Halo!

Lembah Selaksa Bunga - Chapter 30

Memuat...
Lembah Selaksa Bunga

Chapter 30

Sejak tadi mereka bercakap-cakap membicarakan rencana Pangeran Bouw, tetapi bukan merupakan rapat karena mereka semua masih menanti datangnya orang-orang yang mereka anggap penting sekali. Kehadiran orang-orang itu ditunggu sejak tadi oleh Pangeran Bouw Ji Kong.

Agaknya Pangeran Bouw merasa tidak sabar karena malam semakin larut dan mereka yang dinanti-nanti belum juga muncul. Dia memandang ke arah seorang perwira tinggi yang hadir di situ lalu menegur.

“Su-goanswe (Jenderal Su), mana mereka yang engkau laporkan kepada kami akan datang hadir? Mengapa sampai sekarang mereka belum juga muncul?”

Su Lok atau Jenderal Su yang bertubuh tinggi besar dan memelihara kumis tikus dan jenggot panjang itu memberi hormat lalu menjawab.

“Harap Pangeran bersabar. Saya merasa yakin bahwa mereka pasti akan hadir karena kedua pihak itu telah memberi kepastian kepada saya. Agar tidak mencolok, mereka tentu datang dengan diam-diam.”

“Ahh, jangan-jangan mereka itu ketahuan dan tertangkap!” kata seorang pembesar sipil dengan wajah tegang dan gelisah. Kalau sampai persekutuan mereka diketahui karena tertangkapnya utusan dari luar itu, tentu mereka semua akan celaka.

Jenderal Su Lok Ti mengerutkan alisnya kepada pembesar yang mengatakan kekhawatirannya itu, tetapi dia tidak ingin ribut berbantahan dengan seorang rekan. Dia berkata lagi kepada Pangeran Bouw.

“Harap Pangeran tidak khawatir. Pihak utara dan selatan pasti mengirim utusan-utusan yang berkepandaian tinggi sekali sehingga tidak mungkin mereka dapat tertangkap. Saya kira sebaiknya Paduka mulai dengan rapat ini, menjelaskan rencana Paduka kepada kami semua. Nanti kalau para utusan itu datang, dapat dijelaskan kepada mereka keputusannya.”

Semua orang menyetujui usul ini dan Pangeran Bouw mengangguk.

“Baiklah kalau begitu. Seperti yang kita semua ketahui, pendukung Kaisar yang merupakan penghalang besar bagi kita adalah Menteri Yang Ting Ho dan Panglima Besar Chang Ku Cing yang diikuti beberapa orang pembesar yang setia kepada mereka. Sekarang, yang ingin kita bicarakan adalah bagaimana kita harus menanggulangi dan menyingkirkan penghalang-penghalang itu. Kalau ada yang mempunyai usul atau saran yang baik, katakanlah.”

Seorang yang berpakaian perwira tinggi berkata penuh semangat, “Pangeran, sebaiknya kita langsung saja mencabut akar penghalang itu. Kita bunuh saja Yang Ting Ho dan Chang Ku Cing!”

Semua orang terkejut mendengar saran yang radikal itu. Pangeran Bouw mengerutkan alisnya, lalu menggelengkan kepalanya.

“Saran itu menuju ke sasaran pokok, namun tidak mungkin dilakukan. Ingat, mereka berdua merupakan orang penting yang dekat Kaisar dan mereka mempunyai banyak bawahan yang setia kepada mereka. Amat sukar untuk dapat melenyapkan mereka karena mereka mempunyai pengawal yang kuat. Andai kata kita dapat membunuh mereka pun, tentu akan menimbulkan kegemparan dan kita dapat dicurigai. Akan berbahaya kalau kita ketahuan sebelum kedudukan Kaisar menjadi lemah.

“Menurut kami, akan lebih baik kalau kita berusaha melemahkan kedudukan kedua orang penting itu dengan diam-diam membinasakan para pengikut setia mereka. Kematian pembesar lain tentu tidak akan menimbulkan banyak kegemparan.”

“Pangeran, saya mempunyai saran yang kiranya lebih baik dan lebih aman,” kata seorang pembesar sipil yang usianya sudah enam puluh tahun lebih.

“Kita tentu masih ingat akan kematian Panglima Kui Seng yang bunuh diri di depan Panglima Besar Chang Ku Cing. Semua orang tahu bahwa mendiang Panglima Kui Seng adalah pembantu utama yang setia kepada Panglima Besar Chang. Bahkan sudah berjasa banyak. Akan tetapi, Panglima Besar Chang mendesaknya karena demi menolong putrinya, Panglima Kui telah membebaskan tawanan dari penjara.

“Nah, peristiwa itu tentu mendatangkan perasaan tidak senang dan penasaran dalam hati para perwira anak buah Panglima Besar Chang. Kesempatan ini kita gunakan untuk membujuk mereka agar meninggalkan Panglima Besar Chang dan mendukung gerakan kita. Demikianlah, kalau mereka semua meninggalkan Panglima Besar Chang, berarti kedudukan mereka menjadi lemah dan mudah bagi kita untuk menyingkirkan mereka.”

Pangeran Bouw mengangguk-angguk dan sepasang matanya bersinar gembira.

“Bagus sekali saran Ciok-taijin (Pembesar Ciok) itu. Baik, kita mencoba untuk membujuk mereka dan kalau ada yang menolak, baru kita bunuh mereka yang menolak ajakan kita. Nah, siapa yang akan melaksanakan pembasmian mereka yang tidak mau bekerja sama dengan kita? Pekerjaan ini harus dilakukan dengan hati-hati jangan sampai ketahuan.”

“Pangeran, saya yang akan mengatur pembasmian mereka itu!” kata Jenderal Su Lok Ti.

“Wah, itu terlalu berbahaya!” cela seorang pejabat tinggi lainnya. “Kalau Su-goanswe yang mengatur, lalu ketahuan, berarti rahasia kita semua terbongkar.”

“Tidak akan ada yang dapat mengetahui!” bantah Jenderal Su yang berwatak keras.

Terjadi perbantahan antara mereka yang hadir, ada yang pro Su-goanswe, tetapi ada pula yang anti. Akhirnya Pangeran Bouw mengangkat tangan memberi isyarat dan semua orang terdiam. “Kita harus bertindak hati-hati. Memang sebaiknya usaha pembasmian pihak musuh itu dilakukan oleh sekutu kita yang datang dari luar. Selain mereka mempunyai banyak orang sakti, seandainya mereka tertangkap, istana tentu akan menganggap penyerangan itu sebagai tindakan para pemberontak di luar daerah itu dan sama sekali tidak akan mencurigai kita,” kata Pangeran Bouw Ji Kong.

“Akan tetapi, bagaimana kalau mereka kemudian mengaku tentang persekutuan mereka dengan kita, Pangeran?” tanya seorang di antara para perwira tinggi yang berada di situ.

“Mereka tidak akan mengaku, dan andaikata mereka mengaku, Kaisar tidak akan percaya. Buktinya tidak ada, dan Kaisar pasti akan lebih percaya kepadaku daripada mereka. Sudahlah, jangan khawatir. Sekarang sudah kita tentukan. Kita akan membujuk para pendukung Panglima Besar Chang dengan berdalih kematian Panglima Kui. Kalau bujukan itu telah dilaksanakan, siapa di antara mereka yang tidak mau bekerja sama akan kita bunuh satu demi satu, dan yang melaksanakan adalah orang-orang dari suku Mancu, suku Hui, serta dari Pek-lian-kauw.”

“Akan tetapi, apakah mereka sanggup melaksanakan tugas berat itu?” tanya seorang pembesar sipil.

“Ha-ha-ha, siapa yang menyangsikan kesanggupan dan kemampuan kami?” tiba-tiba terdengar suara berlogat asing, dan tiba-tiba berkelebat dua sosok bayangan. Seketika itu juga di dalam ruangan itu telah berdiri dua orang. Agaknya mereka berdua tadi melayang masuk melalui atap yang mereka buat tanpa ada pengawal yang melihat mereka saking cepatnya gerakan mereka.

Seorang kakek tinggi kurus berwajah pucat seperti mayat, dengan rambut putih, mata sipit, dan mulut menyeringai penuh ejekan, membawa sebatang pedang di punggung dan sebatang kebutan putih terselip di ikat pinggang; dan seorang laki-laki paruh baya yang berpakaian serba tebal, tubuhnya tinggi besar, mukanya berwarna merah tanpa kumis maupun jenggot, di pinggangnya tergantung sebatang golok gergaji.

Kakek itu berusia sekitar enam puluh lima tahun. Dia adalah Hwa Hwa Hoat-su, seorang datuk dari Pek-lian-kauw yang berilmu tinggi, baik ilmu silat maupun ilmu sihirnya. Dia datang berkunjung sebagai wakil dan utusan Pek-lian-kauw, yang menjadi salah satu sekutu Pangeran Bouw.

Adapun laki-laki kedua bermuka merah itu adalah Hongbacu, berusia sekitar empat puluh lima tahun. Dia bukan orang sembarangan karena dia adalah adik seperguruan dari Nurhacu, tokoh Mancu yang kelak berhasil merobohkan Kerajaan Beng dan membangun Dinasti Ceng.

Hongbacu menjadi wakil pihak Mancu dan utusan dari Nurhacu, yang diam-diam juga menjadi sekutu Pangeran Bouw. Hongbacu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi pula; di antara bangsa-bangsa di utara, dia amat terkenal karena kelihaiannya.

Pangeran Bouw yang sudah mengenal dua orang tokoh itu segera bangkit berdiri menyambut dengan girang.

“Ah, kiranya Hwa Hwa Hoat-su wakil dari Pek-lian-kauw dan Saudara Hongbacu wakil dari Mancu. Selamat datang dan silakan duduk!”

Setelah mereka berdua duduk di kursi yang memang sudah dipersiapkan untuk mereka, Hongbacu memandang kepada para hadirin, lalu bertanya dengan heran kepada tuan rumah.

“Pangeran Bouw, saya tidak melihat Tarmalan, padahal dia adalah orang penting dalam persekutuan kita. Kenapa dia tidak hadir malam ini?”

“Saudara Hongbacu, jangan khawatir, kami yakin bahwa dia pasti akan hadir,” jawab Pangeran Bouw.

“Heh-heh, apakah aku terlambat?” terdengar suara orang tanpa tampak orangnya.

Lalu dari jendela muncul gumpalan asap memasuki ruangan itu. Perlahan-lahan asap itu membentuk lalu berubah menjadi seorang laki-laki bertubuh sedang, berwajah tampan, dan memegang sebatang tongkat ular. Usianya sekitar lima puluh lima tahun.

Inilah Tarmalan, orang penting yang menjadi utusan suku Hui dan terkenal sebagai dukun atau ahli sihir. Dukun Tarmalan ini masih terhitung paman Pangeran Bouw, karena ibu kandung Pangeran Bouw —yang menjadi selir Kaisar Cia Ceng, ayah Kaisar Wan Li yang sekarang bertakhta sebagai Kaisar Kerajaan Beng— adalah kakak tertua dari Tarmalan. Kecuali Hongbacu dan Hwa Hwa Hoat-su yang berilmu tinggi, semua yang duduk di situ memandang kagum atas kemunculan Tarmalan yang luar biasa itu. Tarmalan, dukun dari suku Hui, memang terkenal lihai, terutama ilmu sihirnya.

Setelah tiga orang tamu istimewa itu duduk, Pangeran Bouw lalu berkata kepada mereka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment