Halo!

Lembah Selaksa Bunga - Chapter 34

Memuat...
Lembah Selaksa Bunga

Chapter 34

“Engkau benar, Ciang-kun. Dua orang itu pun merupakan pembantumu yang setia. Jadi kalau begitu, pembunuh itu sengaja hendak melemahkan kita dengan jalan membunuhi para pembantu kita?”

“Tentu saja yang mereka incar adalah Sri Baginda Kaisar. Karena kita berdua yang memperkuat kedudukan Sri Baginda Kaisar, maka kitalah yang lebih dulu diserang. Bawahan kita yang setia dibunuh untuk melemahkan kekuatan kita sehingga mereka akan mudah untuk menujukan serangan mereka dengan sasaran utama, yaitu Sri Baginda Kaisar,” kata Panglima Chang.

Menteri Yang Ting Ho mengerutkan alisnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Untuk urusan serang-menyerang dan menggunakan siasat menyerang pihak lawan dengan berbagai akal dan cara tentu saja merupakan keahlian Panglima Chang.

“Agaknya engkau benar, Ciang-kun. Akan tetapi hal kedua apakah yang menarik hatimu?”

“Taijin, ketika kita memeriksa keadaan jenazah enam orang korban itu, aku melihat keanehan.”

“Keanehan? Aku hanya melihat bahwa mereka dibunuh secara kejam sekali.”

“Aku memperhatikan penyebab kematian mereka, Taijin. Ada tiga macam sebab kematian mereka, dan masing-masing dua orang mati dengan cara yang sama, berbeda dengan yang lain.”

“Aku tidak melihat hal itu, Ciang-kun. Aku hanya melihat bahwa mereka tewas dalam keadaan mengerikan, ada yang lehernya putus, kepalanya remuk, dadanya luka menembus punggung.”

“Nah, itulah Taijin! Dua orang di antara mereka tewas dengan leher terpenggal. Agaknya yang memenggal leher mereka menggunakan senjata yang amat tajam dan berat sehingga leher mereka itu putus terbabat dengan sempurna. Dua orang lagi mati dengan kepala mereka remuk, padahal tidak tampak terluka. Hal ini menunjukkan bahwa mereka berdua menerima pukulan dengan senjata lunak yang tidak meninggalkan bekas namun dapat menghancurkan, membuktikan bahwa pelakunya memiliki sin-kang yang amat kuat. Adapun dua orang lagi mati dengan dada terluka dan menembus punggung. Luarnya bundar menandakan bahwa mereka berdua tentu ditusuk senjata yang kecil, mungkin tombak atau tongkat, akan tetapi jelas bukan pedang atau golok.”

“Hemm, jadi maksudmu, mereka berenam itu dibunuh oleh tiga orang pembunuh yang memiliki keahlian berbeda?”

“Kesimpulannya begitulah, Taijin. Mereka tentu tiga orang dan mereka memiliki kepandaian tinggi, juga mereka kejam dan berbahaya sekali.”

“Hemm, kalau begitu, bagaimana kita harus menghadapi mereka, Ciang-kun? Kukira engkaulah yang paling tepat untuk menanggulangi bahaya ini. Aku sendiri akan menasihati Sri Baginda Kaisar untuk melipatgandakan pasukan pengawal yang kuat dan pilihan agar setiap saat Sri Baginda dilindungi dengan ketat.”

“Memang sebaiknya begitu, Taijin. Dan lebih penting pula, sebaiknya Sri Baginda memanggil semua pejabat tinggi mengadakan persidangan agar terdapat lebih banyak pasukan untuk menjaga keselamatan kerajaan.”

“Baik, aku akan mengemukakan hal itu kepada Sri Baginda Kaisar,” kata Menteri Yang.

“Ya, dan aku akan diam-diam secara rahasia menghubungi para pendekar yang setia kepada kerajaan untuk membantu. Karena pihak musuh juga menggunakan orang-orang sakti yang dirahasiakan, maka aku juga akan mencari pendekar-pendekar yang akan menghadapi mereka secara rahasia pula.”

Menteri Yang dan Jenderal atau Panglima Chang telah bersepakat untuk menghadapi serangan yang membunuh para rekan mereka. Panglima Chang mengerahkan pasukan khusus yang diperintahkan untuk melakukan penjagaan kepada para pejabat tinggi yang setia kepada kaisar.

Beberapa hari kemudian, setelah mendapat laporan dan anjuran Menteri Yang Ting Ho, Kaisar Wan Li mengundang para pejabat tinggi untuk datang menghadap dan mengadakan persidangan untuk membahas peristiwa yang menggegerkan itu.

Setelah Kaisar Wan Li secara singkat menceritakan tentang pembunuhan terhadap enam orang pejabat tinggi yang terkenal setia, dia berkata, “Menurut pendapat kami, pelakunya tentulah orang-orang yang menentang pemerintah dan hendak melemahkan dan membikin kacau para pejabat pemerintah. Dan mereka yang memusuhi pemerintah pada saat ini adalah golongan pemberontak Pek-lian-kauw dan tentu saja bangsa Mancu yang kini telah menyusun kekuatan di utara. Mungkin juga ada suku-suku di luar daerah kita yang dapat dihasut mereka. Kita harus siap dan berusaha sekuatnya untuk membekuk pembunuh itu agar suasana menjadi tenang dan tenteram kembali.”

Setelah berhenti sejenak dan memandang kepada para pejabat itu, Kaisar Wan Li melanjutkan, “Karena urusan ini teramat penting dan berbahaya, maka kami telah menyerahkan penanganannya kepada Panglima Chang Ku Cing. Bagaimana pendapat kalian? Apakah ada yang mengajukan usul yang baik?”

Pangeran Bouw Ji Kong membungkuk dengan hormat sambil bangkit berdiri dari kursinya. “Kakanda Kaisar yang mulia. Kalau menurut perkiraan hamba, pemberontak Pek-lian-kauw maupun para suku bangsa tidak akan berani melakukan kejahatan itu. Pek-lian-kauw telah kita gagalkan dan hancurkan usaha mereka mengacau beberapa waktu yang lalu, maka kiranya mereka tidak akan berani gegabah mencobanya lagi. Juga hamba yang mengawasi hubungan antara kita dan para suku bangsa di luar daerah. Hubungan itu cukup baik dan kiranya mereka tidak akan berani merusaknya dengan pembunuhan-pembunuhan itu. Menurut hamba, ada pihak lain yang melakukannya.”

Kaisar Wan Li memandang kepada adik tirinya itu. “Hemm, Adinda Pangeran, begitukah pendapatmu? Coba jelaskan, pihak lain mana dan siapa yang engkau maksudkan itu?”

“Yang Mulia, sudah bukan rahasia lagi bahwa di dunia kang-ouw terdapat orang-orang yang menamakan dirinya para pendekar. Banyak di antara mereka itu yang merasa tidak puas dan membenci para pejabat. Sudah banyak pejabat di kutaraja maupun di daerah yang dihajar atau bahkan dibunuh para pendekar itu, dengan dalih bahwa pejabat itu tidak adil, sewenang-wenang, atau memeras menindas rakyat. Hamba condong untuk menduga bahwa yang membunuh enam orang pejabat itu adalah para pendekar yang hamba maksudkan itu.”

Kaisar Wan Li adalah seorang yang lemah dan selalu mengandalkan pendapat para pembantunya. Mendengar ucapan adik tirinya itu, timbul keraguan dalam hatinya dan dia memandang kepada para pejabat yang hadir.

“Kami rasakan apa yang dikemukakan Adinda Pangeran Bouw Ji Kong itu ada benarnya juga. Bagaimana kalau menurut pendapat kalian?”

Para pejabat tinggi diam saja. Mereka sudah mengenal siapa Pangeran Bouw dan bagi para pejabat yang sudah menjadi anak buahnya tentu setuju dengan pendapat itu. Adapun mereka yang tidak setuju, tidak berani mencela karena mereka merasa bahwa Pangeran Bouw tidak suka kepada mereka yang tidak mau dibujuk untuk menerima hadiah dan taat kepadanya.

Panglima Besar Chang Ku Cing segera bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Kaisar. “Hamba tidak dapat membenarkan perkiraan Pangeran Bouw bahwa para pendekar yang melakukan pembunuhan itu. Para pendekar yang gagah perkasa, pembela kebenaran dan keadilan, tidak akan melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap enam orang pejabat itu karena hamba mengenal betul siapa mereka. Mereka adalah pejabat-pejabat yang setia kepada Paduka, mereka bersih, jujur, dan adil. Tentu Paduka masih ingat betapa dahulu, setahun lebih yang lalu, ketika Pek-lian-kauw mempunyai niat jahat untuk mengacau dan Leng Kok Ho-siang sebagai wakil mereka menghadap Paduka, justru para pendekar yang telah membantu pemerintah menghancurkan usaha jahat mereka. Hamba berani menanggung bahwa bukan para pendekar yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu, melainkan musuh-musuh negara dan para pemberontak.”

Para pejabat yang setia kepada kaisar mengangguk-angguk membenarkan pendapat Panglima Chang ini. Adapun para pejabat yang telah menjadi pengikut Pangeran Bouw tidak ada yang berani membantah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment