Halo!

Lembah Selaksa Bunga - Chapter 42

Memuat...
Lembah Selaksa Bunga

Chapter 42

Ia lalu teringat, masih ada satu cara membunuh diri biarpun kini kaki tangannya terikat. Ia dapat menggigit lidahnya sendiri sampai putus dan ini pun dapat mendatangkan kematian. Ia akan membunuh diri dengan menggigit putus lidahnya sebelum dirinya dihina dan diperkosa.

Hoat Hwa Cin-jin pada saat itu sedang dikuasai nafsu binatang yang berkobar-kobar, akan tetapi dia tetap saja tertegun karena herannya melihat wanita yang menggegerkan dunia kang-ouw ini menangis.

"Hwe-thian Mo-li menangis? Ha-ha-ha, alangkah baiknya kalau semua orang dapat menyaksikan ini. Ha-ha-ha!"

"Brakkkkk!!" Tiba-tiba pondok yang tidak besar itu jebol dan roboh, terlempar seperti diterjang badai. Hoat Hwa Cin-jin terkejut sekali dan dia cepat melompat untuk menghindarkan dirinya ikut diterjang kekuatan yang dahsyat itu. Bayangan orang yang cepat sekali gerakannya melompat dekat Siang Lan yang masih rebah telentang sehingga ia tidak sampai diterjang kekuatan dahsyat itu. Bayangan itu ternyata adalah Bu-beng-cu, akan tetapi sebelum dia dapat melepaskan ikatan kaki tangan Siang Lan, Hoat Hwa Cin-jin yang menjadi marah sekali telah menerjangnya dengan hebat.

Saking marahnya karena niatnya membalas dendam kepada Siang Lan yang sudah hampir terlaksana itu gagal, dia tidak ingat lagi bahwa Bu-beng-cu yang pernah dilawannya memiliki ilmu kepandaian tinggi, jauh lebih tangguh daripada Hwe-thian Mo-li sendiri. Kemarahan membuat dia menjadi nekat dan kini dia menyerang dengan sepasang goloknya.

"Manusia jahanam!" Bu-beng-cu membentak dan cepat mengelak dari sambaran sepasang golok tokoh Pek-lian-kauw itu. Bu-beng-cu juga marah sekali dan dia berkelebatan di antara dua gulungan sinar golok itu. Kemudian, dengan penyaluran tenaga sakti yang amat kuat dia membalas.

"Wuuuttt desss!!" Tubuh Hoat Hwa Cin-jin seperti disambar petir dan dia terlempar sampai tiga tombak lebih, jatuh terbanting dan pingsan. Hantaman tenaga yang amat dahsyat itu telah mengguncang isi dadanya sehingga dia terluka dalam yang cukup parah.

Bu-beng-cu tidak peduli lagi kepada lawannya yang sudah roboh dan pingsan. Dia cepat melompat dekat Siang Lan, merenggut ikatan kedua kaki tangan gadis itu lalu membebaskan totokan yang membuat Siang Lan tidak mampu mengerahkan tenaga sin-kangnya.

Sementara itu, ketika Bu-beng-cu melepaskan ikatan kaki tangannya, Siang Lan yang tadinya sudah bercucuran air mata, kini bagaikan air dibendung dan pecah bendungannya. Tadinya, kengerian dan ketakutan membuat ia menangis dan kini, saking lega, gembira yang amat sangat, dia menangis, mengguguk dan segera merangkul leher Bu-beng-cu.

Bu-beng-cu memejamkan kedua matanya. Laki-laki yang merasa amat berdosa kepada Siang Lan ini, yang juga merasakan iba yang mendalam, tanpa disadarinya sendiri, telah jatuh cinta kepada Siang Lan. Dia siap melakukan apa saja, kalau perlu bahkan berkorban nyawa, untuk membahagiakan gadis ini.

Biarpun usianya sudah empatpuluh dua tahun, sejak muda Bu-beng-cu atau Sie Bun Liong ini tekun mempelajari ilmu dan biasa hidup di puncak-puncak gunung yang sunyi. Belum pernah dia bergaul dekat dengan wanita, belum pernah bersentuhan, apalagi berpelukan seperti sekarang ini. Ketika dia menggauli atau memperkosa Siang Lan, hal itu dilakukan dalam keadaan terbius, hampir tidak menyadari apa yang dia lakukan. Sekarang Siang Lan merangkulnya sambil menangis. Dia dapat merasakan air mata gadis itu menembus bajunya, membasahi kulit dadanya dan terasa seolah menembus kulit dan menyiram hatinya. Dia merasakan kelunakan tubuh Siang Lan yang hangat ketika gadis itu merangkulnya dengan tubuh bergoyang-goyang karena isaknya. Dia dapat mencium keharuman yang khas dari tubuh yang mendekapnya itu.

Kehangatan tubuh yang hanya terbungkus pakaian dalam yang tipis itu menjalar, membuat dia merasakan kehangatan yang mesra. Tanpa disadarinya, kedua lengannya yang kokoh kuat itu merangkul dan dia menekan kepala yang rapat dengan dadanya itu, seolah ingin membenamkan dan memasukkan kepala gadis itu ke dalam dadanya.

Siang Lan merasa demikian lega dan bahagia setelah terbebas dari rasa ngeri dan takut yang hebat. Ia bahkan merasa seolah Bu-beng-cu memberi kehidupan baru padanya karena tadinya ia sudah yakin bahwa ia pasti akan mati. Ia tadinya sudah mengambil keputusan akan menggigit putus lidahnya sendiri sebelum Hoat Hwa Cin-jin dapat memperkosanya.

Kini ia tiba-tiba terbebas dan hidup. Ia teringat betapa besar budi kebaikan yang telah dilakukan Bu-beng-cu kepadanya. Laki-laki itu bukan hanya mencegah ia membunuh diri, juga telah bersusah payah melatih ilmu silat tinggi dengan sungguh-sungguh kepadanya dan entah sudah berapa kali Bu-beng-cu menyelamatkannya dari bahaya maut.

Laki-laki ini selalu muncul apabila ia berada dalam kesulitan dan ancaman bahaya. Kini, ketika ia merangkul dan merasakan betapa dirinya didekap, ia merasakan kehangatan dan merasa dalam keadaan demikian ia seperti terayun dan penuh kedamaian dan ketenangannya. Ah, betapa nikmat dan senangnya.

Dan tiba-tiba ia merasa bahwa Bu-beng-cu adalah satu-satunya pria di dunia ini yang mempedulikannya, bahkan menjaga dan menyayangnya. Menyayangnya. Mencintanya.

Baru sekarang ia menyadari hal itu. Bu-beng-cu sungguh mencintanya, cinta seorang pria terhadap wanita, cinta kasih yang demikian murni dan suci karena belum pernah sedikit pun Bu-beng-cu memperlihatkan keinginannya untuk bertindak tidak sopan kepadanya.

Dan ia merasa begitu aman dalam dekapannya. Baru sekarang ia merasakan bahwa biarpun Bu-beng-cu tidak pernah memperlihatkan sikap mencintanya sebagai seorang pria, namun kini sentuhan-sentuhan jari pria itu, dekapannya yang demikian mesra, terasa hangat oleh api cinta yang hanya ia yang dapat merasakannya.

"Paman Bu-beng-cu......" Suaranya seperti merintih namun penuh kemesraan dan kepasrahan menyelingi isak tangisnya.

"...... Siang Lan......" Suara ini lirih sekali, menggetar penuh perasaan seperti bisikan yang keluar dari hati laki-laki itu.

Siang Lan tidak merasa heran kalau Bu-beng-cu mengerti namanya karena mungkin laki-laki yang berilmu tinggi itu mendengar ketika Li Ai atau Hong Bu menyebut namanya. Akan tetapi yang membuat ia merasa heran adalah bahwa belum pernah Bu-beng-cu menyebutkan namanya, biasanya ia menyebut Nona atau Hwe-thian Mo-li.

Ia merasa betapa sebutan namanya dengan suara seperti merintih itu seolah menggambarkan dengan jelas cinta kasih yang terkandung di dalamnya. Ia merasa terharu dan juga berbahagia dan pada saat itu ia seolah seperti seekor burung yang terbang berkeliaran tanpa tujuan kini hinggap di atas sebuah ranting yang kokoh dan yang melindunginya dari segala ancaman dan kesengsaraan hidup. Ia merasa amat senang dan ingin tinggal dalam dekapan laki-laki itu untuk selamanya.

"Paman " ia berbisik penuh kemesraan.

Ketika ia mendengar suara seperti terisak tertahan, Siang Lan membuka matanya yang basah dan ia melihat betapa Bu-beng-cu menangis. Dia menahan tangisnya, akan tetapi tetap saja ada isak meluncur keluar dari mulutnya bersama beberapa tetes air mata yang melompat turun ke atas kedua pipinya.

Akan tetapi keheranan dan keharuan hati Siang Lan itu segera terganti rasa kaget. Siang Lan mendorong tubuh Bu-beng-cu sehingga terpental ke belakang dan pada saat itu, sepasang golok yang menyambar. Tadinya sepasang golok itu menyambar ke arah kepala Bu-beng-cu yang agaknya seperti kehilangan kewaspadaannya sehingga kalau saja dia tidak didorong Siang Lan, agaknya dia akan menjadi korban bacokan yang dahsyat itu. Kiranya Hoat Hwa Cin-jin yang tadinya terpukul pingsan telah siuman. Ketika dia melihat betapa Bu-beng-cu berangkulan dengan Hwe-thian Mo-li dan keduanya menangis, dia melihat kesempatan baik sekali untuk melampiaskan dendam dan kebenciannya. Berindap-indap dia menghampiri mereka dengan sepasang golok siap di tangannya.

Dia merasa gentar terhadap Bu-beng-cu, maka dia menghampiri mereka dari arah belakang Bu-beng-cu. Setelah jaraknya tidak jauh lagi, dia segera meloncat dan mengayun sepasang goloknya membacok kepala Bu-beng-cu.

Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan Bu-beng-cu itu, kebetulan sekali Siang Lan membuka mata untuk memandang wajah Bu-beng-cu sehingga ia melihat datangnya serangan dan cepat ia mendorong dada Bu-beng-cu sehingga terpental dan terhindar dari serangan maut itu.

Begitu kedua tangan Hoat Hwa Cin-jin yang memegang golok itu menyambar lewat karena bacokannya luput, Siang Lan menggerakkan tangan yang dimiringkan dan "membacok" ke arah pergelangan tangan kiri Hoat Hwa Cin-jin. Tokoh Pek-lian-kauw yang sudah menderita luka dalam itu berteriak dan golok kirinya terlepas. Siang Lan cepat menyambar golok itu dan menyerang dengan dahsyat.

Hoat Hwa Cin-jin mencoba untuk menangkis dengan golok kanannya, akan tetapi tenaganya sudah melemah sehingga goloknya terpental dan sebelum dia mampu menghindarkan diri, golok di tangan Siang Lan sudah menyambar ke arah lehernya. Hoat Hwa Cin-jin tidak sempat mengeluarkan suara lagi. Dia roboh dengan leher hampir putus dan tewas seketika.

Siang Lan melampiaskan kebenciannya dengan membacoki tubuh pendeta palsu itu dengan golok rampasannya. Kepala Hoat Hwa Cin-jin hancur oleh bacokan-bacokan yang gencar itu.

"Nona, hentikanlah!" Bu-beng-cu berseru.

Akan tetapi Siang Lan seperti kesetanan dan membacok terus. Tiba-tiba sepasang lengan merangkul tubuh berikut kedua lengannya dari belakang sehingga ia tidak dapat menggerakkan lagi tangannya yang memegang golok. Ketika melihat bahwa yang mendekapnya dari belakang itu Bu-beng-cu, Siang Lan melepaskan golok itu, membalik dan terkulai pingsan dalam pelukan Bu-beng-cu.

"Siang Lan...... ahh, Siang Lan......!" Bu-beng-cu merasa demikian terharu dan rasa kasihnya terhadap Siang Lan membakar seluruh tubuhnya.

Tanpa dapat dia pertahankan lagi, dia memondong tubuh Siang Lan lalu menunduk dan menciumi muka gadis itu penuh kasih sayang. Akan tetapi dia segera menyadari perbuatannya yang sebagian terdorong pula oleh gairahnya sebagai seorang laki-laki, maka cepat dia menghampiri mayat Hoat Hwa Cin-jin, mengambil pedang Lui-kong-kiam milik Siang Lan yang dirampas oleh Hoat Hwa Cin-jin.

Kemudian dia membawa gadis yang pingsan dalam pondongannya itu meninggalkan tempat di mana terdapat mayat Hoat Hwa Cin-jin yang mengerikan itu. Tidak lupa sebelum pergi dia menyambar pakaian luar Siang Lan yang bertumpuk di dalam pondok yang sudah roboh.

Setelah agak jauh dari tempat itu, Siang Lan siuman dan mengeluh. Mendengar ini, Bu-beng-cu berhenti berlari dan menurunkan Siang Lan sehingga terduduk di atas tanah. Ia membuka matanya dan Bu-beng-cu segera menyerahkan pakaian dan pedang Lui-kong-kiam kepadanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment