Chapter 39
“Musuh yang sudah kalah dan melarikan diri tidak perlu dikejar.”
Siang Lan memandang Bu-beng-cu dengan sinar mata bersyukur. Betapa baiknya orang ini, pikirnya. Bukan hanya mau melatih ilmu silat kepadanya sehingga tingkatannya naik dengan cepat, hal ini sangat ia rasakan ketika melawan Hwa Hwa Hoat-su tadi.
Dahulu, satu setengah tahun yang lalu, ketika ia melawan kakek datuk Pek-lian-kauw itu, ia merasa kewalahan dan terdesak. Akan tetapi tadi ia sama sekali tidak merasa berat, walaupun juga tidak mudah mengalahkan kakek itu. Ia baru merasa repot ketika datang lima orang yang mengeroyoknya. Selain menggemblengnya dengan ilmu silat tinggi, Bu-beng-cu juga beberapa kali menolong dan menyelamatkannya dari bahaya.
“Paman, aku berterima kasih sekali atas pertolonganmu. Engkau selalu muncul pada saat yang tepat. Terima kasih, Paman!” Sinar mata gadis itu jelas membayangkan kekaguman dan rasa terima kasih yang besar.
Hong Bu juga sangat kagum kepada laki-laki itu. Ketika dia bertanding melawan Bu-beng-cu yang hendak mengujinya, dia juga sudah menduga bahwa orang ini memiliki ilmu silat yang lihai. Namun, dia tidak menyangka setelah benar-benar bertanding, tadi dia menyaksikan betapa hanya dengan sebatang ranting, Bu-beng-cu dapat membuat lima orang yang mengeroyoknya dan lima orang lagi yang mengeroyok Siang Lan mundur semua hanya dalam beberapa gebrakan saja! Padahal dia merasakan sendiri betapa lima orang itu juga cukup kuat dengan ilmu golok mereka yang lihai.
“Saya juga mengucapkan terima kasih, Paman Bu-beng-cu. Kalau tidak ada Paman yang datang menolong, mungkin saya sudah celaka di tangan para pengeroyok itu,” kata Hong Bu sambil memberi hormat.
“Ah, tidak perlu berterima kasih, ilmu pedangmu sendiri juga cukup lihai,” kata Bu-beng-cu sederhana. “Nah, sekarang aku mau turun dari sini untuk menyelesaikan urusanku sendiri.” Setelah berkata demikian, Bu-beng-cu membalikkan tubuhnya dan hendak melangkah pergi.
“Nanti dulu, Paman!” kata Siang Lan. “Sore ini aku ingin mengundangmu makan di sini. Mari kita makan bersama, Paman, untuk merayakan kemenangan kita menghadapi orang-orang Pek-lian-kauw tadi.”
Bu-beng-cu menggelengkan kepalanya. “Terima kasih, Nona. Biar lain kali saja. Sekarang aku ingin memeriksa keadaan di Lembah Selaksa Bunga ini karena aku khawatir kalau-kalau pihak Pek-lian-kauw masih penasaran dan lain waktu akan datang untuk membalas kekalahannya pada Ban-hwa-pang.”
“Apa yang hendak Paman lakukan?”
“Sebuah tempat yang menjadi pusat perkumpulan merupakan markas, asrama, atau juga benteng. Harus diperkuat, kalau perlu dengan perangkap dan jebakan agar tidak mudah diserbu orang luar. Aku akan merencanakan dan membuatkan sarana pertahanan itu, dan untuk itu aku harus membuat rencana serta gambarnya. Nah, aku pergi dulu, Hwe-thian Mo-li!” Setelah berkata demikian, Bu-beng-cu sudah berkelebat pergi.
Hong Bu memandang kagum, kemudian menghela napas dan berkata, “Bukan main! Hebat sekali Paman Bu-beng-cu itu. Dia seorang pendekar yang gagah perkasa, budiman, dan aneh.”
“Memang Paman Bu-beng-cu memiliki watak yang aneh, Kongcu.”
