Chapter 49
Keindahan bunga adalah kecantikannya, keharuman bunga adalah sifatnya, kehalusan bunga adalah wataknya.
Sayang empat tangkai bunga di lembah ini, cantiknya memang cantik, akan tetapi sifatnya sama sekali tidak harum dan wataknya tidak lembut. Bodoh pula, tidak mengenal bahwa yang mereka jebak adalah seorang pangeran dan seorang adik seperguruan dari Hwe-thian Mo-li sendiri!
"Aih, jangan-jangan tempat yang dikenal sebagai Ban-hwa-kok ini hanya dipenuhi bunga-bunga seperti itu!"
Empat orang itu merasa tersindir, akan tetapi diam-diam mereka juga terkejut dan heran mendengar bahwa pemuda itu seorang pangeran, bahkan masih *sute* (adik seperguruan) dari Hwe-thian Mo-li! Mereka merasa tegang dan khawatir. Tentu saja mereka tidak perlu percaya akan ucapan pemuda itu, akan tetapi bagaimana kalau ucapannya itu sungguh-sungguh?
Kalau dia seorang pangeran, mungkin belum terlalu hebat, akan tetapi bagaimana kalau dia benar-benar *sute* dari Hwe-thian Mo-li, ketua mereka? Biarpun ketua mereka tidak jahat, namun ia keras hati dan mereka bisa dihukum berat kalau menjebak dan menangkap seorang sutenya.
Tiba-tiba masuk dua orang wanita ke dalam ruangan itu. Yang seorang adalah seorang gadis muda berusia sekitar sembilan belas tahun, berkulit putih mulus, tinggi ramping, berwajah manis sekali, sepasang matanya lebar, dan wajahnya berbentuk bulat. Gadis ini tidak lain adalah Kui Li Ai yang kini menjadi murid dan juga mewakili Hwe-thian Mo-li memimpin anak buah di Lembah Selaksa Bunga.
Adapun wanita kedua adalah Bwe Kiok Hwa, berusia sekitar tiga puluh tahun lebih yang juga berwajah cukup cantik dan bersikap keras. Ia adalah murid pertama dan anggota yang diberi kekuasaan untuk mengepalai para murid. Agaknya kedudukannya ini yang membuat Bwe Kiok Hwa memiliki sikap yang agak kaku dan keras, serta memegang teguh peraturan sehingga ia ditakuti para anggota lainnya.
Begitu tiba di situ, Kui Li Ai menatap wajah Cu An yang tergantung terbalik itu. Dua pasang mata bertemu dan mata Cu An terbelalak kagum.
“Nona manis yang cantik jelita, kasihanilah aku yang tidak berdosa, disiksa seperti ini selama semalam suntuk oleh bunga-bunga yang baunya tidak enak ini,” katanya.
“Gadis-gadis cantik ini seperti bunga, akan tetapi sikap mereka sungguh tidak enak,” kata Cu An.
“Enci Bwe Kiok Hwa, bebaskan dia dari jala!” Kui Li Ai berkata kepada Bwe Kiok Hwa.
“Akan tetapi, Kui Siocia (Nona Kui), orang ini telah melanggar wilayah kita dan sudah sepatutnya dia dihukum. Biarkan dia tergantung di sana menunggu sampai Pang-cu pulang dan memberi keputusan apa yang harus kita lakukan kepadanya!”
“Wah, bunga yang ini baunya malah lebih busuk lagi!” kata Cu An dengan hati mendongkol. “Baik, kita lihat saja apa yang akan dikatakan Suci Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan kalau ia pulang dan melihat sutenya disiksa seperti ini!”
Mendengar ini, Kui Li Ai berkata lagi, kini lebih tegas memerintah kepada Bwe Kiok Hwa. “Enci Bwe, cepat bebaskan dia, biar aku yang bertanggung jawab terhadap Enci Siang Lan!”
Mendengar ucapan dan melihat sikap Li Ai yang bersungguh-sungguh, Bwe Kiok Hwa tidak berani membantah lagi, hanya mengomel kepada diri sendiri. “Hem, laki-laki tidak sepatutnya diberi hati.” Ia lalu melompat dan sekali menggerakkan pedangnya, tali jala itu putus dan tubuh Cu An jatuh ke bawah.
Biarpun berada dalam lipatan dan belitan tali jala, ketika tubuhnya terjatuh, Cu An dapat bergerak jungkir balik sehingga dapat hinggap di atas lantai dengan kedua kakinya lebih dulu. Cepat dia bergerak membuka belitan jala dan tali. Setelah membuang jala itu ke sudut ruangan, kini dia berdiri berhadapan dengan enam orang wanita itu.
Hanya sekelebatan saja dia memandang Bwe Kiok Hwa dan empat orang anak buah Ban-hwa-pang, akan tetapi ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Kui Li Ai, dia tertegun dan terpesona. Tadi memang dia sudah tertarik sekali ketika pandang matanya bertemu dengan wajah gadis remaja yang memerintahkan agar dia dibebaskan. Akan tetapi, pertemuan itu terjadi ketika kepalanya tergantung ke bawah sehingga dia tidak dapat melihat dengan jelas. Kini, setelah mereka berdua berdiri berhadapan, barulah dia tertegun sekaligus terpesona.
Bouw Cu An adalah putra tunggal Pangeran Bouw Ji Kong. Sebagai seorang putra pangeran keponakan kaisar, pemuda bangsawan yang sastrawan dan telah digembleng ilmu silat pula oleh Ouw-yang Sianjin, tentu saja Cu An tidak asing dengan putri-putri bangsawan yang anggun dan cantik. Mereka lebih pandai dan memiliki lebih banyak waktu untuk merawat diri dibandingkan gadis biasa yang harus bekerja.
Biarpun selama ini dia tekun mempelajari *Bun* (Sastra) dan sedikit *Bu* (Silat), kemudian selama setahun digembleng dengan keras dalam ilmu silat oleh Ouw-yang Sianjin sehingga dia tidak banyak bergaul dengan gadis bangsawan, namun dia sudah sering melihat gadis bangsawan yang cantik. Akan tetapi sekali ini, begitu berhadapan dengan Kui Li Ai yang berpakaian baju berkembang-kembang dengan potongan sederhana, ia terpesona sampai hanya membuka mata dan mulut tanpa dapat mengeluarkan kata-kata.
Di lain pihak, Kui Li Ai juga tertegun. Tak disangkanya bahwa “laki-laki kurang ajar” seperti yang dilaporkan anak buah Ban-hwa-pang—yang katanya malam-malam naik ke lembah seperti maling yang tertawan—ternyata adalah seorang pemuda yang masih muda, berpakaian bersih namun tidak terlalu mewah, lembut, dan ramah. Wajahnya tampan, bentuk tubuhnya tegap sedang, sepasang matanya jernih agak lebar, dan senyumnya menunjukkan kelembutan hatinya.
Sebagai seorang putri panglima yang sejak kecil hidup di kota raja dan banyak bertemu dengan orang-orang bangsawan, sekali pandang saja ia dapat menduga bahwa pemuda ini tentu seorang bangsawan. Tadi dia mendengar sendiri pemuda itu mengaku putra seorang pangeran atau bahkan seorang pangeran seperti yang ia dengar dari laporan anak buah yang simpang siur.
“Hem, Sobat, kalau benar engkau tidak mempunyai niat buruk terhadap kami, mengapa engkau malam-malam mencoba untuk menyusup ke lembah kami? Siapakah engkau dan apa artinya semua pengakuanmu tadi, terutama bahwa engkau adik seperguruan ketua kami, Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan? Sobat, jangan kau main-main dengan kami! Ketahuilah bahwa lembah kami, Ban-hwa-kok, merupakan tempat terlarang bagi kaum pria dan apa yang telah kaulakukan ini merupakan sebuah pelanggaran besar!”
Melihat sikap yang anggun berwibawa namun tidak kasar, dan mendengar ucapan yang teratur—bukan seperti ucapan para anggota Ban-hwa-pang tadi yang kasar—Cu An tidak berani main-main dan ada perasaan heran dalam hatinya. Yang dia tahu dari cerita orang-orang, Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan adalah seorang tokoh *kang-ouw* yang tentu saja bersikap tegas dan kasar, dan terbukti tadi ucapan para gadis anak buahnya pun kasar.
Akan tetapi mengapa gadis ini memiliki sikap yang demikian lembut dan ucapannya terdengar teratur seperti seorang gadis berpendidikan? Dia lalu cepat mengangkat kedua tangan di depan dada, menjura dengan hormat.
“Harap maafkan aku, Nona. Sesungguhnya aku sama sekali tidak mempunyai niat buruk terhadap Ban-hwa-pang. Namaku adalah Bouw Cu An dan aku tidak berbohong ketika memperkenalkan diri sebagai putra Pangeran Bouw Ji Kong yang kini menjadi penasihat Pamanda Kaisar Wan Li di kota raja. Juga aku tidak berbohong ketika mengaku sebagai *sute* dari Suci Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan karena aku menjadi murid Suhu Ouw-yang Sianjin yang menjadi *sute* dari mendiang Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu, guru Suci Nyo Siang Lan. Biarpun aku belum pernah bertemu dengan Suci Nyo Siang Lan, akan tetapi hubungan itu membuat aku menjadi sutenya, bukan?”
Mendengar penjelasan yang rinci itu, Bwe Kiok Hwa dan empat orang anak buah Ban-hwa-pang menjadi terkejut sekali. Tanpa dapat dicegah lagi, wajah mereka menjadi pucat dan mereka segera memberi hormat kepada pemuda itu. Bwe Kiok Hwa berkata dengan sikap hormat.
“Bouw Kongcu (Tuan Muda Bouw), harap engkau suka maafkan kami karena kami tidak mengenal Kongcu dan menganggap Kongcu seorang pelanggar daerah kami... dan kami tadi tidak percaya kepada Kongcu lalu bersikap kasar.”
Bouw Cu An tersenyum tulus. “Wah, sikap kalian mengakui kesalahan ini saja sudah cukup membuka mataku bahwa kalian adalah para anggota perkumpulan yang ditangani pemimpin yang baik. Tentu saja aku melupakan peristiwa semalam dan sekarang aku bisa mengatakan bahwa bunga-bunga di lembah ini memang indah dan harum!”
Mendengar ini, wajah pucat lima orang wanita itu berubah kemerahan dan bibir mereka berlomba menyunggingkan senyum manis.
Li Ai juga senang mendengar ucapan Cu An dan tidak keliru dugaannya bahwa pemuda ini bukan orang jahat, maka tadi ia memerintahkan untuk membebaskannya. Ia membalas penghormatan Cu An dan berkata, “Bouw Kongcu, kalau begitu, engkau bukanlah orang lain, melainkan seorang tamu terhormat. Aku bernama Kui Li Ai, mari kita menuju perkampungan kami di atas, di mana kita dapat bicara dengan leluasa.”