Chapter 25
Bu-beng-cu menghela napas panjang. "Terserah kepadamu. Engkau tentu memiliki alasan kuat untuk berkeras membunuhnya. Lanjutkan ceritamu."
"Aku selalu menentang kejahatan dan terhadap para penjahat itu aku tidak pernah memberi ampun dan bertindak tegas serta keras, sehingga para kaum sesat di dunia persilatan memberi julukan Hwe-thian Mo-li kepadaku. Aku tidak peduli akan julukan 'Iblis Betina' itu karena aku memang ganas seperti iblis terhadap kaum sesat.
Pada suatu hari, aku jatuh pingsan di lereng Ban-hwa-san ini. Aku ditangkap oleh Ketua Ban-hwa-pang dan dikerangkeng dalam sebuah kamar dalam keadaan tertotok. Aku tidak berdaya dan pada malam harinya muncullah Thian-te Mo-ong itu. Dia menghinaku yang sedang tak berdaya! Karena itulah aku mendendam kepadanya dan aku bersumpah untuk membalas membunuhnya!
Setelah bajingan itu pergi dan aku terbebas dari totokan, aku lalu mengamuk. Kubunuh Ketua Ban-hwa-pang beserta seluruh anak buahnya, dan aku menguasai Ban-hwa-pang. Kini akulah Ketua Ban-hwa-pang, dan para anggotaku terdiri dari para wanita bekas anak buah Ban-hwa-pang lama. Aku bertemu denganmu yang berkali-kali telah menolongku dan melihat kelihaianmu. Aku ingin belajar ilmu silat, memperdalam ilmuku agar kelak dapat kupergunakan untuk membalas dendam kepada musuh bebuyutanku, dan juga untuk menghadapi Pek-lian-kauw yang jahat dan memiliki banyak orang pandai."
Siang Lan menghentikan ceritanya dan menatap wajah Bu-beng-cu. Ia merasa heran melihat wajah yang biasanya cerah itu kini tampak agak muram.
Melihat Bu-beng-cu diam saja sambil mengerutkan alis dan menundukkan muka, Siang Lan bertanya, "Paman, bagaimana dengan riwayatmu? Sekarang giliranmu untuk menceritakan riwayatmu kepadaku."
Bu-beng-cu menghela napas panjang dan menggelengkan kepala. "Apakah yang dapat kuceritakan? Tidak ada yang menarik tentang diriku. Apa yang ingin kauketahui?"
Siang Lan maklum bahwa orang tentu ingin menyembunyikan keadaan dirinya. Maka, namanya pun sudah menunjukkan bahwa dia tidak ingin dikenal orang. Hal ini membuatnya penasaran.
"Paman, dengan menggunakan nama Bu-beng-cu (Si Tanpa Nama) engkau seperti menyangkal dirimu sendiri. Aku ingin mengetahui apakah Paman mempunyai keluarga, istri, atau anak?"
Bu-beng-cu menggelengkan kepala. "Tidak, Hwe-thian Mo-li, aku tidak mempunyai keluarga. Aku hidup sebatang kara, hanya hidup berdua dengan bayanganku yang sering kali menggangguku."
Jawaban yang aneh itu membuat Siang Lan semakin penasaran. "Apakah Paman tidak pernah beristri?"
"Tidak. Sejak kecil aku merantau jauh ke barat dan selama ini aku hanya mempelajari ilmu silat."
"Akan tetapi, sikap Paman lembut dan kata-kata Paman teratur seperti seorang sastrawan."
Senyum yang biasanya menghiasi mulut orang itu kini muncul, sehingga hati Siang Lan merasa tenang. "Aku suka mempelajari sastra dan aku sudah membaca kitab-kitab suci dari tiga agama, yaitu Hud-kauw (Buddha), To-kauw (Tao), dan Khong-kauw (Konghucu)."
Diam-diam ada perasaan lega dan girang dalam hati Siang Lan mendengar bahwa Bu-beng-cu tidak mempunyai keluarga, sama seperti dirinya sendiri. Ia pun heran akan dirinya sendiri mengapa merasa girang mendengar akan kesendirian laki-laki itu. Kini mendengar bahwa Bu-beng-cu agaknya ahli dalam kitab-kitab tiga agama yang waktu itu memiliki pengaruh besar dalam kebudayaan dan kehidupan rakyat, dengan penasaran ia bertanya, "Paman, aku melihat betapa semua orang tampaknya beragama. Akan tetapi, mengapa kejahatan merajalela? Bahkan mereka yang sudah mengenakan jubah pendeta, mengaku sebagai ahli agama, masih suka melakukan perbuatan jahat?"
Kini wajah Bu-beng-cu bersinar dan tampak bersemangat setelah Siang Lan bicara tentang agama.
"Hwe-thian Mo-li, jangan heran melihat gejala seperti itu. Yang jahat itu bukanlah agamanya, melainkan manusianya. Kalau ada seorang manusia mengaku beragama dan dia melakukan perbuatan jahat, maka dia itu bukanlah seorang beragama, melainkan seorang penjahat yang mengaku-aku beragama. Agamanya hanya dipergunakan sebagai kedok untuk menutupi perbuatannya. Kalau dia benar seorang beragama, pasti dia tidak mau dan tidak berani melakukan kejahatan karena hal itu dilarang oleh semua agama.
Demikian pula kalau ada seorang pendeta agama melakukan perbuatan jahat, dia hanya seorang manusia palsu yang menggunakan pakaian pendeta dan agamanya sebagai kedok belaka. Agama merupakan pelajaran agar manusia menjadi baik dan benar, namun pelajaran itu tidak ada artinya sama sekali kalau tidak dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Api atau inti semua agama itu terbukti dalam sikap dan perbuatan sehari-hari. Adapun semua upacaranya itu, kalau tidak terbukti apinya, hanya menjadi asap dan abu yang menggelapkan mata dan mengotori keadaan belaka."
Siang Lan adalah seorang wanita yang cerdas. Biarpun hanya sedikit pengetahuannya tentang filsafat dan agama, ucapan Bu-beng-cu itu berkesan dalam hatinya dan ia dapat mengerti maksudnya. Akan tetapi, hal itu juga mendatangkan rasa penasaran dalam hatinya yang mendorongnya ingin mengetahui lebih banyak lagi.
"Paman, karena demikian banyaknya orang yang beragama tetapi melakukan perbuatan jahat yang dilarang agamanya, apakah tidak lebih baik kalau manusia tidak beragama saja?"
Bu-beng-cu tertawa.
"Bukan begitu, Nona. Agama merupakan obor bagi manusia yang hidup di dunia ini, dunia yang bagaikan sebuah lorong yang gelap. Obor itu akan menerangi lorong sehingga kita dapat melihat ke arah mana kita melangkah, karena ada jalan menuju kepada Thian (Tuhan) yang menjadi Sumber kita, akan tetapi juga ada jalan yang membawa kita ke jurang dosa dan kehancuran.
Agama sebagai obor itu memang amat penting dan setiap orang seyogianya memegang obor masing-masing agar jangan salah jalan. Akan tetapi, apakah artinya obor bernyala di tangan kalau kita tidak mau melangkah ke arah jalan kebenaran? Apa artinya semua pelajaran keagamaan kita pelajari dan kita hafalkan kalau tidak kita laksanakan dalam hidup ini? Jadi, agama baru bermanfaat kalau kita amalkan sesuai dengan ajarannya.
Sebaliknya, kalau orang tidak beragama, bagaikan berjalan dalam lorong gelap tanpa mempunyai obor penerangan, dia sudah tersesat atau jatuh tersandung. Memiliki obor tanpa melangkah atau tidak memegang obor penerangan sama sekali, sama buruknya. Yang benar adalah membawa obor yang menerangi jalan hidup sambil melangkah, atau memiliki agama sambil mengamalkan pelajaran agamanya."
"Ah, kalau aku tidak keliru berpendapat, seorang penjahat yang beragama itu lebih sesat dibandingkan seorang penjahat yang tidak beragama. Betulkah itu, Paman?"
"Dua-duanya jelas tidak betul karena melakukan kejahatan. Akan tetapi dosa orang yang beragama namun jahat lebih buruk lagi karena dia mencemarkan kebersihan agama itu sendiri. Ah, sudahlah, Hwe-thian Mo-li, sekarang tiba saatnya aku menguji *gin-kang*mu. Mari kita berlomba lari sampai ke puncak bukit itu mengambil sebuah batu kapur yang hanya terdapat di puncak, lalu cepat kembali ke sini."
Dengan gembira Siang Lan mengangguk. Setelah Bu-beng-cu memberi isyarat, mereka berdua lalu berkelebat sedemikian cepatnya sehingga yang tampak hanya dua sosok bayangan melejit ke arah puncak bukit. Siang Lan mengerahkan *gin-kang* yang sudah maju pesat dan kini larinya jauh lebih cepat dibandingkan setengah tahun yang lalu. Kalau ada orang melihat mereka, tentu akan terkejut dan mungkin ketakutan, mengira bahwa dua sosok bayangan yang berkelebat itu adalah setan-setan penjaga bukit!
Siang Lan mempergunakan ilmu berlari cepat yang selama ini ia pelajari dan latih atas bimbingan dan petunjuk Bu-beng-cu, yaitu Yanin (Walet Menembus Awan). Ia mengerahkan seluruh tenaganya karena ia melihat betapa bayangan Bu-beng-cu juga berlari cepat di sampingnya. Setelah tiba di puncak bukit, ia menyambar sepotong batu kapur lalu lari seperti terbang lagi, menuruni puncak menuju ke lereng di mana tadi mereka mulai berlomba lari. Begitu ia menghentikan gerakannya, ia melihat bahwa Bu-beng-cu juga sudah berhenti dan ternyata mereka berdua tiba di situ bersamaan! Masing-masing memegang sepotong batu kapur. Melihat betapa kecepatan mereka berimbang, Siang Lan berkata.
"Ah, engkau sengaja mengalah sehingga tidak mendahuluiku, Paman Bu-beng-cu!"
Bu-beng-cu tertawa dan tampak wajahnya cerah gembira. "Sama sekali tidak, Hwe-thian Mo-li. Aku tadi juga sudah mengerahkan seluruh kemampuan, akan tetapi ternyata tidak dapat mendahuluimu, bahkan agak sukar bagiku untuk menjaga agar tidak ketinggalan. Aku girang sekali karena setelah sekian lama engkau berlatih dengan tekun, hari ini tampak hasilnya. Kiraku sekarang jarang ada orang yang dapat menandingimu dalam hal kecepatan sehingga julukanmu tepat sekali, yaitu Hwe-thian (Terbang ke Langit), walaupun julukan Mo-li (Iblis Betina) itu kini tidak cocok lagi bagimu. Engkau bukan iblis betina lagi karena engkau sudah bersumpah untuk tidak sembarangan membunuh orang lagi."