapi, pedang rampasan di tangan Siang Lan menyambar-nyambar, dan sinarnya bergulung-gulung. Ia mengamuk seperti Iblis Betina benar-benar, dan terdengar jeritan disusul robohnya tubuh para pengeroyok.
Darah muncrat dan membanjiri lantai. Karena ruangan itu terlalu sempit, apalagi sudah ada enam orang malang melintang tewas disambar pedangnya, Siang Lan merasa tidak leluasa mengamuk. Maka, ia lalu melompat keluar dan setelah tiba di pekarangan depan rumah besar Siangkoan Leng, ia berhenti menanti sampai puluhan orang anggota Ban-hwa-pang datang mengepungnya.
"Anjing-anjing jahanam keparat! Majulah kalian semua. Hari ini, jika tidak dapat membunuh bangsat Siangkoan Leng dan kalian semua anak buahnya, jangan sebut aku Nyo Siang Lan!" Ia menjerit, dan segera tubuhnya berkelebatan, pedangnya menyambar-nyambar.
Terjadilah perkelahian yang mengerikan. Puluhan orang anggota Ban-hwa-pang itu bagaikan segerombolan anjing serigala mengeroyok Siang Lan yang mengamuk seperti seekor naga. Jerit dan teriakan susul-menyusul. Tubuh para pengeroyok berpelantingan dan tewas seketika, terkena sambaran pedang atau tamparan tangan kiri Siang Lan. Baju Siang Lan sudah berlepotan darah mereka yang ia robohkan. Banjir darah di pekarangan gedung itu.
Setelah merobohkan dan membunuh lebih dari duapuluh orang pengeroyok, tiba-tiba terdengar gerengan dahsyat, dan muncullah Siangkoan Leng, Ketua Ban-hwa-pang, yang bertubuh tinggi besar.
"Perempuan iblis!" Siangkoan Leng membentak, melintangkan tombak cagaknya di depan dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah Siang Lan. "Perempuan tidak tahu diuntung! Engkau hendak kuangkat derajatmu menjadi Nyonya Ketua Ban-hwa-pang, sekarang malah membunuhi anggota perkumpulanku! Engkau harus menebus dosa ini dengan nyawamu!"
Kini Siang Lan dapat melihat laki-laki itu dengan jelas, dan ia bergidik muak. Kepala yang besar itu dengan semua anggota badan yang bulat dan besar membuat ketua itu tampak seperti seekor kera yang menjijikkan. Mengingat bahwa orang ini semalam telah melakukan penghinaan yang sebesar-besarnya kepadanya, telah memperkosanya, maka sepasang mata Siang Lan mencorong.
Apalagi ia melihat pedangnya tergantung di pinggang orang itu, saking marahnya ia hampir tak mampu bicara. "Mampuslah, jahanam!" Ia menjerit, dan pedangnya sudah menyerang dengan dahsyatnya.
Siangkoan Leng bukan seorang lemah; akan tetapi, ketika dia menggerakkan tombaknya untuk menangkis, terdengar bunyi berdentang, dan dia terhuyung ke belakang. Dia terkejut bukan main. Ternyata gadis ini memang lihai dan memiliki tenaga sakti yang amat kuat.
Dia meneriaki anggota perkumpulannya untuk mengeroyok, dan kembali Siang Lan mengamuk. Ia sengaja selalu menjauhi Siangkoan Leng, yang merupakan lawan paling tangguh. Ia mengamuk di antara para anggota Ban-hwa-pang.
Satu demi satu, para pengeroyok itu ia robohkan. Setelah terjadi pertempuran yang lebih merupakan pembantaian itu selama hampir dua jam, akhirnya semua anggota Ban-hwa-pang roboh dan tewas. Kini hanya tinggal Siangkoan Leng seorang yang menghadapi Siang Lan dengan muka pucat dan merasa ngeri. Limapuluh lebih anak buahnya tewas di tangan Siang Lan.
Tadi memang sengaja gadis itu menghindari Siangkoan Leng karena dengan cara demikian, tidak ada anak buahnya yang melarikan diri. Jika ia lebih dulu merobohkan ketuanya, maka sisa anak buahnya pasti akan melarikan diri ketakutan. Memang Siang Lan sudah memperhitungkan dan mengambil keputusan untuk membunuh semua anggota Ban-hwa-pang.
"Jahanam busuk! Sekarang tiba saatnya aku mencincang hancur tubuhmu yang amat kotor dan jahat itu!" Siang Lan berseru, dan ia segera menyerang dengan cepat.
Siangkoan Leng masih merasa ngeri melihat semua anak buahnya tewas. Untuk melarikan diri pun sudah tidak ada kesempatan lagi; maka dia pun dengan nekat melawan mati-matian, mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmu silat tombaknya yang lihai.
Mereka bertanding di antara puluhan mayat yang berserakan. Terkadang mereka terpaksa menginjak mayat karena pekarangan itu memang penuh dengan mayat. Sepak terjang Siang Lan amat mengerikan. Ia bagaikan kesetanan, tidak mengenal ampun. Hati dan pikirannya dipenuhi dendam kebencian yang amat hebat karena peristiwa semalam yang merenggut kehormatannya sebagai seorang gadis.
Siangkoan Leng adalah seorang yang memiliki tingkat ilmu silat tinggi dan sudah memiliki banyak pengalaman berkelahi. Dalam hal ilmu silat dan tenaga, mungkin tingkatnya tidak berselisih jauh dari tingkat kepandaian Siang Lan. Akan tetapi, yang jelas, dia kalah jauh dalam hal gin-kang, sehingga ketika dalam perkelahian itu Siang Lan mengerahkan seluruh gin-kangnya, pandang mata Siangkoan Leng menjadi kabur karena baginya, tubuh gadis itu seperti berubah banyak, menyerang dari berbagai jurusan, dan bayangannya sedemikian cepatnya sehingga sukar baginya untuk dapat mengarahkan serangannya.
Maka, setelah bertanding kurang lebih limapuluh jurus lamanya, Siangkoan Leng, yang memang sudah merasa jerih dan ngeri melihat betapa semua anak buahnya telah tewas, tak mampu mengelak dari tendangan Siang Lan yang mengenai bawah perutnya. Dia berteriak mengaduh dan roboh terjengkang.
Bagaikan kesetanan, Siang Lan menubruk ke depan, pedang yang berada di pinggang Siangkoan Leng itu disambarnya, dan di lain saat, pedang pusaka pemberian mendiang gurunya menggantikan pedang rampasan yang dibuangnya. Tampak sinar menyilaukan mata menyambar-nyambar ke arah tubuh Siangkoan Leng. Hanya dua kali Siangkoan Leng menjerit, dan selanjutnya, tubuhnya dicincang oleh Siang Lan yang sudah memegang pedangnya sendiri. Mengerikan sekali keadaan tubuh Siangkoan Leng. Siang Lan terus membacokinya sambil mencucurkan air mata.
"Mampuslah, mampuslah..." berulang-ulang ia berseru, dan akhirnya ia berdiri setengah lunglai, lelah sekali, berdiri memegangi pedangnya yang berlepotan darah, memandang ke arah onggokan daging di depannya, bekas tubuh Siangkoan Leng yang dicincang berikut tulang-tulangnya itu.
Kemudian, Nyo Siang Lan memerintahkan keluar semua penghuni dalam perkumpulan Ban-hwa-pang itu.
"Hayo, semua orang keluar dan berkumpul di sini! Siapa yang tidak mematuhi perintahku ini, akan kubunuh seperti yang lain!" bentaknya sambil mengerahkan tenaga dalam sehingga suaranya terdengar lantang menggema sampai ke seluruh lembah itu, bahkan menggetarkan semua pondok yang berada di situ.
Mendengar seruan ini, berbondong-bondong keluarlah keluarga para anggota Ban-hwa-pang bersama anak-anak mereka. Para wanita dan anak-anak itu menangis karena merasa ngeri dan ketakutan melihat banjir darah dan mayat-mayat suami dan ayah mereka berserakan. Juga di gedung besar tempat tinggal Siangkoan Leng, keluar belasan orang wanita yang tadinya menjadi pelayan ketua itu. Mereka semua berlutut dan menggigil ketakutan.
Melihat puluhan orang wanita dan kanak-kanak itu, hati Siang Lan menjadi agak lemas, dan kemarahannya memudar, terganti rasa iba.
"Hemm, mana yang laki-laki? Aku tidak melihat seorang pun laki-laki di antara kalian," tanyanya.
Semua laki-laki telah tewas terbunuh, Li-hiap, dan ada beberapa orang yang melarikan diri. Tinggal mereka para istri dan anak, jawab seorang di antara mereka yang agak tabah.