Halo!

Lembah Selaksa Bunga - Chapter 40

Memuat...
Lembah Selaksa Bunga

Chapter 40

“Li Ai, ketahuilah bahwa Kakak Chang Hong Bu ini adalah keponakan dari Panglima Chang Ku Cing.”

Tiba-tiba muka gadis itu menjadi merah sekali dan hati Hong Bu terkejut bukan main. Ketika dia memandang, dia melihat betapa sepasang mata indah yang menatapnya itu mengeluarkan kilatan sinar berapi penuh kemarahan dan kebencian!

Li Ai bangkit berdiri dan berkata kepada Siang Lan, “Enci Lan, maaf, aku masuk kamar dulu, kepalaku agak pusing.” Tanpa menanti jawaban dan sama sekali tidak menoleh kepada Hong Bu, Li Ai lalu meninggalkan serambi itu dengan cepat.

Siang Lan menghela napas panjang. Hong Bu merasakan sesuatu yang tidak enak, maka dia segera bertanya, “Lan-moi, mungkin keliru penglihatanku, akan tetapi aku melihat agaknya Adik Li Ai berubah sikap dan menjadi marah ketika mendengar bahwa aku adalah keponakan Paman Panglima Chang. Benarkah dugaanku itu?”

Siang Lan mengangguk-anggukkan kepalanya dan menghela napas lagi.

“Kasihan adikku itu, aku tidak dapat menyalahkannya kalau ia bersikap seperti itu, walaupun tadinya aku mengira ia sudah mulai melupakannya. Ia agaknya masih menganggap bahwa Panglima Chang yang menyebabkan kematian ayahnya dan agaknya sukar baginya untuk dapat melupakan hal itu. Maka, mendengar bahwa engkau keponakan Panglima Chang, ia merasa tidak enak dan pergi.”

Hong Bu terkejut sekali.

“Paman Panglima menjadi penyebab kematian Jenderal Kui, ayah Adik Li Ai? Bagaimana ini? Bukankah engkau ceritakan tadi bahwa ayahnya adalah pembantu setia dari Paman Panglima?”

“Riwayat Li Ai memang menyedihkan sekali, Bu-ko. Ibu kandungnya telah meninggal dunia dan ia hidup bersama ayahnya, Perwira Kui Seng, dan ibu tirinya yang galak dan tidak suka kepadanya. Jenderal Kui yang menjadi pembantu setia Panglima Chang, setahun lebih yang lalu telah berjasa membasmi gerombolan Pek Lian Kauw sehingga tujuh orang tokoh Pek Lian Kauw dapat ditawan. Empat orang di antara mereka telah dihukum mati, akan tetapi tiga orang lainnya masih ditahan di penjara. Pada suatu hari, Li Ai diculik orang-orang Pek Lian Kauw dan Jenderal Kui dipaksa untuk membebaskan tiga orang tokoh Pek Lian Kauw itu. Kalau dia menolak, Li Ai akan dibunuh.”

“Hemm, jahat orang-orang Pek Lian Kauw itu!” kata Hong Bu gemas.

“Karena sayang kepada putri tunggalnya, Jenderal Kui terpaksa membebaskan tiga orang tokoh Pek Lian Kauw itu. Hal ini diketahui Panglima Chang yang menjadi marah dan menuduh Jenderal Kui berkhianat. Dengan malu dan sedih, Jenderal Kui bunuh diri tanpa dapat dicegah lagi.”

“Ah...!” Hong Bu terkejut sekali.

“Sebelum mati, Jenderal Kui minta tolong padaku agar aku sudi menolong Li Ai. Aku lalu pergi ke sarang Pek Lian Kauw di Liaoning dan di dalam perjalanan aku melihat Li Ai bersama dua orang Pek Lian Kauw. Aku segera menyerang dan dengan bantuan Paman Bu Beng Cu, aku berhasil membunuh mereka berdua. Aku ajak Li Ai pulang dan tentu saja ia terkejut dan sedih melihat ayahnya telah meninggal dunia. Ibu tirinya dengan galak menyalahkannya sehingga terpaksa aku menghajarnya. Li Ai lalu minta kepadaku untuk ikut ke sini karena ia tidak mau tinggal dengan ibu tirinya yang galak dan membencinya. Demikianlah, Bu-ko, maka maafkan ia kalau tadi bersikap marah mendengar bahwa engkau keponakan Panglima Chang yang ia anggap penyebab kematian ayahnya.”

Tentu saja Siang Lan tidak mau menceritakan bahwa Li Ai diperkosa oleh tokoh-tokoh Pek Lian Kauw yang dibunuhnya itu. Rahasia Li Ai tidak akan ia ceritakan kepada siapa pun juga.

Hong Bu mengerutkan alisnya.

“Aduh, kasihan sekali Adik Li Ai! Pantas ia tadi memandangku seperti orang marah dan penuh kebencian! Akan tetapi engkau, ah, Lan-moi, engkau sungguh bijaksana dan mulia. Engkau telah menyelamatkan Li Ai dan menampungnya di sini, bahkan menjadikannya adik angkatmu. Selain itu, engkau tidak ikut marah kepada Paman Panglima Chang, sehingga engkau masih mau membantunya untuk mencari para pembunuh itu. Ah, di dunia ini agaknya tidak akan mudah menemukan seorang gadis seperti engkau, Lan-moi.”

Siang Lan tersenyum. Bagaimanapun kerasnya hati Siang Lan, ia adalah seorang gadis, seorang wanita. Mendengar pujian dari seorang pemuda yang tampan dan gagah, seorang pendekar budiman seperti Hong Bu, jantungnya berdebar dan perasaannya senang sekali. Ia pun menjadi malu sehingga kedua pipinya yang halus mulus itu menjadi kemerahan.

“Ah, Bu-ko, engkau membuat aku malu. Jangan memuji terlalu berlebihan, Bu-ko. Aku hanya seorang gadis kangouw, sebatang kara di dunia ini, seorang gadis kasar dan liar!” Ia menghela napas panjang. “Aku bahkan dijuluki Iblis Betina Terbang!”

“Hemm, mungkin yang memberi julukan itu adalah para penjahat yang pernah kautentang dan kaubasmi, Lan-moi. Aku tidak memujimu secara berlebihan. Engkau seorang gadis yang masih muda, engkau cantik jelita, engkau memiliki ilmu yang tinggi dan lihai sekali, dan di balik sikapmu yang keras itu engkau memiliki hati yang mulia. Engkau bijaksana dan aku... aku amat kagum padamu, Lan-moi.”

Ketika mengucapkan kata-kata terakhir ini, suara pemuda itu agak gemetar dan pandang matanya tampak oleh Siang Lan demikian mesra sehingga seketika itu juga gadis itu tahu benar bahwa Chang Hong Bu jatuh cinta padanya!

Pujian pemuda itu benar-benar meresap dalam hati sanubari gadis itu, terdengar begitu merdu bagaikan nyanyian dari surga. Belum pernah selama hidupnya ia mendengar pujian seorang laki-laki seindah itu. Terdengar amat merdu dan indah karena ia tahu bahwa pujian itu diucapkan seorang pemuda yang baik budi, pujian yang keluar dari hati yang tulus, bukan seperti banyak pujian yang didengarnya dari mulut para pria yang mengucapkannya terdorong nafsu rendah.

Pemuda ini mengucapkan pujian yang keluar dari hatinya, bukan sekadar merayu, melainkan muncul dari perasaan hati yang jatuh cinta! Betapa indahnya! Akan tetapi, Siang Lan tidak dapat menipu perasaan hatinya sendiri. Ia memang merasa senang sekali, merasa bangga mendengar pujian itu. Ia tidak dapat menyangkal bahwa ia merasa kagum kepada pemuda yang tampan, gagah, serta baik budi ini, akan tetapi ia tidak merasakan cinta kasih seperti yang pernah ia rasakan terhadap Sim Tek Kun yang kini menjadi suami Ong Lian Hong!

Tentu saja sudah lama ia membuang perasaan ini dari lubuk hatinya dan menggantikan rasa cinta dari seorang wanita terhadap pria itu dengan rasa cinta persahabatan, atau lebih dari itu, cinta persaudaraan karena Sim Tek Kun kini telah menjadi suami adik angkatnya, menjadi adik iparnya! Terhadap pemuda yang duduk di depannya ini, Chang Hong Bu, ia hanya merasa kagum dan suka untuk menjadi sahabat baik, bukan sebagai kekasih atau calon suami.

Maka untuk menghilangkan suasana amat romantis yang mendebarkan hati setelah pemuda itu memuji-mujinya, Siang Lan tertawa lepas dengan gembira.

“He-he-he, Bu-ko! Sudahlah, aku bisa mabuk oleh pujian dan kepalaku menjadi besar sekali nanti! Sekarang, mari kita bicara tentang surat Paman Chang kepadaku. Kukira tidak perlu aku memberi balasan surat karena yang menjadi utusan adalah engkau, keponakan Panglima Chang sendiri. Besok pagi, kalau engkau pulang ke kota raja, tolong sampaikan jawabanku kepadanya bahwa aku siap untuk membantunya. Setelah aku menyelesaikan urusan Ban Hwa Pang di sini, aku pasti akan pergi ke kota raja, menghadap Paman Panglima Chang dan sekalian mengunjungi adikku Lian Hong.”

Malam itu, Hong Bu tidak dapat tidur, gelisah di dalam kamar yang disediakan untuknya. Akan tetapi sebaliknya, Siang Lan dapat tidur nyenyak. Di atas pembaringan lain di kamar Siang Lan, Li Ai juga tidak dapat pulas.

Ia masih merasa penasaran dan sakit hati, teringat akan kematian ayahnya yang disebabkan oleh Panglima Chang Ku Cing yang menuduhnya sebagai pengkhianat. Biarpun sebelum tidur tadi Siang Lan telah menghiburnya dan mengatakan bahwa Panglima Chang hanya bertindak menurut hukum militer, dan panglima itu merasa menyesal bahwa Jenderal Kui bunuh diri, namun hati Li Ai masih tetap tidak tenang dan ia gelisah di atas pembaringannya.

Pada keesokan harinya, setelah dijamu makan pagi, Hong Bu meninggalkan Ban Hwa Pang, dan Siang Lan lalu menemui Bu Beng Cu di tempat tinggal sementara pria itu untuk berlatih silat seperti biasa. Selain berlatih silat, ia juga memperbincangkan dan merencanakan pembuatan perangkap dan jebakan di Lembah Selaksa Bunga untuk menjaga keselamatan Ban Hwa Pang dari serbuan musuh.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment