Chapter 43
“Paman.”
“Kenakan dulu pakaianmu, Nona,” kata Bu-beng-cu. Suaranya sudah seperti biasa sehingga diam-diam Siang Lan merasa kecewa.
Ia tidak merasakan kemesraan dalam suara laki-laki yang menjadi guru dan penolongnya itu. Akan tetapi, ucapan itu pun seketika mengingatkannya bahwa sejak tadi ia hanya mengenakan pakaian dalam yang serba terbuka dan tipis!
Hal ini tentu saja membuat Siang Lan tersipu malu, juga terkejut mengapa ia tadi seolah tidak menyadari keadaan dirinya yang setengah telanjang itu. Dan kalau ia mengingat kembali ketika ia berangkulan dengan Bu-beng-cu... ah... wajahnya berubah kemerahan dan jantungnya berdebar. Cepat ia mengenakan pakaian dan menggantungkan pedangnya.
“Paman Bu-beng-cu!” ia memanggil dan laki-laki itu segera membalikkan tubuhnya dan menghadapinya. Siang Lan melihat betapa wajah Bu-beng-cu tampak muram dan agak pucat. “Paman, kembali Paman telah menyelamatkanku. Bagaimana aku harus membalas budi kebaikan yang berlimpahan itu?” kata Siang Lan terharu.
Bu-beng-cu menghela napas panjang. Dia merasa semakin sedih melihat betapa kini sinar mata gadis itu ketika memandangnya berbeda dari biasanya. Kalau biasanya pandangan mata itu mengandung kekaguman dan terima kasih, kini ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang mengandung kemesraan!
Dan inilah yang membuat dia bersedih. Kenyataan bahwa dia jatuh cinta kepada Hwe-thian Mo-li sudah merupakan hal yang mendatangkan kesedihan dalam hatinya, walaupun kesedihan itu akan ditanggungnya dengan tabah. Dia akan menganggap hal itu sebagai tambahan penderitaannya dan sudah semestinya untuk memberi hukuman kepadanya atas dosa yang dia lakukan kepada Siang Lan.
Dia rela binasa dan menderita asalkan Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan hidup berbahagia. Akan tetapi sekarang, melihat bahwa agaknya gadis itu pun mencintainya, membuat dia semakin berduka.
Cinta gadis itu kelak hanya akan menghancurkan kebahagiaan hidup Siang Lan. Alangkah akan hancur hatinya kalau kelak melihat bahwa jahanam yang dibencinya, yang merupakan musuh besar dan ia telah bersumpah akan membunuhnya, ternyata adalah pria yang dicintainya! Ah, dia tidak ingin melihat Siang Lan kelak menderita karena itu. Tidak, Siang Lan tidak boleh jatuh cinta padanya!
“Hwe-thian Mo-li, tidak perlu berterima kasih. Kalau aku membantumu, hal itu sudah merupakan suatu kewajaran, bukan karena budi kebaikanku. Ketahuilah, bahwa engkau bagiku seperti keponakan sendiri, atau anak sendiri, maka sudah sepatutnya kalau aku membantumu. Sudahlah, hal itu tidak perlu kita bicarakan lagi. Yang penting kita bicarakan adalah kekejamanmu tadi yang telah mencincang mayat Hoat Hwa Cin-jin. Perbuatanmu itu sungguh kejam dan sama sekali tidak berperikemanusiaan!” Suara Bu-beng-cu menjadi keras mengandung teguran.
Diam-diam Siang Lan terkejut dan kecewa. Tadinya, ia mengira bahwa laki-laki ini mencintainya, seperti dirasakannya tadi. Akan tetapi, ternyata dugaannya keliru. Bu-beng-cu hanya sayang padanya seperti sayang keluarganya.
Diam-diam ia memaki dirinya sendiri. Engkau tak tahu malu! Demikian ia berpikir dan gemas kepada pikirannya sendiri. Bagaimana mungkin ia mengharapkan seorang pendekar yang demikian gagah perkasa, berkepandaian tinggi, berbudi mulia dan penuh wibawa, dapat jatuh cinta kepadanya?
Ia seorang gadis yatim piatu yang namanya dikutuk banyak orang sebagai Iblis Betina, walaupun yang mengutuk dan membencinya itu mereka yang disebut golongan sesat. Yang lebih daripada semua itu, ia bukan gadis yang perawan lagi.
Kehormatannya telah ternoda lagi! Ia telah diperkosa orang. Ia telah ternoda dan kotor. Bagaimana mungkin mengharapkan menjadi istri seorang yang hebat seperti Bu-beng-cu? Tak terasa lagi, wajahnya menjadi pucat dan tak dapat ditahannya, beberapa tetes air mata terjatuh keluar dari pelupuk matanya, mengalir di kedua pipinya yang pucat.
“Hwe-thian Mo-li... Nona, kau menangis? Kenapa?” tanya Bu-beng-cu, khawatir kalau-kalau ucapannya tadi menyinggung dan menyakitkan hati gadis itu.
Siang Lan menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu menggelengkan kepalanya dan memaksa diri tersenyum.
“Aih, tidak apa-apa, Paman. Aku hanya merasa sedih tadi teringat betapa engkau begitu baik budi, sedangkan aku... begini... jahat.”
“Siapa bilang begitu? Aku bukan manusia baik, aku juga jahat, bahkan jauh lebih jahat daripada engkau. Hanya aku ingin mengingatkan engkau, cobalah hilangkan semua kebencian dari hatimu. Jangan terlalu membiarkan dendam kebencian bersarang di hatimu karena hal itu akan meracuni dirimu sendiri.”
“Akan tetapi, manusia-manusia jahat dan keji seperti iblis macam Hoat Hwa Cin-jin itu, apakah tidak sepatutnya kita benci, Paman?”
“Membenci kejahatan berarti tidak mau melakukan kejahatan itu, Nona. Kita tidak suka melihat orang berbuat kejam, tentu saja kita sendiri harus menjaga agar kita tidak berbuat kejam. Yang kita tentang adalah tindak kejahatannya, bukan manusianya. Mendendam dan membenci seseorang dapat memberi peluang kepada nafsu setan untuk mendorong kita melakukan perbuatan yang kejam.”
“Akan tetapi, hati yang disakitkan tidak akan dapat sembuh tanpa pelampiasan dalam bentuk balas dendam, Paman.”
“Kalau melampiaskan dendam dengan cara melakukan kekejaman, lalu apa bedanya antara kita dan orang yang melakukan kekejaman kepada kita, Nona? Kita lalu akan menjadi sama kejamnya, yang berarti sama jahatnya dengan orang yang melakukan kejahatan terhadap diri kita.”
Siang Lan menghela napas panjang. Ia merasa seperti kehilangan dan merasa menyesal. Percakapan dengan Bu-beng-cu sekarang menjadi kering, tidak ada lagi bekas-bekas kemesraan yang ia rasakan dan nikmati tadi. Akan tetapi, ia harus tahu diri. Bu-beng-cu ini terlalu tinggi untuknya dan memang tidak masuk di akal kalau seorang sepandai dan semulia Bu-beng-cu dapat jatuh cinta kepadanya!
“Paman Bu-beng-cu, aku mengerti akan maksud dari semua nasihatmu, namun aku juga merasa bahwa kiranya tidak mungkin bagiku untuk menghilangkan dendamku kepada orang-orang yang telah berbuat teramat jahat kepadaku seperti apa yang dilakukan Hoat Hwa Cin-jin tadi. Juga aku masih ada dendam yang belum juga dapat kubalas, yaitu dendamku setinggi gunung sedalam lautan kepada si jahanam busuk Thian-te Mo-ong!”
“Sudahlah, Hwe-thian Mo-li, aku tidak menyalahkan engkau membunuh Hoat Hwa Cin-jin karena dia memang amat jahat dan kematiannya merupakan akibat dari kejahatannya sendiri. Yang kusesalkan adalah caramu melampiaskan kebencian dengan mencincang mayatnya. Kuharap lain kali engkau tidak akan melakukan kekejaman seperti itu lagi.”
Siang Lan merasa bahwa ia tadi memang lupa diri saking marahnya kepada Hoat Hwa Cin-jin. Ia menghela napas lagi dan berkata.
“Maafkan aku, Paman. Tadi aku memang telah lupa diri dan mata gelap karena marah terhadap tokoh Pek-lian-kauw yang nyaris melakukan kekejian yang lebih mengerikan daripada maut kepadaku. Aku berjanji akan lebih bersabar dan menguasai diri, Paman. Akan tetapi, bagaimana dengan tugas yang akan kulaksanakan untuk membantu Paman Panglima Chang di kota raja? Aku sedang dalam perjalanan ke sana dan aku kira di sana aku pasti akan berhadapan dengan musuh-musuh negara yang melakukan pembunuhan dan pengacauan itu. Apakah aku juga pantang membunuh mereka?”