“Ah, sungguh tidak enak mendengar engkau menyebutku Kongcu, Nona. Setelah kita berkenalan dan menjadi sahabat, bahkan tadi telah bersama menghadapi musuh dan mungkin juga akan bersama menghadapi musuh bila membantu Paman Panglima di kota raja, haruskah engkau bersikap sungkan dan menyebutku Kongcu?”
“Engkau ini aneh dan mau menang sendiri!” Siang Lan menegur sambil tersenyum manis. “Engkau sendiri menyebut aku Siocia, mengapa aku tidak boleh menyebutmu Kongcu?”
“Baiklah, aku yang bersalah. Nah, kalau engkau tidak keberatan, aku akan menyebutmu Moi-moi. Bagaimana pendapatmu, Lan-moi?”
Siang Lan tersenyum. “Baik, dan aku akan menyebutmu Koko. Begitu kehendakmu, Bu-ko?”
Hong Bu tersenyum dan jantungnya berdebar. Sejak pertama dia sudah tertarik dan sangat kagum kepada Siang Lan. Kini dia semakin kagum dan timbul perasaan suka yang mendalam, yang membuat jantungnya berdebar. Belum pernah dia merasakan hal seperti ini.
Dalam usianya yang dua puluh lima tahun itu Hong Bu belum pernah bergaul dekat dengan wanita. Akan tetapi dia maklum bahwa kehadirannya di situ merupakan hal yang melanggar kesopanan karena Lembah Selaksa Bunga merupakan perkampungan wanita.
“Lan-moi, engkau baik sekali. Sekarang kukira sudah tiba saatnya bagiku untuk pulang ke kota raja. Akan tetapi aku memerlukan jawabanmu untuk kusampaikan kepada Paman Panglima.”
“Oh, ya... akan tetapi tunggu dulu, Bu-ko. Tadi aku mengajak Paman Bu-beng-cu makan, dia tidak mau. Barangkali engkau mau makan bersamaku sore ini? Pula, hari sudah sore, sebentar lagi malam tiba. Bagaimana kalau engkau bermalam di sini semalam, besok pagi-pagi baru turun bukit dan kembali ke kota raja? Tentang jawabanku kepada pamanmu, tentu saja aku suka membantunya dan aku pasti akan pergi ke sana mengunjungi adikku Ong Lian Hong.”
Hong Bu girang bukan main mendapat tawaran makan dan bermalam di situ. “Akan tetapi, Lan-moi... apakah aku tidak melanggar kesopanan kalau aku bermalam di Lembah Selaksa Bunga?”
Siang Lan tersenyum dan hatinya merasa senang. Pemuda ini selain tampan, gagah, dan berilmu silat tinggi, juga sopan. Jarang terdapat pemuda seperti ini.
“Aih, Bu-ko! Melanggar kesopanan atau tidak itu tergantung dari pikiran dan sikap seseorang. Bukankah begitu? Aku mengundangmu karena engkau tamuku, utusan Panglima Chang Ku Cing yang terhormat, karena hari hampir malam dan tidak semestinya engkau turun bukit dalam keadaan gelap. Siapa berani menganggap kita melanggar kesopanan?”
“Terima kasih, Lan-moi. Engkau sungguh bijaksana dan baik sekali.”
Tanpa ragu lagi Hong Bu lalu mandi, makan, dan bermalam di situ. Dia merasa senang karena para anggota Ban-hwa-pang juga terdiri dari para wanita yang bersikap gagah dan sopan. Dia tahu bahwa mereka belum memiliki ilmu silat yang tinggi karena belum lama Hwe-thian Mo-li memimpin mereka. Akan tetapi dia percaya bahwa perkumpulan Lembah Selaksa Bunga ini kelak akan menjadi perkumpulan yang besar.
Ketika dia diajak makan malam di ruang makan, muncul seorang gadis manis yang kulitnya putih mulus, bertubuh tinggi ramping dengan sepasang mata lebar. Wajahnya yang bulat dan manis itu seolah mengandung kesedihan yang tersembunyi.
“Bu-ko, mari kuperkenalkan. Ini adalah adik angkatku, namanya Kui Li Ai. Li Ai, ini adalah Kakak Chang Hong Bu, murid Siauw-lim-pai yang malam ini menjadi tamu kita.”
Li Ai memberi hormat dengan gaya yang lembut dan sopan. “Chang Taihiap,” katanya sopan dan lirih.
“Kui Siocia, saya senang mendapat kehormatan berkenalan denganmu,” kata Hong Bu yang merasa heran karena sikap gadis ini bukan seperti gadis gunung, melainkan penuh tata susila seperti gadis bangsawan.
“Aih, kalian tidak perlu bersungkan-sungkan,” kata Siang Lan. “Bu-ko, Li Ai ini adalah adik angkatku sendiri, sebut saja namanya. Dan Li Ai, tidak perlu menyebut Taihiap kepada Bu-ko, sebut saja Bu-ko seperti aku.”
“Siauw-moi, maafkan kelancanganku, aku hanya menaati usul Lan-moi,” kata Hong Bu.
Setelah mereka bertiga duduk, dua orang wanita anggota Ban-hwa-pang segera menghidangkan makanan. Mereka makan dan minum tanpa banyak bicara karena bagaimanapun juga, Hong Bu merasa sungkan juga makan minum bersama dua orang gadis yang demikian cantik. Baru sekarang dia mengalami hal seperti ini dan membuatnya menjadi canggung sekali.
Dia melihat di bawah sinar lampu betapa Kui Li Ai memang cantik manis dan lembut sekali. Akan tetapi tetap saja dia lebih kagum melihat Siang Lan yang lebih matang, juga penuh wibawa dan semangat. Dia merasa betapa dia jatuh cinta kepada Hwe-thian Mo-li!
Selesai makan, Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan mengajak Kui Li Ai yang sekarang telah menjadi adik angkatnya dan Chang Hong Bu yang menjadi tamu mereka untuk duduk bercakap-cakap di serambi depan. Bulan purnama tampak menjenguk melalui jendela, menambah semarak cahaya lampu gantung di serambi itu. Mereka bertiga duduk mengelilingi sebuah meja bundar yang besar.
“Ah, aku tadi lupa menceritakan keadaan kalian masing-masing. Sekarang aku teringat bahwa sesungguhnya kalian berdua bukanlah orang asing satu terhadap yang lain karena sama-sama berasal dari kota raja dan sama-sama menjadi keluarga perwira tinggi yang setia dan berjasa terhadap Kerajaan! Bu-ko, ketahuilah bahwa adikku Li Ai ini adalah putri dari mendiang Kui Ciang-kun, seorang perwira yang gagah perkasa dan setia, dan kalau tidak salah, dia dahulu merupakan tangan kanan atau orang kepercayaan dari Panglima Chang Ku Cing. Tentu engkau pernah mengenalnya.”
Chang Hong Bu mengingat-ingat dan menggelengkan kepalanya. Diam-diam dia berkata kepada dirinya sendiri bahwa tidak aneh kalau tadi dia melihat sikap gadis itu begitu anggun seperti sikap seorang gadis bangsawan. Kiranya putri seorang perwira tinggi!
“Maaf, aku tidak pernah mendapat kehormatan mengenal Kui Ciang-kun seperti yang kusebutkan tadi, Lan-moi. Ketahuilah bahwa sejak berusia sepuluh tahun aku telah meninggalkan kota raja. Oleh Paman, aku dikirim ke Siauw-lim-pai untuk mempelajari ilmu selama lima belas tahun. Kemudian baru beberapa minggu aku kembali ke kota raja dan langsung menerima tugas mengunjungimu ini. Akan tetapi aku merasa girang mendengar bahwa Adik Li Ai adalah putri seorang perwira tinggi di kota raja.”