Halo!

Lembah Selaksa Bunga - Chapter 36

Memuat...
Lembah Selaksa Bunga

Chapter 36

“Tentu saja kami siap membantu sekuat kemampuan kami, Paman Panglima,” kata Sim Tek Kun.

“Terima kasih, Ananda Sim Tek Kun. Dengan bantuan Ananda berdua istri, kami semakin yakin bahwa akhirnya kita akan dapat mengetahui siapa dalang pembunuhan ini dan jika kita beruntung, akan dapat menangkap pelaku-pelaku pembunuhan itu. Akan tetapi, kami teringat akan Hwe-thian Mo-li. Kalau saja kita dapat meminta bantuannya, kiranya pekerjaan ini akan menjadi semakin mudah.

“Barangkali Ananda Ong Lian Hong mengetahui di mana tempat tinggal Hwe-thian Mo-li sekarang? Saya ingin mengutus keponakan kami, Chang Hong Bu ini, untuk menyampaikan permintaan saya kepadanya agar sudi membantu.”

Mendengar pertanyaan ini, Ong Lian Hong mengerutkan alisnya dan sinar matanya membayangkan kesedihan. Ia sudah mendengar pengakuan suaminya bahwa Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan dahulu jatuh cinta kepadanya. Biarpun dia tidak membalas cinta Hwe-thian Mo-li, namun dia merasa bahwa Nyo Siang Lan jatuh cinta kepadanya tanpa pernah menyatakannya dengan ucapan.

Mendengar ini, Lian Hong baru menyadari mengapa sucinya itu sengaja mempermainkan ia dan Tek Kun yang telah ditunangkan kepadanya sejak dulu, membuat mereka saling bertanding dan saling mengerti bahwa mereka telah menjadi calon jodoh. Dan mengapa sejak itu sucinya pergi dan tidak pernah menjumpainya atau memberi kabar! Kini, mendengar pertanyaan Panglima Chang, tentu saja ia teringat kepada Nyo Siang Lan dan merasa sedih.

“Paman Panglima, saya sendiri tidak pernah bertemu atau mendengar berita tentang Enci Nyo Siang Lan sejak kami bersama-sama menentang orang-orang Pek-lian-kauw itu. Saya pernah melakukan penyelidikan dan mendengar bahwa Ban-hwa-pang di Ban-hwa-kok diserbu dan diambil alih kekuasaan ketuanya oleh seorang gadis yang amat lihai. Mungkin sekali gadis itu adalah Enci Siang Lan, akan tetapi saya tidak berani memastikannya.”

“Ban-hwa-kok (Lembah Selaksa Bunga)? Di manakah itu?” Panglima Chang bertanya penuh perhatian.

“Saya sendiri tidak tahu, Paman.”

“Nanti dulu!” Tiba-tiba Sim Tek Kun memotong. “Lembah Selaksa Bunga? Saya pernah mendengar tentang itu. Kalau tidak salah, dulu ada Ban-hwa-pang (Perkumpulan Selaksa Bunga) di lembah itu, dan pemimpinnya adalah seorang bermarga Siangkoan yang amat lihai yang dijuluki Si Tombak Maut. Lembah Selaksa Bunga itu berada di puncak Ban-hwa-san (Bukit Selaksa Bunga), salah satu di antara bukit-bukit yang menjadi bagian dari Lu-liang-san.”

“Bagus!” kata Panglima Chang girang. “Nah, Hong Bu, engkau sudah mendengar sendiri. Ananda Sim Tek Kun berdua istrinya kami minta bantuannya untuk ikut menyelidiki siapa yang melakukan pembunuhan itu, dan engkau pergilah ke Lu-liang-san, cari Lembah Selaksa Bunga dan temui Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan. Aku akan membuat surat untuknya. Nah, mari kita pulang, engkau cepat berkemas dan bawa suratku.”

Panglima Chang lalu berpamitan kepada Pangeran Sim, putra, dan menantunya, kemudian bersama keponakannya kembali ke kediamannya. Setelah panglima itu pergi, Sim Tek Kun dan Ong Lian Hong melakukan persiapan untuk mulai menyelidiki pembunuhan-pembunuhan itu.

Chang Hong Bu adalah seorang pemuda yatim piatu. Ayahnya, adik Panglima Chang Ku Cing, juga seorang perwira tinggi yang gugur dalam perang melawan pemberontak di utara. Ibunya juga meninggal dunia karena sakit sehingga Chang Hong Bu menjadi yatim piatu. Sejak kecil dia ikut pamannya, Panglima Chang Ku Cing.

Melihat bakat anak itu sangat baik untuk ilmu silat, Panglima Chang lalu mengirimnya ke Siauw-lim-pay untuk belajar. Selama lima belas tahun, sejak berusia sepuluh tahun, Hong Bu digembleng ilmu silat di kuil Siauw-lim-pay. Setelah tamat belajar dan usianya sudah dua puluh lima tahun, dia kembali ke rumah pamannya.

Kini Hong Bu menerima tugas dari pamannya untuk mencari Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan di Pegunungan Lu-liang-san. Tentu saja dia merasa senang sekali menerima tugas ini. Setelah tamat dari Siauw-lim-pay, dia telah menjadi seorang pendekar muda dari perguruan silat yang amat terkenal itu.

Hong Bu melakukan perjalanan cepat dan menghindari segala gangguan karena dia harus lebih dulu menunaikan tugas yang diberikan pamannya.

Setelah tiba di kaki Pegunungan Lu-liang-san, Hong Bu mulai bertanya kepada para penduduk dusun di sekitar pegunungan itu mengenai keberadaan Ban-hwa-san (Bukit Selaksa Bunga). Karena hari telah menjelang senja, dia melewatkan malam itu di sebuah dusun di kaki bukit karena merasa tidak sopan jika berkunjung ke tempat tinggal orang pada malam hari, apalagi yang dicarinya adalah seorang gadis.

Dia bermalam di rumah seorang petani tua duda yang sudah berusia lima puluh tahun lebih. Dari petani inilah dia mendengar tentang Ban-hwa-pang.

Menurut kakek itu, dahulu ketika Ban-hwa-pang masih merupakan gerombolan yang dipimpin oleh Si Tombak Maut Siangkoan Leng, tidak ada orang yang berani tinggal di sekitar kaki bukit itu karena gerombolan Ban-hwa-pang terkenal bengis dan kejam. Akan tetapi, setelah gerombolan itu dibasmi oleh seorang wanita sakti berjuluk Hwe-thian Mo-li, yang membunuh semua anggota termasuk ketuanya, perkumpulan yang tetap bernama Ban-hwa-pang itu kini menjadi perkumpulan yang anggotanya terdiri dari wanita semua dan dipimpin oleh Hwe-thian Mo-li. Perkumpulan itu berubah menjadi baik dan tidak pernah ada anggotanya yang melakukan gangguan terhadap dusun-dusun di sekitarnya.

Maka mulailah ada penduduk dusun yang pindah ke kaki Bukit Ban-hwa-san yang memiliki tanah subur untuk tinggal dan bertani di situ. Apalagi Ban-hwa-pang kini tidak memungut pajak kepada mereka. Bahkan, jika ada yang berani mengganggu penduduk dusun, pihak Ban-hwa-pang akan turun tangan memberikan hajaran kepada pengacau itu.

Mendengar keterangan ini, hati Chang Hong Bu merasa lega. Jelaslah bahwa orang yang dicarinya, Hwe-thian Mo-li, biarpun julukannya mengerikan yaitu Iblis Betina Terbang, ternyata bukan orang jahat.

Pada keesokan harinya setelah matahari naik cukup tinggi, barulah Hong Bu mendaki bukit itu. Baru tiba di lereng tengah saja dia sudah merasa kagum bukan main karena lereng itu sudah penuh dengan tanaman bunga beraneka bentuk dan warna, dan harumnya semerbak sejak dari lereng pertama. Ratusan ekor kupu-kupu dengan berbagai macam warna beterbangan seperti menari-nari di atas bunga-bunga itu.

Hwe-thian Mo-li setelah menguasai Ban-hwa-kok, dengan bantuan anak buahnya, memperindah lembah itu dengan menanam lebih banyak bunga lagi. Ia membongkar dan melenyapkan semua perangkap serta jebakan yang dulu dipasang oleh Siangkoan Leng. Bahkan, jalan menuju ke puncak juga ia suruh bangun sehingga pendakian ke puncak kini amat mudah dan menyenangkan.

Ketika Chang Hong Bu sedang menikmati pemandangan yang amat indah di lembah itu, tanpa terasa dia sudah mendaki sampai di lereng bawah puncak. Para wanita anggota Ban-hwa-pang sedang sibuk bekerja di kebun sayur, maka tidak ada yang melihat datangnya pemuda ini.

Ketika Hong Bu tiba di tanah datar di bawah pondok yang memiliki beranda bercat merah indah, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan putih dan di depannya telah berdiri seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh dua tahun, bertubuh sedang dan berwajah tampan, dengan sinar mata tajam namun lembut. Baru melihat cara orang itu muncul, Hong Bu sudah dapat menduga bahwa dia berhadapan dengan seseorang yang memiliki kepandaian tinggi. Maka dia cepat memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan di depan dada.

Laki-laki itu adalah Sie Bun Liong atau yang mengaku bernama Bu-beng-cu kepada Hwe-thian Mo-li. Sebenarnya, Bu-beng-cu tidak tinggal di Lembah Selaksa Bunga. Bahkan dia tidak mau terlihat oleh para anggota Ban-hwa-pang karena khawatir kalau-kalau ada yang mengenalnya, biarpun ketika datang berkunjung kepada adik tirinya, dia datang dengan diam-diam. Akan tetapi, karena dia amat memperhatikan keadaan Hwe-thian Mo-li, maka dia sering diam-diam mendatangi Lembah Selaksa Bunga untuk melihat apakah gadis yang menjadi pusat perhatiannya itu terancam bahaya.

Pada pagi hari itu, ketika dia berada di kaki Bukit Ban-hwa-san, dia melihat seorang pemuda mendaki bukit itu. Timbul kecurigaannya. Dia tahu bahwa Hwe-thian Mo-li memiliki banyak musuh karena gadis pendekar ini biasanya bertindak amat keras terhadap orang-orang jahat.

Bahkan adik tirinya, Siangkoan Leng, Ketua Ban-hwa-pang, berikut semua anak buahnya telah dibunuh oleh Hwe-thian Mo-li. Maka jika kini ada pemuda yang tampak gagah perkasa mendaki Ban-hwa-san, dia menjadi curiga dan mengira pemuda itu memiliki maksud yang tidak baik. Diam-diam dia membayangi Chang Hong Bu dan setelah Hong Bu benar-benar hendak ke puncak, setibanya di lereng bawah puncak, Bu-beng-cu dengan cepat muncul dan menghadangnya.

Di lain pihak, Chang Hong Bu ketika melihat ada seorang laki-laki muncul di situ, dia pun merasa curiga. Menurut keterangan petani tadi, Ban-hwa-pang kini merupakan perkumpulan wanita dan tidak ada laki-laki yang boleh naik ke puncak; tempat itu merupakan daerah terlarang bagi pria. Kini di sana ada seorang laki-laki, maka tentu saja dia pun merasa curiga.

Dengan sinar mata tajam penuh selidik, Bu-beng-cu bertanya, “Siapakah engkau dan ada keperluan apakah mendaki Ban-hwa-san?”

Hong Bu mengerutkan alisnya. Dia tadi memberi hormat karena orang itu lebih tua, namun orang itu tanpa membalas penghormatannya malah bertanya dengan nada menyelidik.

“Seingatku, menurut keterangan orang yang mengetahui, Ban-hwa-pang adalah perkumpulan wanita dan tidak ada pria yang boleh memasuki daerah lembah ini. Kalau yang menyambut kedatanganku dan menegurku adalah seorang wanita, hal itu dapat kumengerti dan aku tentu akan menjelaskan maksud kunjunganku. Akan tetapi, yang muncul adalah seorang laki-laki, maka aku pun kiranya berhak untuk bertanya, siapakah engkau dan mengapa engkau seorang laki-laki berada di daerah perkumpulan wanita?” kata Hong Bu sambil memandang tajam.

“Orang muda, engkau kutanya belum menjawab malah berbalik bertanya kepadaku. Siapa aku dan apa urusanku berada di sini tidak ada sangkut pautnya denganmu. Nah, katakan siapa engkau dan apa maumu?”

“Urusanku juga tidak ada sangkut pautnya denganmu. Aku datang untuk bertemu dengan Hwe-thian Mo-li dan aku tidak mempunyai urusan denganmu.”

“Hemm, mau apa engkau mencari Hwe-thian Mo-li?”

“Bukan urusanmu!” kata Hong Bu marah.

“Kalau begitu, engkau tentu mempunyai niat buruk datang ke tempat ini!” Bu-beng-cu berseru.

“Mungkin engkau yang mempunyai niat buruk, bukan aku!” jawab Hong Bu.

“Bocah sombong, cepat engkau pergi dari sini atau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan!” kata Bu-beng-cu.

Hong Bu yang masih muda itu menjadi marah juga, dan kecurigaannya bertambah. “Engkau tidak berhak mengusirku dan kalau hendak menggunakan kekerasan, coba saja kalau engkau mampu!”

Bu-beng-cu atau Sie Bun Liong merasa ditantang. Dia memang mencurigai kedatangan Hong Bu, dan ada sedikit rasa cemburu di hatinya. Pemuda itu tampan, gagah, dan masih muda. Bukan tidak mungkin Hwe-thian Mo-li akan tertarik hatinya jika bertemu dengan pemuda ini; demikian bisikan hatinya yang cemburu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment