Halo!

Lembah Selaksa Bunga - Chapter 33

Memuat...
Lembah Selaksa Bunga

Chapter 33

“Sudahlah, tidak perlu berterima kasih kepada pinto, karena Sang Maha Penolong adalah Thian (Tuhan) dan kebetulan saja tadi Thian menolongmu dengan menggunakan diriku. Sekarang sebaiknya engkau pulang saja.”

“Totiang, saya tidak akan pulang. Saya merasa ngeri untuk pulang, apalagi setelah terjadi peristiwa tadi.”

“Tidak mau pulang dan merasa ngeri untuk pulang? Aih, aneh sekali. Apakah yang telah terjadi di rumahmu, orang muda?”

“Sesungguhnya hal ini tidak semestinya saya ceritakan kepada orang lain karena saya tidak ingin menjadi anak yang durhaka, Totiang.”

“Kalau begitu, jangan ceritakan kepadaku.”

“Totiang, saya pernah mendengar nama Totiang. Tentu Totiang adalah Ouw-yang Sianjin yang dulu pernah berjasa membongkar rencana busuk Pek-lian-kauw. Terhadap Totiang, saya ingin berterus terang, karena Totiang akan dapat mengerti.”

Bouw Cu An lalu menceritakan tentang utusan Manchu yang tadi hendak menangkapnya, yang bersama Hwa Hwa Hoat-su utusan Pek-lian-kauw dan Tarmalan dukun suku Hui kini berada di rumah ayahnya dan mengadakan persekutuan dengan ayahnya.

Ketika dia bercerita sampai di sini, Ouw-yang Sianjin bertanya, “Ah, siapakah ayahmu itu?”

“Ayah saya adalah Pangeran Bouw Ji Kong, adik tiri Sri Baginda Kaisar. Saya adalah putra tunggalnya, nama saya Bouw Cu An.”

Ouw-yang Sianjin terkejut. “Ah, kiranya engkau putra Pangeran Bouw, Kongcu? Kalau begitu, engkau harus cepat pulang dan laporkan saja kepada ayahmu apa yang tadi hendak dilakukan orang Manchu itu kepadamu.”

“Tidak, Totiang, saya tidak akan pulang. Saya tidak mau pulang dan melihat ayah saya bersekutu dengan orang-orang jahat serta mempunyai rencana jahat terhadap Kaisar.”

Tiba-tiba pemuda itu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki tosu itu. “Saya mohon agar Totiang suka membawa saya pergi dan menerima saya sebagai murid. Tolonglah, Totiang, terimalah saya karena saya ingin belajar ilmu silat agar kelak dapat menghadapi para penjahat.”

“Akan tetapi, Kongcu, engkau adalah seorang putra bangsawan tinggi. Bagaimana mungkin engkau menjadi murid pinto yang hanya seorang tosu perantau? Engkau akan hidup sengsara dan serba kekurangan.” Dia menyentuh pundak pemuda itu dan hendak menariknya. “Bangkitlah, Kongcu, tidak pantas engkau menghormati pinto seperti ini.”

“Tidak, Totiang, sebelum Totiang menerima saya sebagai murid, saya akan tetap berlutut. Saya tidak mau pulang dan saya tidak tahu harus pergi ke mana.”

Ouw-yang Sianjin menghela napas panjang. Dia adalah seorang yang sejak muda menjauhkan diri dari dunia ramai, tidak seperti mendiang suhengnya, yaitu Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu, yang hidup sebagai pendekar dan pejuang, bahkan menikah dan mempunyai seorang putri.

Dia sendiri tidak menikah, bahkan selama hidupnya baru satu kali dia menerima murid, yaitu Ong Lian Hong putri suhengnya itu. Bahkan gadis itu pun hanya dia bimbing untuk memperdalam ilmu silatnya saja karena Ong Lian Hong sudah menerima pelajaran dari ayahnya.

Dia seorang perantau yang tidak memiliki tempat tinggal tetap. Kini ada seorang pemuda bangsawan tinggi putra pangeran dan keponakan dari kaisar Wan Li, ingin menjadi muridnya! Apalagi ayah pemuda ini agaknya seorang pengkhianat yang hendak memberontak terhadap kaisar dan bersekutu dengan musuh-musuh negara seperti bangsa Manchu dan perkumpulan Pek-lian-kauw! Akan tetapi pemuda ini luar biasa, pikirnya. Ayahnya hendak memberontak dan dia sebagai putra tunggal menentang, bahkan meninggalkan ayahnya, ingin menjadi muridnya dan siap hidup serba kekurangan serta sengsara. Juga sikapnya demikian lembut, baik dari ucapannya yang menunjukkan bahwa dia seorang terpelajar maupun dari gerak-geriknya. Timbul perasaan suka dan iba di hatinya terhadap Bouw Cu An.

“Baiklah, Bouw Kongcu. Kalau engkau bertekad untuk menjadi muridku dan ingin ikut denganku, bangkitlah.”

Bukan main girang rasa hati Bouw Cu An. Dia yang masih berlutut segera memberi hormat dan berkata dengan terharu, “Terima kasih atas penerimaan Suhu, dan teecu (murid) mohon agar Suhu tidak menyebut teecu Bouw Kongcu (Tuan Muda Bouw). Sebut saja nama teecu Bouw Cu An.”

“Baiklah, Cu An. Sekarang bangkitlah dan mulai sekarang juga engkau harus melatih badanmu memperkuat daya tahan. Ikuti aku!”

Tosu itu lalu melangkah dan sengaja memilih jalan dalam hutan yang sukar dan penuh rintangan. Selain gelap karena hanya diterangi cahaya bintang-bintang, jalan itu juga kasar berbatu, terhalang semak belukar yang kadang-kadang berduri. Bahkan dia mulai mendaki bukit sehingga Bouw Cu An yang sejak kecil hidup serba enak itu merasa tersiksa sekali.

Namun, hanya badannya yang tersiksa karena hatinya masih diliputi rasa girang. Dia sudah bertekad untuk mempelajari ilmu silat dan untuk ini dia siap untuk menderita sengsara, yaitu kesengsaraan, kenyerian, dan kelelahan badannya.

Hongbacu, tokoh Manchu itu, setelah gagal menangkap Bouw Cu An, lalu melapor kepada Pangeran Bouw bahwa pemuda itu diculik oleh seorang tosu bernama Ouw-yang Sianjin!

“Saya sudah berusaha untuk merebutnya kembali, akan tetapi tosu itu cukup lihai dan dapat melarikan Bouw Kongcu,” demikian Hongbacu mengakhiri laporannya.

“Ah, saya tahu siapa itu Ouw-yang Sianjin!” seru Hwa Hwa Hoat-su tokoh Pek-lian-kauw. “Dia masih mempunyai perhitungan yang harus dibayar dengan nyawanya. Dialah yang menggagalkan rombongan kami sehingga Leng Kok Ho-siang dan beberapa orang tokoh Pek-lian-kauw terbunuh. Sekarang dia malah menculik putra Paduka, Pangeran. Orang itu berbahaya bagi kita semua dan harus dibunuh!”

Pangeran Bouw Ji Kong marah sekali dan dia mengerahkan anak buahnya untuk mencari putranya yang kabarnya diculik dan dilarikan oleh Ouw-yang Sianjin. Namun semua usahanya sia-sia. Bouw Cu An dan Ouw-yang Sianjin tak dapat ditemukan, lenyap tanpa meninggalkan bekas.

Sementara itu, sesuai dengan rencana yang sudah diatur oleh persekutuan itu, Pangeran Bouw Ji Kong berusaha melakukan pendekatan kepada para pejabat sipil dan militer yang setia kepada Kaisar dan menaati menteri Yang Ting Ho serta Panglima Chang Ku Cing. Dia berusaha untuk membujuk mereka dan memanas-manasi hati mereka dengan penggambaran betapa buruknya pemerintah di bawah Kaisar Wan Li yang sudah dipengaruhi dua orang pejabat tinggi itu. Namun, usaha ini ternyata gagal.

Setelah kurang lebih setahun melakukan pendekatan dan bujukan, hasilnya sedikit sekali. Hanya ada beberapa orang saja yang dapat terbujuk dan menerima ajakan Pangeran Bouw untuk bergabung dan mendukung pangeran itu. Sebagian besar menolak dan tetap setia kepada Kaisar serta dua orang pejabat tinggi itu.

Karena cara yang pertama gagal, maka dimulailah cara kedua, yaitu membunuh para pejabat yang setia kepada Kaisar. Untuk pekerjaan ini, diserahkan kepada tiga orang sakti yang tinggal di istana Pangeran Bouw Ji Kong, yaitu Hwa Hwa Hoat-su, Hongbacu, dan Tarmalan.

Bagaikan berlomba saja, tiga orang sakti itu dalam jangka waktu sebulan masing-masing telah membunuh dua orang pejabat tinggi. Tentu saja ibu kota menjadi gempar! Dalam waktu sebulan ada enam orang pembesar yang setia kepada kaisar telah terbunuh dan pembunuhnya sama sekali tidak meninggalkan jejak! Juga tidak ada seorang pun prajurit penjaga yang melihat si pembunuh, bayangannya saja pun tidak tampak!

Kaisar Wan Li pun sempat panik mendengar laporan tentang terbunuhnya enam orang pejabat tinggi secara beruntun itu. Kaisar segera memanggil dua orang pembantunya yang paling diandalkan, yaitu Menteri Yang Ting Ho dan Panglima Besar Chang Ku Cing. Dengan tegas Kaisar Wan Li memerintahkan kepada mereka berdua untuk melacak dan menangkap pembunuh yang membuat resah para pembesar di ibu kota. Sebelumnya, dua orang pembesar ini memang sudah amat terkejut dan penasaran. Maka, mereka berdua sudah mendatangi rumah mereka yang terbunuh dan memeriksa sendiri keadaan mayat para pembesar yang terbunuh dalam kamar mereka itu. Setelah dipanggil kaisar dan menerima perintah yang mengandung teguran itu, keduanya lalu berunding di gedung tempat tinggal Menteri Yang Ting Ho.

Mereka berunding berdua saja dalam sebuah ruangan tertutup. Dua orang pembantu Kaisar yang usianya sudah sekitar lima puluh tahun itu duduk berhadapan dengan wajah muram.

“Chang Ciang-kun,” kata Menteri Yang, “menurut dugaanku, kiranya tidak salah lagi bahwa pembunuh para pejabat tentulah orang Pek-lian-kauw. Mereka memang memiliki orang-orang sakti, dan bukan mustahil mereka datang mengacau sebagai pembalasan karena dulu gerakan mereka yang dipimpin Leng Kok Ho-siang itu telah gagal.”

“Dugaanmu itu kiranya tidak meleset jauh, Yang Taijin,” kata Panglima Chang yang bertubuh tinggi tegap dan tampak gagah dengan kumis dan jenggotnya yang pendek terpelihara rapi dan pakaiannya sebagai seorang panglima tinggi. “Memang agaknya hanya Pek-lian-kauw saja yang menjadi musuh besar kita di dalam negeri. Akan tetapi ada dua hal yang amat menarik hatiku. Pertama, enam orang yang terbunuh itu merupakan pejabat-pejabat tinggi yang setia kepada Sri Baginda Kaisar dan merupakan pejabat yang mendukung kita berdua dalam kesetiaan kita kepada pemerintah. Dua orang pejabat sipil itu adalah pejabat yang baik dan empat orang pejabat militer lainnya adalah bawahan dan pembantu-pembantuku.”

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment