Chapter 37
Bu-beng-cu mendorong Hong Bu dengan tangan kirinya, mengandung sin-kang yang kuat, tetapi bukan untuk memukul, melainkan untuk mendorong agar pemuda itu terdorong mundur dan pergi meninggalkan tempat itu. Angin dorongan yang kuat menyambar ke arah Hong Bu. Namun, Hong Bu tidak menjadi gentar dan tidak mengelak. Dia mengerahkan tenaga pada tangan kanannya dan menyambut dorongan telapak tangan Bu-beng-cu.
Bu-beng-cu terkejut karena Hong Bu mampu menyambut dorongannya dengan tenaga yang cukup besar, sehingga tubuh pemuda itu tidak terdorong mundur, melainkan hanya tergetar. Ini membuktikan bahwa Hong Bu memiliki sin-kang yang mampu mengimbangi kekuatannya sendiri. Bu-beng-cu kemudian menyerang, dan dua orang itu berkelahi dengan seru.
Setelah bertanding belasan jurus, Bu-beng-cu mengenal ilmu silat Siauw-lim-pai yang aseli dan kokoh kuat. Ternyata Hong Bu seorang murid Siauw-lim-pai yang tingkat kepandaiannya sudah sedemikian tingginya sehingga mampu menandingi dan mengimbanginya. Bu-beng-cu merasa kagum dan mulai hilang kecurigaannya. Dia tahu bahwa murid Siauw-lim-pai biasanya berwatak gagah sebagai seorang pendekar dan rasanya tidak mungkin mempunyai niat jahat.
Tiba-tiba, ada bayangan orang berkelebat, dan terdengar bentakan nyaring. "Penjahat dari mana berani mengacau di sini?" Sinar pedang berkilat menyambar ke arah Hong Bu. Pemuda ini terkejut sekali dan cepat melompat ke samping sambil mencabut pedangnya. Bu-beng-cu melompat dan melerai, "Tahan pedang! Jangan berkelahi!!" Karena Bu-beng-cu melompat di tengah-tengah, di antara mereka, maka baik Hwe-thian Mo-li maupun Hong Bu cepat melompat ke belakang dan menahan pedang mereka.
Hwe-thian Mo-li mengerutkan alisnya dan memandang Hong Bu dengan sinar mata penuh selidik. "Siapa engkau dan mengapa engkau mengacau di sini dan berkelahi dengan Paman Bu-beng-bu?" Bu-beng-cu segera berkata menengahi, "Nona, kurasa semua ini hanya merupakan salah pengertian belaka. Pemuda ini bertemu denganku di sini dan kami sama-sama saling mencurigai. Setelah bertanding, baru aku tahu bahwa dia ini murid Siauw-lim-pai yang tangguh dan aku tadi hanya ingin menguji kepandaiannya. Dia datang untuk mencarimu, Hwe-thian Mo-li."
Hong Bu menyadari bahwa dia berhadapan dengan gadis yang dicarinya dan bahkan laki-laki gagah itu sama sekali bukan orang jahat, melainkan agaknya masih keluarga dengan Hwe-thian Mo-li yang menyebutnya paman. Dia cepat menyimpan pedangnya dan mengangkat kedua tangan depan dada untuk memberi hormat kepada mereka berdua. "Saya Chang Hong Bu mohon maaf sebesarnya kepada Paman dan juga kepadamu, Nona. Seperti dikatakan Paman tadi, semua ini hanya merupakan kesalah pahaman belaka. Sayalah yang bersalah dan mohon maaf."
Hwe-thian Mo-li dan Bu-beng-cu merasa suka kepada pemuda ini yang ternyata selain gagah juga sikapnya sopan. Akan tetapi, Nyo Siang Lan masih curiga karena belum tahu apa maksud kedatangan pemuda yang tidak dikenalnya itu ke Ban-hwa-san. "Paman Bu-beng-cu tadi bilang bahwa engkau datang mencari aku. Padahal aku sama sekali tidak pernah mengenalmu. Ada urusan apakah engkau mencariku?" tanya Siang Lan sambil menatap tajam wajah pemuda itu.
"Saya datang sebagai utusan Paman Panglima Chang Ku Cing dari kota raja untuk membicarakan urusan yang amat penting dan menyampaikan surat darinya kepadamu, Nona," jawab Hong Bu. Bu-beng-cu segera berkata, "Nah, mari kita lihat siapa di antara kita yang lebih unggul!" Dia lalu mulai menyerang, dan dua orang itu lalu berkelahi dengan seru. Setelah bertanding selama limapuluh jurus, barulah tampak bahwa Hong Bu masih kalah kuat dan dia mulai mencurahkan kepandaiannya untuk bertahan dan melindungi dirinya.
Bu-beng-cu menjadi semakin kagum dan dia mulai merasa suka kepada pemuda itu. Dalam keadaan terdesak, pemuda itu tidak mau mencabut pedangnya. Hal ini saja menunjukkan kegagahannya yang tidak mau melawan orang bertangan kosong dengan pedangnya. Seorang pemuda yang gagah perkasa! Setelah Bu-beng-cu pergi, Hong Bu dipersilakan duduk di sebuah ruangan terbuka di samping rumah Siang Lan. Gadis itu sengaja menerima pemuda itu di ruangan terbuka sehingga tampak dari sekelilingnya karena ia merasa tidak pantas mengadakan pertemuan dengan seorang pemuda asing di tempat tertutup.
Keharuman bunga semerbak memenuhi ruangan itu. Begitu duduk berhadapan kembali, Siang Lan menghujani pemuda itu pertanyaan-pertanyaan tentang keadaan Lian Hong dan suaminya. Akhirnya, Hong Bu mendapat kesempatan untuk menyerahkan surat pamannya kepada Siang Lan. Gadis itu membuka surat dan membacanya. Kemudian ia meletakkan surat di atas meja, memandang kepada Hong Bu, dan berkata, "Chang Kongcu, Panglima Chang dalam suratnya minta bantuanku untuk ikut mencari pembunuh yang melakukan pembunuhan terhadap enam orang pejabat tinggi di kota raja. Dan dia menulis bahwa engkau dapat memberi penjelasan kepadaku tentang semua peristiwa yang terjadi di kota raja. Sebetulnya, peristiwa penting apakah yang terjadi sehingga Chang Goan-swe sampai minta bantuanku?"
Hong Bu lalu bercerita tentang pembunuhan-pembunuhan itu dengan jelas. "Pembunuhan terhadap enam orang pejabat tinggi itu merupakan peristiwa gawat sehingga menarik perhatian Sribaginda sendiri. Paman Panglima mendapat tugas untuk mencari dan menemukan pembunuh-pembunuh itu." Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan mengerutkan alisnya. "Hemm, kalau begitu pembunuhan-pembunuhan itu ditujukan kepada para pembantu setia Sribaginda Kaisar dan dilakukan oleh orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Aku tidak akan merasa heran kalau kemudian diketahui bahwa pembunuh-pembunuh itu adalah orang-orang Pek-lian-kauw. Perkumpulan itulah yang biasa memberontak dan mereka memiliki banyak orang pandai."