Halo!

Lembah Selaksa Bunga - Chapter 35

Memuat...
Lembah Selaksa Bunga

Chapter 35

Kaisar Wan Li menutup persidangan dan memberi tugas khusus kepada tiga pejabat penting. Panglima Chang ditugaskan untuk mencari dan menangkap pembunuh itu. Menteri Yang ditugaskan untuk menenteramkan suasana di antara para pejabat, dan Pangeran Bouw diberi tugas untuk melakukan penyelidikan apakah suku bangsa di luar daerah tidak ada yang melakukan tindakan mencurigakan, terutama beliau ditugaskan untuk mengamati gerak-gerik bangsa Mancu dan memberi laporan jika ada yang mencurigakan.

Para pejabat menunggu sampai Kaisar Wan Li meninggalkan ruang sidang, barulah mereka kembali ke gedung masing-masing. Pangeran Bouw segera menghubungi tiga orang sakti yang bersembunyi di istananya dan menganjurkan mereka lebih baik untuk sementara menghentikan pembunuhan dan diam-diam meninggalkan kota Raja untuk menghindar dari Panglima Chang yang tentu akan mencari pembunuh itu dengan cermat.

Berbeda dengan Pangeran Bouw Ji Kong yang masih giat karena ambisius, sebaliknya Pangeran Sim Liok Ong yang merupakan saudara sepupu Kaisar, tidak memegang kedudukan apa pun, maka beliau tidak turut dipanggil dalam persidangan yang diadakan Kaisar. Akan tetapi, beliau dapat menduga bahwa Kaisar dan para pejabat tinggi tentu gelisah dengan adanya serangkaian pembunuhan rahasia itu.

Yang amat tertarik dengan terjadinya peristiwa pembunuhan-pembunuhan terhadap enam orang pejabat tinggi yang setia dan jujur adalah putra Pangeran Sim Liok Ong, yaitu Sim Tek Kun. Sim Tek Kun yang berusia dua puluh empat tahun ini adalah murid Kun-Lun-Pai yang lihai dan terkenal di dunia kangouw sebagai Kun-Lun Siauw-Hiap (Pendekar Muda Kun-Lun) yang selalu membela kebenaran dan keadilan sebagai seorang pendekar gagah perkasa. Juga istrinya adalah seorang pendekar wanita yang cantik jelita dan lihai, yaitu Ong Lian Hong.

Ong Lian Hong ini adalah putri mendiang Pat-Jiu Kiam-Ong (Raja Pedang Tangan Delapan) Ong Han Cu, dan ia menjadi sumoi (adik seperguruan) Hwe-Thian Mo-Li Nyo Siang Lan, murid mendiang ayahnya. Sekitar dua tahun yang lalu, Ong Lian Hong bersama Sim Tek Kun yang ketika itu belum menjadi suaminya, dan Hwe-Thian Mo-Li, ia membantu Panglima Chang Ku Cing membasmi orang-orang Pek-Lian-Kau yang mengacau kota Raja. Sim Tek Kun dan Ong Lian Hong telah menikah sekitar satu setengah tahun yang lalu, tetapi mereka belum dikaruniai anak.

Selama dua tahun ini, Sim Tek Kun dan Ong Lian Hong hidup bahagia dan penuh kedamaian karena mereka tidak lagi mencampuri urusan dunia persilatan. Mereka tinggal di gedung Pangeran Sim Liok Ong yang tidak aktif dalam pemerintahan sehingga tidak pernah menghadapi masalah. Akan tetapi, meskipun demikian, mereka memperhatikan peristiwa-peristiwa aneh yang terjadi di kota Raja, maka pembunuhan-pembunuhan yang terjadi baru-baru ini membangkitkan perasaan penasaran dan menarik perhatian mereka. Jelas telah terjadi kejahatan di kota Raja dan mereka tentu saja tidak dapat membiarkan hal itu terjadi berlarut-larut tanpa ikut menyelidiki dan memberantasnya atau menangkap pembunuhnya.

Pada suatu sore, suami istri itu duduk di serambi bersama Pangeran Sim Liok Ong. Pangeran ini berusia sekitar empat puluh delapan tahun dan masih tampak segar dan tampan dengan sikapnya yang lembut. Mereka membicarakan tentang pembunuhan itu.

“Kalau menurut pendapat Ayah, mengapa enam orang pejabat tinggi itu dibunuh dan mengapa terjadi hal ini? Pertanda apakah ini, Ayah?” tanya Sim Tek Kun kepada ayahnya.

“Aku mengenal baik enam orang pejabat tinggi yang terbunuh itu. Mereka semua adalah pejabat yang setia dan jujur. Karena itu, melihat pembunuhan yang dilakukan secara diam-diam penuh rahasia itu, sangat mungkin bahwa orang yang mengatur pembunuhan itu sengaja hendak melemahkan kedudukan Kaisar dengan membunuhi para pejabat tinggi yang setia. Kalau pembunuhan ini merupakan dendam pribadi, rasanya tidak mungkin secara berturut-turut enam orang pejabat tinggi dibunuh dan mereka semua ternyata merupakan pembantu-pembantu setia dari Sri Baginda Kaisar!” Sim Tek Kun dan istrinya, Ong Lian Hong, mengangguk-angguk setuju dengan pendapat Pangeran itu. “Kalau enam orang pejabat tinggi itu terbunuh secara rahasia dan tidak ada yang mengetahui siapa pembunuh mereka, jelas bahwa dalang pembunuhan itu mengutus orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi untuk melakukan pembunuhan itu,” kata Ong Lian Hong.

“Dugaanmu itu tentu tepat, Hong-moi. Dan kurasa yang patut dicurigai adalah Pek-Lian-Kau! Merekalah yang dulu mengacau di kota Raja, dan memang Pek-Lian-Kau mempunyai banyak orang lihai. Agaknya sekali ini pun pembunuhan itu dilakukan mereka untuk membuat kekacauan atau seperti dikatakan Ayah tadi, untuk melemahkan pemerintah yang dipimpin Sri Baginda Kaisar,” kata Sim Tek Kun.

Selagi mereka bercakap-cakap, terdengar derap kaki kuda dan roda kereta. Mereka semua memandang dan melihat sebuah kereta memasuki pekarangan gedung itu dan para penjaga di pintu pekarangan memberi hormat. Dari keretanya saja Pangeran Sim Liok Ong sudah mengenal siapa yang datang berkunjung.

“Panglima Chang Ku Cing yang datang!” katanya dan mereka bertiga segera bangkit dan menyambut di luar serambi.

Setelah kereta berhenti, benar saja yang keluar dari kereta adalah Panglima Chang Ku Cing yang berusia sekitar lima puluh tahun, bertubuh tinggi tegap dengan kumis dan jenggot pendek terpelihara rapi sehingga dia tampak gagah sekali dalam pakaian Panglima yang serba gemerlapan. Dia ditemani seorang pemuda gagah berusia sekitar dua puluh lima tahun.

Pangeran Sim, diikuti putra dan menantunya, memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada yang dibalas oleh Panglima Chang. Pangeran Sim Liok Ong berkata gembira.

“Selamat datang, Panglima Chang. Mari, silakan masuk, kami merasa gembira menyambut kunjunganmu.”

“Terima kasih dan maaf jika saya mengganggu, Pangeran. Saya datang untuk membicarakan sesuatu denganmu, terutama sekali dengan putra dan menantumu,” kata Panglima itu sambil memandang kepada Sim Tek Kun dan Ong Lian Hong.

“Mari, silakan masuk dan kita bicara di dalam, Panglima!” kata Pangeran Sim dan mereka lalu memasuki ruangan tamu.

Lima orang itu duduk saling berhadapan mengelilingi sebuah meja besar. Pangeran Sim lalu menutup pintu depan dan belakang ruangan itu, memesan kepada para pelayan agar mereka jangan diganggu. Tak seorang pun boleh memasuki ruangan sebelum dipanggil.

“Saya kira Pangeran sudah dapat menduga maksud kedatangan saya ini. Sebelumnya, izinkan saya memperkenalkan. Pemuda ini adalah keponakan saya, putra tunggal adik saya yang telah gugur dalam perang. Namanya adalah Chang Hong Bu dan dia telah lulus belajar ilmu silat di kuil Siauw-Lim-Si.”

Pangeran Sim Liok Ong, putra dan menantunya itu memandang kepada pemuda itu penuh perhatian. Baru sekarang Pangeran Sim bertemu dengan pemuda itu bahkan baru sekarang beliau mendengar bahwa Panglima yang terkenal itu memiliki seorang keponakan yang gagah perkasa, murid Siauw-Lim-Pai.

Seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun yang bertubuh tegap, berwajah tampan, sikapnya gagah dan tenang, dan wataknya pendiam, sinar matanya tajam berwibawa seperti mata pamannya. Saat diperkenalkan, pemuda bernama Chang Hong Bu itu bangkit dan memberi hormat dengan membungkuk kepada tuan rumah.

“Kami senang sekali dapat berkenalan dengan keponakanmu yang gagah, Panglima. Kalau kami tidak salah duga, tentu kedatangan Panglima ini ada hubungannya dengan masalah yang tadi baru saja kami bicarakan, yaitu masalah pembunuhan-pembunuhan yang terjadi di kota Raja. Benarkah?”

Panglima Chang tertawa dan menoleh kepada keponakannya.

“Ha-ha-ha! Kau dengar sendiri, Hong Bu! Tidak salah, bukan, keterangan saya tadi, bahwa Pangeran Sim Liok Ong adalah seorang yang amat cerdik? Baru saja kita datang, beliau ini telah dapat menduga dengan tepat maksud kedatangan saya. Tentu Pangeran telah mengetahui pula apa yang kami inginkan sehubungan dengan peristiwa itu, bukan?”

Pangeran Sim juga tersenyum. “Aih, Panglima. Saya bisa berbuat apa menghadapi masalah kekerasan ini? Tentu putra dan menantu saya lebih tepat untuk Panglima ajak membicarakannya.” Kembali Panglima Chang tertawa dan memandang kepada keponakannya, seolah hendak membuktikan bahwa lagi-lagi Pangeran itu telah dapat menebak dengan tepat.

“Memang benar, terus terang saja kami semua merasa penasaran dengan adanya peristiwa pembunuhan itu. Karena itu, saya teringat akan putramu Sim Tek Kun dan istrinya Ong Lian Hong yang dulu pernah membantu kami menghancurkan para tokoh Pek-Lian-Kau yang mendatangkan kekacauan di kota Raja. Bagaimana pendapatmu tentang adanya pembunuhan-pembunuhan itu, Ananda Tek Kun?”

Sim Tek Kun menoleh kepada ayahnya lalu memandang kepada Panglima Chang. “Seperti telah dikatakan Ayah tadi, Paman Panglima, ketika Paman datang, kami bertiga sedang membicarakan peristiwa itu. Menurut pendapat kami bertiga, pembunuhan-pembunuhan itu sengaja dilakukan oleh pihak yang memusuhi pemerintah. Yang dibunuh adalah para pejabat yang setia kepada Sri Baginda Kaisar, maka pembunuhan itu agaknya dilakukan untuk mendatangkan kekacauan dan melemahkan pemerintah. Mengingat bahwa yang dulu memusuhi pemerintah adalah Pek-Lian-Kau dan mengingat pula bahwa pembunuhan tentu dilakukan orang-orang yang lihai, maka kami menduga bahwa yang melakukan adalah orang-orang Pek-Lian-Kau.”

Panglima Chang mengangguk-angguk. “Kami semua juga mempunyai dugaan seperti itu. Pek-Lian-Kau atau bukan, yang melakukannya tentu mereka yang memusuhi pemerintah dan ingin melemahkan pemerintah dengan membunuhi para pejabat tinggi yang setia. Perkara ini sangat gawat sehingga Sri Baginda Kaisar mengadakan rapat khusus dan menugaskan saya untuk mencari dan menangkap pembunuhnya.

“Setelah kami selidiki, kami berpendapat bahwa enam orang itu dibunuh oleh tiga orang yang memiliki ilmu berbeda aliran. Hal ini dibuktikan dengan cara tewasnya enam orang itu. Dua orang tewas dengan kepala terpenggal, dua orang lagi tewas dengan dada tertusuk dan tembus sampai punggung, sedangkan yang dua orang lagi tewas dengan kepala hancur isinya tanpa luka di luarnya.

“Kita berurusan dengan orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi, oleh karena itu kami yang diberi tugas ingin memohon bantuan para pendekar yang dulu juga membantu kami menghadapi orang-orang Pek-Lian-Kau yang lihai. Bagaimana, Ananda Sim Tek Kun dan Ong Lian Hong, bersediakah ji-wi (Anda berdua) membantu kami?”

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment