Chapter 52
Para wanita itu bersorak gembira atas kemenangan dalam pertempuran pertama untuk mempertahankan tempat kediaman mereka. Hanya ada enam rekan wanita yang terluka. Mereka segera dirawat dan, atas perintah Li Ai, semua mayat gerombolan itu dikuburkan di dalam beberapa lubang di kaki Bukit Ban-hwa-san.
Li Ai dan Cu An berjalan berdampingan kembali ke puncak Ban-hwa-kok. Sejak saat itu, mereka merasa semakin dekat satu sama lain. Terasa suatu kemesraan yang amat membahagiakan hati. Wajah mereka cerah penuh senyum, terutama setiap kali pandangan mata mereka saling bertemu dan bertaut. Walaupun mulut mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun, sinar mata mereka telah mengutarakan seluruh isi hati yang dapat mereka mengerti sedalam-dalamnya.
Mereka saling jatuh cinta. Ada perasaan bahagia yang mendalam, namun kebahagiaan itu mendatangkan duka apabila mereka mengingat keadaan diri masing-masing. Li Ai teringat akan dirinya yang sudah ternoda, dan Cu An teringat akan dirinya sebagai putra seorang pengkhianat dan pemberontak.
Peristiwa penyerbuan gerombolan itu memberikan Cu An alasan dan kesempatan untuk bermalam satu malam lagi di Ban-hwa-kok. Waktu tersebut membuka peluang bagi mereka untuk memperlihatkan perasaan hati masing-masing, walaupun hanya melalui pandangan mata dan senyum penuh madu. Tanpa bicara, mereka yakin bahwa mereka saling mencintai. Mereka makan siang, lalu makan malam bersama.
Pada keesokan harinya, setelah mandi dan sarapan, suasana diliputi keharuan karena saatnya telah tiba bagi mereka untuk berpisah. Cu An harus meninggalkan Ban-hwa-pang untuk menyusul gurunya ke kota raja. Sarapan pagi itu terasa kurang nikmat; bahkan terasa sukar untuk menelan makanan saat menghadapi perpisahan yang sudah di depan mata. Setelah selesai makan, Cu An berkata lirih, “Sekarang aku harus berkemas.”
“Mengapa tergesa-gesa? Hari masih amat pagi.”
Cu An memandang wajah gadis itu dengan tajam. “Nona Kui, setelah apa yang kita alami bersama, rasanya kaku jika engkau masih memanggilku Kongcu.”
“Engkau pun masih memanggilku Siocia,” bantah Li Ai.
Cu An tersenyum dan gadis itu pun ikut tersenyum. Tanpa bicara lagi, mereka saling memahami keinginan untuk menggunakan sebutan yang lebih akrab, bukan sebutan sopan layaknya dua orang asing.
“Baiklah, mulai sekarang aku akan menyebutmu Moi-moi (Adik Perempuan), bolehkah, Ai-moi?”
“Tentu saja, dan aku akan senang jika boleh memanggilmu An-ko (Kakak Laki-laki An).”
Keduanya saling tersenyum dan kini pandangan mata mereka lebih leluasa mengirimkan sinar kasih. “Sekarang aku harus berkemas dan siap untuk turun dari sini, Ai-moi.”
“Baiklah, silakan An-ko.”
Cu An masuk ke kamarnya untuk mengemasi pakaian. Saat keluar, Li Ai sudah menunggunya. Ketika Cu An menuruni puncak bukit, Li Ai mengantarnya sebagai penunjuk jalan karena jalur tersebut penuh dengan jebakan dan perangkap. Mereka berjalan berdampingan sambil bercakap-cakap.
“Aku merasa senang dan berbahagia dapat berkenalan denganmu, Ai-moi.”
“Aku pun merasa senang dan terhormat dapat bertemu denganmu, An-ko. Engkau seorang putra pangeran yang terhormat, sedangkan aku...”
“Hush, jangan berkata begitu, Ai-moi,” potong Cu An sambil memegang tangan kiri gadis itu.
Merasakan tangannya digenggam erat, Li Ai terkejut. Namun, biarpun hatinya menolak, jari-jarinya dengan hangat membalas genggaman pemuda itu.
“Aku bicara sejujurnya, An-ko. Bahkan berjalan berdua begini saja sebetulnya tidak pantas bagiku.”
“Ai-moi!” Cu An berhenti melangkah dan menarik gadis itu agar mereka berdiri berhadapan. Saat saling pandang, mereka dapat merasakan embusan napas masing-masing. “Jangan sekali-kali berkata seperti itu lagi. Ucapan itu amat menyakitkan hatiku. Engkau lebih dari pantas berjalan di sampingku; akulah yang tidak pantas bagimu. Ai-moi, aku sayang kamu, aku cinta kamu.”
“An-ko!” Kini kedua tangan mereka saling bertemu dan jari-jarinya bertaut erat. Sejenak Li Ai, yang merasa tubuhnya lunglai, menyandarkan wajah di dada pemuda itu. Meski hanya sesaat, rasanya hati mereka telah menjadi satu dan sukar untuk dipisahkan lagi. Namun, Li Ai segera menyadari keadaannya. Ia menjauhkan diri dan berkata lirih, “Dari sini ke bawah sudah tidak ada perangkap lagi, An-ko. Selamat jalan, dan terima kasih, engkau baik sekali. Nanti kalau Enci Siang Lan kembali, akan kuceritakan tentang kunjunganmu.”
Li Ai menguatkan hati, kendati suaranya terdengar gemetar karena haru.
“Baik, Ai-moi. Kurasa aku akan bertemu dengannya di kota raja. Akan kuceritakan pembelaanmu kepada Ban-hwa-pang dari serbuan pengacau.”
Cu An memberikan sebuah kantung kecil bersulam gambar sepasang kupu-kupu yang biasa ia gunakan untuk menyimpan uang emas. “Ai-moi, aku tidak mempunyai apa-apa yang berharga. Harap engkau sudi menerima hadiah ini sebagai tanda mata.”
Li Ai menerimanya dengan tangan gemetar, lalu berkata, “Aku pun tidak mempunyai apa-apa, An-ko, tetapi silakan ambil apa saja yang kausuka.”
Cu An mengamati gadis itu, lalu mengelus rambutnya yang hitam panjang dan sedikit ikal. “Bolehkah aku mengambil hiasan rambutmu ini, Ai-moi?”
“Tentu saja boleh, An-ko,” jawab gadis itu dengan wajah memerah.
Cu An mengambil tusuk sanggul berbentuk bunga teratai itu. Begitu dicabut, sanggulnya terlepas dan rambut panjang itu terurai menutupi bahu Li Ai.
“Alangkah indah rambutmu, Ai-moi,” Cu An mengelus rambut itu dengan mesra.
Selama hidupnya, baru kali ini Li Ai merasa dicintai, begitu pula Cu An. Keduanya salah tingkah, jantung berdebar, dan tidak tahu harus berbuat apa.
“Nah, selamat tinggal, Adikku sayang.”
“Selamat jalan, An-ko.”