Chapter 50
Li Ai mendahului pemuda itu berlari ke arah puncak. Agaknya, ia sengaja hendak menguji kepandaian Cu An dengan menggunakan keringanan tubuhnya untuk berlari cepat melalui berbagai rintangan dan jebakan.
“Hati-hati, Bouw Kongcu, di sini memang dipasangi banyak jebakan,” katanya. Cu An mengerti dan, melihat gerakan ringan itu, ia pun mengerahkan *gin-kang* agar selalu dapat menginjak bekas injakan sang gadis dan tidak sampai terperangkap.
“Baiklah, Kui Siocia!” sahutnya.
Lima orang wanita tadi memandang kagum, kemudian empat orang kembali ke tempat penjagaan masing-masing menanti rekan yang akan menggantikan mereka. Bwe Kiok Hwa mengikuti Li Ai dan Cu An naik ke puncak, tempat perkampungan Ban-hwa-pang berada.
Setelah tiba di rumah induk, Cu An dipersilakan duduk di ruang tamu. Akan tetapi, sebelum pihak nona rumah mengajaknya bicara, dengan sikap ramah Li Ai berkata, “Bouw Kongcu, mengingat bahwa semalam engkau tidak tidur dan berada dalam keadaan yang tidak menyenangkan, kami persilakan Kongcu untuk mandi dahulu dan berganti pakaian. Kemudian kita sarapan, baru kita akan bicara tentang maksud kunjunganmu ini. Bagaimana pendapatmu, Kongcu?”
Bouw Cu An tersenyum, hatinya senang. Nona rumah ini ternyata penuh perhatian terhadap tamunya, ramah, dan hormat.
Sebetulnya, tanpa mengaso atau mandi pun ia merasa segar karena semalam, biarpun digantung jungkir balik, ia bersamadhi seperti yang diajarkan gurunya dan dapat beristirahat dengan baik. Hanya saja, tentu ia akan tampak lebih bersih dan “ganteng” jika diberi kesempatan mandi, menyisir rambut, membereskan kuncir yang panjang dan tebal, serta berganti pakaian bersih.
Berhadapan untuk bercakap-cakap dengan seorang gadis seperti Kui Li Ai yang sepagi itu sudah mandi segar dan berdandan rapi, memang perlu baginya untuk mempertampan diri! Maka, dengan girang ia menuju ke kamar mandi sambil membawa buntalan pakaiannya, dipandu oleh seorang anggota Ban-hwa-pang yang sejak tadi mengikuti mereka, yaitu Bwe Kiok Hwa sendiri.
Tak lama kemudian, Cu An sudah duduk berhadapan dengan Li Ai di ruang makan, menghadapi meja yang telah dihidangkan sarapan pagi yang cukup lengkap dan masih mengepulkan uap sedap yang membangkitkan selera. Tidak ada anggota Ban-hwa-pang yang berada dalam ruangan itu untuk melayani.
Sejak berada di situ, Li Ai menghapuskan cara-cara bangsawan di mana majikan makan harus dilayani pelayan. Ia sendiri yang menuangkan air teh ke dalam cawan di depan Cu An. Mereka menyantap sarapan dengan santai sambil bercakap-cakap.
“Maaf, Nona. Aku datang berkunjung untuk menghadap Ketua Ban-hwa-pang, yaitu Suci Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan. Akan tetapi, mengapa ia belum juga datang menemuiku? Apakah engkau ini...”
Li Ai tersenyum dan menggerakkan tangan menyangkal. “Aih, bukan. Aku adalah Kui Li Ai, seorang sahabatnya, juga adik angkat dan muridnya. Enci Siang Lan pada saat ini tidak berada di sini, sedang keluar, Kongcu.”
“Wah, ia tidak ada? Kalau begitu, sia-sia saja aku datang jauh-jauh mencarinya di sini!”
Mereka selesai makan, lalu Li Ai mengajak tamunya duduk kembali di ruang tamu, meninggalkan meja yang akan dibersihkan para anggota Ban-hwa-pang. Setelah duduk berhadapan, Li Ai bertanya, “Kongcu, selama Enci Siang Lan tidak berada di sini, yang berwajib menggantikannya adalah aku sendiri, dibantu Enci Bwe Kiok Hwa tadi. Nah, sekarang engkau boleh saja menyampaikan keperluanmu itu kepadaku. Siapa tahu kami di sini dapat membantumu, atau kelak kalau Enci Siang Lan pulang, aku dapat menyampaikan pesanmu.”
“Terima kasih, Nona. Engkau baik sekali. Sesungguhnya, aku menerima perintah Suhu Ouw-yang Sianjin, yaitu Susiok (Paman Guru) dari Suci Nyo Siang Lan untuk mencari dan menemui Suci di sini. Menurut perintah Suhu, Enci Nyo Siang Lan diminta agar suka membantu Jenderal Chang Ku Cing dalam tugasnya menyelidiki dan menangkap pelaku pembunuhan enam orang pejabat tinggi yang setia kepada Kaisar. Aku disuruh memohon kepada Enci Siang Lan agar ia bersedia pergi ke kota raja dan membantu Jenderal Chang.
“Sore tadi, ketika tiba di kaki Ban-hwa-san, aku bingung tetapi mengambil keputusan untuk mencoba naik karena ingin segera menghadap Hwe-thian Mo-li. Siapa tahu, perangkap di sini lihai sekali sehingga aku terjebak.”
“Ah, kalau saja aku mendengar teriakan dan pengakuanmu, tentu aku dapat mencegah terjadinya peristiwa itu. Sekarang Enci Nyo Siang Lan tidak berada di sini, akan tetapi tugasmu memanggilnya untuk membantu pemerintah menangkap pembunuh para pembesar itu bahkan terlambat, Bouw Kongcu. Ketahuilah bahwa Enci Siang Lan sudah pergi ke kota raja untuk keperluan yang sama. Ada seorang murid Siauw-lim-pai bernama Chang Hong Bu yang datang ke sini dan ia juga disuruh oleh pemerintah untuk mengundang Enci Siang Lan membantu menghadapi para pemberontak dan pembunuh.”
“Ah, begitukah? Bagus kalau begitu. Aku tinggal memberitahu Suhu bahwa Suci Nyo Siang Lan sudah pergi ke kota raja.”
“Bouw Kongcu, apakah engkau juga merupakan pembantu dari Jenderal Chang Ku Cing?” Pertanyaan ini diajukan oleh gadis itu, yang tiba-tiba suaranya menjadi tidak manis.
Bouw Cu An dapat menangkap nada suara yang kering dan keras itu. Ia menggelengkan kepala. “Bukan, Nona. Aku bukan pembantunya atau pembantu siapa pun, kecuali membantu Suhu Ouw-yang Sianjin.”
“Akan tetapi engkau tentu mengenal Jenderal Chang Ku Cing itu, bukan?”
“Tentu saja, siapa tidak mengenalnya? Akan tetapi aku tidak mempunyai hubungan dengan dia, aku bahkan tidak pernah berhubungan dengan orang-orang di kalangan bangsawan kota raja.”
“Akan tetapi sebagai putra Pangeran Bouw Ji Kong yang berkedudukan tinggi, engkau tentu memiliki hubungan yang luas. Aku merasa heran mengapa ketika aku masih berada di kota raja dan tinggal di rumah ayahku, aku tidak pernah mendengar tentang dirimu. Maaf, Bouw Kongcu, terus terang saja, setahun lebih yang lalu aku tinggal di kota raja dan banyak melihat para pemuda dan gadis bangsawan, akan tetapi aku tidak pernah bertemu denganmu.”
Bouw Cu An tertawa. “Ha, memang aku lebih suka bersembunyi dalam kamar untuk belajar sastra atau silat, hampir tidak pernah ikut Ayah dalam pesta pertemuan sehingga jarang mengenal orang-orang muda di kalangan bangsawan, terutama para gadisnya. Nona, aku melihat bahwa engkau seorang gadis yang terpelajar dan sikap serta budi bahasamu menunjukkan bahwa engkau seorang gadis bangsawan pula. Salahkah dugaanku bahwa engkau juga merupakan putri seorang pejabat tinggi, seorang bangsawan?”
Li Ai menundukkan muka. Kesedihan besar menyelimuti perasaannya karena pertanyaan pemuda itu mendatangkan semua kenangan pahit dalam hidupnya. Akan tetapi, pemuda ini sudah dengan terbuka memperkenalkan diri, bagaimana ia dapat tidak menceritakan keadaan dirinya? Pemuda ini tampak sopan, jujur, dan sejak pertemuan pertama telah membangkitkan rasa suka dalam hatinya, membuatnya tertarik sekali.
“Bouw Kongcu, aku hanya anak seorang perwira yang telah tewas setahun lebih yang lalu. Beliau adalah mendiang Perwira Kui...”
“Ahh...!” Cu An bangkit berdiri dengan kaget. “Maksudmu... Kui Ciang-kun, perwira tinggi pembantu Jenderal Chang Ku Cing yang... kabarnya... maaf, membunuh diri di depan Jenderal Chang itu?”
Li Ai menghela napas panjang, tidak merasa heran karena tentu saja peristiwa bunuh diri ayahnya itu telah tersebar luas di seluruh kota raja, bahkan mungkin di seluruh negeri. Menjadi kewajibannyalah untuk membela nama ayahnya!