Chapter 28
Melihat wajah Hwe-thian Mo-li yang muram dan mendengar bahwa gadis itu gagal membunuh musuh besarnya, Li Ai tidak berani bertanya lagi.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Siang Lan sudah keluar dari perkampungan menuju ke lereng tempat Bu-beng-cu tinggal di dalam gua. Ketika ia tiba di situ, ia melihat Bu-beng-cu sudah duduk di depan gua, di atas batu datar, bersila dengan kedua mata terpejam.
"Paman Bu-beng-cu," Siang Lan menghampiri dan berlutut di depan gurunya itu.
Bu-beng-cu membuka matanya sejenak dan memandang wajah gadis itu. Kemudian, dia berkata dengan suara yang terdengar lembut dan mesra, "Hwe-thian Mo-li, engkau datang?"
Mendengar suara laki-laki itu, suara yang menggetar dan penuh keakraban, bahkan terdengar begitu penuh perhatian dan mesra, Hwe-thian Mo-li tiba-tiba tak dapat menahan isaknya. Ia menangis, menutupi muka dengan kedua tangannya. Biarpun ia menahan suara tangisnya, namun ia terisak, kedua pundaknya bergoyang-goyang dan air mata menetes melalui celah-celah jari kedua tangannya.
Bu-beng-cu tentu saja maklum akan penderitaan hati gadis itu. Dia memandang penuh keharuan dan rasanya ingin merangkul serta menghibur gadis itu. Akan tetapi, ada perasaan lega dan girang bahwa Hwe-thian Mo-li tidak putus asa. Kedatangan gadis itu menunjukkan bahwa ia tentu ingin meminta bimbingan lebih lanjut dalam ilmu silat.
Dia membiarkan gadis itu menumpahkan perasaannya dalam tangis. Setelah tangis Siang Lan mereda, barulah dia berkata dengan lembut.
"Hemm, inikah gadis perkasa yang disebut Hwe-thian Mo-li? Sekarang menjadi seorang gadis cengeng seperti kanak-kanak? Nona, bukan begini sikap seorang gagah. Hapuslah air matamu, hentikan tangismu, dan kita bicarakan permasalahan apa yang membuat engkau sampai menangis seperti ini. Tidak ada masalah yang tidak dapat dipecahkan dan diatasi!"
Mendengar ucapan itu, bangkitlah semangat Siang Lan. Ia mengusap air mata di pipi dengan kedua tangannya, lalu memandang Bu-beng-cu dengan mata yang agak kemerahan.
"Paman Bu-beng-cu, aku datang untuk sekali lagi memohon pertolonganmu."
Bu-beng-cu mengamati wajah itu dengan tajam, lalu berkata, "Engkau tentu tahu bahwa aku selalu siap untuk membantumu, Nona. Katakan, bantuan apa yang dapat kulakukan untukmu?"
"Paman, kemarin musuh besarku datang memenuhi janjinya. Kami bertanding, aku memang dapat mengimbangi kecepatannya. Akan tetapi akhirnya aku kalah, Paman. Aku masih kalah kuat dalam sinkang (tenaga sakti) dan juga ketika dia bersenjata sebatang ranting. Dia memainkan ranting itu dengan ilmu pedang yang aneh dan aku pun tidak mampu menandingi senjatanya yang hanya ranting pohon itu. Paman, hanya engkaulah yang dapat menolongku. Bimbinglah aku agar ilmu pedang dan tenaga sinkangku meningkat sehingga kelak aku akan mampu mengalahkannya. Aku malu, Paman, dan rasanya aku hampir putus asa..."
"Hwe-thian Mo-li, tidak ada kata 'putus asa' bagi seorang gagah! Kalau engkau sungguh-sungguh mau belajar dengan tekun, bukan hal mustahil engkau akan mampu mengalahkan musuh yang bagaimanapun tangguh. Akan tetapi, Nona, benar-benarkah engkau hendak membunuh orang yang satu itu? Mengapa kau mendendam kepadanya? Dendam apakah itu yang membuat engkau ingin membunuhnya?"
Mendapat pertanyaan ini, Hwe-thian Mo-li menundukkan mukanya yang berubah merah. Apa yang harus dikatakannya? Bagaimana mungkin ia menceritakan tentang aib yang dideritanya kepada orang yang ia kagumi dan yang telah menolongnya berulang kali ini? Ia takut kalau-kalau Bu-beng-cu akan berubah pandangan terhadap dirinya, akan memandang rendah dan menganggap dirinya kotor. Bukankah Bong Kin yang tadinya mencintai Li Ai juga berubah pandangan dan menganggap gadis itu tidak pantas menjadi istrinya setelah Li Ai mengaku bahwa ia telah diperkosa orang?
Baru sekali ini seumur hidupnya Hwe-thian Mo-li merasa takut kalau-kalau dipandang rendah dan kotor oleh seorang laki-laki. Hal ini karena ia menganggap Bu-beng-cu sebagai gurunya, sebagai pembimbingnya, dan sebagai satu-satunya pria yang dikaguminya, terutama sekali sebagai sumber harapannya. Akan tetapi, ia pun tidak mau berbohong kepada Bu-beng-cu.
Ia harus jujur dan terbuka, tidak peduli bagaimana nanti penilaian Bu-beng-cu terhadap dirinya! Ia yang mengajarkan Li Ai untuk berterus terang mengaku bahwa ia bukan gadis lagi. Apakah sekarang ia sendiri tidak berani mengakui hal yang sama?
"Paman, Thian-te Mo-ong adalah musuh besarku. Aku mempunyai dendam sakit hati sebesar gunung sedalam lautan kepadanya dan aku harus dapat membalas dendam ini dengan membunuhnya!"
"Hemm, Hwe-thian Mo-li, dendam sakit hati itu hanya akan merusak hatimu sendiri, bagaikan api yang akan membakar perasaanmu. Dosa apakah yang dilakukan Thian-te Mo-ong maka engkau demikian membencinya dan hendak membunuhnya?"
Bu-beng-cu kini menatap tajam wajah Siang Lan. Pandangan mata mereka bertemu dan dengan nekat, tanpa menundukkan pandang matanya, Siang Lan menjawab.
"Dia telah memperkosaku!"
Bu-beng-cu kini yang mengelakkan pandangan mata itu. Dia menunduk. "Hemm, begitukah?" katanya lirih.
"Paman Bu-beng-cu, setelah Paman mendengar aib yang menimpa diriku, apakah Paman masih mau menolongku? Apakah Paman masih mau mengajarkan ilmu untuk memperkuat tenaga sakti dan memperdalam ilmu pedangku?"
"Kenapa engkau bertanya begitu?"
"Karena... kukira... Paman akan memandang rendah diriku, menganggap aku kotor dan tidak patut menerima pelajaran dari Paman..."
"Ah, mengapa engkau berpikir demikian, Nona? Peristiwa itu terjadi bukan karena engkau sengaja, bukan kesalahanmu, engkau tidak berdaya. Aku sama sekali tidak memandang rendah padamu, Hwe-thian Mo-li. Aku merasa kasihan padamu dan tentu saja aku mau memberikan seluruh kepandaianku kepadamu kalau hal itu ada artinya bagimu."
"Ada artinya? Setelah terjadi peristiwa itu, aku tadinya ingin bunuh diri saja, Paman. Akan tetapi setelah aku mengetahui siapa pemerkosa itu, aku bersumpah untuk membalas dendam dan membunuhnya. Kemudian aku berjumpa denganmu, Paman, dan muncul harapan baru dalam hatiku. Aku tidak ingin mati dulu sebelum dapat membunuh jahanam itu dan agaknya di dunia ini hanya Paman yang akan mampu membantu aku memenuhi sumpahku."
"Aku pasti akan membantumu, Hwe-thian Mo-li. Akan tetapi mendengar pengakuanmu bahwa engkau hendak bunuh diri, membuat aku merasa ngeri. Apa artinya bagiku bersusah payah mengajarkan semua ilmuku kepadamu, kalau akhirnya engkau hanya akan bunuh diri? Bunuh diri merupakan perbuatan yang paling rendah dan merupakan dosa besar, di samping memperlihatkan sifat pengecut.
Kita hidup ini bukan atas kemauan kita sendiri, melainkan ada yang menghidupkan. Karena itu, kita tidak berhak menghentikan kehidupan kita. Yang berhak menghentikan hanyalah Dia yang telah menghidupkan kita. Bunuh diri hanya dilakukan oleh seorang pengecut yang tidak berani menghadapi kehidupan. Apakah engkau kelak ingin disebut seorang pengecut yang berdosa besar, berdosa dan melakukan sesuatu yang sama sekali bukan menjadi hakmu? Kalau begitu, aku tidak mau mengajarkan apa-apa lagi kepadamu!"
"Paman Bu-beng-cu, setelah aku bertemu denganmu dan menerima pelajaranmu, juga mendengarkan semua nasihatmu, aku menyadari bahwa bunuh diri bukan merupakan perbuatan orang gagah. Baik, Paman, aku akan menambahkan janji dan sumpahku. Pertama, aku tidak akan bunuh diri dan kedua, aku tidak akan sembarangan membunuh orang kalau tidak terpaksa untuk membela diri. Akan tetapi hanya satu kecualinya, yaitu aku pasti akan membunuh Thian-te Mo-ong!"