Halo!

Lembah Selaksa Bunga - Chapter 29

Memuat...
Lembah Selaksa Bunga

Chapter 29

Bu-beng-cu menghela napas lega.

“Sekarang hatiku lega, Hwe-thian Mo-li, karena aku yakin bahwa kelak engkau benar-benar akan menjadi seorang pendekar wanita yang bijaksana. Nah, marilah kita mulai berlatih. Akan tetapi, untuk melatih agar sin-kangmu benar-benar kuat, membutuhkan waktu lama, sedikitnya satu tahun. Dan untuk mengembangkan dan mematangkan ilmu pedangmu, juga membutuhkan waktu sedikitnya satu tahun.”

“Aku akan belajar dengan tekun, Paman, berapa lama pun sampai akhirnya akan dapat mengalahkan musuh besarku yang amat lihai itu.”

Demikianlah, mulai hari itu, Siang Lan dengan amat tekun dan penuh semangat mulai menerima gemblengan lagi dari Bu-beng-cu yang mengajarkan cara menghimpun dan memperkuat tenaga sakti dengan sungguh-sungguh. Seperti juga dulu, Siang Lan datang ke lereng itu setiap pagi dan pulang setelah tengah hari. Waktu yang tersisa ia pergunakan untuk mengajarkan ilmu silat kepada Li Ai yang juga memperoleh banyak kemajuan. Juga para anggota Ban-hwa-pang tekun mempelajari ilmu silat.

Pada waktu itu, sekitar tahun 1602, Dinasti Beng semakin kehilangan pamornya. Hal ini terjadi karena banyak terjadi pemberontakan-pemberontakan dari rakyat di daerah-daerah yang merasa tidak puas dengan pemerintah. Waktu itu yang menjadi kaisar adalah Kaisar Wan Li (1572-1620) yang sudah berusia sekitar limapuluh tahun.

Dapat dibilang bahwa seluruh pejabat pemerintah, dari para *thai-kam* (orang kebiri), pejabat tinggi sampai yang paling rendah, hampir tidak ada yang jujur. Semua melakukan kecurangan, korupsi, dan pemerasan terhadap rakyat, berlomba-lomba untuk memperkaya diri sendiri. Keadilan hanya digembar-gemborkan belaka oleh para pejabat. Kesejahteraan rakyat juga hanya digambarkan sebagai mimpi, namun kenyataannya yang sejahtera, bahkan jauh lebih daripada sejahtera, adalah para pejabat dari yang rendah, terutama yang tinggi.

Para pejabat hidup bermewah-mewah, memborong tanah sampai beratus hektar bersekutu dengan para pedagang hartawan sehingga mereka hidup berlebihan. Rakyat kecil sama sekali tidak pernah merasakan apa yang digembar-gemborkan para pembesar tentang kemakmuran. Mereka hidup serba kekurangan, masih ditekan lagi oleh para pembesar daerah yang bersikap seolah menjadi raja di daerah mereka. Para petani diwajibkan memberi sumbangan dengan ancaman hukuman kalau menolak. Penindasan dan pemerasan terjadi di mana-mana sehingga rakyat mulai bersikap tidak setia terhadap pemerintah.

Masih untung bagi kerajaan Dinasti Beng bahwa pada saat kerajaan itu tidak populer lagi di mata rakyat dan di mana pemberontakan-pemberontakan terjadi di utara dan barat, pemerintah mempunyai dua orang menteri yang setia dan bijaksana. Dua orang menteri itulah yang seolah merupakan tiang penyangga sehingga pemerintah Kerajaan Beng tidak sampai ambruk.

Yang pertama adalah Menteri Yang Ting Ho, menteri yang menjadi penasihat Kaisar Wan Li. Dengan adanya Menteri Yang Ting Ho, kekuasaan para *thai-kam* pejabat sipil dapat dikekang karena setidaknya mereka takut kepada Menteri Yang Ting Ho yang terkenal jujur, setia, dan pemberani. Kaisar yang lemah itu menaruh rasa hormat yang mendalam terhadap Menteri Yang Ting Ho sehingga semua nasihat Menteri Yang masih dipercaya dan dipatuhi kaisar.

Yang kedua adalah Menteri Chang Ku Cing yang menjadi panglima besar, menguasai seluruh bala tentara Kerajaan Beng. Panglima yang berusia limapuluh tahun lebih ini bertubuh tinggi tegap, gagah, memelihara kumis jenggot yang pendek rapi. Dia seorang jantan yang jujur dan setia, berani memberantas segala kemunafikan dan keburukan para pembesar yang korup.

Dengan adanya dua orang menteri ini, keadaan di kota raja tampak tenteram. Kalau ada kerusuhan, hal itu terjadi di daerah yang jauh dari kota raja. Panglima Chang Ku Cing selalu siap dengan pasukannya untuk menghancurkan setiap pemberontakan yang terjadi di daerah kota raja. Adapun urusan pemerintah sipil, dengan adanya Menteri Yang, di kota raja dapat dilaksanakan dengan tertib dan teratur. Para pejabat hanya dapat melakukan kegiatan korup mereka secara hati-hati sekali karena sekali saja ketahuan oleh Menteri Yang, mereka pasti dituntut.

Karena dua orang menteri ini merupakan penghalang bagi para pembesar yang suka menyalahgunakan kekuasaan mereka untuk mengumpulkan kekayaan sebesar-besarnya, maka diam-diam mereka lalu bersekutu dan mencari seorang yang mereka anggap memiliki cukup kemampuan dan kekuasaan untuk menghadapi dua orang menteri itu.

Orang yang mereka pilih ini adalah Pangeran Bouw Ji Kong, adik tiri Kaisar Wan Li. Pangeran Bouw ini beribu seorang puteri kepala suku Hui yang diambil selir oleh Kaisar. Sebagai putera selir, tentu saja dia tidak mewarisi takhta kerajaan yang kemudian jatuh ke tangan Pangeran Mahkota yang kini menjadi Kaisar Wan Li.

Meskipun tidak berani terang-terangan, diam-diam Pangeran Bouw Ji Kong menaruh rasa iri kepada Kaisar Wan Li. Kaisar Wan Li juga memberi kedudukan kepada adik tirinya ini sebagai penasihat kaisar di bidang hubungan dengan suku-suku bangsa yang berada di luar daerah Kerajaan Beng. Kedudukan ini cukup tinggi dan karena itu Pangeran Bouw Ji Kong cukup berpengaruh. Bahkan dia berani mengatur kebijaksanaan para pembesar daerah-daerah perbatasan.

Ketika para pembesar dan hartawan yang sudah bergabung dengan para *thai-kam* di istana itu mendekatinya, tentu saja dia menerima dengan senang. Bagi Pangeran Bouw Ji Kong, semakin banyak orang yang mendukungnya, semakin baik karena bagaimanapun juga, dia sering mengharapkan suatu saat dapat menggantikan kedudukan kakaknya sebagai kaisar!

Hubungannya dengan para pembesar dan hartawan ini membuat istana tempat tinggal Pangeran Bouw dibangun dan amat indah, menyaingi istana kaisar sendiri! Pangeran Bouw Ji Kong melihat betapa banyaknya pembesar yang mendukungnya, menjadi semakin ambisius untuk dapat menguasai takhta kerajaan.

Untuk memperkuat kedudukannya, maka diam-diam dia mengadakan kontak dengan suku-suku bangsa di utara, terutama dengan suku bangsa ibunya, yaitu suku Hui dan dengan bangsa Manchu! Ada beberapa orang perwira tinggi yang menjadi pendukung Pangeran Bouw, di samping banyak pembesar sipil.

Selain itu, juga Pangeran Bouw mempunyai pasukan pengawal sendiri yang cukup kuat. Pasukan pengawal yang terdiri dari kurang lebih seratus orang ini merupakan pasukan prajurit yang terlatih dan rata-rata memiliki ilmu silat cukup tangguh.

Mereka pun mengenakan seragam yang megah, dengan ciri khas, yaitu topi berwarna kuning. Di kota raja pasukan pengawal Pangeran Bouw ini dikenal sebagai Pasukan Topi Kuning!

Yang diserahi pimpinan pasukan ini, juga yang melatih para prajurit pengawal itu dengan ilmu silat andalan tujuh orang tokoh dunia persilatan yang amat terkenal. Mereka bertujuh saudara seperguruan itu di dunia persilatan terkenal dengan julukan Kang-lam Jit-sian (Tujuh Dewa dari Kang-lam). Julukan ini sedikit banyak mendatangkan keangkuhan dalam hati mereka dan mereka merasa seolah menjadi datuk tanpa tanding, sakti seperti dewa-dewa!

Tujuh jagoan ini dahulunya merupakan murid-murid Thian-san-pai, akan tetapi mereka juga mempelajari berbagai ilmu silat dari aliran lain sehingga mereka tidak lagi menggunakan nama Thian-san-pai sebagai pusat perguruan mereka. Karena kesombongan mereka, maka para pimpinan Thian-san-pai menyatakan bahwa mereka bertujuh tidak diakui lagi menjadi murid dan segala sepak terjang mereka bukan tanggung jawab perguruan itu.

Kang-lam Jit-sian terdiri dari tujuh orang laki-laki yang sampai saat itu belum berkeluarga walaupun usia mereka sudah setengah baya. Yang pertama bernama Ji Gan, berusia limapuluh tahun, bertubuh tinggi besar dengan muka persegi penuh berewok. Senjata andalannya adalah sebuah tombak berkepala naga. Orang kedua bernama Lui Kok, berusia empat puluh delapan tahun, tubuhnya gemuk pendek tampak bundar, mukanya yang bulat itu tampak kekanak-kanakan, akan tetapi dia ini tidak boleh dipandang ringan karena senjata andalannya berupa golok besar dan berat amat berbahaya.

Yang ketiga bernama Pui Song, tinggi besar bermuka hitam seperti arang dan senjata andalannya adalah *siang-kiam* (sepasang pedang). Yang keempat bernama Pui Seng, adik dari Pui Song, tinggi kurus dengan muka pucat dan senjatanya juga sepasang pedang. Pui Song berusia empat puluh tujuh tahun sedangkan adiknya, Pui Seng, berusia empat puluh lima tahun.

Kemudian yang kelima bernama Lo Kwan, usianya empat puluh tiga tahun, bertubuh sedang mukanya berbentuk mirip monyet dengan hidung pesek dan bibir tebal, senjatanya adalah *siang-to* (sepasang golok). Orang keenam berusia empat puluh dua tahun bertubuh sedang dan mukanya tidak lebih baik dari muka monyet Si Lo Kwan karena To Pan ini kulit mukanya penuh lubang-lubang bekas cacar.

Orang terakhir atau yang ketujuh berusia empat puluh tahun, bertubuh sedang dan dia inilah yang paling enak dipandang di antara mereka bertujuh karena Gu Mo Ek ini yang berkulit putih bersih memiliki wajah yang tampan. Senjata andalannya juga sebatang pedang.

Dengan adanya Kang-lam Jit-sian ini maka Pasukan Topi Kuning merupakan pasukan pengawal yang amat kuat karena para anggotanya dilatih oleh mereka. Juga pasukan ini mengenakan pakaian seragam yang mewah gemerlapan, hingga tampak gagah dan mentereng mengalahkan pasukan pengawal Kim-i-wi (Pengawal Baju Emas) yang berada di istana kaisar!

Pangeran Bouw Ji Kong maklum benar bahwa kedudukan kakak tirinya, Kaisar Wan Li, sesungguhnya rapuh dengan adanya pemberontakan-pemberontakan di daerah barat dan utara. Akan tetapi berkat kebijaksanaan dua orang menteri Chang Ku Cing dan Yang Ting Ho, maka pemerintah masih kuat.

Karena itu, setelah mengadakan perundingan rahasia dengan para sekutunya, Pangeran Bouw memutuskan bahwa untuk mengawali langkah pertama, yang terpenting harus lebih dulu melenyapkan kekuatan yang mendukung kaisar. Mereka yang setia kepada Panglima Chang Ku Cing dan Menteri Yang Ting Ho, haruslah dilenyapkan sebelum kedua orang menteri itu yang mendapat giliran. Setelah mereka semua lenyap, maka akan mudah menggulingkan Kaisar Wan Li dari kedudukannya dan merampas singgasana!

Pada suatu malam yang gelap dan sunyi karena langit masih tertutup mendung tebal dan agaknya hujan sore tadi masih terancam hujan susulan, dua sosok bayangan orang berkelebat cepat sehingga kalau ada yang melihatnya tentu tidak akan mengira bahwa yang berkelebat itu adalah manusia. Dua bayangan itu dengan kegesitan luar biasa telah berhasil melewati pagar manusia Pasukan Topi Kuning yang menjaga di sekeliling istana Pangeran Bouw! Mereka berdua melayang ke atas wuwungan tanpa ada yang mengetahui.

Sementara itu, di ruangan dalam, sebuah ruangan luas yang dirahasiakan dalam istana itu. Pangeran Bouw Ji Kong duduk di dalam ruangan itu, di kepala meja panjang dan belasan orang duduk di sekeliling meja menghadapnya.

Pangeran Bouw Ji Kong berusia sekitar empat puluh lima tahun. Tubuhnya tinggi dengan perut gendut, wajahnya berwibawa dan memiliki garis-garis yang menunjukkan kekerasan hatinya. Pakaiannya mentereng dengan sulaman benang emas, seperti pakaian kaisar saja. Di pinggang kirinya tergantung sebatang pedang.

Enam belas orang yang duduk menghadapinya itu terdiri dari tujuh Kang-lam Jit-sian dan sembilan orang pembesar sipil dan militer. Sembilan orang itulah yang merupakan para pembesar di kota raja yang mendukung Pangeran Bouw Ji Kong. Sebetulnya terdapat lebih banyak lagi, namun yang diundang berkumpul pada malam hari itu hanyalah para pendukung yang berpangkat tinggi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment