Halo!

Lembah Selaksa Bunga - Chapter 38

Memuat...
Lembah Selaksa Bunga

Chapter 38

“Paman Panglima juga berpendapat demikian, Nona. Akan tetapi, kalau mereka itu orang-orang Pek-lian-kauw, bagaimana mereka dapat bergerak bebas di kotaraja? Mereka tidak mungkin dapat bersembunyi di rumah-rumah penginapan karena semua sudah diperiksa dan digeledah.”

Tiba-tiba terdengar suara gaduh, lalu mereka berdua dikejutkan suara yang bergema nyaring, datang dari arah pintu perkampungan itu.

“Hwe-thian Mo-li! Keluarlah engkau untuk menerima pembalasan kami!”

Dengan gerakan ringan dan cepat sekali, Siang Lan melompat keluar, diikuti oleh Hong Bu. Mereka segera melihat dua orang kakek berpakaian seperti pendeta yang diiringi sepuluh orang anak buah mereka.

Hwe-thian Mo-li terkejut karena ia mengenal dua orang kakek itu dengan baik. Mereka adalah Hoat Hwa Cin-jin, tokoh Pek-lian-kauw, dan yang lain adalah Hwa Hwa Hoat-su yang merupakan datuk sakti dari Pek-lian-kauw. Tentu saja sepuluh orang di belakang mereka itu adalah para anggota Pek-lian-kauw. Melihat mereka, Hwe-thian Mo-li segera berseru kepada para wanita anggota Ban-hwa-pang yang sudah berlarian ke situ. “Kalian semua mundur dan jangan ikut campur!”

Ia melarang anak buahnya untuk ikut menghadapi dua orang tokoh Pek-lian-kauw dan anak buahnya karena maklum bahwa anak buahnya yang belum lama ia latih ilmu silat bukanlah tandingan orang-orang Pek-lian-kauw sehingga kalau mereka maju melawan, sama saja dengan bunuh diri!

“Siapa mereka, Nona?” bisik Hong Bu yang belum banyak pengalaman.

“Mereka adalah tokoh-tokoh Pek-lian-kauw,” jawab Siang Lan dan ia melangkah maju dengan tenang dan tabah menghampiri dua belas orang itu, diikuti Hong Bu yang terkejut dan waspada ketika mendengar bahwa mereka itu adalah orang-orang Pek-lian-kauw.

Kini dua orang muda itu sudah berhadapan dengan dua belas orang Pek-lian-kauw itu. Hwe-thian Mo-li segera menegur dengan suara nyaring.

“Kiranya Hwa Hwa Hoat-su dan Hoat Hwa Cin-jin! Hemm, kalian berdua para pemberontak Pek-lian-kauw, datang ke Ban-hwa-kok ini mau apa?”

“Iblis betina Hwe-thian Mo-li! Dosamu telah bertumpuk-tumpuk! Engkau telah membunuh Leng Kok Ho-siang yang menjadi utusan kami, juga engkau telah membunuh Cia Kun Tosu dan Cin Kok Tosu, para keponakan murid kami, bahkan engkau telah membunuh Siangkoan Leng, sahabat kami, dan merampas Lembah Selaksa Bunga! Dosamu terlalu besar, maka kami datang untuk menghukummu. Serahkan nyawamu untuk menebus dosa-dosamu!” kata Hwa Hwa Hoat-su dengan marah.

Hwe-thian Mo-li tersenyum mengejek. “Pendeta palsu! Kalian ini memakai pakaian pendeta dan menggunakan nama pendeta, semua itu hanya seperti serigala berbulu domba! Siapa tidak tahu bahwa Pek-lian-kauw adalah pemberontak dan penjahat yang berkedok sebagai pejuang serta menipu rakyat jelata?”

“Kalian ini memutarbalikkan fakta. Aku membunuh Leng Kok Ho-siang karena dia jahat dan curang, membunuh guruku Pat-jiu Kiam-ong. Dia juga menjadi utusan pemberontak Pek-lian-kauw. Dia sudah patut dihukum mati sampai seratus kali!

“Aku memang membunuh Cia Kun Tosu dan Cin Kok Tosu, orang-orang Pek-lian-kauw yang bejat akhlaknya itu. Mereka itu keponakan muridmu? Pantas saja! Mereka itu tukang memerkosa wanita dan sayang aku hanya bisa membunuh mereka satu kali! Juga si keparat Siangkoan Leng, dia sudah sepantasnya dibunuh! Dia itu sahabatmu, ya? Memang sudah sepatutnya, anjing bersahabat dengan serigala dan buaya!”

Hong Bu sendiri sampai terkejut mendengar ucapan Siang Lan yang demikian galak dan berani! Sungguh keberanian luar biasa, memaki-maki dua orang datuk Pek-lian-kauw seperti itu!

Dapat dibayangkan betapa panas dan marahnya hati dua orang datuk Pek-lian-kauw itu. Tak disangka mereka bahwa Hwe-thian Mo-li bukan hanya lihai ilmu silatnya, ternyata mulutnya lebih lihai lagi dalam berdebat sehingga mereka merasa tidak mampu menandingi ketajaman mulut yang pandai melontarkan kata-kata yang amat menghina dan menyakitkan hati itu.

“Perempuan iblis keparat!” Hwa Hwa Hoat-su melemparkan kebutannya ke atas, dan kebutan itu terbang meluncur ke arah Siang Lan, menyerang dengan dahsyatnya!

Namun, Siang Lan bergerak dengan tenang dan sinar pedangnya berkilat menangkis. Kebutan yang dikendalikan dengan kekuatan sihir itu mengelak, agaknya Hwa Hwa Hoat-su gentar mengadu kebutannya dengan pedang lawan yang berkilat.

Kemudian, pendeta ahli sihir itu sudah menerjang ke depan, membantu kebutannya dengan serangan pedang yang dilakukan dengan pengerahan tenaga sakti sepenuhnya sehingga pedang itu berubah menjadi sinar menyambar ke arah leher Siang Lan. Gadis ini cepat memutar pedangnya untuk menangkis, dan karena ia sudah mengetahui kelihaian pendeta ini, ia pun menangkis dengan pengerahan tenaga sakti sepenuhnya.

“Trangggg......!!” Bunga api yang besar berpijar menyilaukan mata dan Hwa Hwa Hoat-su terkejut bukan main.

Dia pernah bertanding melawan gadis ini dan kini dia mendapat kenyataan bahwa tenaga sakti gadis ini agaknya jauh lebih kuat dibandingkan sekitar satu atau dua tahun yang lalu. Kemudian, belum hilang kagetnya karena pedangnya terpental dan tangannya tergetar hebat, Siang Lan sudah membalas dengan serangan-serangan yang bertubi-tubi, hebat, dan dahsyat. Biarpun Hwa Hwa Hoat-su kini menangkap kebutannya dengan tangan kiri, lalu melawan dengan sepasang senjatanya, namun tetap saja dia terdesak oleh Siang Lan yang mengamuk bagaikan seekor naga betina! Akan tetapi, Hwa Hwa Hoat-su adalah datuk Pek-lian-kauw yang berilmu tinggi dan merupakan utusan dari Pek-lian-kauw pusat untuk memimpin gerakan Pek-lian-kauw yang diam-diam bersekutu dengan Pangeran Bouw Ji Kong di kotaraja. Maka, tidak mudah bagi Siang Lan untuk mengalahkannya dan kini keduanya saling menyerang dengan sengit dan mati-matian.

Melihat betapa Hwa Hwa Hoat-su belum dapat mendesak gadis itu, Hoat Hwa Cin-jin segera mencabut *siang-to* (sepasang golok) dan melompat hendak mengeroyok. Akan tetapi, tiba-tiba Chang Hong Bu melompat dan menghadapinya dengan pedang di tangan!

Hoat Hwa Cin-jin tadinya memandang rendah pemuda yang datang menyambut bersama Siang Lan. Dia mengira hanya Hwe-thian Mo-li saja yang merupakan lawan tangguh. Maka, melihat pemuda itu kini berani menghadapinya dengan pedang di tangan, dia membentak.

“Bocah tolol, apakah engkau sudah bosan hidup karena berani menghadang Hoat Hwa Cin-jin?” Bentakannya ini mengandung tenaga sihir untuk menciutkan nyali lawan sehingga terdengar menggelegar seperti auman seekor harimau. Namun, Hong Bu tersenyum.

“Hoat Hwa Cin-jin, engkaulah yang tidak akan selamat karena kejahatanmu!”

“Mampus kau!” bentak Hoat Hwa Cin-jin yang cepat menyerang dengan sepasang goloknya.

Hong Bu mengelebatkan pedangnya untuk menangkis, lalu membalas menyerang sehingga dua orang ini sudah berkelahi mati-matian, saling menyerang dengan hebat karena mereka mengeluarkan jurus-jurus maut yang amat berbahaya bagi lawan. Setelah lewat belasan jurus, Hoat Hwa Cin-jin merasa kecelik karena ternyata pemuda lawannya itu tangguh bukan main.

Hoat Hwa Cin-jin kini maklum bahwa dia dan rekannya menghadapi lawan-lawan yang tangguh dan agaknya akan sukar mengalahkan, apalagi membunuh mereka. Maka, dia lalu memberikan aba-aba kepada sepuluh orang anak buahnya.

Mendapat isyarat ini, sepuluh orang itu lalu mencabut golok mereka masing-masing dan mereka mulai maju mengeroyok. Lima orang mengeroyok Siang Lan dan lima orang lagi mengeroyok Hong Bu.

Setelah mereka mengeroyok, baru sadarlah Siang Lan dan Hong Bu bahwa sepuluh orang itu bukan anak buah Pek-lian-kauw biasa, melainkan para anggota Pek-lian-kauw yang sudah memiliki tingkat kepandaian cukup tinggi. Gerakan mereka cepat, tenaga mereka juga kuat, dan ilmu golok mereka lihai sekali.

Kini Siang Lan dan Hong Bu mulai terdesak. Siang Lan tidak berani menyuruh anak buahnya yang menonton dari jarak jauh untuk mengeroyok, karena dara perkasa ini maklum bahwa anak buahnya masih terlalu lemah untuk bertanding melawan orang-orang Pek-lian-kauw yang lihai itu.

Bantuan anak buahnya tidak ada gunanya baginya, bahkan akan mengakibatkan banyak korban di antara anak buahnya. Maka, tidak ada jalan lain baginya kecuali melakukan perlawanan dengan nekat.

Demikian pula Hong Bu. Biarpun terdesak, pemuda ini memiliki jurus-jurus pertahanan yang amat kokoh sehingga tidak mudah bagi para pengeroyok untuk melukai atau merobohkannya. Akan tetapi, tentu saja sekarang dia tidak ada kesempatan untuk membalas serangan mereka yang datang bertubi-tubi. Demikian juga dengan Siang Lan. Walaupun ia lebih kuat dan keadaannya tidak separah Hong Bu karena ia masih mampu membalas, namun tetap saja ia terdesak hebat.

Pada saat yang amat gawat bagi Siang Lan dan Hong Bu itu, tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan Bu-beng-cu sudah berada di situ. Tangannya memegang sebatang ranting kayu dan ia menggunakan ranting itu untuk mengamuk.

Mula-mula ia menerjang ke arah para pengeroyok Siang Lan, dan dalam waktu beberapa jurus saja ia telah membuat lima orang anak buah Pek-lian-kauw itu terpaksa melepaskan golok karena tangan mereka terluka oleh tusukan ranting yang ternyata keras seperti baja! Setelah membuat lima orang pengeroyok Siang Lan itu tidak mampu lagi mengeroyok, ia lalu menerjang ke arah para pengeroyok Hong Bu. Seperti juga tadi, rantingnya menyambar-nyambar dan lima orang itu berteriak kesakitan serta berlompatan menjauh!

Melihat kejadian ini, dua orang pendeta Pek-lian-kauw itu menjadi terkejut dan gentar, apalagi ketika mereka mengenali laki-laki yang membantu Hwe-thian Mo-li ini sebagai orang yang dulu juga pernah membantu Iblis Betina Terbang itu ketika mereka berdua menyerangnya. Laki-laki yang bernama Bu-beng-cu! Maka, kedua orang itu maklum bahwa kalau mereka melanjutkan perkelahian, mereka berdua tentu akan celaka.

Dua orang pendeta Pek-lian-kauw itu berseru nyaring, dan mereka membanting dua buah benda peledak. Terdengar dua kali ledakan keras, dan tampak asap hitam mengepul tebal memenuhi tempat itu.

Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan, Chang Hong Bu, dan Bu-beng-cu segera berlompatan menjauhi asap karena mereka maklum bahwa bukan tidak mungkin asap dari bahan peledak itu mengandung racun, karena Pek-lian-kauw memang terkenal pandai menggunakan alat peledak dengan asap beracun.

Setelah asap menghilang, dua belas orang penyerang itu sudah menghilang. Siang Lan hendak mengejar bersama Hong Bu, akan tetapi Bu-beng-cu mencegah mereka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment