Halo!

Lembah Selaksa Bunga - Chapter 47

Memuat...
Lembah Selaksa Bunga

Chapter 47

“Aih, ternyata Sim Tek Kun dan istrinya yang akan dikeroyok! Kesalahpahaman apakah ini? Ketahuilah kalian berdua bahwa mereka ini adalah Kang-lam Jit-sian, para pengawal pribadiku.”

Sim Tek Kun memberi hormat, tetapi Lian Hong berkata kepada pangeran itu. “Paman Pangeran Bouw Ji Kong, mengapa Paman memelihara Kang-lam Jit-kauw (Tujuh Anjing Kang-lam) yang menjemukan ini?” Ia sengaja mengganti julukan Jit-sian (Tujuh Dewa) menjadi Jit-kauw (Tujuh Anjing).

Mendengar ucapan istrinya yang penuh ejekan ini, Sim Tek Kun segera berkata dengan nada menghormat, “Paman Pangeran, mereka agaknya telah mabuk dan seorang di antara mereka mengeluarkan ucapan yang kurang ajar terhadap istri saya yang lalu menghajarnya. Akan tetapi yang lain maju dan mereka hendak mengeroyok kami.”

Pangeran Bouw Ji Kong adalah seorang cerdik. Meskipun hatinya merasa panas melihat tujuh orang jagoannya dihina bahkan Gu Mo Ek, yang termuda di antara Kang-lam Jit-sian masih “menangis” karena kedua matanya pedih dan sukar dibuka, namun dia maklum bahwa tidak menguntungkan baginya untuk membela para jagoannya dan menyalahkan Sim Tek Kun, putra dari Pangeran Sim Liok Ong yang masih keponakannya sendiri. Dia menoleh kepada tujuh orang pembantunya itu dan berkata dengan marah.

“Kalian bertujuh memang bodoh dan bandel! Sudah kularang untuk mabuk-mabukan di luar akan tetapi masih nekat dan dalam keadaan mabuk membuat onar di luar. Kalian tahu siapa yang kalian hadapi ini? Dia adalah Kongcu (Tuan Muda) Sim Tek Kun putra Pangeran Sim Liok Ong, dan istrinya. Mereka berdua adalah pendekar-pendekar yang amat lihai! Kalian membuat malu saja! Ayo cepat kembali ke tempat kalian!”

Tujuh orang itu segera pergi seperti segerombolan anjing yang ketakutan. Gu Mo Ek yang masih memejamkan kedua matanya, dituntun oleh saudara-saudaranya.

Pangeran Bouw Ji Kong lalu menghadapi suami istri itu. Dia menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang.

“Nanda Sim Tek Kun berdua, maafkanlah para pengawalku tadi. Mereka itu orang-orang kasar dan sedang mabuk. Aku akan membuat teguran keras pada mereka.”

“Tidak mengapa, Paman Pangeran. Untung istri saya yang digoda, kalau wanita lain tentu akan ada wanita terhina. Maafkan kami.” Tek Kun lalu mengajak istrinya keluar dari rumah makan itu.

Pangeran Bouw Ji Kong berkata kepada pengurus rumah makan. “Hitung berapa jumlah semua kerugian kalian, akan kubayar semua!”

Peristiwa itu tidak berekor panjang, namun setidaknya mendatangkan perasaan saling tidak suka kepada kedua pihak. Tek Kun dan Lian Hong semakin menaruh perhatian kepada Pangeran Bouw Ji Kong. Pangeran itu memelihara orang-orang golongan sesat dan hal ini saja sudah patut menimbulkan kecurigaan.

Tosu yang bertubuh tinggi kurus dan berpakaian serba kuning itu menghela napas panjang. Dia duduk bersila di atas batu dan memandang kepada pemuda berpakaian sastrawan yang tampan lembut yang duduk berlutut di depannya. Pemuda itu tampak berduka, bahkan ada dua tetes air mata di atas kedua pipinya. Dia menangis tanpa suara!

Tosu itu adalah Ouw-yang Sianjin dan pemuda itu adalah Bouw Cu An.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Bouw Cu An putra Pangeran Bouw Ji Kong yang tidak setuju dengan niat ayahnya yang hendak memberontak dan telah bersekutu dengan utusan Mancu, utusan Suku Hui, dan Pek-lian-kauw, melarikan diri meninggalkan gedung ayahnya. Diam-diam dia diikuti dan dihadang oleh Hongbacu, tokoh Mancu itu yang hendak membunuhnya. Akan tetapi dia kebetulan bertemu dan ditolong Ouw-yang Sianjin, kemudian menjadi muridnya. Kepada Ouw-yang Sianjin, Cu An menceritakan keadaan ayahnya yang hendak memberontak.

Pagi hari itu, Ouw-yang Sianjin menceritakan kepada muridnya bahwa kemarin ketika dia turun dari puncak bukit, dia bertemu dengan utusan Panglima besar Chang Ku Cing yang meminta kepadanya untuk membantu panglima itu mencari para pembunuh yang mengacaukan kota raja. Tosu itu memberitahu bahwa kini Cu An sudah cukup belajar ilmu dan sudah memiliki bekal yang cukup kuat. Mereka harus saling berpisah karena dia hendak memenuhi panggilan Jenderal Chang. Mendengar ini, Cu An menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya dan menahan tangisnya sehingga kedua pipinya basah air mata namun tangisnya tidak bersuara.

“Cu An, engkau yang memiliki semangat besar dan tahan menderita sehingga aku suka menerimamu menjadi murid, mengapa sekarang mengeluarkan air mata seperti seorang wanita cengeng? Ada waktunya bertemu dan berkumpul, ada pula waktunya berpisah, mengapa harus disesali perpisahan yang sudah semestinya terjadi?”

“Suhu, teecu sama sekali tidak sedih atau menyesali perpisahan ini, teecu tidak peduli akan penderitaan teecu sendiri, akan tetapi teecu berduka akan nasib yang mengancam Ayah teecu.”

“Apa maksudmu, Cu An?”

“Teecu sudah menceritakan kepada Suhu tentang rencana pemberontakan Ayah. Teecu hampir yakin bahwa kekacauan di kota raja itu pasti ada hubungannya dengan rencana Ayah. Sekarang Suhu hendak ke kota raja membantu Jenderal Chang menangkap pembunuh. Bagaimana teecu tidak akan merasa sedih melihat nasib buruk yang mengancam orang tua teecu, sedangkan teecu sama sekali tidak berdaya untuk menolongnya? Teecu memang tidak setuju dengan perbuatan Ayah, akan tetapi bagaimanapun juga dia adalah orang tua teecu!”

Ouw-yang Sianjin mengangguk-angguk. “Hemm, lalu sekarang apa yang akan kaulakukan?”

“Teecu tidak mungkin membantu Ayah melakukan pemberontakan, akan tetapi teecu juga tidak mungkin menentang orang tua sendiri. Teecu sedih dan bingung, Suhu, mohon petunjuk Suhu apa yang harus teecu lakukan dalam keadaan seperti ini.”

“Pinto bangga mendapat kenyataan bahwa engkau seorang anak yang berbakti kepada orang tua akan tetapi juga engkau menentang perbuatan yang sesat. Memang engkau berada dalam keadaan yang sulit dan membingungkan, Cu An. Sekarang begini saja. Pinto akan membantumu menyadarkan Pangeran Bouw Ji Kong. Kalau ternyata benar bahwa dia terlibat dalam pembunuhan-pembunuhan itu, pinto akan menyadarkan dia akan kesalahannya dengan menceritakan bahwa engkau pernah hampir dibunuh oleh Hongbacu utusan dari Mancu itu.

“Dan engkau sendiri, pinto beri tugas untuk menemui Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan. Ia adalah keponakan muridku. Sampaikan pesanku kepadanya agar ia suka pergi ke kota raja membantu pemerintah seperti yang pernah ia lakukan. Pinto juga akan menghubungi murid pinto Ong Lian Hong dan suaminya di kota raja agar membantu.”

Cu An mengenal siapa Ong Lian Hong dan suaminya, Sim Tek Kun yang masih merupakan saudara misannya. Akan tetapi dia tidak mengenal Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan yang harus dia jumpai.

“Suhu, di mana teecu dapat menemukan Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan itu?”

“Pinto pernah mendengar bahwa ia kini telah menjadi ketua dari Ban-hwa-pang yang berada di puncak Bukit Selaksa Bunga (Ban-hwa-san) yang merupakan satu di antara bukit-bukit di pegunungan Lu-liang-san. Pergilah ke sana. Kalau ia mengetahui bahwa engkau muridku, ia pasti akan mendengarkan semua pesanku darimu.”

Demikianlah, guru dan murid itu berpisah dan mengambil jalan masing-masing. Ouw-yang Sianjin pergi ke kota raja dan Bouw Cu An pergi ke Lu-liang-san. Hati pemuda ini sudah agak lega karena gurunya berjanji untuk membujuk dan menyadarkan ayahnya agar tidak melanjutkan keinginannya untuk memberontak.

Sebetulnya, perintah Ouw-yang Sianjin agar muridnya ini pergi menemui Hwe-thian Mo-li di Lembah Selaksa Bunga hanya untuk menghibur hati pemuda itu dan untuk mencegah agar pemuda itu tidak kembali ke kota raja. Dia tahu betapa bingung hati Cu An kalau di kota raja dia melihat ayahnya masih melakukan usaha pemberontakan yang sama sekali tidak disetujuinya itu.

Setelah mendapat gemblengan dari Ouw-yang Sianjin, kini Bouw Cu An telah memiliki ilmu silat yang lumayan tinggi. Dia telah dapat menghimpun tenaga sakti yang cukup kuat sehingga dia mampu melakukan perjalanan yang cepat menuju ke Pegunungan Lu-liang-san.

Sekarang dia hanya mengenakan pakaian biasa, seperti pakaian pemuda dusun. Tak seorang pun akan menyangka bahwa dia putra seorang pangeran yang memiliki kedudukan tinggi di kota raja. Kulitnya pun tidak terlalu putih seperti dulu karena selama berguru dan tinggal bersama Ouw-yang Sianjin, pemuda bangsawan ini mengerjakan pencangkulan dan penanaman di kebun mereka sehingga dia sering mandi sinar matahari yang membuat kulitnya menjadi agak gelap.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment