Chapter 20
“Aih, berita ini sungguh membahagiakan sekali, Nona! Tolong katakan di mana Nona Kui Li Ai sekarang dan berita apa yang Anda bawa darinya?” Hati Siang Lan merasa senang melihat sikap pemuda ini yang tampak sangat gembira mendengar tentang Li Ai, menandakan bahwa dia memang mencintai putri mendiang Panglima Kui tersebut.
“Nona Kui Li Ai sekarang tinggal bersamaku di Lembah Selaksa Bunga, Tuan Muda Bong, dalam keadaan sehat dan selamat.”
Secara singkat, Siang Lan menceritakan bahwa Li Ai meninggalkan rumah keluarga Kui karena tidak suka tinggal bersama ibu tirinya yang galak, hingga akhirnya kini berada di Lembah Selaksa Bunga bersamanya.
Setelah menceritakan keadaan Li Ai, Siang Lan menatap tajam wajah pemuda tampan itu dan bertanya, “Kedatanganku ini untuk bertanya kepadamu, Tuan Muda Bong, apakah benar seperti yang kudengar dari Adik Kui Li Ai bahwa Anda mencintainya?”
Wajah Bong Kin berubah kemerahan, tetapi dengan sungguh-sungguh dia berkata, “Sesungguhnya, Nona, aku amat mencintai Nona Kui Li Ai. Aku merasa sedih sekali atas kematian ayahnya, dan semakin sedih ketika mendengar dia pergi meninggalkan rumah. Aku telah bersusah payah mencarinya selama ini, namun tidak berhasil. Maka, sungguh girang sekali hatiku mendengar bahwa dia berada di tempat tinggalmu dalam keadaan sehat dan selamat.”
“Kedatanganku ini hendak menegaskan, apakah sampai sekarang Anda masih tetap mencintainya, Tuan Muda?”
“Tentu saja, bahkan semakin mencintainya karena aku merasa iba kepadanya.”
“Dan Anda menginginkan agar dia menjadi istri Anda, Tuan Muda?”
“Benar, Nona.”
“Kalau begitu, sekarang Anda boleh meminangnya, Tuan Muda, karena Adik Li Ai yang merasa hidup sebatang kara telah menyatakan kepadaku bahwa jika Anda meminangnya, dia akan menerimanya dan kini siap untuk menjadi istri Anda.”
Pemuda itu tampak semakin gembira. “Aih, kedatanganmu membawa berkat bagiku, Nona! Jika boleh aku mengetahui, siapakah Anda, Nona? Aku pernah mendengar bahwa Adik Kui Li Ai pergi bersama seorang pendekar berjuluk Hwe-thian Mo-li. Apakah Anda pendekar itu?”
“Tidak salah, Tuan Muda. Akulah Hwe-thian Mo-li yang melindungi Nona Kui Li Ai. Dia sekarang tinggal bersamaku di Lembah Selaksa Bunga. Setelah berunding dengannya, hari ini aku datang untuk meminta ketegasan darimu. Karena kini Anda telah menyatakan masih mencintainya dan ingin meminangnya, maka kuharap Anda bersedia berkunjung ke tempat kami agar dapat bertemu dan berbicara langsung dengannya.”
“Wah, aku senang sekali, Pendekar Wanita! Aku akan segera mengunjunginya di Lembah Selaksa Bunga. Di manakah lembah itu terletak?”
Siang Lan menerangkan letak bukit tersebut, kemudian dia berpamitan. “Nah, tugasku telah selesai. Aku hendak kembali ke Lembah Selaksa Bunga untuk menceritakan hal ini kepada Adik Kui Li Ai. Kami akan siap menyambut kunjungan Anda, Tuan Muda Bong.”
Bong Kin mengucapkan terima kasih dan mengantar kepergian Siang Lan sampai ke depan gedungnya. Setelah gadis itu pergi, dengan gembira dia mengabarkan hal itu kepada orang tuanya.
Bong Wan-gwe, seorang laki-laki setengah baya berusia sekitar lima puluh tahun yang bertubuh gendut dan berwajah ramah, mendengarkan pemberitahuan putranya sambil mengernyitkan alis. Dulu, hartawan ini tentu merasa senang dan bangga ketika putranya menyatakan jatuh cinta dan memilih Kui Li Ai sebagai calon istri. Pada waktu itu, Bong Wan-gwe merasa bangga memiliki menantu putri Panglima Kui. Namun, sekarang keadaannya sudah berbeda.
Panglima Kui telah tiada. Bahkan, dia mati dalam keadaan tercemar, yaitu dikabarkan bunuh diri setelah mengkhianati negara dengan membebaskan tiga orang tawanan pemberontak Pek-lian-kauw. Tidak ada lagi yang patut dibanggakan jika dia memiliki menantu gadis bermarga Kui tersebut, bahkan hal itu dianggap akan merendahkan derajat dan martabatnya.
“Bong Kin, apakah sudah kamu pikirkan masak-masak sebelum meminang Kui Li Ai? Ingat, keadaan gadis itu tidak seperti dulu lagi. Ayahnya sudah mati dan mendiang Panglima Kui bukan lagi seorang panglima terhormat, bahkan dianggap pengkhianat. Masih banyak gadis yang ayahnya memiliki kedudukan tinggi dan lebih terhormat untuk menjadi istrimu. Aku sanggup melamarkannya!”
“Tidak, Ayah! Hatiku sudah bulat untuk menikah dengan Kui Li Ai. Aku sangat mencintainya, Ayah. Dia adalah gadis tercantik di dunia ini!”
Hartawan Bong menghela napas panjang. “Jadi, sekarang kita akan mengajukan pinangan? Namun, kepada siapa? Siapa yang menjadi pengganti orang tuanya? Siapa yang menjadi walinya?”
“Aku akan pergi terlebih dahulu ke Lembah Selaksa Bunga untuk merundingkan hal ini dengannya, Ayah. Setelah itu, baru kita mengajukan pinangan.”
“Anakku Kin, berhati-hatilah jika pergi ke sana,” kata Nyonya Bong khawatir.
“Ibumu benar, Bong Kin!” kata Bong Wan-gwe. “Tempat itu asing bagimu dan aku mendengar bahwa pendekar wanita yang melindungi Nona Kui itu liar dan ganas. Melihat julukannya, Si Iblis Betina Terbang, mungkin saja dia memiliki watak jahat. Maka, kamu harus membawa rombongan pengawal untuk melindungimu.”
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali dengan menunggang kuda, Bong Kin berangkat dengan dikawal selusin laki-laki yang biasa mengawal pengiriman barang menuju bukit yang telah ditunjukkan oleh Siang Lan. Dua belas pengawal itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu silat. Pekerjaan mereka memang mengandalkan kekuatan dan keahlian bela diri untuk melindungi barang atau orang dalam perjalanan.
Pada tengah hari, mereka tiba di kaki bukit yang dimaksud dan berhenti. Pimpinan rombongan pengawal, seorang laki-laki tinggi besar dan berjenggot lebat berusia sekitar empat puluh tahun bernama Gu Sam, berkata kepada Bong Kin, “Tuan Muda Bong, di bukit yang disebut Ban-hwa-san atau Bukit Selaksa Bunga ini dulu terdapat sebuah perkumpulan bernama Ban-hwa-pang yang sering merampas barang bawaan yang lewat di daerah ini. Namun, sudah beberapa bulan terakhir tidak ada lagi orang Ban-hwa-san yang melakukan perampasan. Kabarnya, Ban-hwa-pang telah dibasmi oleh seorang pendekar wanita.”
“Hmm, bukankah yang membasminya adalah pendekar wanita berjuluk Hwe-thian Mo-li?” tanya Bong Kin.
Gu Sam tampak terkejut. “Benar sekali, Tuan Muda! Bagaimana Tuan Muda bisa mengetahuinya?”
Bong Kin tersenyum bangga. “Hwe-thian Mo-li itu sahabatku! Kemarin dia datang berkunjung ke rumahku.” Dia tidak berbicara lebih lanjut, membiarkan Gu Sam dan anak buahnya terheran-heran.
Dengan penuh kekaguman, Bong Kin dan para pengawalnya mendaki bukit hingga tiba di Lembah Selaksa Bunga. Daerah perkampungan Ban-hwa-pang yang baru, termasuk lembah yang indah itu, kini dikelilingi pagar bambu runcing yang tertata rapi dan dicat warna-warni sehingga tampak artistik dan indah.
Di pintu gerbang yang berada di bawah lereng, tampak belasan anggota Ban-hwa-pang yang semuanya wanita tengah berjaga. Mereka berpakaian gagah dan terbagi dalam tiga regu. Regu pertama memegang tombak, regu kedua memegang golok, dan regu ketiga memegang pedang; masing-masing regu terdiri atas lima orang. Sikap mereka gagah dan wajah mereka rata-rata manis.
Melihat sikap para wanita ini, Bong Kin memerintahkan para pengawal untuk turun dari kuda masing-masing. Kemudian, Gu Sam melangkah maju dan memberi hormat kepada seorang wanita berpedang yang tampaknya memimpin ketiga regu tersebut karena berdiri paling depan dengan sikap berwibawa.
“Nona, Tuan Muda kami, Bong Kin, datang memenuhi undangan Hwe-thian Mo-li,” katanya mengikuti perintah majikannya.
“Ban-hwa-pang kami pantang menerima tamu laki-laki. Namun, karena pemimpin kami sudah berpesan dan kini menunggu kedatangan Tuan Muda Bong, kami persilakan Tuan Muda Bong masuk. Yang lain dilarang masuk!”
“Tetapi...!” Gu Sam hendak membantah.
“Tidak ada tapi! Kaum laki-laki, tanpa izin pemimpin, dilarang masuk ke perkampungan Ban-hwa-pang!” bentak wanita itu, sementara lima belas rekannya sudah bersiap memegang gagang senjata mereka.
Bong Kin memberi isyarat kepada para pengawalnya untuk menunggu di luar. Dia lalu memasuki pintu gerbang yang segera ditutup kembali oleh para penjaga wanita.
“Sialan!” para pengawal itu mengomel.
“Entah apa yang terjadi dengan Ban-hwa-pang,” kata Gu Sam sambil mengajak rekan-rekannya menunggu dan beristirahat di bawah pohon, tidak jauh dari gerbang perkampungan tersebut.
Sementara itu, Bong Kin diantar oleh dua orang pengawal wanita memasuki ruang tamu tempat Hwe-thian Mo-li dan Kui Li Ai sudah duduk menanti. Wajah Hwe-thian Mo-li tampak cerah dan gembira, sedangkan Li Ai terlihat menundukkan muka karena jantungnya berdebar penuh ketegangan, serta merasa sungkan. Li Ai mengakui dalam hati bahwa dia memang berharap dapat menjadi istri pemuda yang biasanya bersikap lembut dan sopan itu.
Begitu Bong Kin memasuki ruangan dan melihat Li Ai duduk di sana, dia segera berseru gembira, “Nona Kui! Ah, betapa bahagianya hatiku dapat bertemu denganmu di sini!”
Hwe-thian Mo-li dan Li Ai bangkit berdiri untuk membalas penghormatan Bong Kin yang sudah menjura sambil merapatkan kedua tangan di depan dada.
“Tuan Muda Bong, silakan duduk,” kata Hwe-thian Mo-li.
Pemuda itu mengucapkan terima kasih dan mengambil tempat duduk berhadapan dengan kedua gadis tersebut dengan jarak yang cukup jauh dan sopan.