Chapter 41
Karena pembuatan jebakan itu harus dirahasiakan dari orang luar, maka pembangunannya dilakukan sepenuhnya oleh para wanita anggota Ban-hwa-pang, dipimpin oleh Siang Lan dan Li Ai. Bu-beng-cu sendiri tidak pernah muncul, dan kalaupun dia datang memeriksa, hal itu dilakukan pada malam hari atau sewaktu para anggota Ban-hwa-pang sudah kembali ke perkampungan. Dia memang tidak ingin banyak terlihat di Lembah Selaksa Bunga.
Li Ai yang cerdik, dapat mengatur pembangunan itu dari gambar yang dibuat oleh Bu-beng-cu. Alat-alatnya dibeli dari kota yang berada di kaki pegunungan Lu-liang-san. Beberapa orang anggota Ban-hwa-pang sengaja belajar membakar baja, menempa dan membentuknya sesuai dengan yang digambar Bu-beng-cu untuk dipasang dan diatur sebagai perangkap dan jebakan.
Hampir sebulan kemudian, setelah pembangunan taman yang penuh jebakan itu berjalan lancar, Siang Lan lalu menyerahkan pimpinan pekerjaan itu kepada Kui Li Ai dan ia minta kepada Bu-beng-cu agar ikut mengawasinya secara diam-diam. Setelah semuanya beres diatur, ia pun meninggalkan Lembah Selaksa Bunga dan berangkat turun gunung menuju ke kota raja.
Beberapa hari kemudian, pada suatu hari menjelang tengah hari, Siang Lan berjalan seorang diri dalam sebuah hutan lebat. Jalan umum yang memasuki hutan itu kasar berbatu-batu dan di situ amat sepi. Siang Lan berjalan biasa, wajahnya cerah karena ia gembira dan bersemangat membayangkan betapa ia akan bertemu dengan Ong Lian Hong dan Sim Tek Kun.
Ia dapat membayangkan betapa akan gembiranya Lian Hong kalau bertemu dengannya. Ia pun tidak akan merasa canggung bertemu Tek Kun karena bagaimanapun juga, ia belum pernah menyatakan cintanya kepada Tek Kun. Perasaan itu hanya terdapat di lubuk hatinya saja dan kini sudah hilang oleh kesadaran bahwa pemuda itu telah menjadi suami Lian Hong dan betapa kedua orang itu selain saling mengasihi juga bahkan sudah bertunangan sejak dulu.
Karena melangkah dengan pikiran melayang-layang, Siang Lan kurang waspada sehingga ia tidak tahu bahwa sejak tadi, sedikitnya tiga puluh pasang mata mengamatinya. Mengamati dengan kagum karena mata laki-laki mana yang tidak akan kagum melihat gadis yang demikian cantik jelita berjalan seorang diri di dalam hutan lebat itu?
Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan ketika itu berusia sekitar dua puluh dua tahun dengan tubuh seorang gadis yang sudah mulai matang, tingginya sedang, ramping dan denok dengan lekuk-lekuk yang sempurna menggairahkan hati pria. Rambutnya yang hitam panjang dan berikal mayang itu digelung ke atas, dihias seekor kupu-kupu dari emas permata.
Di dahi dan pelipisnya bergantungan anak rambut yang halus melingkar menambah kemanisan wajahnya yang jelita. Sepasang matanya yang indah itu jeli, dengan sinar yang terkadang mencorong penuh wibawa. Hidungnya mancung dan mulutnya memiliki bibir yang bentuknya menggairahkan. Di punggungnya tergantung sebatang pedang, yaitu Liu-kong-kiam (Pedang Kilat).
Tiba-tiba Siang Lan sadar dari lamunannya dan cepat ia berhenti melangkah dan seluruh urat sarafnya menegang penuh kewaspadaan karena ia mendengar suara gerakan banyak orang.
“Siapa di sana? Keluarlah kalian, tidak perlu mengintai seperti pengecut-pengecut!” bentaknya.
Terdengar suara tawa dan dari empat penjuru bermunculan sekitar tiga puluh orang, dipimpin oleh dua orang yang membuat Siang Lan terkejut akan tetapi juga marah sekali. Mereka adalah Hwa Hwa Hoat-su, datuk Pek-lian-kauw dan Hoat Hwa Cin-jin, tokoh besar cabang Pek-lian-kauw di Liauw-ning, musuh-musuh besarnya yang sebulan lalu menyerbu Lembah Selaksa Bunga dan dapat ia usir bersama Chang Hong Bu, dibantu oleh Bu-beng-cu!
“Huh, kalian jahanam Pek-lian-kauw, setan-setan berjubah pendeta! Manusia-manusia pengecut, setelah kami kalahkan, sekarang hendak mengeroyokku dengan banyak orang! Jangan dikira aku, Hwe-thian Mo-li merasa takut!”
Setelah berkata demikian, dara sakti ini mencabut pedangnya dan tampaklah kilat pedang itu menyilaukan mata. Tiga puluh orang anggota Pek-lian-kauw itu gentar juga melihat ini karena mereka sudah mendengar betapa sakti dan ganasnya Hwe-thian Mo-li!
Akan tetapi kembali Hwa Hwa Hoat-su tertawa dan suara tawanya sekali ini terdengar aneh. Kemudian ternyata bahwa tawa ini merupakan isyarat kepada para anggota Pek-lian-kauw karena mereka segera bergerak mengepung Siang Lan dan menumpuk kayu bakar lalu membakar tumpukan kayu itu di delapan penjuru! Tiga puluh orang itu lalu berdoa, merupakan nyanyian yang aneh dan suara mereka bergemuruh, mereka melangkah dan mengitari Siang Lan sambil membawa sebatang obor menyala.
Hwa Hwa Hoat-su berdiri dengan rambutnya yang panjang putih itu terurai. Dia mencabut pedangnya dan menudingkan pedang itu ke atas lalu membaca mantra. Tiga puluh orang yang kini berlari mengelilingi Siang Lan itu ketika tiba dekat Hwa Hwa Hoat-su, menyentuh ujung pedang dengan obor mereka. Tak lama kemudian ujung pedang itu pun terbakar dan menyala!
Kemudian datuk Pek-lian-kauw itu melontarkan pedangnya yang menyala itu ke atas dan pedang itu meluncur dan menyerang ke arah Siang Lan seperti hidup! Bukan itu saja, kini api dari obor-obor itu seolah mengikuti pedang, merupakan bola-bola api yang semua menyerang ke arah gadis itu!
Siang Lan terkejut dan maklum bahwa kakek itu menggunakan ilmu sihir yang agaknya telah dipersiapkan lebih dulu. Ia tidak menjadi gentar. Tubuhnya berkelebatan dan sinar kilat pedangnya bergulung-gulung menangkis serangan pedang terbang, sedangkan tangan kirinya dengan tenaga sakti mendorong ke arah bola-bola api yang menyambar-nyambar ke arah tubuhnya.
Akan tetapi Hoat Hwa Cin-jin kini maju mengeroyoknya dengan sepasang goloknya yang lihai. Agaknya gerakannya juga sudah diatur karena tokoh Pek-lian-kauw dari Liauw-ning ini tidak menggunakan goloknya untuk menyerang, melainkan sepasang goloknya berusaha menahan pedang Siang Lan.
Akan tetapi kini Hwa Hwa Hoat-su juga melompat ke depan dan kebutannya menyambar-nyambar melakukan totokan-totokan yang amat cepat. Betapa pun lihainya Siang Lan yang telah menerima gemblengan Bu-beng-cu, namun menghadapi sekian banyak pengeroyok, ia tidak tahan juga. Akhirnya ujung kebutan di tangan Hwa Hwa Hoat-su yang dapat menjadi lemas atau kaku dengan kekuatan tenaga saktinya itu dapat menotok jalan darahnya di tengkuk dan tubuh gadis itu terkulai roboh dan pingsan!
Hoat Hwa Cin-jin segera mengambil Liu-kong-kiam berikut sarungnya dan menyelipkan pedang itu di pinggangnya sambil tertawa senang.
Kemudian dia membopong tubuh Siang Lan dan hendak membawanya pergi.
“Cin-jin, hati-hatilah. Gadis itu lihai sekali, jangan sampai ia sadar lalu membunuhmu. Lebih cepat ia dibunuh lebih baik agar tidak menjadi penghalang kita di kemudian hari,” kata Hwa Hwa Hoat-su.
“Ha-ha-ha, Hoat-su, jangan khawatir! Aku hanya merasa sayang kalau ia dibunuh begitu saja, terlalu enak baginya dan tidak enak untukku. Jangan khawatir, besok pagi-pagi ia sudah tinggal nama saja, akan kupenggal lehernya dan kepalanya kita pergunakan untuk upacara sembahyang saudara-saudara kita yang terbunuh oleh Hwe-thian Mo-li ini!”
Setelah berkata demikian, Hoat Hwa Cin-jin membawa lari gadis dalam bopongannya itu, memasuki hutan lebat.
Air yang dingin menyiram muka dan kepala Siang Lan, membuat gadis itu siuman dari pingsannya. Ia gelagapan dan menggoyang kepala mengusir air yang menutupi kedua matanya. Ia tidak mampu menggerakkan kaki tangannya dan ia terkejut bukan main melihat dirinya berada dalam sebuah pondok, rebah telentang di atas tanah bertilam rumput kering dengan kaki dan tangan terpentang dan terikat pada tiang-tiang besi yang kokoh.
Ia berusaha meronta lepas tali-tali itu, namun tenaganya tidak dapat terkumpul sepenuhnya. Tahulah ia dengan kaget bahwa dirinya telah ditotok untuk melemahkan tenaganya.
Ia hanya mampu menggunakan tenaga otot saja dan tidak mampu mengerahkan sin-kang. Yang membuat ia menjadi pucat adalah ketika ia melihat betapa pakaian luarnya telah ditanggalkan dari tubuhnya dan pakaian itu bertumpuk di sudut ruangan pondok itu.
Jantungnya mulai berdebar tegang dan ketakutan! Hwe-thian Mo-li tidak pernah gentar menghadapi kematian sekalipun, akan tetapi melihat keadaan dirinya, setengah telanjang dan terikat tak berdaya, membuat ia membayangkan malapetaka yang lebih mengerikan daripada maut!
Ia pernah diperkosa Thian-te Mo-ong. Peristiwa itu saja sudah membuat ia hampir membunuh diri, sudah membuat hancur makna hidup ini baginya. Bagaimana mungkin ia dapat mengalami malapetaka itu untuk kedua kalinya?
“Ha-ha-ha, engkau sudah bangun, Hwe-thian Mo-li?” terdengar suara dari luar dan masuklah Hoat Hwa Cin-jin. Kakek tinggi besar muka hitam ini tampak mengerikan sekali bagi Siang Lan, terutama karena sepasang matanya itu memandang kepadanya penuh nafsu, seolah hendak menelannya bulat-bulat dan mulutnya yang lebar menyeringai penuh ejekan.
“Keparat Hoat Hwa Cin-jin, manusia licik, curang! Kalau engkau memang laki-laki, mari kita bertanding sampai seorang dari kita mampus!”
“He-he-he, sebentar lagi aku akan membuktikan bahwa aku memang laki-laki sejati, Mo-li. Setelah engkau melayani aku bersenang-senang sampai sepuasku dan aku menjadi bosan, barulah engkau akan kubunuh.”
Siang Lan bergidik. Apa yang dikhawatirkannya ternyata benar. Pendeta palsu ini hendak berbuat keji kepadanya, hendak memperkosanya! Ia terbelalak, matanya seperti mata kelinci menghadapi auman harimau yang hendak menerkamnya.
“Bunuh saja aku!” teriaknya.
“Ha-ha-ha, sayang engkau begini cantik, begini mulus dibunuh begitu saja. Engkau harus melayani aku dulu heh-heh-heh!” Hoat Hwa Cin-jin berjongkok dekat Siang Lan dan kedua tangannya mulai meraba-raba.
“Bunuh aku! Penggal leherku, cincang tubuhku, akan tetapi jangan memperkosaku! Kumohon, jangan perkosa! Bunuhlah aku sekarang juga!” Hwe-thian Mo-li menjerit-jerit dan meronta-ronta, memutar kepala ke kanan kiri untuk menghindar ketika muka yang besar hitam menyeramkan itu berusaha menciumnya. Hoat Hwa Cin-jin membelalakkan mata mendengar jeritan ini dan dia mengangkat mukanya yang tidak berhasil mencium.
“Ha-ha! Inikah Si Iblis Betina Terbang? Ini? Perempuan lemah yang menjerit-jerit ketakutan? Inikah Hwe-thian Mo-li yang biasanya membunuh orang tanpa berkedip mata? Yang membunuhi banyak anggota perkumpulan kami?”
Dengan napas terengah dan suara gemetar Siang Lan berkata:
“Hoat Hwa Cin-jin, bunuhlah aku! Kumohon padamu, bunuhlah aku, jangan hina aku dengan perkosaan!” Dan Siang Lan mencucurkan air mata!
Kalau saja ia mampu bergerak, tentu ia akan melawan mati-matian, atau kalau tidak dapat melawan, ia akan dapat membunuh diri. Akan tetapi ia tidak berdaya, kaki tangannya terikat kuat.