Chapter 48
Karena penampilannya yang biasa dan sederhana ini, perjalanannya lancar dan tidak mendapatkan gangguan. Mereka yang biasa menghadang orang lewat dan melakukan perampokan juga tidak ada niat untuk merampok pemuda dusun yang kelihatan sederhana dan miskin ini.
Pada suatu siang, Bouw Cu An tiba di kaki pegunungan Lu-liang-san. Dari para penduduk dusun di sekitarnya, dia mendapatkan petunjuk di mana adanya bukit Selaksa Bunga. Dia lalu menuju bukit itu dan mulai pendakian. Sementara itu, matahari mulai condong ke barat, dan ketika akhirnya dia tiba di lereng yang menjadi perbatasan Lembah Selaksa Bunga, cuaca mulai remang-remang.
Akan tetapi, Cu An masih dapat menikmati keindahan lembah itu. Dalam cuaca remang itu, dia masih dapat menyaksikan ribuan bunga beraneka bentuk dan warna memenuhi seluruh lereng dari tempat itu sampai ke puncak. Keharuman yang semerbak dan aneh karena merupakan campuran ribuan bunga itu terbawa angin dan terasa nyaman serta segar. Cu An mulai agak ragu. Kalau dia mendaki terus, tentu dia akan sampai di puncak setelah malam tiba. Sopankah berkunjung di waktu malam? Akan tetapi, kalau dia berhenti di situ melewatkan malam, sungguh tidak menyenangkan karena di lereng itu dia tidak melihat adanya pohon di bawahnya dia dapat berlindung.
Kemudian dia melihat sebuah pondok seperti gubuk kecil yang dicat merah indah di lereng sebelah atas. Sebaiknya aku melewatkan malam di gubuk itu, pikirnya. Hanya naik mendaki dua lereng saja.
Mulailah dia melangkah dan mendaki naik. Ketika dia mulai memasuki daerah lembah dengan bunga-bunga di kanan kiri, dia melalui jalan setapak yang diatur rapi, dengan batu-batu yang ditata sambung-menyambung sehingga mudah dilalui dan tidak perlu mencari-cari jalan karena agaknya memang jalan itu sengaja dipasang untuk memudahkan orang naik ke puncak.
Dia melangkah dengan senang, seolah seperti sedang berjalan-jalan dalam sebuah taman yang indah. Akan tetapi, tiba-tiba kakinya melanggar semacam tali melintang di jalan setapak itu. Tali itu tidak tampak karena warnanya gelap, dan tiba-tiba dari kanan kiri meluncur sebatang anak panah menyerang ke arah kedua kakinya!
Cu An terkejut, akan tetapi tidak percuma dia mendapat gemblengan dari Ouw-yang Sianjin. Dia sudah memiliki kepekaan, kewaspadaan, dan keringanan tubuh sehingga menghadapi serangan mendadak ke arah kakinya itu, dia dapat mendengar berdesirnya dua batang anak panah dari kanan kiri itu. Cepat dia melompat tinggi ke depan sehingga terhindar dari sambaran dua batang anak panah itu.
Dia membuat *pok-sai* (salto) dua kali di udara dan turun agak jauh dari tempat jebakan tadi. Akan tetapi, ketika kedua kakinya hinggap di atas jalan setapak itu, batu yang diinjaknya terbuka dan dia terjeblos ke dalam sebuah lubang!
Akan tetapi, sekali ini Cu An sudah lebih waspada setelah tadi dia mendapat serangan anak panah. Tubuhnya memang sudah terlanjur terjeblos, akan tetapi kedua tangannya dapat menekan tanah di kiri kanan lubang dan dengan mengerahkan tenaganya dia dapat mendorong kuat dengan kedua tangan itu sehingga tubuhnya meloncat ke atas dan dapat hinggap di atas tanah.
Diam-diam Bouw Cu An terkejut juga. Tak disangkanya tempat seindah itu mengandung perangkap dan jebakan yang berbahaya! Dia harus berhati-hati dan semakin tetap keputusannya untuk berhenti di pondok kecil itu dan melewatkan malam di situ. Besok pagi baru dia akan melanjutkan perjalanannya. Pondok itu tidak begitu jauh dan dia mulai melangkah perlahan dan hati-hati sekali menuju pondok.
Hatinya lega karena ternyata tidak ada lagi rintangan dan dia dapat tiba di pondok itu dengan selamat. Pondok itu kecil akan tetapi bersih, merupakan beranda tanpa dinding. Atapnya tinggi dan lantainya dari papan.
Beranda itu dicat merah dan di situ terdapat sebuah dipan dengan kasur bantal bertilam sutera kuning bersulamkan bunga-bunga merah. Dipan itu seperti menantang Cu An yang sudah kelelahan. Sungguh merupakan tempat yang nyaman sekali untuk duduk atau tidur. Letaknya di tengah ruangan beranda itu.
Dengan girang, Cu An lalu memasuki beranda melalui undak-undakan, lalu melangkah menuju dipan yang menantang itu. Pondok yang bersih, dengan hiasan gambar-gambar indah di dinding, dipan yang menantang, seolah menarik Cu An dan pemuda itu lalu menjatuhkan dirinya duduk di atas dipan. Akan tetapi, tiba-tiba tubuhnya terangkat dan dia sudah tergantung dengan kedua kaki di atas!
Kiranya ketika dia duduk tadi, sehelai tali laso telah terpasang di atas lantai dengan warna yang sama dengan lantainya sehingga tidak tampak. Kebetulan sekali kedua kaki Cu An berada di tengah lingkaran dan begitu dia duduk, lingkaran itu bergerak, mengikat kedua kakinya dan terangkat ke atas dengan kecepatan luar biasa sehingga Bouw Cu An tidak sempat berbuat sesuatu, tahu-tahu tubuhnya sudah tergantung di tengah ruangan itu. Atap itu tinggi dan kini kedua kakinya berada dekat langit-langit dan kepalanya tergantung di bawah.
Pada saat itu juga, tali itu ujungnya sudah membelit-belit tubuhnya sehingga bukan hanya kedua kakinya yang terikat, akan tetapi juga kedua lengannya yang terbelit-belit tali pada tubuhnya. Dia tidak mampu menggerakkan kedua lengannya dan ketika dia berusaha untuk meronta, melepaskan kedua lengan dan kakinya, ternyata tali itu kuat dan lentur sehingga sia-sia saja dia meronta. Dia tergantung seperti seekor kelelawar dengan kepala di bawah!
Setelah segala usahanya untuk melepaskan diri gagal dan merasa sama sekali tidak berdaya, Cu An tidak merasa ragu lagi untuk berteriak-teriak! “Heiii! Aku bukan orang jahat, melainkan tamu yang berkunjung di Lembah Selaksa Bunga! Kalau aku dianggap bersalah, maafkanlah aku, akan tetapi harap lepaskan aku lebih dulu. Tolong... tolong... tolong...!” Akan tetapi betapa kuat pun dia berteriak-teriak, tak seorang pun tampak datang dan dia tetap saja tergantung di tengah ruangan itu.
Akhirnya dia mengerti bahwa, entah ada yang mendengar ataukah tidak, tidak akan ada orang menolongnya malam itu dan Cu An tidak mau berteriak-teriak lagi. Dia menenangkan hatinya dan dia malah melakukan *siu-lian* (samadi) dalam keadaan jungkir balik.
Keadaan seperti ini memang tidak asing baginya. Oleh gurunya, Ouw-yang Sianjin, dia pernah dilatih melakukan samadi dengan cara tubuh tergantung jungkir balik seperti ini. Maka dia kini juga melakukan samadi jungkir balik, walaupun sekali ini dia melakukannya dalam keadaan terpaksa!
Setelah dia tergantung jungkir balik dalam keadaan samadi, dia tidak menderita lagi, bahkan dapat beristirahat. Malam itu lewat tanpa terjadi sesuatu.
Pada keesokan harinya, Cu An yang berada dalam keadaan samadi seperti orang tidur nyenyak, terbangun oleh suara burung-burung berkicau di sekeliling pondok. Dalam keadaan jungkir balik itu dia membuka matanya dan melihat keindahan luar biasa di luar pondok.
Sinar matahari muda yang hangat dan masih lemah keemasan menghidupkan segala sesuatu di sekitar situ. Bunga-bunga bermekaran, dan kupu-kupu beraneka warna dan jenis beterbangan di atas bunga-bunga. Mereka itu seperti menari-nari dengan riang gembira, hinggap dari satu kembang ke kembang yang lain, bermandikan cahaya matahari pagi dan memilih madu di antara bunga-bunga.
Betapa bahagianya kupu-kupu itu, begitu indah menciptakan pemandangan yang luar biasa, indah tanpa suara. Pencipta keindahan suara adalah burung-burung yang sukar ditangkap pandang mata karena mereka lebih suka bersembunyi di pohon-pohon, akan tetapi kicauan mereka merupakan musik yang merdu, sambung-menyambung dan mengandung kegembiraan yang membuat suasana menjadi riang gembira.
Bouw Cu An, dalam keadaan tergantung jungkir balik, merasa betapa seluruh dirinya seolah berada dalam kebahagiaan yang luar biasa, bukan kesenangan akan sesuatu, melainkan perasaan kebahagiaan yang menyeluruh, terasa oleh semua inderanya! Semua inderanya merasakan berkat yang berlimpahan.
Melalui matanya dia dapat menikmati pemandangan indah, kecerahan sinar matahari keemasan bunga-bunga beraneka warna dan bentuk, mekar berseri dengan kupu-kupu beterbangan di atasnya. Melalui hidungnya dia dapat menikmati keharuman bunga-bunga, daun-daun, rumput, dan tanah yang sedap menyegarkan, menggugah semangat dan gairah hidup.
Melalui telinganya dia dapat menikmati suara musik kicau burung-burung di antara desau angin mempermainkan dedaunan menyelingi gemercik air terjun yang berada tidak jauh dari pondok. Suara merdu dan indah itu membuat sukma terasa melayang-layang!
Dan semua itu seolah dihidangkan kepadanya dengan cuma-cuma dan lengkap. Perasaan hati pemuda itu berbahagia dan bersyukur sehingga dia memuji kebesaran Tuhan Yang Maha Kasih.
Suara wanita membuat dia sadar dari lamunannya dan menyeretnya kembali ke alam kenyataan. Betapa pahitnya kenyataannya! Dia masih tergantung seperti seekor kelelawar, bukan, keadaannya mengingatkan dia akan ikan-ikan besar yang setelah digarami oleh para nelayan lalu diikat ekornya dan digantung dengan kepala di bawah agar menjadi ikan asin!
Sialan! Dia tidak berteriak lagi karena empat orang wanita yang berjalan di luar itu kini menghampiri pondok. Mereka mengenakan pakaian berpotongan sederhana namun berkembang-kembang sehingga seperti pot bunga berjalan. Usia mereka antara dua puluh lima dan tiga puluh tahun dan wajah mereka lumayan cantik. Akan tetapi sikap mereka gagah, atau galak?
Benar saja dugaan dan harapannya. Empat orang wanita itu memasuki pondok dan kini mereka berada di bawah, mengelilingi Cu An sambil menengadah mengamati pemuda yang tergantung dengan kepala di bawah itu seperti orang mengamati seekor binatang aneh yang tertangkap jebakan yang memang banyak dipasang di daerah kekuasaan Lembah Selaksa Bunga yang kini diketuai Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan.
Karena pada waktu itu, Sang Ketua, Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan tidak berada di Ban-hwa-kok, maka yang bertugas sebagai pengganti pimpinan adalah Kui Li Ai, dibantu oleh Bwe Kiok Hwa, yang dianggap murid pertama di antara para anggota Ban-hwa-pang.
Melihat empat orang wanita itu kini hanya menonton dia sambil bicara lirih dan tertawa cekikikan dengan suara tertahan, Cu An merasa mendongkol sekali. Sialan! Gadis-gadis ini menjebaknya, semalam suntuk membiarkan dia tergantung seperti ikan asin dijemur, dan sekarang mereka datang menonton seperti menonton seekor binatang hutan yang terjebak sambil cekikikan! Akan tetapi pemuda yang cerdik itu maklum bahwa kalau dia hanya menurutkan nafsu amarahnya, hal itu sama sekali tidak akan menguntungkan.
Semalam dia sudah membolak-balik pikirannya dan dia sudah mempertimbangkan serta mengakui bahwa sesungguhnya dirinyalah yang bersalah. Dia telah memasuki daerah orang, telah melanggar dan memasuki Lembah Selaksa Bunga tanpa izin terlebih dahulu. Bisa saja dia dianggap maling karena para penghuni lembah itu tidak mengenalnya.
“Enci-enci yang baik, harap lepaskan jala ini dan turunkan aku. Ketahuilah aku bukan orang jahat, bukan maling, bukan pula rampok. Aku ini datang sebagai tamu dan hendak bertemu dengan Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan! Tolong lepaskan aku!”
Empat orang anggota Ban-hwa-pang itu saling pandang, tidak berani mengambil keputusan. Mereka semalam memang bertugas jaga di bagian ini dan setelah melihat ada seorang pemuda berani memasuki daerah mereka, mereka segera siap dengan jebakan mereka dalam pondok itu.
Setelah berhasil menjebak dan menangkap pemuda itu, mereka pun mendiamkannya saja, dengan maksud menghukum pelanggar itu sesuai dengan ketentuan dan tugas mereka. Kini mendengar pemuda itu datang sebagai tamu, tentu saja mereka merasa khawatir, dan untuk membela diri seorang dari mereka membantah.
“Tidak ada tamu datang berkeliaran di sini pada malam hari. Kalau engkau seorang tamu, mengapa tidak datang pada siang hari secara terang-terangan? Kami tidak dapat membebaskanmu, harus menanti datangnya pimpinan kami.” Kata-kata ini disusul tawa mereka dan keempatnya kini duduk di atas bangku dan tidak lagi memedulikan Cu An.
Cu An semakin mendongkol. Dia seorang pemuda yang mempelajari kesusastraan dan bahkan pandai pula membuat sajak yang dinyanyikannya dengan suara yang cukup merdu. Melihat sikap empat orang wanita itu, dia pun lalu merangkai sajak dan dinyanyikannya dengan suara lantang.
Nyanyian itu isinya menyindir empat orang wanita yang mula-mula mendengarkan dengan gembira dan merasa lucu, akan tetapi akhirnya wajah mereka berubah merah setelah mengerti isi nyanyian.
“Wanita itu bagaikan bunga.