Halo!

Lembah Selaksa Bunga - Chapter 24

Memuat...
Lembah Selaksa Bunga

Chapter 24

“Aku akan memperdalam ilmuku dan aku sudah menemukan seorang guru, Li Ai, yaitu laki-laki setengah tua yang dulu menolong kita melarikan diri ketika dikepung orang-orang Pek Lian Kauw. Dia itu lihai sekali dan kuharap setelah mendapat gemblengannya, aku akan berhasil membunuh si keparat jahanam pengecut Thian Te Mo Ong!” Siang Lan bicara penuh semangat sambil mengepal tinju.

Li Ai yang sudah menghentikan tangisnya karena tertarik oleh keterangan Siang Lan tadi, menghela napas panjang. “Enci, bagaimanapun engkau masih mempunyai semangat hidup karena masih memiliki tujuan, yaitu membalas sakit hatimu terhadap orang-orang yang telah memperkosamu. Akan tetapi aku, apa artinya hidup ini? Dua orang yang menghinaku itu telah kaubunuh, dan namaku juga tentu akan tercemar karena Bong Kin itu tentu akan menyiarkan tentang keadaanku yang sudah ternoda. Semua orang di kota raja akan mendengarnya. Ah, apa gunanya aku hidup lebih lama?”

“Dia tidak akan berani, Li Ai. Aku sudah menghajarnya habis-habisan, bahkan nyaris membunuhnya. Juga selusin orang anak buahnya telah kuberi pelajaran keras. Seandainya dia belum jera dan masih menyiarkan berita tentang dirimu, kelak engkau masih mempunyai banyak kesempatan untuk membalas penghinaannya!”

“Akan tetapi, apa yang dapat kulakukan terhadap orang she Bong itu, Enci? Aku seorang gadis lemah dan tak berdaya.”

“Hemm, bukankah aku sudah berjanji untuk mengajarkan ilmu silat kepadamu? Jangan putus asa dan buang jauh-jauh keinginanmu untuk mati itu. Hidupmu masih kau butuhkan dan dibutuhkan banyak orang. Kelak, kalau engkau sudah memiliki ilmu silat yang tinggi, engkau dapat membantuku untuk memberi hajaran keras kepada para pria yang jahat dan yang menghina kaum wanita. Kita berdua akan malang melintang di dunia kangouw, menjadi pembela kaum wanita dan penentang pria yang suka menghina wanita.

“Bagaimana pendapatmu? Bukankah itu merupakan tujuan sisa hidup kita yang amat baik? Kita perangi para pria yang jahat dan kita bangun Ban Hwa Pang menjadi perkumpulan wanita gagah yang melindungi kaum wanita dari kejahatan laki-laki berengsek seperti Thian Te Mo Ong, dua orang tokoh Pek Lian Kauw yang sudah mati di tanganku, juga orang-orang macam Bong Kin itu!”

Mendengar ini, bangkit semangat hidup Li Ai. Ia harus dapat melupakan apa yang telah terjadi kepadanya. Dua orang jahanam yang memperkosanya itu sudah dibunuh Siang Lan, sakit hatinya telah terbalas impas dan ia tidak perlu memikirkan dua orang musuh besar itu lagi. Adapun tentang kegagalannya berjodoh dengan Bong Kongcu, hal itu sama sekali tidak membuat ia berduka atau kecewa karena kenyataannya, ia belum mempunyai perasaan cinta kepada pemuda itu. Hanya sikap dan kata-kata pemuda itu yang membuat ia merasa terhina.

“Biarpun Bong Kongcu telah dihajar oleh Siang Lan, namun pemuda yang menghinanya itu masih hidup. Siang Lan benar, aku harus mempelajari ilmu silat. Kalau sudah kuat dan tangguh, aku akan menghajar semua laki-laki macam dua orang tosu Pek Lian Kauw, Bong Kin, dan semua hidung belang mata keranjang yang menjadi jai hwa cat (penjahat pemetik bunga atau pemerkosa)!” Sisa hidupnya kini mempunyai tujuan! Demikianlah, mulai hari itu, setiap pagi sekali Siang Lan keluar dari perkampungan Ban Hwa Pang untuk menerima gemblengan ilmu dari Bu Beng Cu. Pertama-tama, Bu Beng Cu mengajarkan ilmu untuk memperkuat ginkangnya hingga gerakannya menjadi semakin ringan dan makin cepat.

Setelah pada siang harinya ia kembali ke perkampungan, Siang Lan melatih ilmu silat kepada Li Ai yang belajar dengan tekun sekali. Juga para anak buah Ban Hwa Pang menerima latihan agar mereka menjadi lebih kuat. Pekerjaan semua wanita di Ban Hwa Pang, mulai dari ketuanya sampai kepada anak buahnya yang tingkatnya paling rendah, setiap hari hanya berlatih ilmu silat.

Harta yang dibawa Li Ai dari rumah ayahnya amat bermanfaat bagi Ban Hwa Pang. Perkampungan itu dibangun, dan atas petunjuk Siang Lan serta Li Ai, lembah itu ditata dan diperbaiki. Tumbuh-tumbuhan bunga beraneka macam itu diatur rapi sehingga lembah itu tampak semakin asri dan pantaslah kalau dinamakan Lembah Selaksa Bunga.

Lembah yang luas itu dibentuk seperti sebuah taman bunga yang indah, dengan bangunan kecil-kecil mungil, beranda-beranda yang dicat beraneka warna di dekat empang-empang ikan dan bunga teratai. Di beranda-beranda itu digantungi lampu-lampu sehingga kalau malam tiba, lampu-lampu dengan selubung beraneka warna itu menambah indah taman atau lembah itu. Di bagian lain dari lembah itu ditanami tumbuh-tumbuhan obat dan ada pula bagian taman yang-liu (semacam cemara) yang mendatangkan suasana sejuk.

Karena setiap hari hanya berlatih ilmu silat dan juga melatih Li Ai serta para anak buah Ban Hwa Pang, maka Siang Lan lupa akan waktu. Apalagi karena Bu Beng Cu setiap hari melatih ginkang sehingga setelah lewat kurang lebih setengah tahun, ginkangnya sudah maju pesat dan kini ia bahkan mampu mengimbangi kecepatan gerakan Bu Beng Cu.

Pada pagi itu, seperti biasa Siang Lan datang ke depan gua yang menjadi tempat tinggal Bu Beng Cu. Laki-laki itu menyambutnya dengan senyum cerah. Begitu berhadapan, Siang Lan seperti terpesona.

Laki-laki yang melatihnya akan tetapi tidak mau disebut guru itu tampak segar karena rambutnya yang hitam panjang itu masih basah dan digelung ke atas, diikat pita kuning. Mukanya yang dicukur bersih itu tampak lebih muda dari usianya yang sudah empat puluh dua tahun. Pakaiannya yang sederhana namun bersih tidak menyembunyikan tubuhnya yang sedang namun tegap. Sepasang matanya bersinar lembut dan mulutnya tersenyum.

Dalam penglihatan Siang Lan pada saat itu, Bu Beng Cu tampak amat gagah dan menarik hati. Apalagi mengingat betapa laki-laki ini selain menyelamatkannya dari bahaya juga telah menggemblengnya dengan sungguh-sungguh walaupun tidak mau disebut sebagai guru. Sikapnya selalu lembut, pandang matanya mendatangkan ketenangan dalam hatinya, dan senyum serta sikapnya terkadang jelas menunjukkan bahwa Bu Beng Cu menghormati dan menyayanginya.

Dan anehnya, selama setengah tahun lebih ini Bu Beng Cu sama sekali tidak pernah mengajaknya bicara tentang keadaan diri masing-masing, seolah dia tidak suka menceritakan riwayat hidupnya dan tidak pula ingin tahu riwayat hidup Hwe Thian Mo Li. Kalau dia bicara, yang dibicarakan tentu soal ilmu mempertinggi ginkang yang sedang dilatih Siang Lan!

Pagi ini, Siang Lan sengaja datang lebih pagi daripada biasanya karena ia mengambil keputusan untuk mengajak Bu Beng Cu bicara tentang riwayat mereka masing-masing agar mereka dapat saling mengenal lebih baik. Ia merasa berutang budi kepada Bu Beng Cu dan ingin mempererat persahabatan karena laki-laki itu tidak mau dianggap guru. Biarlah hubungan guru dan murid ini menjadi hubungan persahabatan yang lebih akrab, demikian pikirnya.

Akan tetapi begitu mereka berhadapan, sebelum ia dapat mengeluarkan kata-kata, Bu Beng Cu sudah mendahului menegurnya dengan suara ramah serta senyum tenang dan sabar. “Hwe Thian Mo Li, engkau datang pagi benar, lebih pagi dari biasanya.”

Siang Lan tersenyum. Ia sering merasa heran sendiri mengapa ia yang biasanya mempunyai perasaan tidak senang kepada laki-laki, apalagi semenjak cinta pertama terhadap Sim Tek Kun gagal, ia merasa tidak enak hati dan tidak suka. Rasa suka ini hampir berubah menjadi benci terhadap pria setelah ia mengalami peristiwa terkutuk menjadi korban perkosaan itu. Akan tetapi mengapa kalau ia bertemu dengan Bu Beng Cu, ia merasa gembira sekali? Hal ini karena ia merasa berutang budi dan pria yang satu ini memang lain daripada yang lain.

Biasanya setiap ia bertemu laki-laki, mata mereka itu pasti memandangnya bagaikan seekor anjing kelaparan melihat daging, seolah sinar mata itu menggerayangi seluruh tubuhnya. Akan tetapi sinar mata Bu Beng Cu ini lain. Selalu lembut, tidak pernah terlalu lama mengamati wajahnya, bahkan jarang dapat bertemu pandang karena laki-laki ini selalu mengelak kalau pandang matanya bertemu dengan pandang mata Siang Lan.

“Paman Bu Beng Cu, aku memang sengaja datang lebih pagi karena aku ingin lebih dulu membicarakan sesuatu denganmu sebelum aku mulai berlatih.”

“Hendak membicarakan apakah, Hwe Thian Mo Li? Katakan saja karena hari ini engkau tidak perlu latihan lagi. Hari ini aku akan menguji sampai di mana kemajuan ginkangmu selama engkau memperdalamnya lebih dari setengah tahun.”

“Setengah tahun lebih?” Siang Lan berseru kaget karena selama ini ia seolah telah melupakan waktu. Setelah ia mengingat-ingat, hari ini tentu sudah setahun lewat sejak musuh besarnya berjanji untuk menemuinya dan mengadu ilmu! “Kalau begitu, sewaktu-waktu tentu musuh besarku akan muncul mencariku untuk membuat perhitungan dan mengadu ilmu!”

“Apakah yang ingin kaubicarakan denganku?” Bu Beng Cu menunjuk ke arah batu-batu sebesar perut kerbau yang terdapat banyak di depan gua besar tempat tinggalnya. Mereka lalu duduk di atas batu, berhadapan dalam jarak dua tombak.

“Begini, Paman. Telah lebih dari setengah tahun kita berhubungan, biarpun bukan sebagai guru dan murid karena engkau tidak mau kusebut guru, setidaknya sebagai sahabat baik. Aku berutang banyak budi kebaikan darimu, akan tetapi kita tidak saling mengenal riwayat masing-masing. Oleh karena itu, aku harap engkau suka mendengarkan riwayatku kemudian engkau menceritakan riwayatmu kepadaku sehingga perkenalan ini menjadi semakin akrab. Kalau engkau setuju, aku akan menceritakan riwayatku lebih dulu. Bagaimana pendapatmu, Paman?”

Bu Beng Cu menghela napas panjang, akan tetapi wajahnya tetap tenang. “Terserah kepadamu, Nona.”

Siang Lan girang sekali mendengar pria itu tidak merasa keberatan. Maka ia lalu menceritakan riwayatnya dengan singkat tanpa ragu, akan tetapi tentu saja tidak mau bercerita tentang kegagalan cintanya dengan Sim Tek Kun, putra pangeran yang menjadi tokoh Kun Lun Pai itu.

“Sejak kecil aku kehilangan ayah ibuku. Aku menjadi yatim piatu dan hidup sebatang kara. Dalam usia sepuluh tahun, aku ditolong dan diambil murid oleh Pat Jiu Kiam Ong Ong Han Cu dan dibawa ke Liong Cu San.”

“Hemm, pantas ilmu silatmu tinggi. Aku pernah mendengar nama besar pahlawan bangsa Pat Jiu Kiam Ong Ong Han Cu,” kata Bu Beng Cu kagum. Pat Jiu Kiam Ong (Raja Pedang Tangan Delapan) memang terkenal sekali sebagai seorang pendekar patriot yang amat lihai ilmu pedangnya, gagah perkasa, dan berjiwa pahlawan.

“Suhu Pat Jiu Kiam Ong yang memelihara, membesarkan, dan mendidikku, maka engkau dapat membayangkan kedukaan dan kemarahanku ketika Suhu dibunuh secara curang oleh lima orang kangouw golongan sesat.”

“Hemm, siapakah mereka?”

“Mereka adalah Leng Kok Hosiang berjuluk Jai Hwa Sian (Dewa Pemetik Bunga), Toat Beng Sin To (Golok Sakti Pencabut Nyawa) Liok Kong, Hek Wan (Lutung Hitam) Yap Cin, Shan Tung Tai Hiap (Pendekar Shan Tung) Siong Tat, dan Kim Gan Liong (Naga Mata Emas) Cin Liu Ek. Aku dan Sumoi Ong Lian Hong mencari lima orang pembunuh Suhu itu dan akhirnya kami berdua dapat membunuh mereka. Sumoi Ong Lian Hong adalah putri mendiang Suhu.”

“Kim Gan Liong Cin Liu Ek? Bukankah dia yang tinggal di kota Lun Cong? Akan tetapi sebelum aku tinggal di sini, aku pernah bertemu dengan pendekar itu dan dia ternyata seorang pendekar bijaksana dan tidak terbunuh.”

“Benar, Paman. Aku tidak membunuhnya karena ternyata di antara lima orang yang kami sangka mengeroyok dan membunuh Suhu, ternyata Kim Gan Liong Cin Liu Ek tidak ikut membunuhnya dan dia tidak bersalah.”

Bu Beng Cu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagus sekali, kebijaksanaanmu itu sebaiknya ditingkatkan dengan tidak melakukan pembunuhan, Hwe Thian Mo Li. Biarpun ada yang bersalah kepadamu, sebaiknya engkau hanya memberi pelajaran kepadanya agar orang itu menyadari kesalahannya dan bertobat. Orang yang melakukan perbuatan jahat adalah orang yang sedang sakit, bukan jasmaninya melainkan sakit rohaninya. Penyakit itu dapat sembuh dan orang yang sehat pun sewaktu-waktu dapat saja jatuh sakit. Orang sesat mungkin saja bertobat dan menjadi baik, seperti kemungkinan orang baik-baik tergoda dan melakukan perbuatan jahat. Kita sama sekali tidak berhak membunuh orang.”

“Akan tetapi, seperti sumpahku, Paman, aku tidak akan membunuh orang lagi kecuali yang seorang itu, musuh besarku Thian Te Mo Ong.”

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment