Halo!

Lembah Selaksa Bunga - Chapter 44

Memuat...
Lembah Selaksa Bunga

Chapter 44

“Hwe-thian Mo-li, ketika engkau hendak belajar silat untuk memperdalam kepandaianmu, engkau telah berjanji, bahkan bersumpah untuk tidak membunuh orang. Tentu saja ada kecualinya, yaitu kalau engkau terpaksa melakukannya untuk membela diri. Tugas yang hendak kaulakukan sekarang adalah tugas membela negara.

“Kalau engkau bertemu dan melawan musuh, berarti engkau bukan melawan musuh pribadi, melainkan musuh negara. Tentu saja bunuh-membunuh dalam perang tidak termasuk urusan pribadi, dilakukan untuk berbakti kepada negara dan dilakukan tanpa kebencian pribadi. Betapapun juga, sebaiknya kalau mungkin, robohkan dan tawan musuh negara itu hidup-hidup daripada membunuhnya. Kukira engkau mengerti apa yang kumaksudkan. Sekarang lanjutkanlah perjalananmu dan baik-baiklah menjaga dirimu.”

“Terima kasih, Paman.”

Mereka saling berpisah. Siang Lan melanjutkan perjalanannya menuju kota raja dan kini ia menggunakan ilmu berlari cepat. Bu-beng-cu cepat berlari kembali ke tempat di mana Hoat Hwa Cin-jin tewas. Dia menggali lubang dan menguburkan mayat tokoh Pek-lian-kauw itu baik-baik, lalu memberi tanda di depan gundukan tanah kuburan itu dengan sebuah batu besar yang dia ukir empat huruf berbunyi:

“HOAT HWA CIN-JIN”.

Setelah terjadi pembunuhan terhadap enam orang pejabat tinggi yang menggegerkan kota raja sehingga Kaisar sendiri turun tangan memerintahkan para pembantunya untuk menyelidiki dan menangkap pembunuhnya, kota raja kini tampak aman. Tidak ada lagi kerusuhan, atau pembunuhan.

Pangeran Bouw Ji Kong memang cerdik. Menyadari bahwa jika dia melanjutkan gerakannya melakukan pembersihan dengan membunuh para pejabat tinggi yang setia kepada Kaisar akan membahayakan dirinya karena kini Panglima Chang sudah diserahi tugas oleh Kaisar untuk menyelidiki dan menangkap pembunuh, maka dia menghentikan aksi pembunuhan itu. Dia bahkan menyuruh para sekutunya yang melakukan pembunuhan itu, Hwa Hwa Hoat-su, Hongbacu, jagoan Mancu, dan Tarmalan jagoan suku Hui, untuk meninggalkan kota raja, dan bersembunyi di markas Jenderal Su Lok Ti yang menjadi komandan pasukan yang bertugas di perbatasan Utara.

Panglima Chang bukan orang yang lengah dan bodoh. Diam-diam dia menaruh curiga kepada Pangeran Bouw Ji Kong yang pernah memberontak itu.

Walaupun kini dia menduduki pangkat cukup tinggi sebagai penasihat Kaisar mengenai hubungan dengan suku-suku liar di Barat dan Utara, namun Panglima Chang meragukan kesetiaan Pangeran yang berdarah Hui ini. Kelihatan sekali betapa Pangeran Bouw melindungi para suku yang berhubungan dekat dengannya. Maka, Panglima Chang diam-diam mengirim para penyelidiknya untuk menyelidiki keadaan Pangeran Bouw Ji Kong.

Dulu pernah Pangeran Bouw terlibat hubungan dekat dengan pihak Pek-lian-kauw yang sejak dulu menjadi pemberontak. Akan tetapi Kaisar memaafkannya setelah dia berdalih bahwa dia mendekati Pek-lian-kauw agar mereka sadar dan menghentikan pemberontakan mereka. Bahkan Pangeran Bouw pula yang menganjurkan Kaisar menerima utusan Pek-lian-kauw, yaitu Leng Kok Ho-siang yang menyatakan kemauan baik Pek-lian-kauw untuk menghentikan pemberontakan itu. Kaisar masih memaafkan adik tiri yang lahir dari selir yang berbangsa Hui itu, karena anjuran itu dianggapnya sebagai kelengahan dan kebodohan Pangeran Bouw yang dapat dibohongi pihak Pek-lian-kauw.

Akan tetapi para penyelidik itu melaporkan bahwa tidak ada yang mencurigakan dalam gedung Pangeran Bouw. Bahkan para penyelidik melaporkan bahwa Bouw-kongcu, putra tunggal Pangeran Bouw adalah seorang pemuda yang baik budi dan ramah kepada semua orang. Mereka melaporkan bahwa tidak tampak ada persekutuan di rumah Pangeran Bouw.

Di sana hanya ada pelayan-pelayan wanita dan pelayan pria yang sudah tua, dan Pangeran itu mempunyai pengawal yang terdiri dari pendekar-pendekar terkenal, yaitu Kang-lam Jit-sian (Tujuh Dewa Kang-lam). Tidak ada tanda-tanda bahwa Pangeran Bouw mempunyai keinginan untuk memberontak, juga tidak ada tanda bahwa dia mempunyai hubungan atau terlibat dengan para pembunuh pejabat tinggi itu.

Pada suatu malam yang gelap, sesosok bayangan berkelebat dan melayang ke atas wuwungan rumah gedung Pangeran Bouw. Bayangan ini adalah Chang Hong Bu.

Seperti kita ketahui, Chang Hong Bu memenuhi perintah pamannya, Panglima Besar Chang Ku Cing untuk menyampaikan permintaan bantuannya kepada Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan dan tugas itu telah dilaksanakan dengan baik. Setelah dia kembali ke kota raja dan melaporkan hasil pertemuan dengan Nyo Siang Lan, pemuda murid Siauw-lim-pai yang lihai itu mendapat tugas khusus dari pamannya.

“Para penyelidik yang kukirim untuk menyelidiki keadaan Pangeran Bouw tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan,” demikian Panglima Chang memberi tahu keponakannya setelah menceritakan tentang Pangeran Bouw.

“Akan tetapi aku tetap curiga kepadanya. Karena itu, coba engkau selidiki sendiri, Hong Bu. Akan tetapi hati-hatilah karena di sana terdapat Kang-lam Jit-sian yang lihai. Sebaiknya engkau mengenakan penutup muka agar kalau ketahuan tidak akan dikenal. Aku mengutusmu karena para penyelidik itu hanya menyelidiki dari luar, tidak ada yang berani masuk. Engkau harus dapat menyelidiki dalam gedungnya untuk melihat apakah tidak ada orang luar yang bersembunyi di sana. Sebaiknya malam ini engkau melakukan penyelidikan karena malam ini kebetulan mendung dan gelap.”

Chang Hong Bu malam itu mengenakan pakaian serba hitam dan menutupi mukanya dan kepalanya dengan kain sutera hitam, hanya melubangi bagian kedua matanya. Dengan gerakan ringan dia dapat melompati pagar tembok di belakang yang menembus taman. Sejenak dia mendekam dan bersembunyi di balik pohon-pohon di taman itu.

Setelah merasa yakin bahwa di sana tidak terdapat orang, dia lalu bergerak mendekati gedung dan sekali tubuhnya melompat, dia sudah melayang ke atas wuwungan gedung. Bagaikan seekor kucing dia berjalan di atas genteng dan mengintai ke bawah.

Ketika tiba di atas sebuah ruangan luas di bagian belakang gedung, Hong Bu mendekam dan memperhatikan keadaan ruangan itu. Dia melihat tujuh orang laki-laki duduk mengelilingi sebuah meja besar sambil makan kue kering dan minum arak. Mereka tertawa-tawa dan bersendau-gurau.

Hong Bu memperhatikan mereka. Mereka adalah laki-laki yang berusia sekitar empat puluh sampai lima puluh tahun, bertubuh tegap, bahkan yang kurus pun tampak kokoh dan melihat betapa mereka itu gagah dan di situ terdapat bermacam-macam senjata, ada tombak, golok, pedang, mudah diketahui bahwa tujuh orang itu tentu golongan ahli silat. Teringat dia akan keterangan pamannya tentang Kang-lam Jit-sian yang menjadi pengawal Pangeran Bouw dan dia merasa yakin bahwa mereka inilah Tujuh Dewa Kang-lam itu. Melihat betapa tujuh orang yang sedang minum-minum itu tidak dapat mengetahui akan kedatangannya, Hong Bu dapat menilai bahwa ilmu kepandaian mereka belumlah terlalu tinggi walaupun kalau tujuh orang itu maju bersama tentu merupakan lawan yang berat juga. Dia segera melanjutkan penyelidikannya ke sebelah depan dan berhenti di bagian tengah.

Di ruangan tengah tidak tampak ada orang, bahkan tidak ada pelayan. Agaknya semua orang sudah berada di kamar masing-masing karena malam itu selain mendung dan di luar gelap, juga hawanya cukup dingin membuat orang lebih suka berada di dalam kamar yang tertutup rapat dan hangat.

Ketika dia hendak melanjutkan penyelidikannya ke bagian lain, tiba-tiba terdengar daun pintu terbuka sehingga Hong Bu tidak jadi bergerak dan mengintai lagi. Dia kini melihat seorang laki-laki tua, usianya hampir tujuh puluh tahun dan melihat pakaiannya dia tentu seorang pelayan, keluar dari pintu yang terbuka itu. Dia melangkah, berdiri di tengah ruangan itu, menoleh ke kanan kiri seperti orang bingung.

Seorang laki-laki yang gagah dan berpakaian indah muncul dari sebuah pintu lain. Biarpun dia belum mengenal laki-laki itu karena sejak kecil Hong Bu sudah meninggalkan kota raja, dia dapat menduga bahwa tentu inilah yang bernama Pangeran Bouw Ji Kong.

Dia melihat betapa pelayan tua itu memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya amat dalam sambil berkata dengan suara merendah. “Ampunkan hamba, Pangeran, kalau hamba telah mengganggu tidur Paduka.”

“Ah, tidak mengapa, Paman A-kui. Aku tadi mendengar bunyi daun pintu dibuka. Apakah ada sesuatu yang membuat engkau keluar dari kamarmu?”

“Tidak ada apa-apa, Pangeran. Harap Paduka kembali beristirahat. Hamba hanya keluar hendak memeriksa apakah hamba tidak lupa menutupkan semua jendela di ruangan ini.”

Pangeran Bouw mengangguk dan masuk kembali ke dalam kamarnya. Kakek pelayan itu menghampiri semua jendela dan memeriksanya, lalu dia pun masuk kembali melalui pintu yang tadi dibukanya.

Hong Bu tidak merasa perlu untuk menyelidiki bagian itu karena di situ agaknya merupakan kamar-kamar keluarga Pangeran dan para pelayan. Dia lalu bergerak lagi melakukan pemeriksaan ke bagian samping dan depan. Akan tetapi ternyata di samping hanya merupakan tempat tinggal para pembantu rumah tangga. Bahkan di bagian kamar tamu yang berjumlah sepuluh kamar itu semuanya kosong, berarti pada waktu itu Pangeran Bouw tidak mempunyai tamu yang bermalam di situ.

Selagi Hong Bu hendak meninggalkan wuwungan gedung karena tidak ada lagi yang perlu diselidiki, tiba-tiba terdengar suara bersiut dan sebuah benda hitam sebesar kepalan tangan menyambar ke arah kepalanya! Sambaran benda itu cepat bukan main sehingga untuk mengelak Hong Bu tidak sempat lagi. Maka dia segera menggerakkan tangannya untuk menangkis benda itu dengan tamparan tangan kanannya.

“Plakk!!” Benda itu tertangkis dan terpental jauh, akan tetapi Hong Bu terkejut sekali karena merasa betapa tangannya nyeri, panas dan pedih. Bahkan ketika dia meraba dengan tangan kirinya, ternyata tangannya terluka dan berdarah!

Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan nyaring dan tujuh orang yang tadi minum-minum di ruangan belakang itu berlompatan ke atas genteng. Melihat ini, Hong Bu menyadari bahwa keadaannya akan berbahaya, maka cepat sekali dia melayang turun dari atas genteng ke dalam taman yang gelap lalu berlari dan melompati pagar tembok di belakang. Tujuh orang Kang-lam Jit-sian tidak mampu mengejar karena malam itu memang gelap bukan main.

Hong Bu cepat pulang ke gedung Panglima Chang. Begitu memasuki gedung, ternyata pamannya telah menantinya. Bagaimanapun juga, Panglima Chang Ku Cing tetap saja agak gelisah menanti kembalinya keponakannya. Dia yakin akan kelihaian Hong Bu, akan tetapi dia juga menyadari bahwa tidak mudah menyelidiki keadaan rumah gedung Pangeran Bouw Ji Kong yang tentu memelihara orang-orang pandai untuk menjaga keselamatannya.

Ketika menyambut Hong Bu dan melihat tangan kanan keponakannya berdarah, dia terkejut. “Apa yang terjadi?” tanyanya khawatir.

Hong Bu duduk di atas kursi dan memeriksa tangannya. Ternyata punggung tangannya terluka, kulitnya terobek. Akan tetapi luka itu tidak beracun dan melihat lukanya, agaknya seperti terkena benda yang tidak runcing atau tajam. Mungkin hanya sekepal batu yang disambitkan kepadanya. Diam-diam Hong Bu terkejut karena orang yang mampu melukai tangannya hanya dengan sambitan sepotong batu sungguh memiliki tenaga sakti yang amat kuat!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment