Halo!

Lembah Selaksa Bunga - Chapter 46

Memuat...
Lembah Selaksa Bunga

Chapter 46

Mereka harus memiliki yang biasa disebut para pendeta sebagai "orang bertulang baik" atau memiliki bakat untuk menjadi Tang-sin. Demikianlah orang-orang yang melakukan upacara itu disebut. Yang berarti kemasukan atau kesurupan dan Sin berarti badan. Tang-sin berarti badan yang kemasukan atau kesurupan roh (in trance).

Di halaman kuil yang luas itu para pengurus perayaan telah menata arang membara sepanjang dua-tiga tombak. Arang itu membara dan panasnya terasa oleh penonton yang berdiri empat-lima tombak dari situ. Lima orang Tang-sin sudah berada dalam keadaan kesurupan setelah mereka bersembahyang, dipimpin seorang pendeta. Para Tang-sin itu berpakaian sederhana, celana mereka pendek sebatas lutut, bertelanjang kaki, dan masing-masing memegang sebuah bendera.

Kemudian, diiringi pukulan tambur dan canang yang riuh rendah, mereka keluar dari kuil dan berlari menuju halaman tempat arang membara. Dengan enaknya, mereka berjalan bertelanjang kaki di atas arang membara itu, bolak-balik beberapa kali, lalu kembali ke dalam kuil. Di sana mereka ramai bicara satu sama lain, dan anehnya, mereka bicara bukan dengan dialek mereka sendiri, melainkan dialek dari suku asal roh yang memasuki mereka!

Kemudian ada pula pertunjukan mandi minyak mendidih. Sebuah kuali besar diisi penuh minyak lalu direbus sampai mendidih. Para Tang-sin lalu mencelupkan kain ke dalam minyak panas itu dan menggunakannya untuk menggosok muka dan badan mereka. Sedikit pun mereka tidak tampak kepanasan, malah terlihat segar seolah-olah mandi air dingin! Para penonton yang tebal kepercayaannya sudah siap dengan botol untuk diisi minyak yang dipakai mandi itu, lalu mereka bawa pulang dan dipergunakan sebagai obat!

Ada pula pertunjukan atau upacara membagi Hu (Huruf Jimat). Untuk upacara ini dipilih beberapa orang Tang-sin yang biasa melakukan upacara yang aneh dan mengerikan ini. Dalam keadaan kesurupan mereka menggunakan pisau tajam untuk mengerat lidah mereka yang dijulurkan keluar. Tidak sampai putus, tetapi terluka dan darah mengucur dari luka di lidah mereka itu.

Darah ini oleh para Tang-sin dipergunakan untuk menulis huruf di atas sehelai kain yang sudah dipersiapkan para penonton yang membutuhkan. Kain yang ditulis dengan tinta darah inilah yang dinamakan Hu dan biasanya mereka pergunakan sebagai penangkal penyakit, penolak bala, dan sebagainya.

Kembali semua ini hanya berdasarkan kepercayaan yang tebal kepada dewa yang mereka puja, yang terdapat dalam kuil itu sebagai pendamping atau pengiring Dewi Kwan Im. Para dewa yang dipuja dan memasuki para Tang-sin itu disebut sebagai hulubalang Dewi Kwan Im dan mereka memiliki nama julukan masing-masing.

Masih ada beberapa macam upacara yang dipertunjukkan lagi, seperti berjalan di atas tangga dari pedang tajam, tidur di atas pedang-pedang tajam, dan berbagai keajaiban lainnya. Semua itu dilakukan oleh para Tang-sin dalam keadaan kesurupan sehingga setelah selesai pertunjukan, mereka sadar kembali dan sama sekali tidak ingat apa yang mereka lakukan dalam keadaan kesurupan tadi. Mereka menjadi orang biasa kembali dan seandainya kulit tubuh mereka terkena api sedikit saja pasti akan melepuh!

Selain pertunjukan yang merupakan upacara dan mengandung keajaiban ini, terdapat pula pertunjukan biasa yang sifatnya hanya sebagai hiburan kesenian seperti permainan Barong-sai (Tarian Singa), tarian kilin, atau tarian Naga, juga pertunjukan wayang.

Sim Tek Kun dan Ong Lian Hong ikut dalam suasana pesta, menonton semua pertunjukan itu. Setelah merasa lelah, mereka lalu pergi ke rumah makan Thai Lok, sebuah rumah makan yang cukup besar di kota raja.

Dalam suasana pesta itu, kota raja menjadi ramai karena banyak sekali tamu berdatangan untuk menonton keramaian pesta ulang tahun di Kwan-im-bio, terutama sekali dari penduduk yang tinggal di kota yang tidak memiliki kuil Kwan Im. Rumah makan itu pun penuh dengan tamu yang makan siang.

Suami istri itu mendapatkan tempat di bagian luar karena di sebelah dalam sudah penuh tamu. Di ruangan bagian luar itu terdapat empat buah meja yang dikelilingi empat bangku. Tiga meja sudah ditempati tamu, tinggal satu yang kosong dan Sim Tek Kun bersama istrinya segera duduk di situ memesan makanan kepada pelayan yang menghampiri mereka.

Dekat mereka terdapat meja yang dikelilingi tiga orang tamu. Mereka itu agaknya sudah setengah mabuk karena mereka tertawa-tawa dengan ribut. Di meja lain sebelah sana juga terdapat empat orang laki-laki yang setengah mabuk. Ketika Tek Kun dan Lian Hong duduk di meja mereka, tiga orang laki-laki yang duduk di meja terdekat itu menoleh dan memandang Lian Hong sambil tersenyum-senyum. Bahkan seorang dari mereka, yang berusia sekitar empat puluh tahun dengan sebatang pedang tergantung di punggung, pakaiannya mewah dan wajahnya cukup tampan dan gagah, memandang Lian Hong terus-menerus dengan sikap kurang ajar.

Diam-diam Tek Kun memperhatikan tiga orang ini. Mereka itu jelas merupakan orang-orang kang-ouw karena ketiganya memiliki senjata. Si Tampan itu memiliki pedang, lalu orang kedua yang usianya sekitar empat puluh dua tahun, bertubuh sedang, mukanya penuh bopeng (bekas cacar), juga memiliki sebatang pedang tergantung di punggungnya. Orang ketiga berusia sebaya, mukanya seperti muka monyet dan di punggungnya ada sepasang golok. Pakaian mereka serba mewah.

Tek Kun melihat betapa wajah istrinya yang jelita itu menjadi agak kemerahan. Dia mengerti bahwa perasaan istrinya agak tersinggung melihat sikap tiga orang itu yang tadi memandangnya dengan lahap, terutama sekali yang berwajah tampan dan sampai sekarang masih menatapnya sambil cengar-cengir. Pelayan datang mengantarkan kecap dan saus dalam mangkok, mendahului hidangan yang belum siap.

Tek Kun berkedip kepada istrinya sebagai isyarat agar istrinya dapat menahan sabar dan Lian Hong mengangguk, lalu membuang muka, tidak mau berhadapan muka dengan laki-laki yang tersenyum-senyum kurang ajar itu. Akan tetapi agaknya laki-laki itu memang memiliki watak mata keranjang dan sewenang-wenang mengandalkan kepandaian dan kekuatan sendiri serta kawan-kawannya.

Kecantikan Lian Hong yang memang memiliki banyak kelebihan dan mengandung daya tarik luar biasa itu membuat laki-laki yang sudah setengah mabuk menjadi tergila-gila dan dia tidak mampu lagi menahan gairah hatinya. Dia lalu bangkit berdiri dan dengan langkah gontai menghampiri meja suami istri itu.

Setelah dekat, dia berdiri di sisi meja berhadapan dengan Lian Hong sambil menyeringai dan berkata, "Nona yang cantik jelita seperti Dewi, kalau tidak keliru dugaanku, engkau tentu Kwan Im Po-sat sendiri yang menjelma. Mari silakan, kuundang engkau untuk bersama-sama makan di mejaku. Di sana penuh hidangan dan engkau dapat makan semewahnya, daripada hanya menghadapi saus dan kecap seperti ini. Heh-heh-heh!"

Muka Lian Hong sudah merah sekali. Tek Kun menyentuh lengan istrinya untuk mencegahnya turun tangan menghajar orang itu, lalu dia berkata dengan halus, "Sobat, engkau sudah mabuk, lebih baik kembalilah ke meja teman-temanmu dan lanjutkan berpesta. Terima kasih atas penawaranmu dan harap jangan mengganggu isteriku."

"Aih, apa salahnya kalau aku mengajak isterimu? Ia cantik jelita dan penjelmaan Kwan Im Po-sat yang selalu memenuhi permintaan orang. Sekarang aku minta agar ia menemaniku makan minum, tentu ia mau memenuhi permintaanku ini. Bukankah begitu, manis tersayang?" Laki-laki itu mendekatkan mukanya yang menghamburkan bau arak kepada Lian Hong.

"Kwan Im Posat hanya memenuhi permintaan orang yang baik dan benar! Jahanam macam engkau ini hanya akan dipenuhi permintaanmu oleh setan dan iblis! Nih, makanlah!" Cepat bagaikan kilat tangan Lian Hong menyambar mangkok berisi saus dan menuangkan isinya dengan gerakan cepat ke arah muka laki-laki itu. Laki-laki itu sama sekali tidak pernah menyangka, maka dia tidak sempat mengelak.

"Prattt...!" Mukanya penuh saus yang merah seperti darah! Yang celaka baginya, saus yang mengandung tomat, merica, cuka, dan jahe itu memasuki mata dan hidungnya.

Dia gelagapan, lalu mengaduh-aduh, menjatuhkan diri berjongkok dan berusaha membersihkan kedua matanya dengan tangan. Akan tetapi jari-jarinya bahkan menekan saus itu lebih merata dan dalam di matanya. Dia mengeluh dan berkaok-kaok karena kedua matanya terasa panas dan pedih luar biasa. Semua kepandaian silatnya, semua kekuatannya, ternyata tidak ada gunanya sama sekali setelah kedua matanya dimasuki saus itu!

"Keparat...!" Dua orang temannya Si Tampan, yang bermuka bopeng dan bermuka monyet, melompat marah hendak menangkap Lian Hong. Yang seorang mencengkeram ke arah pundak Lian Hong dan Si muka monyet menampar ke arah Tek Kun untuk mencegah orang itu membantu istrinya.

Kini Tek Kun tidak dapat bersabar lagi. Dia menggerakkan tangan menangkis sambil mengerahkan tenaga, sedangkan Lian Hong juga menangkis sambil mendorong.

"Duduk...!" Dua orang itu terpental ke belakang dan menabrak meja mereka sendiri sehingga meja itu roboh dan semua hidangan tumpah dan jatuh ke bawah. Dua orang itu terkejut dan marah sekali. Si muka bopeng mencabut pedangnya dan Si muka monyet mencabut siang-to (sepasang golok). Bahkan empat orang laki-laki lain yang duduk di meja sebelah mereka kini bangkit dan tampak jelas hendak mengeroyok suami istri itu.

"Keluar!" Tek Kun berseru kepada istrinya sambil menendang meja di depannya. Meja itu melayang dan menghantam enam orang yang hendak mengeroyok itu. Akan tetapi mereka dapat memukul pecah meja itu. Tek Kun dan Lian Hong sudah berlompatan keluar dari rumah makan dan menanti di jalan raya.

Tujuh orang itu kini juga keluar. Enam di antara mereka sudah memegang senjata, sedangkan yang seorang tadi masih mencoba membersihkan kedua matanya menggunakan kain yang dicelup air. Akan tetapi tetap saja matanya masih sukar dibuka dan dia berjalan seperti orang buta meraba-raba menuju keluar mengikuti enam orang temannya.

Lian Hong melihat suaminya tidak membawa senjata, maka ia lalu melolos pedang tipis yang tadinya ia pakai sebagai sabuk, lalu menyerahkannya kepada suaminya.

"Pakai pedangku ini!" kata Lian Hong.

Tek Kun menerimanya karena dia tahu benar bahwa selain pedang tipis itu, istrinya memiliki senjata yang tidak kalah ampuhnya, yaitu sehelai selendang merahnya yang kini telah dilolos pula dan berada di tangan Lian Hong.

Setelah enam orang itu berhadapan dengan mereka, yang tertua, berusia sekitar limapuluh tahun, bertubuh tinggi besar muka berewok yang memegang sebatang tombak kepala naga, bersikap gagah dan galak lalu berseru kepada suami istri itu.

"Kalian berani memukul rekan kami! Kami adalah petugas-petugas negara. Menyerahlah kalian untuk kami tangkap!"

Tek Kun tersenyum. "Kalianlah yang membuat kekacauan dan kalian yang sepatutnya ditangkap dan dihukum!"

"Kalian bosan hidup!" bentak Si pemegang Tombak dan bersama seorang temannya yang bersenjatakan sebatang golok besar, dia menerjang ke depan.

"Tar-tarrrr...!" Sinar merah melecut dan meledak-ledak di atas kepala dua orang itu, membuat mereka terkejut dan cepat melompat ke belakang. Enam orang itu segera mengepung suami istri yang sudah siap siaga dan Lian Hong berkata kepada suaminya,

"Hemm, mari kita hajar manusia-manusia tak tahu diri ini!"

Sebelum kedua pihak saling serang, terdengar suara nyaring membentak. "Tahan!!"

Seorang yang bertubuh tinggi dan gemuk, berwajah angker dan mengenakan pakaian pembesar muncul. Melihat Pangeran Bouw Ji Kong, tujuh orang itu tampak jerih dan mereka segera mundur dan berdiri bergerombol walaupun wajah mereka masih muram dan mata mereka melotot ke arah Tek Kun dan Lian Hong.

Melihat bahwa yang hendak dikeroyok itu adalah Sim Tek Kun dan istrinya, Pangeran Bouw Ji Kong segera menghampiri.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment