Chapter 45
Dia lalu menceritakan kepada pamannya apa yang telah dia alami ketika melakukan penyelidikan di gedung Pangeran Bouw Ji Kong.
“Saya tidak melihat hal-hal yang mencurigakan, Paman. Yang berada di sana hanya Kang-lam Jit-sian dan para pelayan serta pembantu rumah tangga. Di kamar-kamar tamu juga tidak ada tamunya. Akan tetapi, agaknya Kang-lam Jit-sian itu merupakan orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.”
Panglima Chang mengerutkan alisnya dan memeriksa luka di tangan keponakannya. “Menurut keterangan yang sudah lama kudapatkan ketika pertama kali Pangeran Bouw menerima Kang-lam Jit-sian sebagai pengawalnya, kepandaian mereka itu tidaklah terlalu tinggi. Bagaimana engkau dapat menduga bahwa ilmu mereka amat tinggi? Luka di tanganmu ini juga tidak parah.”
“Begini, Paman. Sebelum tujuh orang itu bermunculan, ada benda kecil hitam menyambar ke arah kepala saya. Saya menangkis sambil mengerahkan tenaga, akan tetapi, ternyata sambitan itu amat kuat sehingga benda itu dapat membuat kulit tangan saya pecah terluka. Hal ini membuktikan bahwa benda yang saya kira hanya sepotong batu itu disambitkan oleh orang yang memiliki *sin-kang* kuat sekali.”
“Hemm, begitukah? Akan tetapi, siapa tahu sambitan itu mungkin tidak dilakukan oleh seorang di antara Kang-lam Jit-sian, melainkan oleh orang lain.”
“Saya kira tidak, Paman, karena setelah sambitan itu, yang muncul adalah Kang-lam Jit-sian. Saya lalu meloncat dan melarikan diri.”
Panglima Chang Ku Cing menghela napas panjang. “Kalau memang Pangeran Bouw tidak perlu dicurigai, sebaiknya kita arahkan penyelidikan kepada para pejabat lain yang kesetiaannya terhadap Sri Baginda Kaisar boleh diragukan.”
“Paman, apakah Paman tetap menduga bahwa pembunuhan-pembunuhan itu dilakukan oleh para pejabat yang tidak setia?”
Panglima itu mengangguk.
“Kukira begitulah. Biarpun para pembunuh itu jelas memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi, tidak mungkin mereka dapat berkeliaran di kota raja tanpa ketahuan. Pasti ada yang membantu mereka, yang memberi tempat persembunyian bagi mereka. Yang dibunuh adalah enam orang pejabat tinggi yang setia, ini saja sudah jelas merupakan bukti bahwa pelakunya menghendaki lemahnya pemerintah di bawah pimpinan Sri Baginda Kaisar.
“Dan yang ingin melihat pemerintah menjadi lemah tentu saja para pemberontak seperti Pek-lian-kauw dan lain-lain, juga para pejabat yang tidak setia kepada Sri Baginda Kaisar. Biasanya persekongkolan seperti ini tentu ada yang menjadi pemimpinnya, dan bukan tidak mungkin pemimpinnya adalah seorang pejabat pemerintah sendiri yang bermaksud untuk merampas takhta kerajaan.”
“Hemm, ini seperti mencari musuh dalam selimut, Paman. Kalau tidak dapat segera diketahui orangnya dan ditangkap, akan berbahaya sekali!” kata Chang Hong Bu.
“Karena itulah aku tidak memandang remeh urusan ini. Sri Baginda telah menugaskan kepadaku untuk menyelidiki dan aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membongkar rahasia ini. Untuk itu aku mengundang para pendekar dan orang sakti yang dulu pernah membantu pemerintah, antara lain Sim Tek Kun putra Pangeran Sim Liok Ong dan istrinya, Ong Liang Hong. Juga Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan. Kalau ada para pendekar lain yang dapat membantu, lebih baik lagi. Juga aku sudah mengirim utusan untuk mencari dan mengundang Lo-cianpwe Ouw-yang Sianjin. Ketika engkau bertemu Hwe-thian Mo-li, kapan ia mengatakan akan datang ke kota raja?”
“Saya kira tidak lama lagi ia akan datang, Paman. Ia akan membangun taman di Lembah Selaksa Bunga lebih dulu, kemudian ia akan segera ke sini menghadap Paman.”
“Baiklah, kalau begitu kita tunggu saja. Sekarang sebaiknya engkau mengobati luka di tanganmu itu dan pergi tidur.” Setelah menerima permintaan bantuan Panglima Chang, Sim Tek Kun dan istrinya, Ong Lian Hong mulai melakukan penyelidikan. Mereka berdua mengunjungi tempat-tempat rawan di kota raja, yaitu di beberapa rumah judi dan rumah pelesir yang biasanya menjadi tempat para golongan penjahat bersenang-senang.
Bahkan mereka berdua sempat ribut dan berkelahi dengan para penjahat yang belum mengenal mereka sehingga ada yang berani bersikap tidak sopan kepada Lian Hong. Tentu saja para penjahat yang kurang ajar itu kecelik dan menerima hajaran keras dari Lian Hong dan Tek Kun sehingga dalam beberapa hari saja mereka menjadi gempar dan ketakutan. Akan tetapi, orang-orang *kang-ouw* yang mengenal suami istri pendekar itu, tidak berani mencari perkara, bahkan mereka siap membantu dengan keterangan yang diminta oleh suami istri itu.
Namun, para penjahat atau golongan hitam yang berkeliaran di kota raja itu tidak ada yang mengetahui tentang pembunuhan-pembunuhan rahasia itu. Maka, setelah menyelidiki selama hampir dua bulan, Tek Kun dan Lian Hong belum juga mendapat keterangan.
Pada suatu hari, kota raja meriah sekali. Pada hari itu, di semua kota besar yang terdapat Kwan Im Bio (Kuil Dewi Kwan Im), penduduk mengadakan pesta besar untuk memperingati hari ulang tahun Kwan Im Po-sat (Dewi Kwan Im), yang jatuh pada Lak-gwe Cap-kau (Bulan Enam Tanggal Sembilan Belas). Sebetulnya pesta meriah hanya diadakan di kuil-kuil, namun karena pada masa itu hampir seluruh rakyat memuja Dewi Kwan Im sebagai Dewi Welas Asih, maka seluruh penduduk ikut merayakan.
Mereka berbondong-bondong mengunjungi Kwan Im Bio untuk bersembahyang dengan permohonan masing-masing. Ada yang mohon kesembuhan dari penyakitnya, ada yang mohon tambah rezeki, kenaikan pangkat, kemajuan perusahaannya, bahkan ada yang mohon agar segera mendapatkan jodoh, dan banyak pula suami istri mohon diberi karunia anak laki-laki!
Yang namanya kepercayaan memang tidak mungkin diperbantahkan atau dipersoalkan karena kepercayaan akan hal-hal yang abstrak tidak dapat diraba ataupun diselidiki melalui akal dan penalaran. Karena inilah maka di dunia muncul berbagai macam agama dan kepercayaan, dan masing-masing pemeluknya memercayai agama mereka dengan sepenuh iman. Kalau diperdebatkan maka akan terjadi pertentangan yang dapat mengakibatkan permusuhan.
Sayang sekali, yang dipersoalkan adalah perbedaan kepercayaan mengenai upacara-upacara dan peraturan-peraturan. Padahal, pada hakikatnya, semua agama dan kepercayaan memiliki inti yang tiada bedanya. Intinya adalah pemujaan dan keinginan untuk kembali kepada Sumber Kehidupan yang abadi, yaitu Yang Maha Kuasa, Yang Maha Esa, Yang Maha Pencipta, Yang Maha Kasih dan selanjutnya.
Untuk mencapai tujuan itu, ada agama atau kepercayaan yang mengharapkan pertolongan para perantara, seperti manusia di dunia yang ingin menghadap kaisar, raja, atau kepala pemerintahan, pendeknya orang nomor satu dalam negara, selalu melalui perantara atau para “pembantu” Sang Raja. Dan kesemuanya itu baik-baik saja, asalkan mengambil jalan yang satu, yaitu jalan kebenaran, jalan kebajikan dan menjauhi jalan yang sesat dan jahat.
Pada masa itu, banyak para dewa dipuja di Cina sejak ribuan tahun, para dewa yang dianggap dapat membantu mereka menyampaikan permohonan mereka kepada Yang Maha Kuasa. Para dewa yang dianggap memiliki kebajikan sempurna sehingga mau dan suka menolong mereka. Terutama sekali, pada waktu itu, Dewi Kwan Im!
Kwan Im Po-sat tidak akan menolak permohonan manusia yang membutuhkan pertolongan. Akan tetapi, tetap saja ada syarat hakiki, yaitu si pemohon haruslah bersih, dalam arti kata, tidak melakukan perbuatan jahat. Juga semua permohonan harus bersifat bersih, bukan untuk mencelakai orang lain.
Sim Tek Kun dan Ong Lian Hong yang memperoleh pendidikan sastra, dan pada masa itu sastra berarti hafal akan isi kitab-kitab agama dan menjadikan mereka orang-orang yang beribadat, tidak terkecuali mereka pun percaya sekali dan memuja Kwan Im Po-sat sebagai penolong yang penuh kasih sayang. Mereka berdua juga ikut berjubel dengan orang banyak untuk mendapat kesempatan sembahyang lalu mereka menonton pertunjukan yang selalu diadakan di pekarangan depan kuil Kwan Im Bio setiap tahun sekali.
Pertunjukan menginjak bara api, mandi minyak mendidih, tusuk dan potong lidah dan sebagainya yang sesungguhnya merupakan pertunjukan yang amat aneh dan tidak wajar, namun karena hal itu sudah merupakan tradisi dan kebiasaan, para penonton tidak merasa heran lagi.
Sejumlah orang melakukan upacara yang amat aneh dan menyeramkan itu. Mereka sama sekali bukan pendeta, bukan orang-orang terpelajar, bahkan mereka itu terdiri dari para petani atau kuli yang tingkat kehidupan mereka rendah. Mereka bahkan sebagian besar buta huruf dan bodoh. Justru kebodohan dan kesederhanaan itulah yang membuat mereka dapat memiliki kepercayaan yang tebal, mutlak, dan membuta.